
Alex kembali ke ibu kota dua pekan kemudian, Fernando yang awalnya hanya mengambil cuti seminggu setelah membantu Sandra di rumah sakit, nyatanya malah memperpanjang masa cutinya.
Benar-benar sahabat sialan, kemarin sebelum kembali ke ibukota, Alex terlibat baku hantam dengan Fernando diruang kerjanya di resort.
Dua orang berbadan kekar itu saling pukul dan tendang, Bagus yang tingginya hanya seratus tujuh puluhan itu sampai kewalahan menghadapi kedua lelaki dengan tinggi diatas seratus delapan puluh itu.
Berbagai macam makian terlontar dari mulut kedua laki-laki itu, alhasil ruang kerja bagai kapal yang menabrak gunung es.
Petugas keamanan resort yang dimintai bantuan oleh Bagus, kewalahan memisahkan pertarungan yang sengit itu.
Ini kali pertama kedua sahabat itu sampai baku hantam, apalagi alasannya kalau bukan karena kiriman foto dan video tentang Sandra yang menghabiskan waktu bersama Fernando juga umi Fatimah, belum lagi kata-kata yang diketik oleh lelaki blasteran itu, membuat Alex marah besar.
Kelakuan keduanya sampai ke telinga Rama selaku wakil Benedict, lelaki itu sampai memakai private jet untuk terbang ke pulau Dewata itu.
Rama yang paling sabar diantara sahabat-sahabatnya sampai memaki kedua orang yang tengah duduk berdampingan bagai anak kecil yang sedang diomeli oleh bapaknya.
"*njing Lo berdua, nggak pada ingat umur apa? Kalau Ben sampai tau, abis pada, bukan apa-apa, paling banter kalian di kirim ke pulau, tapi gimana sama Sandra? Walau Ben temenan juga sama dia, tapi bisa aja Ben ngabisin itu cewek, kalian harusnya tau Ben kayak apa, ini terakhir kalian begini, Sampai ada kejadian kayak gini lagi, gue beneran nggak mau belain dan gue bakal kasih tau Ben,"
Ucapan Rama hari itu terngiang-ngiang, dalam telinga Alex, sebagai orang yang sering mengikuti Benedict, tentu ia tau cara atasannya itu menyingkirkan orang yang menghalangi jalannya.
Alex menghela nafas, ia mulai kembali ke pekerjaannya yang sebenarnya, sayangnya tak ada lagi Sandra didepan ruang kerjanya.
Wanita itu tau jika dirinya terlibat baku hantam dengan Fernando, alhasil Sandra marah padanya, dan tak mau bertemu dengannya.
Sudah tiga hari wanita itu memblokir nomornya, rasanya ingin lari namun Sandra mengancam akan keluar dari rumahnya.
Entah sampai kapan wanita itu merajuk, Alex hanya bisa pasrah, sembari menyibukkan diri dengan pekerjaannya yang menggunung.
Seminggu berlalu, Benedict yang baru datang dari luar negeri, mendatanginya, beruntung lebam-lebamnya telah sembuh.
"Ben, gue mau minta Sandra dibalikin ke kantor ini lagi, gue butuh dia,"pintanya saat mereka sedang sibuk didepan laptop masing-masing.
"Oscar lebih butuh Lex,"sahut Benedict tanpa melihat, ia masih fokus dengan pekerjaannya.
"Tukeran sama Jonas aja, Lo tau dia kompeten bukan?"
Benedict berhenti mengetik, ia menatap sahabatnya, "Jonas cocok kok disini, dia multi talenta, sayang kalau cuman mengerjakan pekerjaan dibalik meja doang, kayak di rumah sakit,"
"Ben, apapun gue bakal lakuin supaya Sandra bisa balik lagi kesini, gue mohon,"pinta Alex sampai menangkupkan kedua tangannya.
Benedict menghela nafas, "gue obrolin dulu sama Rama dan Oscar,"
Setelah pembicaraan itu, esok harinya mereka berkumpul di ruangan kerja Sandra, ada Benedict, Alex, Rama, Oscar dan Jonas.
"ada apaan tiba-tiba ngumpul begini Ben?"tanya Oscar Heran.
Benedict yang duduk di sofa singel melirik sekilas Alex yang sedari tadi menatap Sandra, "Os, Lo masih sibuk nggak?"tanyanya.
"udah nggak terlalu sih, kenapa emang?"tanya Oscar balik.
"Gue minta Sandra kembali ke kantor Alex,"jawab Benedict sambil menatap satu-satunya wanita yang ada di ruangan itu dengan pandangan sulit diartikan.
Semuanya menoleh pada Benedict kecuali Alex.
"Tapi kenapa Ben? Gue terbantu banget dengan adanya Sandra, gue bisa lebih fokus di ruang operasi, jujur gue keberatan,"ucap Oscar mengemukakan pendapatnya.
"Jonas bisa tuh,"tunjuk Benedict ada lelaki yang paling muda diantara mereka.
Yang ditunjuk malah melebarkan matanya, Jonas cukup terkejut, "kenapa gue bos? Gue kan masih kelas teri,"ungkapnya merendah.
Rama yang paham langsung mengangguk, "gue setuju Ben, karena Jonas multi talenta, bukan hanya dibalik meja, tapi di lapangan juga,"
"Gimana sa, Lo bersedia kan kalau balik lagi jadi sekretarisnya Alex, tenang aja, sebagai salah satu pemilik rumah sakit ini, Lo masih dapat bagian,"Tanya Benedict'.
Sandra menghela nafas sejenak, ia tau ini pasti permintaan Alex, "langsung Ben?"tanyanya.
Sandra mengangguk, menyanggupi permintaan atasan tertingginya.
Alex menahan senyum bahagianya, ah rasanya ia tak sabar menunggu hari dimana setiap saat ia bisa satu tempat dengan sang pujaan hati.
Setelah membicarakan hal itu mereka kembali ke tempat masing-masing, Ben, Alex dan Rama kembali ke gedung berlantai delapan, Oscar ada jadwal operasi, sedangkan Jonas tertinggal bersama Sandra untuk mulai belajar management rumah sakit.
"Ngapa Lo manyun mbak, tambah cantik tau, pengen gue C*p*k lagi,"cetus Jonas saat Sandra tengah serius mengerjakan pekerjaannya.
"Abang Lo Jo, bikin gue sakit kepala,"sahut Sandra sembari menghentikan pekerjanya, ia sedikit memijat kepalanya.
"kan enak mbak, bisa ngumpul sama Abang lagi, bisa ***-*** siang-siang,"ucap lelaki tampan berwajah seperti opa-opa Korea itu.
Sandra meremas kertas, lalu melemparnya ke arah rekan kerjanya, "ngapa pikiran Lo ke sana mulu sih Jo, nikah sana,"ungkapnya kesal.
"Gue nggak mau nikah mbak,"tutur Jonas menunduk, "Lo juga sampai sekarang belum nikah sama Abang,"lanjutnya sembari menatap wanita yang merupakan kekasih sepupunya.
Sandra menghembuskan nafasnya kasar, "itu alasan gue minta ditempatkan disini Jo, biar gue ada jarak sama Alex, kalau jadi sekretarisnya, Otomatis waktu kami bersama hampir dua puluh empat jam, tau sendiri Abang Lo kayak apa?"
Hening sejenak, Sandra mendongak, bersandar di kursi kebesarannya, helaan nafas lelah terdengar, "bisa aja dia nikahi gue, tapi masalahnya dia nggak bakal bisa jadi suami yang gue inginkan, ngerti nggak sih Lo,"
Sandra memajukan kursinya ke meja kerja, "setahun pertama gue nikah sama mas Ferdi, gue benar-benar merasakan kebahagiaan secara spiritual, walau gue nggak cinta sama dia, Xander juga merasakan hal yang sama, dulu setiap abis shalat Maghrib, dia ngajarin gue sama Xander ngaji, kalau bulan puasa kita sampai tadarusan bareng, dan itu nggak akan bisa Alex kasih buat gue sama Xander,"
Jonas mengangguk, sebagai orang yang sedari kecil menganut keyakinan berbeda, tentu ia tau proses belajar itu harus dimulai dari awal dan akan memakan waktu cukup lama.
"terus Lo mau balik sama mantan Lo?"tanyanya.
Sandra menggeleng, "Jo, makin tua umur, makin Xander gede, yang gue cari bukan hanya sekedar rasa cinta dan kepuasan di ranjang, tapi ketenangan hati, sementara jika gue sama Alex terus, gue bakal melakukan dosa terus, Lo tau apa artinya bukan?"
"lalu apa rencana Lo mbak?"
Sandra menaikan bahunya,
"jangan bilang Lo mau ninggalin Abang?"tanya lelaki itu sedikit was-was.
"gue nggak tau, biar waktu yang jawab,"sahut Sandra sambil melanjutkan pekerjaannya.
"mbak, gue nggak bisa bayangin sehancur apa Abang, kalau sampai Lo pergi lagi, dulu masih ada om Jono, tapi sekarang? Abang sendirian, sedangkan kak Maria nggak bisa diharapkan,"
Sandra kembali menghentikan pekerjaannya, ia menopang dagu dengan kedua tangannya, "Jo, coba bilang ke Tante Terry suruh cariin cewek di gereja kalian, kali aja Alex tertarik,"
"udah pernah mbak, setelah Abang lulus kuliah, beberapa kali mama, om Jono bahkan Maria mengenalkan gadis-gadis ada Abang, keliatannya Abang senang-senang aja, tapi nggak sampai tiga hari cewek-cewek itu pada mundur, sampai sekarang gue juga masih bingung kenapa, pernah sewaktu Abang baru pegang kerjaan setelah pulang dari Amerika, ada satu staf kantor, godain Abang, besoknya itu cewek resign tanpa alasan,"jelas Jonas panjang lebar.
"terus kenapa Abang bisa sewa anak buahnya mami Belinda?"
"mbak, yang namanya laki kan perlu menyalurkan hasratnya, begitu juga Abang, setau gue biasanya Abang kalau lagi banyak kerjaan atau diajak sama Aa Nando aja,"
"Lo kenal Rachel nggak?"
Jonas terdiam sejenak, sepertinya sedang berfikir, lalu tak lama lelaki itu menggeleng,
"dia mantan temen tidur Alex waktu masih kuliah, terakhir liburan ke Bali, gue sama Xander liat dia lagi ciuman sama Rachel di lorong menuju kamar, nah maksud gue coba Lo cari tau tentang itu cewek, buat mereka dekat lagi, seenggaknya kalau ada cewek lain, Alex bisa lupa sama gue,"jelas Sandra.
"emang Lo rela Abang sama cewek lain?"tanya Jonas tak yakin.
"ini bukan rela nggak rela Jo, gue cuman nggak mau Alex nempel Mulu sama gue, yang artinya gue bakal bikin dosa Mulu, ngerti nggak sih Lo, pokoknya kalau Lo nggak pengen Abang Lo ikut keyakinan gue, mending Lo lakuin apa yang gue suruh, ini demi kebaikan semua Jojo,"
"gue coba tapi nggak janji,"
"gitu dong,"
Setelah obrolan panjang itu, keduanya melanjutkan pekerjaannya, Sandra mulai mengajari Jonas tentang pekerjaan barunya.