How To Marry You ?

How To Marry You ?
tiga puluh delapan



Sandra hanya bisa pasrah tertahan di ruangan atasan sekaligus kekasihnya, ia memilih duduk di sofa sambil melihat lelaki itu bekerja.


"Alex, bisa tidak, watak keras kepalanya di kurangi? Kamu sekarang sudah menjadi papa loh, masa iya tingkahnya lebih baik anaknya dibanding papanya,"ungkapnya tiba-tiba.


"Memangnya aku keras kepala?"tanya Alex tanpa melihat wanita yang tengah duduk di sofa.


Sandra berdecak kesal, ia paham terkadang orang tidak menyadari betapa menyebalkannya dia.


"kamu kalau lagi ada masalah sama aku, yang lain jangan kena imbas dong,"


"apa Jonas mengadu? Kamu sedekat itu sama dia?"


"Jonas rekan kerjaku, tentu saja aku dekat untuk urusan pekerjaan, dia juga sepupu kamu, kalau misalnya kamu lupa,"


Alex menghentikan pekerjaannya, "mulai besok kamu bekerja di ruangan ini,"setelah mengatakannya ia melanjutkan pekerjaannya lagi.


"Kalau kita satu ruangan, aku nggak yakin kamu bisa konsentrasi bekerja,"


"jelas aku lebih semangat bekerja, kalau ada kamu,"


"Alex aku tau kamu, jadi nggak usah aneh-aneh, aku akan tetap bekerja di tempat semestinya, lalu buang pikiran buruk kamu, dan sekarang buka pintunya, aku mau kerja lagi,"ucapnya seraya menghampiri lelaki itu untuk mengambil remote.


Alex memasukan remote itu ke laci mejanya, ia tak akan membukakan pintu sebelum keinginannya terpenuhi.


Sandra berdecak, ia kesal, kekasihnya benar-benar seperti bocah,


"Kamu tau bukan apa mau aku,"


"tapi ini masih jam kerja, ingat ucapanku sebelum aku setuju jadi sekertaris kamu,"


"memangnya saat itu aku menyetujuinya? Itukan hanya omongan kamu sendiri,"


"ayolah Alex, pekerjaan aku banyak,"pintanya dengan raut memohon.


"kamu tau mau aku Sasa sayang,"sahut Alex.


Sandra menghela nafas, lelaki itu sedari dulu tidak pernah berubah, egois, keras kepala dan berpendirian kuat, ia tau jika sudah berkeinginan Alex akan berusaha untuk mewujudkannya.


Sepertinya ia harus memenuhi kemauan lelaki ini, kalau tak ingin terjebak hingga jam kerja usai.


Sandra yang tak ingin blazer dan celana formalnya kusut, memilih membukanya sendiri lalu menaruhnya di sofa, tak lupa kemeja merah muda yang ia kenakan.


Wanita itu menyisakan dalaman yang berwarna abu, Alex menghentikan pekerjaannya, ia menutup laptopnya, lalu melepas sabuk juga dasi dan kemejanya.


Sandra mulai duduk dipangkuan Alex, menciumi leher dan mengelus dada bidang lelaki itu.


Sementara Alex memejamkan matanya menikmati sensasi yang dibuat kekasihnya.


Sebuah tonjolan dirasakan oleh Sandra, ia tau betul bagaimana dengan mudahnya membangkitkan gairah lelakinya.


Wanita itu turun dari pangkuan, lalu membuka resleting untuk membebaskan sesuatu yang membuat Alex sesak.


Sandra mulai memanjakan adik kecil kekasihnya, sementara sang lelaki memejamkan matanya menikmati sensasi yang hanya bisa diberikan oleh wanita dibawahnya.


"cukup, aku nggak mau mengotori mulut kamu,"setelah mengatakannya, Alex mulai mencium bibir kekasihnya.


Meja kerja milik Alex menjadi saksi bisu bagaimana panasnya hubungan intim pasangan kekasih itu.


Seolah tak puas, Alex membawa kekasihnya menuju kamar pribadi miliknya, ia melakukannya lagi di sana.


Alex mendongakkan kepalanya ketika benihnya memenuhi liang surgawi milik kekasihnya.


Meskipun benihnya belum bisa menjadi adik untuk putranya, tak masalah, ia yakin suatu saat akan berhasil memberikan Xander seorang adik.


Sandra yang kelelahan berakhir tertidur di ranjang kamar rahasia milik kekasihnya.


Sementara Alex yang sudah berhasil mendapatkan keinginannya, menyelimuti Sasa-nya, lalu beranjak ke toilet, ia tidak mandi, hanya membersihkan sisa percintaannya tadi.


Ia sengaja tidak langsung mandi, karena ia akan melakukannya lagi nanti setelah Sasa-nya bangun.


Tak lupa merapihkan pakaian kerja milik Sasa-nya dan membawanya ke kamar pribadinya.


Ia mulai bekerja kembali, setelah baterainya terisi penuh.


Alex membuka pintu ruangannya, ia memanggil Jonas juga Chiko, ada yang harus ia bicarakan.


Tak berapa lama keduanya masuk ke dalam ruangannya,


"Ada apa bang?"tanya Jonas yang masuk bersamaan dengan Chiko.


"Barusan Sasa bilang kalau Ferdi udah jatuhin talak, tolong mulai urus pendaftaran cerai ke pengadilan, lalu awasi Ferdi termasuk cewek yang lagi sama dia,"


"baik bang,"sahut Jonas dan Chiko hampir bersamaan.


"Terus Jo, tolong urus Xander, pesenin makanan, gue mau sama Sasa sampai malam,"pesannya pada sepupunya.


Setelahnya ketiganya membicarakan tentang pekerjaan lainnya.


Langit diluar berubah warna ketika Sandra baru saja keluar dari kamar rahasia milik Alex, wanita itu protes kenapa tidak dibangunkan.


Alex tersenyum, Sasa-nya hanya menggunakan kaos oblong miliknya yang panjangnya hingga setengah paha wanita itu.


Ia tau jika dibalik kaos hitam itu, Sasa-nya tak mengenakan apapun.


"kerjaan aku masih banyak Alex,"Sandra memanyunkan bibirnya.


Alex menarik Sasa-nya kedalam pangkuannya, ini yang diinginkannya, Sasa-nya selalu ada dalam jangkauannya,


Sehingga kapanpun ia menginginkannya, ia bisa langsung melakukanya.


Alex mulai menciumi leher Sasa-nya, masih wangi, aroma yang membangkitkan gairahnya.


"tadi kan udah, masa mau lagi, aku mau mandi dan ketemu Xander, pasti putra kita sedang lapar,"tolak Sandra secara halus.


Alex menghentikan kegiatannya, "tadi aku udah minta Jonas, bantu urus Xander, bagaimanapun dia kan keponakannya, pasti sekarang mereka lagi makan,"tuturnya.


Keduanya mulai berciuman lagi hingga beberapa saat, Sandra melepaskan tautan itu terlebih dahulu, "kamu nggak bosan apa memintanya setiap hari?"


Alex tak langsung menjawab, ia mencium kembali bibir milik Sasa-nya yang membuatnya candu,


"nggak tuh, aku nunggu saat-saat seperti ini selama sepuluh tahun,"


"tapi bukankah selama ini kamu sering menyewa jal*Ng?"tanya Sandra sedikit kesal.


"Mereka hanya membantu mengeluarkan yang harus dikeluarkan, bukan bercinta atau memadu kasih, kamu bisa tanya yang lain, selama kamu nggak ada, aku tidak pernah memiliki pacar, walau banyak yang menyatakan cinta padaku,"jelas Alex.


"kenapa seperti itu?"tanya Sandra heran.


"Setiap lelaki punya prinsip, aku salah satunya, dulu saat aku mulai menjalin hubungan sama kamu, apalagi saat kita melakukannya pertama kali, aku bersumpah pada diriku sendiri, jika hanya kamu yang pertama dan terakhir, dari rahim kamulah anakku akan lahir, hanya kamu Sasa sayang,"


Sandra tersenyum, "terima kasih sudah mencintai aku, maaf aku sempat menyakiti kamu,"ucapnya lalu keduanya kembali berciuman.


Mereka kembali larut dalam gairah, tak peduli apapun diluar sana.


Cinta dan gairah semakin besar, membuat keduanya lupa daratan.


Meja kerja, Sofa, kamar tidur dan kamar mandi menjadi saksi bisu bagaimana panasnya hubungan intim keduanya.


Beruntung ruangan itu kedap suara, sehingga suara-suara yang ditimbulkan akibat hubungan panas itu tak sampai terdengar keluar.


"Sa, setelah kamu resmi bercerai, aku mau ajak kamu ke Eropa,"cetus Alex, saat keduanya sedang berendam di bathtub.


"Mau ngapain?"tanya Sandra heran.


"mau jalan-jalan lah, memangnya kamu nggak ingin ke kota-kota romantis di sana?"


"aku nggak mikirin itu, selama ini aku hanya fokus bagaimana mencari uang untuk Xander, misal jalan-jalan, hanya didalam kota saja,"


"Tapi mulai sekarang, aku minta kamu tidak perlu memikirkan hal itu, ada aku yang bertanggung jawab, pokoknya kamu hanya fokus ke aku dan memperhatikan Xander,"


"apa secara nggak langsung kamu menyuruh aku untuk resign?"


"kalau itu tidak, aku minta kamu tetap di kantor, tapi tidak perlu bekerja keras, mungkin aku akan merekrut satu sekertaris lagi,"


"tapi..,"


"Sasa sayang, aku minta kamu disini mendampingiku, selalu ada dalam jangkauan aku, dengan kata lain aku ingin kita selalu bersama,"


Sandra yang tau watak kekasihnya, memilih menyetujuinya.