
Keesokan harinya Sandra tidak bekerja, bukan karena marah dengan bosnya, tapi sedari bangun tidur, kepalanya terasa berat.
Ia hanya mengirim pesan pada Mega jika dirinya ijin tidak masuk dengan alasan sakit.
Sandra sengaja tak memberitahu Alex, toh bosnya itu tak ingin melihat dirinya, mungkin lelaki itu membencinya, entah karena apa, Sandra berusaha tak peduli, ingat fokusnya hanya untuk masa depan putranya.
Tadi Ferdiansyah mengantarkan Xander ke sekolah, katanya nanti tidak langsung pulang karena ada janji dengan teman yang akan memberinya pekerjaan.
Sandra sudah sarapan tadi,
suaminya membelikannya bubur ayam pagi-pagi sekali, ia juga telah meminum obat sakit kepala yang tersedia di kotak obat.
Ia memilih mematikan ponselnya supaya bisa tidur dengan nyenyak.
Disisi lain, Alex baru saja turun dari lantai tujuh, ia telah rapih.
Saat melintasi meja sekertaris hanya ada Jonas di sana, tapi ia bertanya mengenai keberadaan Sandra, mungkin wanita itu sedang ke toilet.
Sesuai permintaannya kemarin, yang membantunya mengurusi pekerjaannya adalah Jonas.
Jam makan siang, ia ada janji dengan salah satu kliennya, ia mengajak Jonas turut serta.
Hingga sepulang dari menemui klien, Jonas yang mengemudi mulai menyingung soal Sandra,
"Bang, gue mau tanya dong,"ucap lelaki yang berprofesi sebagai sekertaris itu.
Jonas adalah anak dari adik kandung mendiang ibu Alex, yang tak lain adalah sepupunya, usai lulus sarjana dan menjalani pelatihan selama setahun di kantor pusat perusahaan Wright, Lelaki muda itu baru ditunjuk menjadi sekertaris Alex, tentu itu atas perintah Benedict.
Alex berdehem, di bangku belakang, lelaki itu sedang membaca berkas dari klien yang tadi ditemuinya.
"Abang lagi ada masalah sama mbak Sandra? Kok gue lihat nggak kayak biasanya, udah gitu pake acara nggak masuk segala lagi, kan gue jadi keder ngerjain kerjaan utama gue bang,"
Alex menghentikan pekerjaannya, "Sandra nggak masuk?"tanyanya.
"lah Abang nggak tau? gue pikir udah tau, gue juga taunya dari mbak Mega, pas gue beli kopi dibawah,"jawabnya.
Alex mengambil ponselnya, ia menghubungi Sandra, namun wanita itu tak bisa dihubungi.
Apa ucapannya kemarin menyinggung wanita itu?
Apa wanita itu marah padanya?
Bagaimana jika dirinya kehilangan wanita itu lagi?
Bisa-bisa kali ini ia akan berakhir di rumah sakit jiwa.
Ia sadar sudah keterlaluan, bukan tanpa alasan ia bersikap dingin pada wanita itu.
Sejujurnya sejak bertemu kembali dengan Sasa-nya, ada harapan besar jika ia bisa memberikan papanya seorang cucu sesuai harapan lelaki tua itu padanya.
Alex sadar betul tentang status wanita itu, tapi siapa peduli, toh ia yakin jika Sandra tak pernah berhubungan intim dengan suaminya.
Logikanya berfikir, bagaimana mungkin wanita yang sudah memiliki suami, rasanya seperti perawan, meski tidak ada lagi darah saat mereka berhubungan intim seperti pertama kali dulu.
Jika menelisik lagi, Sandra yang ijin ketika jam makan siang harus menjemput putranya ke sekolah, harusnya anaknya minimal sudah sekolah dasar kelas tiga.
Itu artinya pernikahan mereka sudah lebih dari sepuluh tahun, harusnya kegiatan ranjang adalah sesuatu yang rutin, tapi faktanya bisa ia tau saat pertama kali mereka melakukannya lagi.
Apa saat Sasa meninggalkannya karena dijodohkan oleh orang tuanya?
Yang membuatnya kesal, yaitu saat wanita itu mengenakan kontrasepsi tanpa berdiskusi dengannya.
Alex sengaja tak memakai pengaman, ia memang ingin menghamili Sasa-nya, agar wanita itu meminta pertanggung jawaban padanya.
Dengan kata lain, Sandra akan bercerai dengan suaminya dan berakhir menikah dengannya.
Selain karena maksud terselubung itu, ia juga bermaksud untuk memberi papanya cucu.
Nyatanya keinginannya tak mungkin jadi kenyataan, papanya telah berpulang, sementara dirinya belum memberikan cucu.
Sesungguhnya Alex tersiksa saat mendiamkan Sandra, ia rindu bermanja dengan wanita itu.
"Jo, bisa lo perintahkan Robert untuk cari tau kehidupan pribadi Sandra, tentang suaminya terutama,"
"Apa ada masalah bang?"tanya Jonas.
"Gue harus memastikan bahwa rahasia perusahaan aman,"jawabnya.
Alex tentu percaya sepenuhnya pada Sandra, hanya saja ia penasaran dengan kehidupan pribadi sekretarisnya,
Ia hanya ingin mencari celah untuk memisahkan Sandra dengan suaminya,
Agar bisa memiliki wanita itu sepenuhnya.
Konyol memang, dirinya tak ubahnya perebut bini orang, tapi ia tak peduli.
Sedari awal dirinya jatuh cinta pada Sasa yang tak lain adalah Sandra juga saat mendapati wanita itu masih perawan, sejak itulah ia berjanji dalam hatinya, jika hanya dari Sandra lah keturunan Soejono lahir.
Tentu Alex ada alasan tersendiri mengapa berfikir seperti itu,
Ia terinspirasi dari mendiang kedua orang tuanya,
Soejono dan Merry saling jatuh cinta saat masih sekolah, dan memutuskan menikah setelah lulus.
Bukankah pernikahan muda saat masa itu hal yang lazim?
Tapi nyatanya, wanita itu malah menikah dengan lelaki lain.
Tentang perbedaan keyakinan, Alex sama sekali tak peduli, toh mereka bisa menikah di luar negeri.
Alex meminta Jonas untuk mengantarkannya ke apartemen dimana Sandra tinggal,
Sebagai orang dengan ingatan kuat, Alex bisa mengingat dimana wanita itu tinggal sesuai yang tertera di data diri karyawan yang dulu diperiksanya.
Dirinya juga menyuruh Jonas untuk meninggalkannya, ia mengatakan akan pulang menaiki taksi.
Tak lupa membelikan buah di supermarket yang masih berada diarea apartemen.
Alex menunggu di lobby setelah meminta pada resepsionis untuk menghubungi ke unit Sandra, dengan alasan, wanita itu tidak bisa dihubungi.
Tak lama wanita itu turun dari unitnya, hanya mengenakan daster rumahan dengan cardigan yang melapisinya,
Alex bisa melihat wajah pucat wanita itu,
"Pak Alex ngapain ke sini?"tanya Sandra heran.
"Saya mau jenguk sekertaris yang katanya lagi sakit,"jawab Alex sambil bangkit dari duduknya.
"Bukannya bapak nggak mau lihat saya dulu ya! Harusnya Pak Alex senang saya tidak masuk kerja,"
"Aku minta maaf kalau perkataanku kemarin menyinggung kamu, bukan maksudku seperti itu,"
Sandra menghela nafas, "Alex, kepala aku lagi pusing banget, bisa nggak jangan buat aku tambah pusing,"
"Kita ke dokter yuk, aku antar,"ajak lelaki itu.
"Nggak perlu, aku tadi udah minum obat, jadi lebih baik kamu pergi dari sini aku mau tidur,"Tolaknya.
Belum sempat, Alex menanggapi, Ferdiansyah datang menghampiri,
"Loh, pak Alex, apa kabar?"tanya lelaki itu sambil menyodorkan tangannya.
Mau tak mau Alex membalas jabatan tangan itu, "saya baik,"
"Apa bapak mau menjenguk Sandra? Maaf ya pak, tadi pagi dia mengeluh kepalanya sakit sehingga tidak masuk kerja dulu,"jelas Ferdiansyah sambil merangkul istrinya.
Alex berdehem, ia mencoba tetap tenang meskipun hatinya tengah terbakar cemburu.
"Xander mana mas?"tanya Sandra heran sekaligus was-was, jangan sampai Alex tau keberadaan putranya.
"Tadi minta ke tempatnya mbak Titi,"jawab Ferdiansyah, "Ajak bos kamu ke unit kita, masa ada tamu datang disuruh berdiri,"
Akhirnya terpaksa Sandra mempersilahkan bosnya untuk berkunjung ke unit apartemen yang ditempatinya.
Ferdiansyah menyuruh Sandra melayani Alex dengan baik, membuatkan kopi juga camilan.
Ferdiansyah juga banyak bertanya tentang kinerja Sandra di kantor, juga membanggakan istrinya sebagai istri dan ibu yang baik untuk keluarga.
Mendengar hal itu Alex hanya mengepalkan tangannya, ia tengah menahan amarah karena cemburu.
Saat kedua lelaki itu bercerita Sandra meminta ijin untuk ke toilet terlebih dahulu, perutnya mendadak mulas.
Sepeninggal Sandra,
"Menurut pak Alex bagaimana dengan Sandra?"tanya Ferdiansyah dengan suara pelan.
Alex mengernyit bingung, bukankah tadi ia telah menjelaskan jika Sandra adalah sekertaris yang kompeten, "Maksudnya apa ya pak Ferdi?"tanyanya balik.
"Maaf sebelumnya pak, Apa bapak sedang singel?"
Alex makin bingung dengan pertanyaan lelaki disampingnya, ia hanya menanggapi dengan anggukan.
"Bukankah Sandra itu cantik dan seksi? Apa pak Alex tidak tertarik dengannya?"
Alex terkejut mendengar perkataan suami dari sekretarisnya, meskipun ia sudah berkali-kali berhubungan intim dengan Sandra, tak mungkin ia mau mengakui apalagi didepan laki-laki yang notabenenya suami dari Sandra, "maksud pak Ferdi apa? Saya kurang paham,"tanyanya.
"Apa pak Alex tidak ingin mencoba tidur dengan Sandra? Saya yakin pak Alex akan puas dengan dia, bodynya seksi juga jago dalam urusan ranjang,"tawar Ferdiansyah dengan berani.
Alex mengepalkan tangannya, rasanya ia ingin menghajar lelaki itu, kurang ajar sekali, ada suami yang menawarkan istrinya pada lelaki lain.
Meskipun ia tak menampik, tanpa Ferdiansyah tawarkan, ia dan Sandra sudah sering melakukannya.
"Kenapa anda berkata seperti itu? Apa anda mempermainkan saya?"tanya Alex.
Ferdiansyah menggeleng, ia menceritakan tentang kondisinya yang tengah menganggur, sementara ia butuh uang untuk mengirimi ibunya yang sedang sakit, dan biaya bulanan rumah tangganya.
Meski kesal, Alex berusaha mengendalikan dirinya, mencoba mengikuti permainan suami dari Sandra.
"Berapa yang anda butuhkan? Bukanya saya setuju dengan anda menjual Sandra tapi mengingat betapa kompetennya dia saya berniat membantu,"ucap Alex,
"Saya butuh lima puluh juta,"sahut Ferdiansyah cepat.
"Baiklah," Alex mengutak-atik ponselnya lalu menyodorkan ke Ferdiansyah untuk dimasukan rekening agar bisa di transfer.
Suami dari Sandra dengan senang hati mengetikan beberapa digit rekeningnya, lalu mengembalikannya lagi pada Alex.
"Sudah masuk, lima puluh juta,"ucap Alex sambil menunjukkan bukti transaksi pada layar ponselnya.
Senyum mengembang menghiasi wajah Ferdiansyah, "Terima kasih, silahkan anda melakukannya dikamar itu, malam ini saya tidak pulang,"usai mengatakan itu, lelaki itu keluar dari unit apartemen begitu saja.