How To Marry You ?

How To Marry You ?
lima puluh empat



Mobil yang dikemudikan Sandra memasuki parkiran bawah tanah gedung, di sana ada Alex yang tengah berdiri menunggunya.


Xander terlihat antusias bertemu dengan papanya kembali, bocah itu memeluk dan tersenyum bahagia.


Bukannya menghampiri Alex, Sandra malah berjalan menuju bagasi mobil untuk mengambil koper dan beberapa oleh-oleh yang dibelinya tadi.


"Lex, bawa kunci mobil yang biasa aku pakai nggak?"tanyanya tanpa melihat lelaki itu, ia berniat memindahkan langsung koper miliknya.


Alex menghampiri Sandra dan merogoh saku, bukannya memberikan kunci mobil yang di minta kekasihnya, ia malah mengambil koper milik wanita itu.


Alex juga mengambil 1 dus berisi oleh-oleh lalu mengajak putranya untuk mengikutinya.


Sandra melongo melihat tingkah lelaki itu, ia bingung mengapa Alex tak menyapanya.


Sandra membawa dua dus yang tersisa, ia berjalan mengikuti langkah Alex dan putranya.


Bapak dan anak itu menunggunya didalam lift dengan pintu berwarna gold,


Begitu Sandra masuk, pintu tertutup dan lift mulai bergerak ke atas,


"Lex, kenapa malah ke sini? Besok Xander harus sekolah, bagaimana dengan seragamnya?"tanya Sandra.


"Sudah aku siapkan diatas,"jawab Alex tanpa menatap kekasihnya.


Pintu lift terbuka di lantai tujuh, tempat tinggal Alex di gedung ini,


Alex meletakan dus berisi oleh-oleh di dapur lalu menggeret kopernya menuju walk in closet yang ada di kamarnya.


Setelah meletakan dus berisi oleh-oleh, Sandra mengikuti lelaki itu begitu juga dengan Xander.


"Itu baju kotor semua, biar aku yang bereskan,"ucap Sandra saat Alex hendak membuka koper miliknya.


Alex yang tadinya jongkok lalu berdiri dan menyuruh putranya untuk membersihkan diri, ia menunjukan beberapa setel baju rumahan juga seragam sekolah milik Xander yang berada di salah satu sudut lemari.


Sandra mengeluarkan baju kotor miliknya dan putranya serta memilahnya, karena lelah sepertinya dirinya harus membawanya ke laundry.


Tak lama putranya keluar dari kamar mandi, bocah itu melilitkan handuk yang biasa dipakainya ketika mandi di sini.


Alex memilihkan piyama serta dalaman milik Xander, yang sepertinya masih baru.


Sandra baru ngeh bukan hanya baju milik putranya yang baru, disalah satu sudut tempat bajunya diletakan ada beberapa setelan kerja wanita yang terlihat asing bersisian dengan baju miliknya.


"Apa kamu habis belanja?"tanya Sandra pada Alex.


Lelaki itu hanya berdehem, menanggapi pertanyaan kekasihnya.


Alex mengajak putranya untuk keluar dari sana, tanpa menyapa Sandra.


Tak mau ambil pusing setelah menyelesaikan membungkus pakaian kotor yang besok akan dibawa ke loundry,


Sandra memilih mandi terlebih dahulu, sepertinya berendam air hangat dengan aroma terapi favoritnya akan membuat tubuhnya lebih relaks, perjalanan jauh membuatnya lelah.


Sandra membutuhkan waktu selama tiga puluh menit di kamar mandi, setelahnya ia merasa lebih relaks dan segar, ia keluar sambil melilitkan handuknya.


Ia memilih piyama santin berwarna hitam dengan panjang sepaha satu set dengan dalaman dengan warna senada.


Teringat dengan oleh-oleh yang belum di bereskan, ia mengurungkan niatnya untuk tidur.


Sandra memilah oleh-oleh, ada yang diletakan di kulkas, seperti lumpia, bandeng presto serta tahu baso, sementara sisanya, ia letakan di lemari penyimpanan makanan.


Esok hari ia akan membagikan pada rekan-rekan kerjanya juga wali kelas putranya.


Selesai dengan urusan oleh-oleh, Sandra menghampiri Alex yang tengah berada di sofa sambil memangku laptopnya, entah apa yang sedang dikerjakannya.


Ia duduk tak jauh dari lelaki itu, "Lex, kamu kenapa? Kok diamkan aku?"tanyanya.


Alex masih mendiamkannya, ia masih sibuk dengan laptopnya, jarinya beradu cepat dengan keyboard.


"Kamu kenapa sih? Kalau kamu mau diamkan aku, kenapa malah bawa aku kesini, harusnya tadi kamu biarkan aku pulang ke rumah,"


Hening lagi, hanya terdengar suara pendingin ruangan dan ketikan jari beradu dengan keyboard.


"kalau memang kamu masih mau diamkan aku, mendingan aku tidur aja, aku lelah,"ujarnya lalu bangkit dan berjalan menuju pintu kamar.


Namun pertanyaan Alex menghentikan langkahnya, "kenapa kamu nggak bilang kalau selama ini kamu mengurus lelaki brengsek itu? bahkan sampai mengantarkannya ke luar kota, apa kamu mau jadi istri yang baik? Dan menarik gugatan cerai kamu? Bagiamana dengan aku?"tanya lelaki itu bertubi-tubi.


Sandra menarik nafasnya, ia menghembuskannya perlahan, ia harus tetap tenang, menghadapi kekasihnya harus sabar, tenang dan memberikan alasan sejujur-jujurnya, karena kebohongan yang ia tutupi lelaki itu bisa mengetahuinya.


Sandra berbalik, ia duduk kembali di sofa singel, di samping sofa panjang yang diduduki lelaki itu.


"kamu kan nggak tanya,"jawabnya dengan tenang.


Alex menutup laptopnya kasar lalu meletakkan di meja kaca dihadapannya, "kamu sengaja ya, mentang-mentang aku sibuk, kamu nggak mau cerita hal sepenting ini sama aku? Kamu nggak menghargai aku? Kamu anggap apa aku ini? Apa hanya orang ketiga perusak rumah tangga kamu begitu?"ungkapnya dengan nada bicara meninggi.


Sandra terkejut dengan ucapan kekasihnya, sepertinya lelaki itu benar-benar marah,


Ia dengan tenang mulai menceritakan tentang musibah yang menimpa Ferdiansyah, sehingga harus dirawat di rumah sakit, tentang dirinya yang dihubungi dan menanggung semua biaya, mengingat dirinyalah satu-satunya keluarga lelaki itu di kota ini.


Mengenai statusnya yang belum resmi bercerai di pengadilan, mau tak mau ia harus membantu lelaki itu, bagaimanapun mereka masih terhitung suami istri diatas kertas.


Segala yang terjadi ia ceritakan, kecuali tentang ancaman Inah padanya, tak mungkin bukain ia mengatakan dengan jujur pada kekasihnya, bisa-bisa Alex nekad mendatangi ibu dari Ferdiansyah.


Sandra tau betul bagaimana watak dari kekasihnya,


"Jadi dia meminta kamu untuk menunda perceraian kalian? Lalu apa kamu setuju?"tanya Alex dingin.


"Aku terpaksa, tak mungkin bukan dalam kondisi seperti itu aku menceraikannya, apa kata orang nanti,"jawab Sandra, ia tau kekasihnya marah.


"Apa kamu hidup berdasarkan apa kata orang? Lalu bagaimana dengan hubungan kita?"


"Lex, setidaknya sampai mas Ferdi sembuh dan bisa bekerja lagi,"


"Sampai kapan? kamu lupa aku nunggu kamu berapa lama? belum lagi soal kenyataan kamu sudah menikah, lalu proses perceraian yang ditunda, berapa lama lagi Sandra? aku harus bersabar untuk memiliki kamu seutuhnya,"


"Kata dokter mungkin dua sampai tiga bulan mas Ferdi baru benar-benar sembuh dan mulai bekerja, tolong mengerti aku,"


Alex menghembuskan nafasnya kasar, lalu bangkit berdiri, ia berkacak pinggang dan menatap kekasihnya tajam, "ingat Sandra, aku dengan mudah menjadi orang tua Xander satu-satunya tanpa ada nama kamu tertera di akta kelahirannya, dan kamu akan kehilangan hak atas putraku, aku beri kamu waktu tiga bulan untuk menyelesaikan urusan kamu sama dia, jika dalam batas waktu itu kalian masih bersama, artinya aku adalah orang tua Xander satu-satunya, dan silahkan kamu menghilang seperti sebelumnya,"ancamnya, setelahnya, ia berlalu dari hadapan Sandra yang terkejut dengan ucapannya.