
Kemarin Sandra baru saja mengambil Rapot putra semata wayangnya di sekolah, ia bersyukur Xander mendapatkan rangking pertama di kelasnya.
Rencana liburan ke Itali ditunda, Alex meminta maaf pada Sandra dan putra semata wayang mereka, ia menyesalkan hal itu.
Benedict yang awalnya memberikan ijin untuk liburan, malah meminta Alex membatalkannya, dengan alasan, ada pekerjaan yang harus dikerjakannya di Amerika.
Entah jenis pekerjaan seperti apa, yang jelas bukan hanya Alex yang diajak, Fernando dan Robert juga.
Sandra dan putranya hanya bisa memberi pengertian, namun Benedict memberikan ganti kompensasi berupa paket liburan ke salah satu Pulau pribadinya bersama Natasha.
Siang itu Sandra bersama putranya berkunjung ke rumah Natasha, untuk membahas soal rencana liburan mereka.
"Sha, Apa Lo mau terima tawaran Benedict tentang liburan ke Pulau pribadinya?"tanya Sandra saat dirinya baru saja masuk ke rumah sahabatnya.
Natasha mengajaknya duduk terlebih dahulu di sofa ruang tengah, "kalau menurut Lo gimana?"tanyanya balik.
Sandra menatap putranya, seolah meminta pendapat, "terserah mama, Xander ikut kemana mama pergi,"ucap remaja itu.
"sha Lo kan pernah liburan ke Pulau pribadinya Ben, kira-kira seru nggak?"tanya Sandra.
Natasha terdiam sejenak, ia tengah berfikir, lalu menatap wanita beranak satu itu, "kalau buat honeymoon seru, tapi kalau buat kita-kita yang doyan kuliner kayaknya nggak deh,"
Ketiganya diam dengan pikiran masing-masing, hingga Xander angkat bicara terlebih dahulu, "aunty, gimana kalau kita keliling pulau Jawa?"cetusnya.
Sandra dan Natasha saling pandang, lalu tersenyum lebar, keduanya kompak menganggukkan kepalanya.
Akhirnya disepakati ketiganya akan berkeliling pulau Jawa selama dua pekan menggunakan mobil pribadi.
Tapi mereka juga sepakat untuk merahasiakan dari Alex dan sahabatnya, bisa gagal rencananya.
Ketiganya memutuskan akan berangkat usai Alex berangkat ke Amerika.
Sempat ada keinginan mengajak Sinta, tapi tak ingin ketahuan Rama, alhasil mereka mengurungkannya.
Sehari sebelum Alex berangkat, lelaki itu mengambil cuti sehari, agar bisa seharian bersama kekasih dan putranya.
Pagi-pagi sekali usai subuh ketiganya lari pagi sekitar komplek, dan berakhir berjalan kaki menuju pasar tradisional yang tak jauh dari komplek.
Rencananya mereka akan masak bersama-sama, aktivitas yang sudah lama tak mereka lakukan, mengingat kesibukan Alex.
Mereka bagai sebuah keluarga kecil nan bahagia, pasangan muda yang telah memiliki seorang anak remaja.
Selesai dengan urusan berbelanja di Pasar, mereka sempat mampir untuk sarapan bubur ayam dalam perjalanan pulang.
Setibanya di rumah, Sandra mulai memasak, sedangkan Alex dan Xander membersihkan rumah, Ketiganya saling bekerja sama untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Papa berapa lama di Amerika?"tanya Xander kala mereka sedang menyiram tanaman di taman kecil didekat teras.
Alex menggeleng, "belum tau, tergantung om Ben, kenapa emang?"tanyanya balik.
"Apa papa merayakan natal di sana?"tanya remaja itu memastikan.
Alex diam sejenak, ia tau maksud putranya menanyakan hal itu, namun ia memilih tak menjawab, ia tak ingin hari ini berakhir dengan perdebatan.
Hingga kegiatan menyiram tanaman selesai, dan Sandra meminta bantuan salah satu dari mereka, Alex masih bungkam.
Saat masakan matang, mereka makan bersama, Sandra mengambilkan nasi beserta lauk untuk Alex terlebih dahulu, setelahnya untuk putranya dan terakhir untuk dirinya sendiri.
Tak ada obrolan berarti, hanya pembahasan soal hidangan yang tengah mereka nikmati.
Usai makan, ketiganya menonton film di ruang tengah sambil menikmati es krim, film yang direkomendasikan oleh Xander.
Film yang diliris akhir tahun dua ribu dua belas, dengan durasi satu jam setengah, yang menceritakan tentang hubungan berbeda keyakinan.
Awalnya Ketiganya biasa saja, namun semakin lama, Alex mulai kesal, situasinya hampir sama dengan dirinya dan Sandra, hanya saja terbalik.
Sandra seorang muslim sedangkan dirinya non muslim, Alex yang mengetahui ending filmnya seperti apa memilih mematikannya, lalu melempar remote nya ke tembok di samping Televisi, hingga benda persegi panjang itu hancur.
Tak banyak bicara, Alex bangkit meninggalkan Sandra dan putranya, menuju ke kamar.
Sandra tak menyangka Alex akan semarah itu hanya karena film, ia sedikit terkejut saat lelaki itu melempar remote.
"kamu sengaja ya?"tanyanya pada putra semata wayangnya.
Xander mengangkat bahunya tak peduli, remaja itu membereskan remote yang telah hancur itu lalu membuangnya ke tempat sampah.
Sementara Sandra membereskan wadah es krim dan membawanya ke dapur.
"Ma, Xander tanya boleh?"
Sandra berdehem sembari mencuci tangannya.
Xander bercerita tentang pertanyaan yang tadi belum di jawab oleh papanya saat mereka sedang menyiram tanaman didepan.
"Apa kalian akan tetap seperti ini?"tanyanya.
"Ma, sampai kapan mama akan sama papa? Apa mama nggak merasa berdosa dengan hidup yang dijalani seperti sekarang?"tanya remaja yang tahun depan berusia empat belas tahun itu.
Sandra diam, ia sendiri bingung harus bagaimana.
Melihat diamnya wanita yang melahirkannya, Xander kembali berbicara, "kita pernah membahasnya ma, Xander nggak masalah kalau kita tinggal di kontrakan kecil, asal hidup kita tenang, dan mama nggak melakukan dosa terus menerus, apa mama nggak capek? Xander sebagai anak mama, merasa ikut bertanggung jawab karena hal ini,"
"ma, sepulang papa dari Amerika, harus ada keputusan diantara kalian berdua, Xander nggak mau begini terus," setelah mengatakannya, remaja itu memilih masuk ke kamarnya.
Sandra menghela nafas lelah, sejujurnya ia bingung, apa yang harus diperbuatnya, andai ia meninggalkan kekasihnya, apa lelaki itu akan baik-baik saja? jika terjadi apa-apa, ia akan menjalani hidupnya dengan rasa bersalah.
Ia memutuskan masuk ke kamarnya, ia hanya ingin tau apa yang tengah dilakukan lelaki itu.
Sandra membuka pintu kamar, ia mendapati lelaki itu tengah duduk sembari memangku laptopnya.
Lega rasanya melihat Alex baik-baik saja,
Sandra duduk di samping kekasihnya, ia memainkan ponselnya, hening tak ada pembicaraan diantara kedua sejoli itu.
Bermenit-menit berlalu, tak kunjung ada yang bersuara, Sandra sendiri bingung harus apa, ia juga tak berniat meminta maaf soal kelakuan putra semata wayang mereka, memang kenyataannya ia dan kekasihnya berbeda.
Alex menutup laptopnya dan menaruhnya di kabinet, lelaki itu masuk ke dalam kamar mandi.
Sandra memutuskan untuk berbaring miring, dan meletakkan ponselnya disisi bantalnya.
Sebuah tangan memeluknya dari belakang, "aku pasti bakal kangen banget sama kamu,"bisik lelaki itu.
Sandra berbalik, menghadap kekasihnya, "aku pikir kamu marah,"
"nggak usah dibahas,"tolak Alex.
Sandra sudah menduga, lelaki itu akan menghindari pembicaraan sensitif diantara mereka.
"Lex, sepulang kamu dari Amerika, aku minta kamu memberi kepastian, mau dibawa kemana hubungan kita,"
"memangnya mau dibawa kemana? Kita kan selalu bersama-sama Sa,"
Sandra berbaring terlentang, ia menatap langit-langit kamarnya, "kita nggak bisa selamanya begini Lex, semua hal harus ada akhirnya, ini demi kebaikan kita dan Xander,"
"Sa, aku ingat, pernah menyanggupi akan mengikuti keyakinan kamu, bukankah kamu malah melarang aku,"
"Lex, menjadi mualaf bukan hanya soal kesaksian, tapi selanjutnya harus menjalani semua perintah dan menjauhi larangannya, apa kamu bisa seperti itu?"tanya Sandra lembut.
Di keyakinan yang dianutnya, ada larangan soal khamr, tapi Alex malah mengkoleksinya, bahkan kunjungannya ke Itali juga untuk berburu minuman yang memabukkan itu.
Sandra tak yakin jika lelaki itu mau membuang semua koleksi khamr yang berasal dari berbagai negara juga merk.
"Kalau gitu, kita begini saja, bukan kah selama ini hubungan kita baik-baik saja?"
Sandra kembali berbaring miring berhadapan dengan kekasihnya, ia menyentuh rahang lelaki itu, "tapi aku tidak bisa seperti ini terus, aku mau berhenti,"
Alex menghela nafas, "apa kamu mau kembali ke mantan suami kamu?"
Sandra menggeleng, "jika kita berpisah, aku memutuskan untuk hidup hanya dengan putraku, aku tak akan menikah, atau menjalin hubungan dengan lelaki manapun, karena aku tak yakin jika aku bisa membuat hatiku untuk hubungan baru,"
"Lalu aku bagaimana?"tanya Alex mulai terpancing emosi.
"kamu lanjutkan hidup kamu, mungkin menikah dengan wanita yang satu keyakinan dan membentuk keluarga kalian juga bisa memiliki anak,"jawab Sandra tanpa berani menatap mata lelaki dihadapannya.
"kamu pikir aku belum pernah coba? Aku pernah coba Sa, sebelum kamu kembali, tapi tak pernah berhasil, aku terlalu mencintaimu, aku selalu teringat kamu,"
Alex bangkit dan duduk bersila menghadap kekasihnya, "Sandra coba kamu ajari aku, bagaimana caranya menghilangkan rasa cinta aku ke kamu? Kasih tau aku caranya, supaya aku bisa melepaskan kamu,"ucapnya dengan suara mulai meninggi.
Ia menghembuskan nafasnya kasar, "oh aku tau, satu-satunya cara untuk menghilangkannya, aku mati saja ya! dengan begitu kamu juga bisa lepas dari aku,"
Sandra melotot, ia terkejut dengan ucapan lelaki itu, ia bangkit lalu menatap kekasihnya tajam, "apa kamu sadar apa yang kamu ucapkan?"
Alex tersenyum miris, "ya aku sadar, sepenuhnya sadar, lebih baik aku mati bukan, supaya kamu bisa lepas dari aku, dengan aku mati, kamu bisa lepas dari aku,"
"Dan setelah kamu mati, aku dan Xander akan menjalani hidup dengan perasaan bersalah, itu yang kamu inginkan?"tanya Sandra tak mau kalah.
"kamu akan bahagia jika aku mati Sandra, kamu akan menikah dengan lelaki yang satu keyakinan sesuai harapan kamu dan Xander,"
"Alex apa kamu tuli, aku bilang jika aku tak bersama kamu, aku hanya akan hidup bersama putraku, tak akan ada lelaki lain setelah kamu,"
"kalau begitu jangan pergi dari aku, kita harus selalu sama-sama, dan stop bahas tentang keyakinan, aku muak mendengarnya,"
Sandra tau akan berakhir seperti ini, Alex tak mungkin mau meninggalkan keyakinan yang sudah dianutnya sedari kecil.
Setiap membahas hal ini akan berakhir dengan tak ada kepastian kejelasan hubungan mereka.
Apa yang harus Sandra lakukan?