
Alex membawa putra dan kekasihnya menuju rumah keluarganya.
Semenjak papanya meninggal tak ada lagi yang menempati, hanya sesekali ada orang yang datang untuk membersihkannya.
Tak banyak baju yang dibawa Sandra dan Xander, tak mungkin bukan keduanya tiba-tiba pindah dari apartemen tanpa alasan.
Walaupun kesal tapi Alex mencoba mengerti, ia ingin membangun citra yang baik dihadapan putranya.
Alex mempersilahkan Sandra untuk menempati kamar miliknya sedangkan putranya akan menempati kamar mendiang papanya.
"Apa ini rumah papa?"tanya Xander ketika bapak dan anak itu berada dikamar milik mendiang Soejono.
"Iya, apa kamu suka?"tanya Alex balik.
Xander mengangguk sambil tersenyum, "apa boleh aku
tidur di kamar ini?"tanyanya ragu.
"Tentu saja, mulai sekarang ini akan jadi kamar kamu, apa ada yang kamu inginkan untuk kamar ini, misal gambar tokoh kartun, pemain bola atau mobil?"
"ini sudah lebih dari cukup, apa aku tidak akan dimarahi jika tidur di kamar? papa tidak akan memukul aku bukan?"
Alex mengernyit bingung, dalam hati ia berkata, "kenapa putranya sepertinya mempermasalahkan hal remeh seperti ini? Sebenarnya kehidupan apa yang selama ini dijalani Sandra dan anaknya?"
"tidak akan ada yang memarahi kamu, kalau ada yang berani, kamu bisa mengadu ke papa, sedikit info, papa pernah juara olahraga boxing loh,"
Terlihat tatapan berbinar dari bocah yang dua bulan lagi berumur sepuluh tahun itu, "wah, kalau ada waktu, papa harus ajari Xander, supaya bisa lindungi mama dan tak ada yang berani menyakiti mama,"
"siapa yang menyakiti mama?"
"ayah, tapi Papa jangan bilang kalau Xander yang kasih tau, ini rahasia kita, papa janji ya!"ujarnya sambil menunjukan jari kelingkingnya.
Alex balas menautkan jari kelingkingnya, "coba ceritakan apa yang terjadi sama kalian?"
Xander mulai bercerita, jika beberapa kali didepan matanya Ferdiansyah memukul Sandra sambil memakinya, hal itu diam-diam juga dilakukan oleh lelaki yang ia panggil ayah pada dirinya,
Xander akan dipukuli jika tidak menurut, bukan hanya dipukuli, tapi Ferdiansyah memakinya dengan sebutan anak haram.
"ingat ya papa jangan sampai mama tau, kalau Xander sering dipukuli ayah, nanti mama sedih, Xander tidak mau mama menangis,"pesannya.
Alex mengepalkan tangannya kuat, dalam hati ia bersumpah akan membuat perhitungan pada lelaki seperti Ferdiansyah.
"Mulai sekarang tak akan ada yang menyakiti kalian lagi, ceritakan semua hal yang kamu alami pada papa, kamu mengerti?"ucap Alex sambil memeluk putranya.
Karena memang rumah selalu kosong, jadi tidak ada stok bahan makanan, sehingga Alex memesankan makanan dari luar.
Ketiganya makan bersama di meja makan, cerminan keluarga bahagia yang ada di bayangan Alex, sama seperti saat dirinya masih kecil, ketika mamanya masih hidup.
Dirinya dan keluarganya akan selalu menyempatkan makan bersama saat sarapan juga makan malam.
Di saat itulah ia dan Maria akan menceritakan tentang rencana atau hari yang telah dilaluinya kepada kedua orangtuanya.
Alex berharap akan segera mewujudkan kenangan masa kecilnya pada putra semata wayangnya.
Namun ia harus menyelesaikan satu persatu masalah yang ia tau akan jadi penghalang keinginannya.
Usai makan malam, ia dan Sandra mendengarkan cerita dari Xander ketika di sekolah tadi.
Bocah itu bercerita, jika tadi dipuji oleh guru, dikarenakan mendapatkan nilai tertinggi di kelas dalam pelajaran matematika.
Juga tentang teman sebangkunya yang membagi bekal makan siangnya.
Tentang Bu Titi yang bersedih karena kakak kandungnya yang di kampung meninggal dunia.
Tawa lebar menghiasai wajah bocah itu ketika melihat mulut papanya penuh dengan busa pasta gigi.
"apa kamu sudah mengerjakan PR?"tanya Alex saat keduanya baru memasuki kamar.
"Tidak ada PR hari ini, dan aku sudah menyiapkan buku untuk besok,"jawab bocah yang mengenakan piyama bergambar mobil kecil.
"kalau begitu ayo kita tidur supaya bisa bangun pagi,"ajak Alex.
Xander menurut, ia mulai membaca doa tidur, "papa tidak baca doa?"tanyanya heran.
"sudah dalam hati,"jawab Alex sedikit ragu.
Tak mungkin bukan memberitahu putra yang baru ditemuinya, kalau dirinya berbeda keyakinan.
Alex mengelus kepala putranya lembut, hingga tak sampai sepuluh menit, bocah itu telah tertidur.
Setelah memastikan putranya benar-benar terlelap, perlahan Alex turun dari ranjang dan keluar dari kamar, ia perlu berbicara dengan Sandra.
Tanpa mengetuk, ia memasuki kamar miliknya, terlihat, Sandra yang sedang memainkan ponsel,
"Ada yang harus kita bicarakan Sandra, aku butuh semua penjelasan tanpa sedikitpun terlewat,"pintanya.
Sandra meletakan ponselnya dibawah bantal, lalu duduk bersandar di head board, "bukankah sudah cukup jelas, bahwa Xander anak kamu, lalu apalagi?"
Alex melepas kemeja dan celana formalnya, menyisakan bokser lalu duduk disisi ranjang menghadap ibu dari putranya,
"Kamu bahkan belum menjawab pertanyaan aku dulu, tentang alasan kamu meninggalkan aku begitu saja, lalu kenapa kamu tidak memberitahu aku ketika kamu hamil? kenapa kamu bisa menikah ? Kehidupan seperti apa yang kalian lalui? Aku minta jelaskan satu persatu, tanpa ada yang terlewat,"Alex menekankan setiap pertanyaan yang diucapkannya.
Sandra memejamkan matanya sejenak, ia tau ini akan terjadi, tapi ia malas menjelaskannya, "bisa tidak kamu cukup tau bahwa Xander anak kamu, tidak dengan pertanyaan yang lain, aku berhak bukan untuk tidak berbicara,"
"tapi aku mau dengar, bukankah lebih baik aku mendengarnya langsung dari kamu?"
Sandra menghela nafas, "baik aku akan jelaskan hanya garis besarnya, tolong setelah ini jangan lagi bertanya,"pintanya.
Sandra mulai menjelaskan, jika mendiang ayahnya yang meminta pindah ke Semarang, dikarenakan harus menjaga nenek yang terkena stroke, bahkan Sandra sudah didaftarkan disalah satu perguruan tinggi di sana.
Mengenai Ferdiansyah, ia dijodohkan oleh ayahnya sekitar empat tahun lalu.
Sandra baru mengikuti suaminya pindah kembali ke ibu kota sekitar setahun ini, dikarenakan kedua orang tuanya meninggal dalam waktu berdekatan.
"sudah aku jelaskan, tolong jangan bertanya lagi,"pintanya.
"satu pertanyaan lagi, Apa kamu mencintai suami kamu?"tanya Alex lagi,
Sandra menghembuskan nafasnya kasar, dirinya tak habis pikir, apa Alex mendadak menjadi bodoh? harusnya ia bisa merasakannya.
"Menurut kamu, apa aku terlihat sangat mencintai mas Ferdi?"tanyanya balik.
"Aku yang bertanya, kenapa kamu balik bertanya?"
"Alex, apa menurut kamu seorang istri yang begitu mencintai suaminya, mau diajak tidur oleh lelaki lain? Harusnya kamu lebih paham perasaan aku,"
Alex terdiam, ia berfikir, benar juga apa kata Sandra, "Berarti kamu hanya mencintai aku begitu? Dan kamu tidak pernah mencintai suami kamu, begitu kan maksudnya?"tanyanya memastikan.
"Menurut kamu?"
"aku yakin cinta kamu hanya untuk aku? benar begitu?"
Sandra mengangguk, tidak mungkin bagi dirinya mau berhubungan intim dengan Alex tanpa dasar cinta, sedangkan dengan suaminya meski tak sampai akhir, walau sejujurnya ia tak rela ketika tubuhnya dilihat dan disentuh oleh Ferdiansyah.
"Terima kasih Sasa,"ucap Alex sambil memeluk wanita itu erat.