How To Marry You ?

How To Marry You ?
seratus tiga belas



Kurang lebih dua bulan, Alex berada di Amerika, bekerja di kantor Mr William, mengikuti kemanapun lelaki berumur diatas empat puluhan itu pergi.


Atau sekedar membantu pekerjaan Benedict yang entah pergi kemana bersama Fernando juga Troy.


Richard salah satu asisten Benedict hanya mengatakan jika mereka bertiga sedang melakukan pekerjaan yang penting.


Selama Perusahan masih beroperasi, pekerjaan akan selalu ada dan menumpuk, tapi ketika Benedict kembali, Alex meminta ijin untuk pulang ke Indonesia, ia merindukan kekasihnya.


Karena pekerjaan luar yang dikerjakan Benedict dan Fernando telah usai, akhirnya mereka kembali ke negara tropis itu.


Alex yang tak sabar, ingin segera melepaskan rindunya, sebelum pesawat lepas landas, ia meminta salah satu asistennya mengantarkan mobil menuju parkiran bandara, agar nantinya ia langsung pulang ke rumah.


Tapi setibanya di rumah, ia harus kecewa, kekasihnya tengah menginap di rumah orang tua Natasha, wanita itu beralasan sedang merindukan mendiang kedua orangtuanya, sehingga ia dan putranya sengaja menginap di sana.


Sementara Alex harus cukup puas melalui malam itu hanya memeluk guling yang biasa dipakai kekasihnya.


Di Hari kerja, dirinya yang baru kembali dari Amerika, hanya bisa pasrah menghadapi berkas yang menumpuk di meja kerjanya.


Belum lagi dinas keluar kantor menjelang makan siang hingga menjelang sore, sehingga intensitas pertemuannya dengan kekasihnya hanya sedikit, yaitu saat wanita itu membacakan jadwal atau memberikan berkas dari para bawahan atau rekanannya.


Sedangkan malam hari, ia tak bisa pulang ke rumah, ia harus memeriksa dan mempelajari berkas yang ada di meja kerjanya, belum lagi terkadang Benedict memintanya untuk datang ke rumahnya hingga menjelang tengah malam.


Saking sibuknya, terkadang Alex sampai ketiduran di sofa ruang kerjanya di kantor.


Jika ada waktu luang saat weekend, niat hati ingin menghabiskan waktu bersama kekasihnya, Alex harus puas dijejali pekerjaan yang tak kunjung habis, entah dengan setumpuk dokumen atau dinas luar bersama Rama atau Benedict.


Belum lagi saat wanita itu tak mau mengunjunginya di kantor, dengan alasan akan menghabiskan weekend berlibur bersama putra semata wayang mereka dan juga Natasha, entah ke villa atau mengunjungi umi Fatimah.


Alex marah dengan keadaanya sendiri, kesibukannya membuatnya tak bisa merengkuh kekasihnya, walau jaraknya hanya sejengkal.


Tak tahan dengan keadaan, ia mengajukan protes pada kedua sahabatnya, tapi sayangnya ia harus kecewa dengan ucapan mereka, "nikmati aja Lex, dengan gitu duit Lo kan jadi tambah banyak, bukanya Lo pengen ngajak Sandra ke Itali ya!"


Ada benarnya juga, tapi tabungannya sudah lebih dari cukup jika hanya untuk mengunjungi ke salah satu negara Eropa itu.


Akhirnya Alex hanya bisa pasrah menerima keadaannya, setidaknya walau tak bisa merengkuh tubuh kekasihnya, ia masih bisa melihatnya.


Tapi apa yang ia dengar dari sepupunya, membuatnya harus kecewa.


Ia tak menyangka jika selama ini wanita yang dicintainya mati-matian, sengaja menghindarinya.


Jonas yang bergabung dengan manajemen rumah sakit menggantikan Sandra, suatu hari tak sengaja mendengar percakapan antara Benedict dengan Sandra juga Natasha.


Kedua wanita itu sengaja meminta pada bos besar mereka agar membuatnya sibuk bekerja, sehingga tak ada waktu untuknya berkumpul dengan kekasihnya.


Jonas juga mengatakan tentang alasan yang melatarbelakanginya, kecewa tentu saja, ia tak menyangka mereka bersekongkol, ia merasa dikhianati, tapi ia juga tak bisa berbuat banyak.


Memastikan jika ucapan sepupunya benar, ia sengaja memanggil kekasihnya usai wanita itu menghindarinya selama jam makan siang.


Dengan telinganya sendiri, ia mendengar wanita yang sedari dulu ia cintai mengatakan, hanya akan menjadi ibu dari putra semata wayang mereka dan sekretarisnya di kantor.


"Apa kamu serius dengan ucapan kamu?"tanyanya memastikan.


Sandra mengangguk yakin,


"Sekali lagi aku tanya, kamu mau seperti itu?" tanyanya sekali lagi.


"iya, aku mau berhenti, aku hanya ibu dari anak kamu sekaligus bawahan kamu di kantor,"


"Oke kalau itu mau kamu, aku akan menuruti kamu,"


Alex bisa melihat wajah terkejut dari Sandra, setelahnya wanita itu undur diri dari hadapannya


Ini kali pertama dirinya setuju saat Sandra meminta berpisah darinya, hal itu ia lakukan juga karena ada maksud terselubung darinya.


Flashback on


Alex bertemu dengan sepupunya saat ia menjenguk adik kandung mendiang ibunya yang mengeluh tidak enak badan, lalu Jonas memberinya saran.


"Bang, yang namanya berhubungan sama cewek, ibarat kita lagi main layangan, mesti tarik ulur,"


"maksudnya?"tanya Alex bingung.


"Lo kan mantan player, masa Lo nggak tau sih, gue begini juga belajar dari Lo, jadi gini bang, coba lo lepasin mbak Sandra dulu, nah entar dia kan kaget tuh, enggak nyangka bakal begitu, jadi buat seolah dia yang butuh elo, jangan kayak kemarin-kemarin, Lo yang ngejar-ngejar dia,"


"Tapi kalau ternyata Sandra beneran mau pisah dari gue gimana dong?"


"coba dulu aja sih bang, dan satu lagi, entar malem temenin gue main ke tempat mami,"


"mau ngapain ke sana? Lo aja sendiri,"


"gue tau bang, Lo udah lama nggak gituan kan? Mbak Sandra kan menghindari elo, lagian di tempat mami Lo nggak perlu sewa cewek, Lo ngobrol sama bartender kek, atau apa kek, judulnya elo ke sana aja, gue pengen tau reaksinya mbak Sandra,"


Setelah berfikir sejenak, akhirnya Alex memutuskan mengikuti saran adik sepupunya itu.


Alex masih berkutat dengan setumpuk dokumen yang ada dimeja kerjanya ketika, Jonas dan Robert menghampirinya.


Kedua lelaki muda itu mengajaknya ke club' malam yang dikelola oleh seorang mucikari bernama mami Belinda.


Alex yang memang sudah sepakat dengan sepupunya, akhirnya menyudahi pekerjaannya sejenak, mungkin sekembalinya dari club' ia akan melanjutkan kembali.


Ia bahkan tak sempat mandi, toh ia masih wangi, ia hanya melepas dasi yang seharian ini melingkar di kerah kemeja hitamnya.


Tapi begitu tiba di parkiran bawah, kedua lelaki muda itu memintanya untuk menggunakan salah satu koleksi mobil miliknya, sialan memang, padahal mereka yang mengajak dan yang semakin membuatnya kesal, dirinya juga yang harus mengemudi.


Alex mencoba bersabar menghadapi kedua lelaki muda itu.


Entah sudah berapa lama ia tak berkunjung ke club' itu, ia lupa, sejak ada Sandra ia tak pernah menyewa wanita penghibur di sana.


Kedatangannya disambut oleh sang pengelola yang sedang berkeliling memantau keadaan tempat hiburan malam itu.


Mami Belinda biasa dipanggil, mengajaknya duduk di depan meja bartender tak lupa memesankan salah satu minuman favoritnya.


Jelas perempuan berusia empat puluhan itu ingat semua tentang salah satu pelanggan tempat usahanya, dulu Alex hampir setiap akhir pekan menyambangi tempat itu, untuk sekedar minum atau menyewa salah satu wanita penghibur, terkadang sendiri, bersama asistennya ataupun dengan para sahabatnya.


Selain itu, Ia juga salah satu pelanggan lama semenjak masih berseragam putih abu-abu.


Dentuman musik yang keras, membuat kedua orang berbeda jenis kelamin meninggikan suaranya jika berbicara, atau sekedar berbisik ditelinga lawan bicara.


Mami Belinda menawarkan salah satu anak buahnya yang masih belia, dan baru beberapa kali melayani lelaki hidung belang, tapi Alex menolak dengan alasan sedang tidak mood dan berkunjung hanya untuk menemani sepupu dan asistennya.


Hanya beberapa menit, keduanya terlibat pembicaraan, dikarenakan masih jam sibuknya, mami Belinda ijin undur diri.


Selanjutnya, bartender mengajaknya berbicara, sembari menawarkan beberapa minuman baru yang ia buat, semacam bereksperimen mencampurkan ini itu.


Alex dengan senang hati menerimanya, jelas ia tau apa saja bahan-bahan yang disebutkan bartender, sebagai pecinta minum beralkohol sedari muda ia sedikit belajar tentang hal itu.


Bahkan ia memiliki banyak koleksi di ruang kerjanya yang sengaja ia beli saat berkunjung ke beberapa tempat entah di dalam negeri atau luar negeri.


Saat sedang memperhatikan bartender meracik minuman yang akan diberikan padanya, punggungnya ditepuk, reflek Alex menoleh.


Seorang wanita mantan teman tidurnya, Rachel dan Michelle, keduanya bersahabat dan sama-sama teman kencannya dulu saat kuliah.


Sebrengsek itu dirinya, kedua sahabat pernah bertengkar memperebutkan dirinya, salah satu kumbang fakultas hukum di salah satu universitas terkemuka di ibukota.


Walau akhirnya kedua wanita itu tak ada yang berakhir menjadi pacarnya, hanya dijadikan pelampiasan nafsu semata.


Alex ingat betul salah satu dari mereka pernah menamparnya karena tak terima dicampakkan begitu saja olehnya.


Dan sepertinya sekarang keduanya telah akur kembali, mereka duduk di samping kanan kirinya, mendekat lalu bersandar padanya.


Keduanya saling bercerita tentang kehidupan percintaannya, juga tentang salah satu dari mereka yang dituntut oleh orang tuanya untuk segera menikah mengingat usia sudah mendekati kepala tiga, dan yang satu lagi baru saja bercerai dengan suaminya dikarenakan suaminya mengalami kelainan.


Alex hanya menanggapi sekenanya, ia sendiri sedang pusing menghadapi permasalahannya dengan sang pujaan hati, sebenarnya ia tak mood menghadapi mantan teman kencannya itu, hanya karena kesopanan mendengarkan cerita mereka.


Dan diakhir cerita kedua wanita itu, tercetus ide dari salah satu dari mereka untuk berhubungan intim bertiga sekaligus.


Michelle yang seorang janda mengatakan jika permainan ranjang Alex lebih baik dari mantan suaminya sementara Rachel mengatakan jika selama wanita itu tidur dengan banyak lelaki, hanya Alex yang terhebat dalam urusan satu itu.


Alex hanya menyunggingkan senyuman menanggapi pujian yang dilontarkan kedua wanita itu, tapi sekali lagi ia tidak mood untuk hal semacam itu, pikirannya sedang penuh dengan wanita yang dicintainya.


Ia melihat pergelangan tangannya, waktu menunjukkan tengah malam, ia teringat masih banyak pekerjaan yang menunggunya di meja kerjanya.


Kedua wanita itu seolah tak menyerah dengan penolakan yang dilontarkannya, mereka bahkan berani mengelus rahang dan meniup tengkuknya, sebagai lelaki normal, hampir saja ia terpancing, tapi bayangan wajah kekasihnya membuatnya bangkit dan meninggalkan kedua wanita itu begitu saja setelah sebelumnya membayar tagihan miliknya.


Persetan dengan wajah kecewa yang ditujukan padanya, ia benar-benar sedang tidak mood, ia bahkan meninggalkan sepupu dan asistennya, masa bodoh dengan mereka, toh ada taksi banyak beroperasi, atau mereka bisa tidur semalaman dengan para wanita penghibur itu.


Alex mengemudikan mobilnya menuju rumahnya, ia merindukan wanita itu, sangat merindukannya, bahkan rasanya sesak sekali, beberapa kali ia menghela nafas.


Mobil berhenti tepat di depan rumah peninggalan orang tuanya, yang sekarang sudah sah menjadi milik putra semata wayangnya.


Tak ada yang dilakukannya, ia hanya menatap rumah bercat putih dengan pagar berwarna hitam itu, didalam sana tengah tidur wanita yang dicintainya dan putra semata wayangnya, dua orang yang berharga dalam hidupnya.


Lima belas menit ia habiskan hanya untuk memandangi rumah itu, hingga ia memutuskan untuk kembali mengemudikan mobilnya menuju kantornya.


Sesampainya di kantor, sekuriti mengatakan ada tamu yang berkunjung mencarinya, Alex mengernyit heran, Apa Fernando? Sahabatnya yang satu itu tak tau waktu jika mengunjunginya.


Alex memarkir mobilnya diparkiran bawah tanah, berjejeran dengan koleksi mobilnya dan para sahabatnya yang dititipkan di sana,


Ia memutuskan menuju ruang kerjanya, sepertinya ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya.


Ia membuka pintu ruangan miliknya, namun alangkah terkejutnya ia melihat seseorang yang tengah tertidur di sofa.


Maaf ada beberapa hal yang berbeda dengan dua cerita sebelumnya, maafkan diriku.


jangan lupa tinggalkan jejaknya.