How To Marry You ?

How To Marry You ?
tiga puluh tujuh



Sandra meringis menahan perih, akibat telapak tangannya yang lecet akibat menahan tubuhnya, saat tadi Ferdiansyah mendorongnya.


Putranya menangis mengkhawatirkan keadaannya, sementara Ferdiansyah tancap gas meninggalkannya begitu saja.


Xander membantu ibunya untuk bangkit, dan menuntunnya duduk di trotoar pinggir jalan.


Bocah itu menangis sesenggukan, sambil memberikan air dari dalam botol miliknya yang tersisa sedikit.


"Xander telpon papa ya ma,"


Sandra menggeleng, "jangan, mama nggak apa-apa cuman lecet dikit, entar diobati di klinik kantor,"


Setelah minum dan menuang sedikit sisa air dari dalam botol ke lukanya, Sandra bangkit lalu mengajak putranya kembali ke kantor.


Ia mulai mengendarai motor perlahan, sambil menahan perih di telapak tangannya.


Sandra berhasil sampai di kantor walau harus bersusah payah.


Waktu menunjukan pukul dua siang, sudah sangat terlambat untuk dirinya,


Sandra bersama putranya mengunjungi klinik yang berada didekat kantin, ada dokter berjaga di sana.


Karena lukanya cukup lebar, telapak tangan Sandra diberi kasa, tadi wanita itu meringis menahan perih saat diobati.


"Jangan kena air dulu ya, supaya lukanya cepat kering,"pesan dokter Michael.


Sandra berterima kasih pada dokter jaga, dan berlalu dari sana.


Ia menuju ruang staf administrasi sebelum naik ke lantai enam, ia harus mengembalikan kunci dan STNK motor milik Arumi.


Tapi Ia meminta putranya untuk naik ke lantai enam terlebih dahulu, bisa timbul gosip jika ia bekerja sambil membawa anak.


"Arumi makasih ya, tapi aku belum sempat isi bensin tadi,"ucapnya saat menemui salah satu staf administrasi.


"iya nggak apa-apa mbak, tapi itu tangannya kenapa?"tanya Arumi terkejut saat melihat telapak tangan Sandra yang dibalut kasa.


"Tadi aku jatuh, tapi tenang aja motor kamu nggak apa-apa kok,"jawab Sandra.


Gita yang baru saja dari toilet terkejut melihat telapak tangan mantan rekannya, ia bertanya, Sandra menjelaskan sama seperti pada Arumi.


"Wah Sandra jam segini baru balik, mentang-mentang udah jadi sekertaris jadi seenaknya ya!"tegur Celine yang tiba-tiba datang menghampirinya.


Sandra menoleh pada mantan atasannya, "maaf mbak, tadi aku kena musibah,"


"tapi ini udah kesekian kalinya kamu terlambat, harusnya kamu sebagai sekretaris bisa memberikan contoh untuk staf yang lain, kamu dengan mudahnya naik posisi, hanya karena kamu kenalan bos disini, jangan begitulah,"


Merasa urusannya akan menjadi panjang, Sandra meminta maaf dan segera undur diri, ia tak ingin menimbulkan keributan.


Dirinya tau betul, semenjak ia diangkat menjadi sekertaris, Celine yang dulunya ramah padanya mendadak ketus.


Ia juga tau, kalau manager keuangan itu memiliki perasaan pada Alex,


Sandra mengerti jika sewajarnya Alex disukai banyak orang, selain wajah tampannya, lelaki itu juga murah senyum.


Kecuali para penghuni lantai enam, yang paham betul watak asli dari atasan mereka, terutama dirinya.


Pintu lift terbuka di lantai enam, Sandra berjalan menuju mejanya, melewati lorong yang di kanan kirinya adalah ruangan advokat juga notaris yang merupakan rekanan dari Alex.


Jonas yang melihat kedatangan rekannya, langsung menghampirinya,


"mbak, lo lama banget sih, kemana aja? Abang tadi sempet ngamuk nyariin elo,"ucap lelaki itu.


"Lo nggak buka wa gue?"tanya Sandra.


"udah mbak, tapi kenapa lo nggak ngabarin Abang, tadi abis meeting Abang ngamuk,"


"Apa sekarang bos didalam?"


"barusan Abang naik ke atas bareng Xander, lo disuruh naik begitu balik,"


"tapi kerjaan gue banyak, biarin aja lah, paling dia lagi main sama Xander,"


"serah Lo mbak, pokoknya kalau Abang ngamuk lagi, gue mau kabur,"


"iya Jojo, mending sekarang kerja lagi,"


Sandra mulai mengaktifkan kembali komputer dihadapannya, namun baru mengetik beberapa kata, Jonas langsung menyadari kondisi tangannya.


"Tadi gue jatuh, tapi nggak apa-apa kok,"jawab Sandra santai.


Sejam kemudian Alex baru saja turun dari lantai atas, lelaki itu berjalan sendiri tanpa putranya.


"Sandra masuk ke ruangan saya sekarang,"ucap Alex terdengar tegas di telinga kedua sekretarisnya.


Jonas dan Sandra saling pandang,


"buruan sana, keburu ngamuk lagi entar, Lo tega sama penghuni lantai ini?"bisik Jonas.


Sandra akhirnya masuk ke ruangan bos sekaligus kekasihnya, namun lelaki tersebut sedang berdiri menghadap jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan sekitar.


"Bisa saya bantu pak Alex?"tanya Sandra sedikit ragu.


Alex berbalik lalu berjalan menghampirinya, lelaki itu memegang tangan Sandra yang dibalut kasa.


"kamu tadi ketemu Ferdi?"tanyanya dengan sinis.


Sandra tau, pasti Alex bertanya pada Xander, bocah itu pasti menceritakannya pada papanya.


"iya, aku lihat dia bersama wanita lain,"jawabnya sambil menunduk.


"lalu apa yang kalian bicarakan sehingga kamu didorong oleh dia?"


"aku bertanya kenapa mas Ferdi susah dihubungi, dan aku juga baru tau ternyata dia akan menjual apartemen, termasuk alasan dia menjual aku kamu, dia sedang terlilit hutang cukup besar, tapi dia tidak menjelaskan untuk apa dia punya hutang hingga harus seperti itu,"


Alex yang diam-diam menyuruh orang untuk menyelidiki Ferdiansyah, tentu tau alasan mengapa lelaki itu terlilit hutang.


Tentang apa yang dilakukan lelaki itu semuanya Alex tau,


"Ada lagi yang kalian bicarakan? apa tadi kamu menangisi suami kamu juga? Apa kamu segitu cintanya sama dia?"tanya Alex bertubi-tubi.


"kamu tau betul siapa yang aku cintai, apa kamu meragukan aku?"tanya Sandra balik.


"aku bertanya dulu kenapa kamu malah menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan,"


Sandra menghela nafas, "aku menangis karena teringat mendiang kedua orang tuaku,"


"ada lagi?"


"mas Ferdi menjatuhkan talak padaku, dia bilang kalau dia memang mencintai aku, tapi cintanya tak bisa melunasi semua hutang-hutangnya,"


Alex membalikan badannya, ia tersenyum tipis, tentu dirinya senang karena bagaimanapun secara agama kekasihnya sudah tidak terikat dengan siapapun.


"Lalu apa rencana kamu selanjutnya?"tanyanya.


"aku mau minta bantuan kamu, untuk mengurus proses perceraian aku sama mas Ferdi, lalu tadi aku sempat merekam percakapan tadi, mungkin itu bisa jadi tambahan bukti di pengadilan nanti,"


Alex membalikan badannya, "oke aku akan urus segera, lalu kenapa tadi kamu ke tempat bidan? apa kamu melakukan kontrasepsi tanpa persetujuan aku?"


"Alex kamu tau betul alasan aku melakukannya, jangan egois dong, kamu nggak mau pakai pengaman setiap melakukannya, aku tau kamu sengaja, tapi keadaan aku belum siap jika harus hamil lagi,"


"sebentar lagi kamu akan bercerai, setelah itu aku mau kamu jangan menggunakan kontrasepsi lagi,"


"mana bisa begitu, kita belum menikah, tidak bisa semudah itu Alex,"


"kalau begitu ayo menikah,"


"Alex kamu tau alasannya, kita tidak bisa bersatu,"


Alex berdecak, "kenapa sih Sasa, selalu itu yang jadi alasan, aku nunggu kamu lama, sampai kamu khianati aku dengan menikah dengan lelaki brengsek itu, aku terus menunggu kamu dalam ketidakpastian, dan setelah ini kamu begitu lagi? Kamu mempermainkan aku?"


Sandra diam tak berani berkata-kata, soal mengkhianati itu bukan maunya, harusnya Alex paham soal itu, juga tentang perbedaan keyakinan diantara mereka.


"banyak orang menikah berbeda keyakinan, tidak masalah, mereka hidup bahagia bersama keluarga kecil mereka, tapi sepertinya kamu memang tidak mau melakukan itu, apa kamu memang tidak mencintai aku?"


Sandra menatap lelaki dihadapannya kesal, bisa-bisanya cintanya diragukan, bahkan ia rela dijamah berkali-kali oleh lelaki yang bukan suaminya,


"pembicaraan kita nggak ada ujungnya percuma aku ngomong sama kamu,"ucapnya berlalu menuju pintu ruang kerja bosnya,


Alex tentu tak akan membiarkan itu terjadi, ia mengunci otomatis pintu melalui remote di meja kerjanya.


"buka pintu,"ucap Sandra kesal, ternyata pintu telah dikunci.


Alex mulai bekerja dan mengabaikan Sandra yang masih berdiri dibelakang pintu.