
Kata-kata Sandra masih terngiang-ngiang di telinga Alex, wanita itu meminta berpisah darinya,
Sayangnya setelah dirinya tersadar dari keterkejutannya, wanita yang dicintainya telah menjauh, tak mungkin juga dirinya mengejar hingga ke kamar, ia tak ingin menimbulkan keributan, bukannya takut tapi ia tentu sadar jika putranya masih marah padanya.
Nyeri di wajahnya saja masih terasa hingga sekarang, ia tak menyangka jika apa yang pernah ia ajarkan pada remaja itu digunakan untuk melawannya.
Masih ada hari esok, wanita itu masih disini, melihat dari daftar pengunjung resort dengan bookingan yang Alex tau itu adalah asisten Natasha di rumah sakit.
Kepala Alex rasanya penuh, bukan hanya soal pekerjaan yang menumpuk, juga tentang hubungannya dengan ibu dari putra semata wayangnya, rasanya ingin lari sejenak dari sini, tapi mau kemana?
Tinggal sebulan lagi ia akan beranjak dari sini, setelah itu ia akan kembali mengejar wanita itu, mungkin waktu sebulan akan cukup untuk masing-masing introspeksi diri.
Alex masih betah berlama-lama ditempat duduknya, ia memandang pantai yang luas tepat didepan matanya, setidaknya ia sedikit terhibur mendengar suara ombak.
Kegiatannya terganggu dengan kedatangan wanita biang masalahnya dengan sang kekasih, wanita sialan yang pernah menjadi penghangat ranjangnya.
"kamu ngapain disini? Dingin loh mending masuk yuk, aku bisa bantu hangatkan kamu loh!"Rayu perempuan bernama Rachel itu.
Alex tak menanggapi, melirik pun tidak, ia lebih memilih menatap pantai yang ada dihadapannya,
"Ayolah Alex, kita udah lama nggak ketemu, kita lanjutkan kegiatan kemarin,"seperti tak jera pernah ditampar oleh remaja yang ia baru diketahui bahwa itu putra dari teman kencannya, Rachel masih menggoda lelaki mapan itu.
Malas menghadapi mantan teman tidurnya, Alex memilih bangkit lalu beranjak dari sana, lebih baik ia menuju ruang kerjanya dan memeriksa beberapa pekerjaan yang tak kunjung selesai itu.
Tapi sepertinya langkahnya tak bisa berjalan mulus, karena Rachel malah menempel padanya, perempuan sialan memang, tak tau diri, apa wanita itu buta, kemarin dirinya dihajar habis-habisan oleh putra kandungnya sendiri.
Alex menepis tangan Rachel, dengan tatapan penuh amarah, ia menatap wanita bergaun floral sepaha dan memperlihatkan buah dadanya yang hendak keluar itu, mungkin sepuluh tahun lalu, ia akan menyeret wanita itu menuju ranjang hotel, tapi tidak dengan sekarang.
"Pasang telinga Lo baik-baik cel, gue udah punya pasangan dan anak, jadi jangan ganggu gue, kalau nggak pengin keluarga Lo, gue bikin jadi gembel, ngerti Lo!"
Seolah tak peduli tempatnya berdiri, Alex memaki wanita itu, keduanya sedang berada di dekat kolam renang tak jauh dari tempat pesta yang akan diadakan satu jam lagi.
"Lex, aku hanya ingin tidur sama kamu, toh pasangan kamu lagi marah kan, jadi dia tentu tak akan mau kamu tiduri, aku tau kamu masih tertarik sama aku, hanya aku yang bisa puaskan kamu di ranjang,"
Alex tersenyum sinis, mana ada begitu, hanya Sasa-nya yang bisa memuaskan dirinya, sementara wanita-wanita yang pernah tidur dengannya hanya ia gunakan untuk mengeluarkan lendir dari bagian bawah tubuhnya supaya kepalanya tidak pening, mau bagaimanapun jenis permainan yang mereka mainkan.
Apakah mereka tidak tau, jika setiap dirinya berhubungan intim dengan wanita-wanita itu, yang ada dipikirannya hanya Sasa-nya?
Mungkin jika wanita-wanita itu tau, ia akan dicaci maki karena alasan itu, hingga detik ini hanya Sasa-nya yang ada di hati dan pikirannya, buktinya walau sudah banyak wanita menjadi teman kencannya, tak sekalipun ia menyematkan status kekasih atau pacar pada wanita-wanita itu, hanya Sasa-nya yang merupakan satu-satunya kekasihnya.
"Cel, sekali lagi gue ingatkan, kalau Lo gangguin lagi, dalam seminggu gue pastikan usaha bokap Lo gulung tikar, jangan Lo pikir gue nggak bisa ngelakuin itu,"usai mengatakannya, Alex berjalan cepat menuju ruang kerjanya.
Di dalam lift ia bertemu dengan putranya yang sedang menenteng kantong plastik bening, berisi mie cup.
Hening, tak ada yang bersuara diantara pasangan bapak dan anak itu, hingga denting lift berbunyi, pintu besi itu terbuka, tanpa menyapa, Xander beranjak.
"Xander, bisa papa minta waktu sebentar,"pinta Alex.
Langkah remaja itu terhenti, tanpa menoleh ia berucap, "maaf, saya sedang ditunggu,"
Alex hanya bisa terdiam melihat putra semata wayangnya masuk ke kamar dimana wanita yang dicintainya ada di sana, ingin rasanya ia bergabung, tapi sisi hatinya yang lain menahannya.
Alex memilih memeriksa beberapa laporan yang tadi dikirimkan oleh beberapa bawahannya yang lain.
Keesokan pagi sebelum subuh, saat Alex keluar dari kamar sekaligus ruang kerjanya, tak sengaja ia bertemu dengan Sandra yang baru saja keluar dari kamarnya, sepertinya wanita itu hendak menyaksikan matahari terbit seperti kemarin.
"Sa, apa kamu mau lihat matahari terbit?"tanya Alex ber-basa-basi, sementara Sandra hanya berdehem menanggapinya.
Alex memindai penampilan wanita disampingnya, celana setengah paha dengan Hoodie kebesaran berwarna hitam, yang ia tau, itu adalah salah satu miliknya, ia tersenyum kecil mengetahui fakta jika Sasa-nya mengenakan pakaian miliknya, tiba-tiba dadanya berdebar-debar, ada rasa senang yang tiba-tiba timbul.
"aku pinjam hape kamu dong,"pinta Alex, tiba-tiba tercetus ide brilian.
"buat apaan?"tanya Sandra heran.
Keduanya sedang menunggu lift, sayangnya masih tertahan di lantai satu.
"pinjem aja sa, bentar doang kok,"
Terpaksa Sandra memberikan ponselnya yang ia ambil dari Sling bag miliknya, "nih, jangan lama-lama, lift udah mulai naik,"
Alex segera mengetikan sesuatu di ponsel milik Sandra, setelahnya bukannya mengembalikan ia malah mengantongi benda berbentuk persegi panjang tipis itu ke dalam saku celana formalnya.
"kamu ikut aku, dan aku udah bilang ke Asha kalau kamu nggak jadi ikut,"ujar Alex sambil menggandeng tangan kekasihnya.
Sandra melebarkan matanya, dan berusaha melepaskan genggaman tangan lelaki itu, bukannya dilepas, Alex malah mengangkatnya layaknya karung beras.
Alex membawanya masuk ke dalam kamarnya, pintu otomatis terkunci begitu tertutup. lalu dengan hati-hati ia menurunkan wanita itu di ranjang miliknya.
"kamu apa-apaan sih? awas aku mau pergi, Xander dan Asha pasti nungguin aku,"ujar Sandra memberontak.
Alex menahan kedua paha wanita itu supaya tak bisa bangun, "aku kangen kamu Sasa, udah sebulan lebih kita nggak ketemu,"
"kalau kamu mau menyalurkan hasrat, mending kamu sama cewek seksi itu, jadi biarkan aku pergi,"
Alex menggeleng, "tapi aku maunya sama kamu, kekasih dan wanita yang aku cintai hanya kamu, persetan dengan cewek sialan itu,"
Belum sempat wanita itu protes lagi, mulutnya dibungkam dengan bibir Alex, awalnya Sandra hanya diam tak menangapi, tubuhnya kaku tapi perlahan wanita beranak satu itu terbuai, apalagi sudah sebulan lebih mereka tak bertemu.
Bagai gayung bersambut, Alex semakin bersemangat melanjutkan aksinya, tangannya tak bisa diam, meremas dan menyentuh sana sini.
Sebulan lebih ia tak menyalurkan hasratnya, bercampur dengan rasa rindu yang besar pada Sasa-nya membuatnya semakin bersemangat.
Suara lenguhan juga erangan dari kedua sejoli itu memenuhi kamar yang menjadi saksi bisu betapa panasnya hubungan keduanya.
Entah sudah ke berapa kali Sandra mencapai puncaknya, rasanya lelah sekali, tapi Alex masih terus menggempurnya, seolah tak ada lelahnya.
Ungkapan cinta terlontar dari mulut lelaki itu, permainan yang biasanya lembut, dilakukan dengan lebih keras.
Beberapa kali Alex mendongak merasakan sensasi surga dunia, rasanya nikmat sekali, sehingga ia tak ingin mengakhirinya.
Entah berapa kali ia menyemburkan benihnya, yang jelas keduanya tertidur tanpa sempat membersihkan diri.