How To Marry You ?

How To Marry You ?
tiga puluh lima



Sepulang bekerja, Sandra berkunjung ke apartemen, ada yang harus diambilnya di sana.


Awalnya Alex memaksa untuk mengantarkannya, tapi Sandra menolak,


Sesampainya di unit apartemen, tidak ada Ferdiansyah di sana, padahal ada yang ingin dirinya bicarakan dengan lelaki itu.


Sandra mulai membereskan barang-barang milik putranya terlebih dahulu, terutama buku pelajaran dan seragam juga baju untuk dipakai sehari-hari.


Tak lupa baju-baju miliknya, ia memasukannya ke dalam koper besar dan kardus.


Belum semua bisa ia bawa, yang tak akan lupa terutama surat-surat penting, seperti akta lahir Xander yang tertulis hanya Sandra sebagai orang tua tunggal putranya.


Surat nikah, kartu keluarga, Ijazah, juga BPKB motor miliknya, yang baru ia lunasi dua bulan kemarin.


Tadinya ia ingin menemui Ferdiansyah dan ingin membicarakan tentang kepindahannya, tentu Sandra telah menyiapkan alasan yang masuk akal agar suaminya tidak mencurigai hubungannya dengan bosnya.


Sandra sudah menyiapkan alasan, jika dirinya mendapatkan jatah rumah dinas dari bosnya,


Ia ingin putranya memiliki kamar tersendiri.


Sandra baru selesai membereskan barang-barangnya setelah hari beranjak malam,


Niatnya sebelum menuju tempat Alex, ia ingin sekalian berpamitan pada mbak Titi sekaligus berterima kasih, namun sayangnya mantan bosnya masih di kampung halaman.


Sandra menyempatkan diri membeli roti dan susu untuk sarapan besok di minimarket sebelum memasuki komplek rumah milik bosnya.


Saat Sandra membuka gerbang, dirinya dikejutkan dengan keberadaan Alex yang berdiri tepat dibelakang mobil milik lelaki itu.


"kamu ngagetin aku tau nggak? Lagian ngapain berdiri disitu sih?"ucap Sandra kesal karena terkejut.


Alex yang masih mengenakan pakaian kerja, melihat ke pergelangan tangannya, "Kenapa baru pulang jam segini? Kamu ngapain aja di sana?"tanyanya seolah sedang mengintrogasi wanita yang baru saja memarkirkan motor matic di samping mobilnya.


"Aku beres-beres, liat kan yang aku bawa banyak,"sahut Sandra sambil menunjuk barang bawaannya dengan dagunya.


"Kan aku udah bilang, aku bisa beliin yang baru kenapa mesti repot-repot sih,"


"Sayang uangnya, mending uangnya ditabung buat masukin Xander ke sekolah bagus nanti,"


Alex mengikuti Sandra sambil membawakan kardus, "aku papanya, aku yang akan membiayai semua kebutuhannya termasuk soal pendidikannya, jadi mulai sekarang kamu nggak perlu repot-repot mikirin itu,"


Malas berdebat, karena tau sifat keras kepala yang dimiliki lelaki itu, akhirnya Sandra mengalah, "baiklah, mulai sekarang kamu yang akan menanggung semua biaya hidup Xander,"


"Lalu dimana Xander?"tanya Sandra tak melihat keberadaan putranya.


"Tadi setelah makan malam dan membersihkan diri, Xander bilang ngantuk, jadi sekarang sudah tidur, PR juga sudah dikerjakan,"jelas Alex, "apa kamu sudah makan? Tadi aku kirimi kamu pesan tapi belum dibalas,"


Setelah meletakan koper di kamar yang ditempatinya, Sandra baru memeriksa ponselnya, "jadi kamu belum makan?"tanyanya heran.


"Aku nunggu kamu,"jawab Alex, "aku udah pesan tadi, mungkin sebentar lagi datang,"


Alex memesan satu porsi nasi dan mie goreng seafood ditempat langganannya.


"Tadi aku nggak ketemu mas Ferdi, sebenarnya aku mau bicara soal kepindahanku dan Xander, tentu aku bilang kalau dapat rumah dinas dari kantor, "cetus Sandra saat keduanya menikmati makan malam.


Alex menghentikan kunyahannya, "Apa hanya soal pindah? Lalu bagaimana dengan status kamu? Apa kamu akan tetap jadi istri dia?"tanyanya.


"Nggak semudah itu mas,"


"Ya dibuat mudah aja, apa kamu begitu mencintainya sehingga sulit berpisah dengannya?"tanya Alex mulai kesal.


Merasa emosi lelaki itu mulai naik, Sandra berucap, "Habiskan dulu makanan kamu, nanti kita lanjut bicara setelah selesai,"


Tentu Sandra memiliki alasan kenapa berbicara seperti itu, ia tidak ingin salah satu dari mereka tiba-tiba tersedak.


Alex mempercepat makannya, melihat itu, Sandra hanya menggelengkan kepalanya, sedari dulu lelaki itu tak pernah berubah, tidak suka menunda jika menyelesaikan suatu masalah, walau dulu saat remaja, mereka nyaris tak bermasalah, hanya perbedaan keyakinan saja, tapi hingga saat ini pun keduanya tak pernah membahas hal itu.


Sudah selesai dengan makanannya, Alex mengajak berbicara namun Sandra menolak dengan dalih, ingin segera mandi.


Baru ketika keduanya telah selesai mandi secara bergantian, mereka mulai berbicara diatas ranjang milik Alex.


Sandra sudah mengenakan daster rumahan untuk tidur, sementara Alex bertelanjang dada dan hanya mengenakan bokser.


"Jadi apa kamu begitu mencintai dia hingga sulit berpisah dengannya?"Alex mengulang pertanyaannya tadi.


"harusnya kamu tau, siapa yang aku cintai,"jawab Sandra kesal, kekasihnya benar-benar tidak peka.


Alex tersenyum tipis, entah mengapa rasanya bahagia mendengar ucapan Sasa-nya,


"Begini, jadi saat setahun pernikahanku dan dia, mas Ferdi tanpa sengaja mendengar jika Xander adalah anak kandungku, bukan adikku, karena mendiang kedua orang tuaku mengenalkan Xander sebagai anak bungsu mereka, bukannya aku tidak mau memberitahu mereka, tapi mereka saja yang tidak pernah bertanya, mengetahui fakta itu, mas Ferdi tidak terima dan pergi dari rumah dengan alasan mendapat pekerjaan disini,"


Sandra menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, "selang hampir dua tahun, kedua orang tuaku meninggal dalam waktu berdekatan, ayah meninggalkan sejumlah utang yang cukup besar, aku dengar untuk membiayai pengobatan ibu, sehingga aku terpaksa menjual rumah warisan nenek lalu membaginya dengan beberapa sepupu aku, khusus jatah milikku aku bayarkan hutang, karena tidak menutupi aku meminjam ke saudara,"


"aku sudah tak ada rumah di sana, sehingga aku memutuskan untuk pindah mengikuti mas Ferdi, ya meskipun apartemennya kecil setidaknya kami tidak jadi gembel dijalan,"


"kenapa kamu nggak nyari aku? Padahal tau rumahku dimana, ada mendiang papa yang tinggal di rumah ini kok,"potong Alex.


"Aku akan jadi wanita yang tak tau diri jika saat itu mencari kamu, dengan statusku mana mungkin aku berani,"


Alex yang tadinya diam bersandar di head board ranjang langsung bangkit menghadap Sandra yang ada disampingnya, "aku nggak peduli tentang status kamu apapun itu, yang penting kamu sama aku, kamu bahkan tidak tau kehidupan berat yang aku alami sepeninggal kamu, lalu apa rencana kamu tentang hubungan kamu dengan dia? jujur saja aku tidak peduli, tapi bukankah kamu tipe orang yang pemikir, meskipun seolah tak peduli omongan mereka kamu diam-diam memikirkan itu, maka dari itu aku minta kamu mengakhiri hubungan kamu dengan dia,"


"apa alasan masuk akal agar aku bisa berpisah dengan mas Ferdi?"


"Sebenarnya aku tidak ingin membuat kamu sedih tapi sepertinya kenyataan yang sebenarnya harus kamu tau, aku minta tolong jangan salah paham sama atau menuduh aku memfitnah suami kamu,"


Alex kembali menyandarkan tubuhnya di head board ranjang, "kamu ingat wanita bersama Ferdi di cafe setelah kita menemui klien di sana?"


Sandra mengangguk,


"Itu adalah anak buah mami Belinda,"


"Apa itu mucikari yang dibilang Lolita? aku pernah dengar saat dia mengajariku sebelum resign, kamu pelanggannya bukan?"


"please Sasa, aku hanya memakai jasa salah satu dari mereka ketika suntuk saja, atau saat aku merindukan kamu, aku laki-laki dewasa yang mempunyai kebutuhan biologis, tapi aku bersumpah sejak bertemu kamu, aku tak lagi memakai jasa mereka, aku datang ke sana hanya untuk minum bersama teman-temanku, kamu bisa tanya mereka,"ujarnya berusaha meyakinkan wanita disampingnya.


"itu urusan kamu, aku tidak peduli selama aku tidak melihat dengan mata kepalaku sendiri, lanjutkan cerita kamu tadi,"


"Sasa, please jangan berfikir kalau aku brengsek, hanya kamu yang ada di hatiku,"


"lanjutkan ceritanya Alex, udah malam, aku udah mulai mengantuk,"


Alex menghela nafas, "aku tau soal wanita itu, karena mami pernah menawari aku, tapi aku menolak, karena aku hanya berniat minum bersama salah satu sahabatku, kamu tau bukan daya ingat aku dengan orang yang pernah aku temui?"


Sandra mengangguk, wanita itu jelas tau seperti apa kekasihnya.


"Yang ini tolong kamu jangan marah sama aku, ini aku lakukan untuk mengikuti mau Ferdi sekaligus mendapatkan bukti betapa brengseknya dia,"


Alex menghela nafas, sepertinya malam ini ia sering melakukannya, "Ferdi menjual kamu ke aku, dia meminta uang lima puluh juta saat aku berkunjung ke apartemen,"


Sandra menganga mendengar pengakuan bos sekaligus kekasihnya, apa memang Ferdiansyah sangat membutuhkan uang, sehingga harus seperti itu,


Alex mengambil ponselnya, dan memberikan rekaman percakapannya dengan Ferdiansyah juga bukti transfernya,


"Maaf Sasa, aku melakukan ini, karena takut, jika dia menjual kamu ke lelaki lain, aku nggak mau itu terjadi,"


"Maaf aku hanya bertanya, apa selama ini dia pernah melakukan kekerasan sama kamu?"tanya Alex.


Sandra mengangguk ragu,


"Bagian mana? apa yang dilakukannya?"tanya Alex mulai emosi.


Sandra menunduk, tak berani mengangkat wajahnya,


"Hai, Sasa sayang, kalau memang kamu berniat berpisah dengan dia, kamu harus terbuka sama aku, yang akan jadi pengacara kamu adalah aku,"


Sandra menggeleng, "jangan kamu, aku mohon,"


"oke, nanti salah satu kenalanku yang akan aku tunjuk sebagai pengacara kamu,"


"Ada satu lagi, ini mungkin yang paling menyakitkan buat kamu, aku juga termasuk,"Alex menghela nafas, "Xander mengaku sering dipukul oleh Ferdi, apa kamu tau itu?"


Sandra terkejut lalu mengangguk,


Melihat reaksi wanita itu, Alex bangkit dan berdiri di samping ranjang, "kamu tau anak kita dipukuli, tapi kamu diam saja, ibu macam apa kamu?"


Alex mengumpat, tak habis pikir dengan ibu dari putranya,


Sandra mencoba tetap tenang, ia menghampiri lelaki itu lalu memeluknya, "maaf Alex, saat itu aku tidak berdaya, aku tidak punya uang untuk pergi dari apartemen, aku baru bekerja ditempat kamu,"


Alex hampir saja melepaskan pelukan erat wanita itu, namun setelah mendengar alasannya, ia mencoba meredam amarahnya.


Sandra mendongak melihat nafas memburu lelaki yang dicintainya, "tolong maafkan aku, saat itu aku juga marah, tapi aku tidak berdaya,"


Alex balas memeluk Sasa-nya, tak seharusnya ia terbawa amarah, "aku maafkan, tapi jangan pernah pertemukan putraku dengan lelaki brengsek itu, dan jangan larang aku untuk membalas kelakuan kurang ajar dia, kamu mengerti,"


Sandra yang berada dalam pelukan kekasihnya, hanya menganggukkan kepalanya.