
Kehidupan pengantin baru itu tak banyak berubah antara sebelum dan sesudah menikah, hanya semenjak menikah, setiap subuh Alex dan putranya berangkat ke masjid untuk shalat berjamaah, walau belum hafal semua bacaannya, tapi lelaki beranak satu itu tetap mengikutinya.
Sejak papa kandungnya telah menjadi mualaf dan menikah dengan sang mama, Xander kembali seperti dulu, ceria dan terbuka, tak lagi bersikap ketus, remaja itu telah memaafkan sepenuhnya kelakuan lelaki dewasa yang sempat mengkhianati mamanya.
Sementara Sandra akan beribadah di rumah lalu menyiapkan sarapan sembari melakukan pekerjaan rumah yang lain.
Pukul enam pagi, keluarga kecil itu telah berada di meja makan, untuk sarapan bersama, sembari bercerita apa yang akan dilakukan nanti.
Xander yang sedang fokus menikmati sarapannya, hanya diam saat mendengar kedua orang tuanya membicarakan tentang pekerjaan, namun hanya beberapa saat kemudian, remaja itu menghentikan sarapannya, dikarenakan sang mama yang mengungkit tentang janji papanya soal membebaskan ayahnya.
"Kok mama nggak cerita kalau ayah masuk penjara?"tanya Xander.
"dia bukan ayah kamu Alexander,"sahut Alex kesal, entah mengapa setiap putranya menyebut lelaki brengsek itu dengan sebutan 'ayah' , ia tak rela.
"udah lex, itu udah kebiasaan Xander, karena mau bagaimanapun mas Ferdi pernah jadi ayahnya,"sela Sandra.
"ayah macam apa yang memukuli dan memaki anaknya, meskipun itu anak tiri,"ucap Alex tak terima putra semata wayangnya pernah diperlakukan kasar, "ingat Alexander, mulai sekarang hanya ada papa, tidak ada ayah, kamu mengerti,"lanjutnya menatap tajam remaja berseragam putih biru.
Xander mengangguk, salahnya yang dulu menceritakan dengan jujur perlakuan mantan suami sang mama, padahal tidak sepenuhnya Ferdiansyah berbuat kasar, hanya semenjak awal tinggal di apartemen, tapi terakhir sebelum mama dan ayahnya berpisah, lelaki dewasa itu bersikap baik padanya, sama seperti setahun awal pernikahan.
Selesai Sarapan keluarga kecil itu berangkat, Alex mengantarkan Xander menuju sekolah dengan mobil yang dikemudikan Choki, sementara Sandra mengemudi sendiri ke rumah sakit.
Tinggal beberapa hari lagi ia bekerja di rumah sakit, rencananya Jonas akan tiba di negara ini esok, lelaki itu hanya diberi waktu istirahat seharian untuk menghilangkan jet lag.
Baru saja mulai bekerja, pintu ruangan Sandra terbuka, Ada Natasha, Oscar, Rama dan Benedict datang.
Mereka membawakan minuman dan camilan untuknya, beberapa kali memang seperti ini, sebelum bekerja, mereka akan berkumpul, sarapan bersama sembari membahas tentang pekerjaan.
"Sa, Alex udah balik ya?"tanya Rama tiba-tiba disaat mereka sedang membicarakan tentang hasil rapat beberapa hari yang lalu, "soalnya kata sekuriti, Choki ambil mobil pagi-pagi di parkiran bawah,"lanjutanya.
Sandra berusaha tetap tenang, sejujurnya ia belum siap jika orang-orang terdekatnya mengetahui jika dirinya telah resmi menikah dengan Alex, "udah seminggu,"jawabnya singkat.
Rama mengumpat, terlihat wajah kesal yang ditujukan oleh suami dari Sinta itu, "gue sibuk mondar-mandir dia enak-enakan liburan nggak ngapa-ngapain,"
Natasha terkekeh, "wah kalau gue jadi Lo ram, gue nggak terima tuh,"ujarnya mengompori.
"Emang Alex ngapain di rumah? Ini pertama kalinya sepulang dari luar negeri, dia nggak langsung kerja,"sela Oscar setelah sebelumnya melototi sepupunya agar tidak memanaskan suasana.
"Istirahat dia di rumah,"sahut Sandra tetap tenang, tidak sepenuhnya berbohong, karena setelah sibuk mengurus kelengkapan administrasi pernikahan dan persiapan ala kadarnya, Alex lebih banyak tidur di rumah, sementara dirinya tetap berkerja setiap hari.
Benedict menghabiskan sisa air mineral dari dalam botol, lalu meremasnya dengan satu tangan, lelaki yang telah menjadi ayah dari dua anak kembar itu menatap sekilas pimpinan sementara rumah sakit miliknya, "terus sekarang dia ngapain? Kenapa nggak ke kantor?"tanyanya.
Sandra sedikit terintimidasi dengan tatapan sekilas pemimpin tertinggi ditempatnya bekerja tapi ia berusaha tetap tenang, "lagi ke kantor polisi, mau bebasin mantan laki gue,"jawabnya jujur.
"Emang mantan laki Lo kenapa sa?"tanya Oscar.
Sandra menceritakan tentang kasus yang menimpa mantan suaminya sesuai apa yang diceritakan oleh Elina.
Sebagai satu-satunya wanita yang sudah berteman dengan para lelaki itu selama belasan tahun, Natasha mulai curiga dengan tingkah ketiga lelaki itu, "jangan bilang ini akal-akalan Alex dan diketahui oleh kalian berdua, ayo ngaku, Alex sengaja kan buat mantan suaminya Sasa masuk penjara? Dan kalian tau bukan?"tanyanya pada Benedict dan Rama.
Sandra melebarkan matanya, sebagai sekertaris Alex, jelas ia tau jika atasannya bisa melakukan hal seperti itu, ia jadi teringat saat Ferdiansyah mengalami kecelakaan, setelah beberapa lama, ia tau jika itu adalah ulah Alex beserta antek-anteknya, meskipun bukan dengan tangan mereka sendiri tapi melalui perantara orang lain yang merupakan suami dari wanita selingkuhan Ferdiansyah.
Kenapa ia baru menyadarinya sekarang? pantas saja lelaki itu sengaja pulang lebih cepat dari jadwal dan langsung mengajaknya menikah.
Dengan statusnya yang telah sah menjadi istri Alex, ia tak mungkin tiba-tiba meninggalkan lelaki itu, benar-benar licik sekali, ia merasa ditipu tapi sayangnya ia tak bisa berbuat banyak.
Sandra menatap Benedict dengan tatapan memohon, "Ben, ini kedua kalinya gue minta ke Lo, abis ini gue janji bakal bekerja lebih baik lagi, tapi tolong bebasin mas Ferdi, dia tulang punggung keluarga, dia harus menghidupi adik kandungnya dengan tiga keponakan yang masih kecil-kecil, Lo bisa tanya Rama gimana kinerjanya selama menjadi staf marketing di kantor, tolong Ben,"pintanya.
Benedict melirik Rama, seolah meminta pendapat, tapi suami dari Sinta itu justru menggelengkan kepalanya.
"Lo bisa minta secara langsung sama Alex, itu urusan pribadi kalian,"
"tapi Ben, mas Ferdi secara nggak langsung karyawan Lo, dia bagus kinerjanya kok,"
Terdengar helaan nafas dari Rama, "Sandra, gue lebih suka merelakan satu karyawan kompeten dibanding ngeliat sahabat gue terpuruk dan artinya jika Ferdiansyah masih berkeliaran disekitar elo, itu akan mempengaruhi kinerja Alex, Lo tau bukan selain gue, Alex adalah pimpinan di kantor, yang jika dia bermasalah akan berefek pada pekerjaan, jadi tolong biarkan seperti ini, jangan bilang Lo begini karena Lo mau balikan sama mantan Lo dan ninggalin sahabat gue?"
Sandra menggeleng, tak mungkin ia meninggalkan Alex yang kini telah resmi menjadi suaminya, "itu nggak mungkin Ram, gini deh kalian berdua cukup bebaskan mas Ferdi, setelah itu gue akan suruh dia balik ke Semarang dan kerja di sana, gimana?"usulnya.
Benedict melirik sekilas ke Rama lalu mendapatkan anggukan tanda setuju, "oke, gue terima usulan Lo, tenang aja nanti bakal dapat pesangon lumayan buat hidup beberapa bulan, ingat ya sa, gue ngelakuin ini buat kesehatan mental temen gue,"
Senyum mengembang, terlihat di wajah wanita beranak satu itu, ia berucap terima kasih lalu meminta ijin untuk menemui mantan suaminya di kantor polisi saat jam makan siang.
Disisi lain disalah satu kantor polisi, Suami dan mantan suami Sandra sedang berhadapan hanya terhalang meja.
Ferdiansyah terlihat senang dengan kedatangan atasan ditempatnya bekerja, "saya merasa tersanjung dengan kepedulian pak Alex pada saya,"
Alex yang biasa ramah pada karyawannya, terlihat lebih dingin dari biasanya, andai bukan karena permintaan istrinya, ia malas berurusan dengan lelaki yang merupakan mantan suami dari Sandra, belum lagi karena laki-laki brengsek ini pernah memaki dan memukuli putra sematawayangnya, andai tak ingat reputasinya sebagai pengacara, mungkin dengan tangannya sendiri ia menghabisi lelaki yang tengah berhadapan dengannya.
"Kedatangan saya kesini untuk menebus anda,"ucapnya.
Ferdiansyah terlihat menunjukan wajah sumringah, akhirnya ia bisa bebas dari sel yang dingin itu, lelaki itu menyalami tangan atasannya sembari menunduk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
"Tapi ada syarat yang harus anda penuhi,"ucap Alex menghentikan senyum dari Ferdiansyah.
"apapun itu saya akan turuti, asal saya bisa keluar dari tempat ini,"
Alex tersenyum tipis nyaris tak terlihat, "keluar dari kantor saya sekaligus kota ini,"
Senyum itu mendadak pudar dari wajah mantan suami Sandra itu, "kalau saya, tidak bekerja bagaimana dengan keluarga saya?"tanyanya bingung.
"Saya tidak peduli apa yang terjadi dengan keluarga anda, tapi tenang meskipun anda mantan penghuni penjara, saya sebagai atasan akan memberikan pesangon sesuai dengan masa kerja anda di kantor,"
Setelah mengatakannya, Alex beranjak pergi dari sana menuju salah satu polisi kenalannya untuk mengurus pembebasan dari Ferdiansyah.