
Pagi hari, Sandra lebih sibuk dari biasanya, karena harus menyiapkan sarapan tambahan untuk kedua lelaki tak diundang yang datang tadi malam.
Putranya turut membantunya, sedangkan Natasha masih sibuk bersiap di kamarnya, karena hari ini operasi yang harusnya dilakukan agak siang, dimajukan menjadi pagi.
Sedangkan kedua lelaki itu masih tidur di ruang keluarga,
Sarapan matang, Sandra meminta putranya untuk segera bersiap memakai seragam sekolah, sementara ia akan membangunkan kedua lelaki dewasa itu.
Saat Sandra membangunkan Alex, lelaki itu justru menariknya ke dalam pelukannya, "aku kangen Sasa,"bisiknya.
Sandra memberontak, tak enak jika adegan itu terlihat oleh Natasha dan putranya juga Fernando yang tidur tak jauh dari keduanya.
"lepas, nggak enak sama Asha, sekarang kamu bangun terus sarapan, sekalian bangunin Nando,"
Alex terpaksa melepaskan pelukannya, lalu bangkit duduk dan bersandar di sofa, ia menepuk punggung sahabatnya.
Natasha diikuti Xander baru saja turun dari lantai atas, gadis itu menyuruh Alex untuk ke toilet dulu sebelum ikut Sarapan, begitu juga dengan Fernando yang baru saja membuka matanya.
Beberapa saat kemudian, kelimanya sarapan bersama, mereka sambil berbincang-bincang.
"Sha, entar Lo nggak usah bawa mobil, gue aja yang antar,"cetus Fernando.
Natasha menghentikan kunyahan nya lalu menatap lelaki blasteran itu, "gue mengantar Xander dulu,"sahutnya.
"Ada bapaknya tuh,"ujar Fernando sambil melirik ke arah Alex.
Sarapan habis, Natasha pamit, gadis itu berangkat ke rumah sakit, bersama Fernando, sedangkan Alex mengantar putranya menuju sekolah, tinggallah Sandra yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga sebelum berangkat ke toko kue.
Belum sampai lima belas menit Alex datang kembali, Sandra baru saja selesai membersihkan dapur.
"kamu kenapa balik lagi? Kamu nggak kerja?"tanya Sandra heran, Wanita itu berjalan menuju laundry room,
"masa aku harus tetap kerja, padahal sudah berbulan-bulan aku baru ketemu lagi sama kamu,"
Sandra masih sibuk dengan aktivitasnya, tanpa menatap lelaki itu ia berucap, "kamu ada tanggung jawab pekerjaan Alex, mendingan kamu berangkat sekarang, aku juga sibuk, abis ini aku mau kerja,"sahutnya.
Alex melipat kedua tangannya di dada, "Kerja apa?"tanyanya.
"jadi kasir di toko kue dekat gerbang komplek,"jawab Sandra, ia sudah memasukan sebagian pakaian ke dalam mesin cuci lalu merendam dalaman ke dalam ember, untuk nanti dicucinya menggunakan tangan, wanita itu bangkit hendak melakukan pekerjaan yang lain.
Alex mengikuti Sandra yang tengah bersiap memegang vakum, "terus aku gimana?"
"kamu kerja seperti biasa,"
"Terus sampai kapan kamu mau tinggal disini?"
"nunggu diusir sama Asha,"
"Ya nggak mungkin Asha ngusir kamu, sekarang aku minta kamu kembali ke rumah, kita jalani hidup kita sebagaimana mestinya,"pinta Alex.
Sandra menggeleng, "kamu udah mengusir aku, lagian kita nggak ada hubungan apa-apa,"
Alex menghembuskan nafasnya kasar, ia harus berfikir jernih tak boleh gegabah, "semalam aku kan udah minta maaf sama kamu, emang nggak cukup kamu siksa aku selama ini, aku rasanya mau gila kamu tinggalkan,"
Sandra mulai menyalakan vakum cleaner, ia mulai membersihkan karpet yang ada di ruang tengah, "itukan mau kamu, kalau kamu mengerti aku, kejadian ini nggak mungkin terjadi,"
"Jadi menurut kamu, aku yang salah disini? lalu kamu yang bohongi aku, nggak salah begitu, kamu masih berhubungan sama dia, yang udah jelas-jelas khianati kamu, aku cemburu, aku nggak suka kamu kayak gitu,"
Sandra mematikan Vakum cleaner, ia menatap tajam lelaki yang dicintainya, "Alex, kamu lupa dia siapa? meskipun secara agama kami telah bercerai, tapi diatas kertas, kami masih sah sebagai suami istri, seharusnya kamu tau itu, dan nggak berhak cemburu, lalu tentang dia mengkhianati aku, apa bedanya sama aku, yang jelas-jelas hampir setiap hari berhubungan intim sama kamu, bahkan kita tinggal bersama, bukannya aku sama dengan dia, jangan egois Alex,"
Lelaki itu terdiam dan menunduk sepertinya tengah menyadari kesalahannya.
Melihat hal itu, Sandra berucap, "mendingan kamu berangkat kerja sekarang,"
Sandra kembali menuju laundry room untuk meneruskan kegiatan mencucinya.
Selesai dengan urusan mencuci, Sandra bergegas menuju kamarnya, ia harus mandi dan bersiap menuju toko kue,
Saat melintas ruang tengah, Alex tengah duduk bersandar di sofa, lelaki itu menutup wajahnya dengan lengannya.
Sandra menepuk pelan pundak papa kandung putranya, "Lex, sana berangkat,"
Sandra yang tak sadar diikuti, membuka pakaiannya begitu saja, wanita itu hendak mandi,
Sebuah pelukan dari belakang membuat Sandra terkejut, ia tau siapa itu, "lepas, aku mau mandi,"tolaknya berusaha melepaskan tangan yang melingkari pinggangnya.
Alex mengendus leher belakang kekasihnya, "aku kangen Sa,"bisiknya.
Leher yang sensitif, membuat Sandra tanpa sengaja Mendes*h,
Mengetahui reaksi dari wanita yang dicintainya, Alex tersenyum tipis, ia melanjutkan kegiatannya, ia mulai meremas dada yang hanya tertutupi oleh br*.
Saat ini Sandra hanya mengenakan dalaman sehingga memudahkan Alex untuk melakukan aksinya.
Alex membalikkan tubuh kekasihnya dan memulai mencium bibir yang sudah berbulan-bulan ia rindukan,
Sandra yang memang sangat mencintai dan merindukan Alex, membalas ciuman itu tak kalah panas.
Keduanya terbakar gairah, seolah tak peduli tempat dimana mereka berada.
Alex membawa kekasihnya menuju tempat tidur, tanpa melepas tautan bibir yang sedari tadi saling ******* itu.
Sandra membantu Alex melepaskan kancing kemejanya satu persatu,
Alhasil keduanya mulai menyatu ketika tak ada kain penghalang diantara mereka,
Keduanya saling menyebutkan nama, mengungkapkan kerinduan dan cinta, mereka larut dalam gairah, menuju puncak yang sebagian orang menyebutnya surga dunia.
Bukan hanya sekali, seolah lupa tentang dunia luar mereka mengulangi kegiatan itu berkali-kali, seolah ingin menebus rasa rindu yang tertahan selama mereka tak bertemu.
Berkali-kali juga Alex menyemburkan benihnya ke dalam liang senggama milik Sandra, mungkin berharap akan ada nyawa yang membuat wanita itu tak lari darinya.
Bukan hanya diatas ranjang, keduanya melakukan lagi dikamar mandi dibawah guyuran shower, juga dinding keramik berwarna putih itu.
Sandra baru tersadar ketika dirinya baru saja keluar dari kamar mandi diikuti Alex,
Melihat jam di ponselnya, Sandra melebarkan matanya, tak ia sangka, waktu menunjukan pukul sembilan pagi, ia benar-benar terlambat bekerja,
Di layar ponselnya, beberapa panggilan tak terjawab juga pesan dari bosnya, yang intinya menanyakan keberadaannya.
Mau menyalahkan Alex, tapi ia bahkan menikmatinya, rasa rindu membuatnya gelap mata, Sandra merutuki dirinya sendiri, ia selalu terperdaya oleh kekasihnya.
Belum lagi soal dirinya yang tak melakukan kontrasepsi juga Alex yang tak memakai pengaman, dan berkali-kali menyemburkan benihnya.
Tanpa sadar Sandra memukul kepalanya sendiri, melihat hal itu Alex menahan kedua tangan kekasihnya,
"apa yang kamu lakukan? Kenapa pukul kepala sendiri?"tanyanya.
Sandra menatap kekasihnya, "Lex, aku takut hamil, sepertinya hari ini masa subur aku, kamu nggak pakai pengaman dan aku sudah lama nggak suntik KB,"
"ya bagus kalau gitu, berarti Xander bisa punya adik, dan kamu nggak akan lari dari aku,"
Sandra berdecak, Alex benar-benar sengaja melakukannya, "kita belum nikah kalau kamu lupa, aku nggak mau hamil duluan,"
"Ya udah kita nikah,"
"nggak segampang itu Alex, kamu lupa apa gimana sih?"
"Dibuat gampang, dan stop bahas itu, kita baru ketemu, aku nggak mau ribut,"
Sandra yang telah rapih, hendak keluar kamar setelah sebelumnya, membereskan kekacauan di kamarnya dibantu Alex,
"Aku kasih kamu waktu buat beresin barang-barang, setelah itu, kamu kembali ke rumah, dan aku nggak terima bantahan, kamu mengerti,"ucap Alex.
"Tapi aku harus kerja dan Xander sekolah, jarak rumah kamu jauh dari sini,"
"aku nggak terima penolakan Sandra,"
Ia yang tau betul watak Alex memilih menyetujui permintaan lelaki itu.