How To Marry You ?

How To Marry You ?
delapan belas



Alex menghubungi salah satu sahabatnya yang katanya akan datang berkunjung pagi-pagi,


Ia menanyakan keberadaannya, ia ingin tidur barang sejenak,


Semalam, ia harus bergadang menyelesaikan pekerjaannya hingga larut malam.


"Kalau Lo denger apa yang mau gue omongin, yakin lo langsung seger,"ujar Rama ketika baru saja memasuki kamar sahabatnya.


"emang apaan sih? cepetan, gue mau tidur, ngantuk banget,"tuturnya sambil menguap lebar dan mulai memejamkan mata.


"Barusan gue, ketemu Sasa dibawah,"


Mata yang tadinya memejam, sontak langsung melebar, ia langsung bangkit, mungkin jika lengannya tidak ditahan oleh Rama, ia akan turun hanya dengan bokser yang ia kenakan.


"Kendalikan diri lo, masa ia lo keluar kamar hanya dengan penampilan kayak gini?"ujar Rama menatap penampilan sahabatnya dari atas ke bawah.


Ia menepis tangan Rama, lalu bergegas ke kamar mandi.


Diantara keenam sahabatnya, Ia adalah orang dengan durasi mandi terlama.


Namun setelah mendengar wanita yang selama ini dicarinya, membuatnya hanya menghabiskan waktu untuk mandi hanya lima menit.


Rama sampai menganga melihat tingkah sahabatnya,


lima menit mandi dan lima menit berpakaian,


"yuk kebawah, gue nggak sabar ketemu,"ajaknya.


"Lex, gue tau lo benar-benar pengen ketemu Sasa, masalahnya gue nggak tau, dia kerja di bagian apa, mending Lo tanya ke Mega deh,"


Alex menghentikan langkahnya, mungkin lelaki itu berfikir ada benarnya apa yang diucapkan sahabatnya.


"Saran gue, pake otak cerdas lo, jangan jadi bego, kita nggak tau apa Sasa masih sendiri apa udah sold out, jikalau memang Sasa udah sold out, jangan sampai lo berniat merusak kebahagiaan dia, ngerti Lo! Gue ke cafe dulu,"setelah mengatakan hal itu, Rama pergi meninggalkan kamar milik sahabatnya.


Alex memutuskan untuk turun ke ruang kerjanya, meski tubuhnya lelah, ia tak mungkin bisa memejamkan mata.


Jam kerja di mulai, Alex menelpon Mega untuk membawa data karyawan yang bekerja di gedung ini.


Ia memilih opsi mengecek sendiri dari pada menyuruh bagian HRD mencari wanita yang ia cari.


Selang sejam ruangannya diketuk, Mega bersama salah satu office boy datang membawa dus berisi berkas karyawan.


Tadinya Mega menawarkan data yang sudah jadi, namun Alex meminta data manual.


Sepeninggal Mega dan office boy, Alex membuka dasi yang entah mengapa membuatnya tercekik, ia juga menyingsingkan lengan kemeja hitamnya.


Alex mulai mengecek satu persatu berkas masing-masing karyawan.


Namun Ia melewati Resepsionis, Cleaning service dan penjaga kantin, ia berfikir Sasa-nya tak mungkin bekerja seperti itu.


Alex mulai berfikir, Staf yang jarang berinteraksi dengannya, hanya disaat tertentu saja, staf HRD dan Keuangan.


Ia memeriksa data staf dua bagian itu, namun tak kunjung ia temukan.


Terakhir bagian yang sama sekali tak pernah berinteraksi dengannya, karena segala hal yang menyangkut keuangan akan di laporkan oleh Celine.


Staf Administrasi, hanya ada dua orang karyawati, tak mau membuang waktu, ia mulai mencarinya, dalam hati ia berharap Sasa-nya bekerja di bagian staf administrasi.


Map Berwarna kuning, bertuliskan Gita Saputri, ia membuka berkas itu, ada pas foto tiga kali empat dengan background warna biru, tapi itu bukan Sasa-nya.


Terakhir Tertulis nama Sandra Wijayanti, Dada Alex berdebar-debar, perlahan ia membuka dan yang pertama ia lihat adalah pas foto tiga kali empat dengan background warna biru, wanita dengan potongan rambut sebahu.


Ia ingat tatapan mata itu, benar ini Sasa-nya, wanita yang selama sepuluh tahun ini dicarinya.


Nyatanya ada didekatnya, satu gedung beda lantai, kenapa ia tak menyadarinya.


Wanitanya ada disini, rasanya Alex ingin berteriak sambil mengatakan pada dunia, jika ia telah menemukan orang yang dicarinya.


Kemudian Alex membaca data diri Sasa-nya, nama lengkap, tanggal lahir, hingga alamatnya.


Ia tau alamat tempat tinggal Sasa-nya, sebuah apartemen di Jakarta Selatan tak jauh dari kantornya.


Tapi senyum yang sedari tadi menghiasi wajahnya mendadak hilang, setelah membaca status dari Sasa-nya.


Wanita itu telah menikah dan memiliki seorang anak.


Tanpa sadar, Alex meremas berkas berisi data diri Sasa-nya.


Ia kecewa, penantiannya selama sepuluh tahun sia-sia, nyatanya Sasa-nya telah menjadi milik lelaki lain.


Marah, tentu saja, siapa yang terima jika ekspektasi-nya berbeda jauh dari realita.


Tak terbayangkan dalam pikirannya, Sasa-nya dimiliki oleh lelaki lain.


Tubuh wanitanya dinikmati dan dijamah lelaki lain,


Sepertinya ia harus melampiaskan amarahnya sekarang.


Ia menghubungi salah satu mucikari langganannya, ia butuh jal*Ng.


Club' memang tutup di siang hari, tak banyak aktivitas di sana.


Mami Belinda menyapanya, berbasa-basi sejenak, lalu menuntunnya ke kamar terbaik di club' ini.


Di kamar suite itu telah menunggu, jal*Ng yang katanya paling cantik di sana.


Alex tak peduli, ia tak butuh wajah cantik itu, yang ia butuhkan Sasa-nya, namun Sasa-nya telah dimiliki lelaki lain.


Alex menyuruh jal*Ng entah siapa namanya, untuk memanjakan adiknya.


Walau bisa menegang, tapi bukan karena keahlian wanita yang tengah bersimpuh dihadapannya, Alex memejamkan mata sambil mengingat, bagaimana malam itu Sasa-nya memuaskannya.


Kesal karena cairan kental itu tak kunjung keluar, Alex mulai mencari pengaman yang selalu tersedia di laci kabinet,


Ia menyuruh jal*Ng yang telah Bu**l itu untuk membelakanginya, ia benci melihat wajah jal*Ng yang keenakan karena permainannya.


Alex menjambak rambut panjang bercat merah gelap itu, dan mulai memasukan kejantanannya menuju goa longgar dibawah sana.


Entah berapa lama, ia terus bergerak, yang jelas wanita jal*Ng itu beberapa kali berteriak telah mencapai puncaknya, sedangkan dirinya masih saja berusaha meraih hal itu.


Alex menampar benda kenyal didepannya cukup keras, sebentar lagi ia sampai,


Berbagai umpatan terlontar dari mulutnya, setelah ia mencapai puncaknya.


Alex berada di kamar mandi, ia melepas karet lateks itu dan melemparnya ke tong sampah, ia mencuci adiknya hingga bersih, lumayan sedikit lega.


Sedari tadi ia hanya membuka resleting celananya, bahkan kemeja dan jas nya masih menempel rapih di tubuh kekarnya.


Ia melirik sekilas ke atas ranjang dengan sprei merah menyala, ******* itu terkulai lemas karena ulahnya, ia mengambil seluruh uang berwarna merah yang ada di dompetnya, menyisakan selembar uang berwarna biru untuk membayar parkir nanti di bawah.


Tak lupa menghubungi Mami Belinda, dan mengatakan jika dirinya telah selesai.


Alex mentransfer sejumlah uang untuk membayar jasa mucikari itu.


Hasratnya telah tersalurkan namun pikirannya masih kusut,


Ia kembali ke kantor, bukan untuk bekerja, tapi ia ingin menghabiskan energinya dengan olahraga di ruangan gym lantai delapan.


Tiga hari kemudian.


Alex sudah mulai ke kondisi normalnya, ia mulai berkerja, walau hatinya galau pikirannya kusut, ia tak boleh mengabaikan pekerjaannya.


Rama sedang rapat dibawah bersama staf keuangan.


Sebenarnya ia juga harus ikut serta, tapi ia malas,


Sejam lebih rapat, Rama tak kunjung datang ke ruangannya, ia menghubungi lelaki itu.


"Dimana lo? Lama banget rapatnya,"


"...."


"Apa alasannya,"


"..."


"Siapa namanya? Berani banget protes,"


"...."


"Suruh nemuin gue, penasaran apa reaksinya,"


"...."


Alex mengakhiri panggilannya.


Ia sengaja duduk membelakangi pintu masuk ruangannya.


Tak lama Rama masuk,


"Pak, ini karyawan yang protes karena gajinya saya potong lima puluh persen,"ucap Rama berbicara sopan padanya, Alex menahan tawanya, seumur-umur ini kali pertama, sahabatnya berbicara formal padanya.


Alex diam tak menanggapi ucapan sahabatnya, hingga terdengar lagi suara Rama berbicara dengan staf yang terlambat meeting tadi,


"Sa, gue balik ke Cafe dulu ya, urusan gue disini udah selesai, saran gue lo mesti sabar dan tabah, soalnya bos paling nggak suka di protes,"pesan Rama, "satu lagi, saran gue kalau bos masih tetep kekeh potong gaji, Lo cip*k aja bibirnya, gue yakin, salah satu koleksi kartunya, bakal langsung dikasih deh,"


Alex bisa mendengar bisikan Rama pada wanita itu.


Alex tau, Rama telah meninggalkan ruangannya, ia yang sedari tadi memegang remote, memencet salah satu tombol,


Hening, hanya terdengar hembusan pendingin ruangan, hingga terdengar suara wanita itu mulai berbicara, "Pak, saya mohon jangan potong gaji saya, maaf tadi jalanan macet sehingga saya terlambat, saya sangat membutuhkan uang itu,"pintanya, wanita itu terus mengoceh yang intinya meminta supaya gajinya tak di potong.


Alex berbalik, "ada syarat yang harus kamu penuhi supaya gaji tidak dipotong,"


Wanita dengan kemeja biru langit dilapisi dengan blazer berwarna navy mematung melihatnya.


"Long time no see babe"