
Sandra membawakan pesanan Alex dibantu oleh salah satu petugas kebersihan yang ditemuinya saat di parkiran bawah tanah.
Alex mengatakan akan sarapan dengan para sahabatnya di ruang kerja miliknya.
Sudah ada Jonas yang datang, sementara penghuni lantai enam yang lain hanya beberapa orang yang hadir.
Sehingga pesanan masih tersisa beberapa lalu diberikan kepada petugas kebersihan dan rekannya.
Natasha juga baru datang, hampir bersamaan dengan Sandra.
Mereka berenam mulai sarapan dengan mie ayam langganan, sambil mengenang masa SMA dulu.
"Udah lama nggak ngumpul gini ya!"cetus Natasha seraya memakan mie ayam miliknya.
"Ngumpul tapi nggak makan begini, udah gitu kalau lagi Ben suruh ke Amerika, kita pada kerja masing-masing,"Oscar ikut bicara.
"sayangnya Dodo nggak bisa Dateng,"Rama menyela.
"Kalau Dateng kita makan mie sambil liat Nando sama Ben adu jotos,"ujar Alex yang duduk bersebelahan dengan Sasa-nya.
"ya nggak lah, kalau dia nggak mancing-mancing gue ngak bakal mukul,"Benedict menyangkal.
"Lo masih emosian Ben? padahal udah mau kepala tiga,"tanya Sandra.
"Itu udah dari sananya Sasa sayang, susah dirubah,"Alex menyela.
"Sa, mending Lo jadi sekertaris di perusahaan gue, fasilitas oke, gaji oke, dari pada disini, kerja Lo pasti diganggu Mulu kan sama tuh orang,"ucap Benedict sambil melirik Alex.
"Ben, pernah nggak ya gue menghajar Lo? Kayaknya sih belum deh, meskipun badan Lo lebih gede, gue ini juara turnamen boxing, jadi bisa lah bikin Lo lebam-lebam,"ujar Alex kesal.
Benedict tertawa, dirinya memang nyaris tak pernah adu jotos dengan Alex, entah mengapa separah apapun sahabatnya meledeknya tak pernah ia emosi kecuali dengan Fernando, hanya candaan saja bisa langsung baku hantam, dirinya tak tau, kenapa lelaki blasteran yang satu itu membuatnya mudah emosi.
"wah Alex udah gede ya,"ejeknya.
Alex hampir berdiri, namun Sandra memegang lengannya lembut,
"gue berharap lo bakal ribet sama cewek yang disukai dan kecerdasan Lo bakal ilang kalau udah berurusan sama itu cewek,"
"Iya gue tunggu, siapa sih cewek yang bikin gue jadi bego, kalau ada dalam waktu dekat ini, bulan depan Lo semua gue kasih bonus dua kali lipat termasuk Lo Sasa,"ucap Benedict yakin sambil menunjuk Sandra dengan sumpitnya.
"Sandra Ben, bukan Sasa, kalau Sasa khusus buat gue,"Alex memperingatkan sahabatnya.
Benedict menaikan bahunya lalu melanjutkan makannya, sudah lama lelaki itu tak memakan mie ayam seperti ini.
Usai makan, mereka berbincang sejenak lalu kembali ke aktifitasnya masing-masing, Oscar dan Natasha berangkat ke rumah sakit, Rama kembali ke Cafe, Benedict mengunjungi kosan di daerah Kalimalang sedangkan Alex dan Sandra kembali menjalani perannya sebagai bos dan sekertaris.
Hari Sabtu tiba, saat sarapan bersama kemarin Natasha mengajak Sandra ke salon, ini kali pertama setelah pertemuan kembali keduanya bisa jalan bersama.
Natasha yang sibuk di rumah sakit juga Sandra dengan kehidupan pribadinya.
Awalnya berniat ke salon, tapi Natasha malah mengajaknya untuk jalan-jalan di mall sebentar, katanya ingin berbelanja.
Mereka mengunjungi sebuah toko tas dari brand ternama, awalnya Sandra keberatan, meskipun belum pernah memilikinya, tapi dirinya tau jika harga satu tas itu bisa untuk biaya hidup untuk beberapa bulan, tapi dengan bujuk rayu Natasha, ia luluh juga.
"Lo tuh sekertaris, jangan malu-maluin bos lo kalau ketemu klien, seenggaknya Lo harus punya satu,"ujar Natasha.
Sandra akhirnya menurut, meskipun sebenarnya tak rela, uang tabungan yang ia kumpulkan dengan susah payah harus terkuras hanya untuk satu tas.
"Tapi Sha, kan belum tentu Ben ketemu cewek yang membuatnya mendadak bego, emang semudah itu?"
"makanya Lo bantu doa, nggak ada apa-apa aja, Ben kasih kita-kita bonus gede, gimana kalau suasana hatinya bagus, kita minta apa aja bakal dikasih,"
"Emang Ben royal banget ya! Seingat gue dulu nggak begitu, malah Nando yang sering traktir kita kalau lagi ngumpul,"
"emang Alex belum cerita soal Ben sekarang jadi CEO di perusahaan keluarganya di Amerika sana,"
"Ya gue tau sih, cuman kok royal banget,"
"Lo kapan-kapan kalau diajak Alex ke Amerika Lo bakal tercengang deh liat betapa kayanya Benedict,"
"beruntung dong yang bakal jadi bininya,"
Keduanya sedang berjalan menuju toko pakaian formal khusu wanita.
"beruntung apanya, kalau gue sih ogah sa,"
"kenapa memangnya, kan enak tinggal ongkang-ongkang kaki,"sahut Sandra.
"Lo lupa temperamen Ben kayak apa, dikit-dikit marah, ya walau cuma sama Nando sih, tapi kan, yang jelas gue nggak bakal mau sama cowok-cowok itu, gue udah tau kelakuan aslinya,"
Sandra tertawa, dari dulu Natasha tidak pernah berubah, gadis itu membenci sahabatnya yang laki-laki, "termasuk Alex dong,"
"Iya lah, ya kali sebelas dua belas sama Nando ngapain,"Natasha menutup mulutnya, "Ups... Sorry sa, gue nggak maksud menyinggung Lo,"ujarnya tak enak,
"nggak apa-apa sha, gue ngerti, Alex juga udah ngaku kok, kalau dia sering main sama jal*Ng buat melampiaskan hasratnya, wajar si dia kan laki-laki dewasa,"
"Lo rela gitu aja Sa! Nggak geli bekas. banyak cewek,"
Sandra tertawa lagi, "Lo lupa gue malah udah nikah dan khianati dia, tapi dia malah mau-maunya jadi selingkuhan gue,"
Natasha menghentikan tangannya yang tengah memilih kemeja untuk dipakainya saat bekerja, "Lo serius selingkuh sama Alex? terus laki Lo gimana?"tanyanya penasaran.
Sandra yang juga sedang memilih baju, menaikkan bahunya,
Natasha menghampiri sahabatnya, ia meraih tangan Sandra, "Sa, Lo serius? bilang kalau itu nggak bener? Lo cuman sekertaris dan bos doang nggak lebih kan!"
"menurut Lo?"
"Ya ampun Sasa, gue tau Alex cinta mati sama Lo, tapi kan status Lo? Jangan main api Sasa, apa lagi Lo udah punya anak kan?"
Sandra menggandeng Natasha keluar dari toko dan mengajaknya duduk di bangku panjang yang disediakan pihak mall untuk beristirahat,
"Sha, gue punya alasan untuk itu semua,"
"Tapi Sasa itu nggak boleh, dosa tau,"Natasha masih tak habis pikir dengan sahabat lamanya.
"gue minta Lo tutup mulut soal ini, karena ini rahasia terbesar gue,"
"gini deh sa, mending kita lanjut di rumah gue aja, acara ke salonnya kapan-kapan aja,"
Sandra mengangguk, keduanya berjalan menuju ke parkiran untuk mengambil mobil masing-masing dan mengemudi menuju rumah Natasha.