How To Marry You ?

How To Marry You ?
enam puluh satu



Selesai urusan dengan Ferdiansyah, Sandra memilih tinggal di rumah sepupunya selama dua hari.


Sebelum kembali ke ibukota tak lupa membelikan oleh-oleh untuk Tante Terry, rencananya selama mengurus perceraiannya hingga selesai, ia akan tinggal di sana.


Kemarin saat menghubungi Jonas perihal proses perceraian, Tante Terry yang memintanya untuk tinggal sementara waktu di sana, toh Alex masih berada di Amerika.


Sandra baru tiba di ibukota hampir tengah malam, ia langsung menuju rumah Tante Terry,


Sewaktu dirinya sampai, Jonas belum pulang bekerja, menurut pengakuan Tante Terry, selalu begini setiap Alex pergi ke Amerika,


Jonas akan lembur bahkan sampai menginap di kantor.


Sandra sebagai mantan rekan kerjanya tentu tau, pekerjaan Jonas tentu bukan sebagai sekertaris sepenuhnya, ada pekerjaan utamanya yang lain.


Keesokan paginya usai mengantar putranya ke sekolah, Sandra menemui Jonas sekalian membawakan bekal sarapan yang dibuatkan oleh Tante Terry, selain itu ia juga hendak menemui salah satu yadvokat penghuni lantai enam guna melanjutkan gugatan cerai yang sempat tertunda.


Karena masih pagi, penghuni gedung belum banyak yang datang, hanya sekuriti sif malam, cleaning service dan penjaga kantin.


Jonas berada di lantai delapan sedang bersama Choki ketika Sandra datang membawakannya sarapan.


Terlihat raut terkejut dari wajah Choki, wanita yang membuat bosnya kalang kabut, datang dengan senyum lebar sambil membawakan sarapan untuk rekannya.


"Mbak kok ada disini? terus kenapa bawain sarapan buat Jonas?"tanya Choki ketika melihat Sandra memberikan paper bag pada rekannya,


"dan Lo Jo, kenapa bisa mbak Sandra bawain Lo bekal? Jangan bilang Lo tau keberadaan dia selama ini, Lo mau mengkhianati Abang sendiri sekaligus bos Lo,"lanjutnya terlihat kesal.


Bukannya menjawab, Jonas malah tak mempedulikannya, lelaki itu terlihat sibuk dengan paper bag berwarna cokelat itu, "wah makasih ya sayang, kamu emang paling mengerti aku,"ujarnya bermaksud memanas-manasi rekannya.


 "Brengsek,"umpat Choki bangkit berdiri lalu mencengkram kerah kemeja rekannya, "biarpun Lo temen gue, tapi kalau caranya gini, gue abisin Lo, bisa-bisanya mengkhianati Abang Lo, Bangsat,"


Hampir saja Choki memberikan bogem mentah pada rekannya, jika Sandra tak mencegahnya.


"Berhenti Choki,"ucapnya mencegah, "Jojo nggak usah aneh-aneh, nyari perkara aja sih, ini masih pagi,"


Choki melepaskan cengkeramannya, lelaki itu terlihat masih kesal dan tak terima dengan tingkah rekannya.


Sandra memberikan satu tempat kotak bekal lagi pada lelaki berbadan kekar berkulit eksotis itu.


"emosian banget sih Choki, belum dapat jatah apa gimana sih? udah tau Jonas suka bercanda, kok jadi baper,"


Choki menerima kotak bekal itu, "lagian mbak Sandra ngilang berhari-hari, Abang sampai kelimpungan nyariin, bisa-bisanya kalian malah bareng, apa itu namanya nggak berkhianat?"


Jonas sama sekali tak menanggapi ataupun menyangkal ucapan rekannya, ia malah sibuk menikmati sarapannya.


"Alex itu ngusir aku Ko, makanya aku pergi dari rumah,"jawab Sandra.


Choki menghentikan kunyahan nya, "nggak mungkin Abang begitu, Abang cinta mati sama mbak Sandra, kemarin sebelum berangkat ke Amerika, masih nyuruh gue nyariin mbak, nggak taunya malah sama Jojo, pantesan dia santai aja nggak ikutan panik,"ungkapnya kesal.


"Tapi nyatanya kayak gitu, Alex marah, gara-gara aku nganter mas Ferdi ke Semarang, dia kecelakaan, tapi tunggu deh, ngomongin kecelakaan ya, aku kok jadi curiga ya, jangan bilang itu perbuatan kalian?"tebak Sandra dengan tatapan menyelidik, ia baru menyadarinya.


Jonas tersedak sedangkan Choki langsung menghabiskan air dari botol,


Sandra semakin curiga, dengan reaksi dari keduanya.


"Choki?"ucap Sandra yang membuat dahi lelaki itu mendadak berkeringat.


"bukan kita kok, ya kan Jo,"sangkal Choki terlihat gugup.


Sandra bangkit, "kalau nggak mau ngaku, aku mau ngilang lagi, biarin aja Alex merana,"baru berapa langkah, salah satu dari lelaki itu memanggilnya.


"itu Abang yang suruh mbak, tapi bukan lewat tangan kita kok, kita kan cuman pengin ngasih pelajaran suami tukang selingkuh,"Jonas angkat bicara, namun setelahnya ia malah berdebat dengan Choki, keduanya saling menyalahkan bagai anak kecil yang sedang disidang oleh orangtuanya.


Dari perdebatan dua orang laki-laki itu, Sandra jadi tau apa yang sebenarnya menimpa Ferdiansyah, ia tak menyangka Alex se-licik itu, tanpa mengotori tangannya.


"Hentikan, kalian kayak anak SD tau nggak, malu-maluin,"ungkap Sandra kesal, "dan jangan kasih tau Alex kalau aku udah tau,"


Kedua lelaki itu menghentikan perdebatannya dan melanjutkan sarapan mereka.


"Terus abis ini, rencana mbak apa?"tanya Chiko menghentikan kunyahannya.


"aku mau lanjutin gugatan cerai, aku abis dari tempat mas Ferdi, lalu udah mendapatkan surat pernyataan jika dia ceraikan aku,"jawab Sandra sambil mengambil selembar kertas dari dalam tasnya.


"Baguslah, seenggaknya Abang udah nggak uring-uringan lagi, soalnya imbasnya ke kita, ya nggak Jo!"


Jonas hanya menaikan bahunya seolah tak peduli, namun berucap, "walau udah cerai, nggak jaminan mbak Sandra sama Abang bakal nikah, bener kan mbak?"


"itu tau,"sahut Sandra.


Chiko meletakan kotak bekal yang telah tandas, lalu menatap bingung kedua orang di samping dan hadapannya, "maksudnya apa? Kan kalau mbak cerai, udah nggak ada penghalang lagi buat mbak bersatu sama Abang,"


"Kita kan beda sama mbak Sandra Chiko, ngerti nggak sih Lo,"sela Jonas yang juga telah menyelesaikan sarapannya.


Chiko yang memang jarang berada di lantai enam, tak paham apa yang diucapkan rekannya,


"kami berbeda keyakinan Chiko,"jelas Sandra.


"lah gue baru tau mbak, kirain sama kita, kalau gitu ya susah,"


Selanjutnya hanya obrolan yang intinya bahwa Jonas, meminta Sandra untuk bekerja membantunya, setidaknya sampai Alex kembali.


"mbak pikirin deh,"sahut Sandra, "aku mau turun dulu ya, mau ngasih ini, biar cepat diproses, oh ya, biarpun mbak udah resmi cerai, kalian jangan kasih tau Alex ya, biar aja dia nyangka mbak masih bersuami, seenggaknya sampai kami menemukan solusi dari hubungan kami,"lanjutnya seraya bangkit meninggalkan kedua lelaki itu.


Sandra turun ke lantai enam, tempat dimana advokat rekan Alex berada,


Advokat dengan usia paling tua diantara rekanan Alex di kantor itu, Hermawan namanya,


Sandra menyerahkan surat pernyataan yang ditandatangani oleh Ferdiansyah diatas materai, dan meminta supaya segera diurus tak lupa meminta agar merahasiakan ini dari Alex.


"Tapi bu, kalau sampai Bos tau, taruhannya kerjaan saya disini loh,"ucap Hermawan.


"Saya yang akan tanggung jawab, bapak bisa pegang kata-kata saya, lagian bapak kan tau alasannya,"


"baiklah Bu, mudah-mudahan mulut saya tidak keceplosan,"


Selesai urusan dengan Hermawan, Sandra memilih pulang ke rumah Natasha, sudah beberapa hari ini rumah itu tidak dibersihkan, setidaknya ini caranya berterima kasih pada sahabatnya yang telah berbuat baik padanya.