
Usai menjemput Sinta ditempat kerjanya, Rama mengajaknya makan bersama disalah satu restoran yang ada didalam pusat perbelanjaan.
Ketiga orang dewasa itu terlibat obrolan mengenai rencana pernikahan yang akan berlangsung bulan depan, dikediaman keluarga Sinta,
Sandra diam-diam mengirimkan pesan pada Sinta, agar meminta seserahan barang-barang dengan brand terkenal dunia, juga mas kawin dengan nilai lumayan banyak, tapi sepertinya calon mempelai itu justru mengatakan, jika menginginkan hal yang sederhana tentu melalui pesan di ponselnya.
Rama yang melihat sedari tadi kekasihnya sibuk dengan ponsel, lama-lama kesal juga, "sibuk banget kayaknya, kan udah pulang, ngapain masih ngurus kerjaan sih, lagian kita kan lagi bahas seserahan buat kamu,"
Sinta menoleh, lalu memasukan ponsel kedalam tas miliknya, "ini temen aku, lagi nanyain soal pernikahan kita,"jelasnya.
Sandra menahan tawa melihat wajah kesal sahabatnya, sepertinya lelaki itu cemburu.
"Ram, budget buat seserahan berapa? Biar gue yang bantuin Sinta belanja, Lo tau kan selera gue, tinggal Lo sebut jadi gue bisa menyesuaikan,"cetusnya.
Rama menoleh pada Sandra, lalu merogoh, saku dalam jas hitam yang dikenakannya, lelaki itu mengambil salah satu kartu miliknya, "ini semua buat keperluan seserahan sama mas kawin, terus soal wedding organizer duitnya lain, pokoknya semaunya Sinta aja, kalau kurang Lo tinggal kasih tau gue,"
Sandra mengambil kartu platinum dari salah satu bank terkemuka di negara ini, "berapa isinya?"tanyanya memastikan,
Rama membuka salah satu aplikasi perbankan di ponselnya, mengutak-atik nya sebentar lalu menunjukan pada Sandra.
Wanita beranak satu itu melebarkan matanya melihat beberapa digit yang tertera dilayar ponsel milik lelaki itu,
"itu serius semuanya boleh dihabisin, beneran nggak nih? Lo udah diskusi sama Tante Susi kan?"
"Itu nyokap gue yang suruh Sandra, katanya khusus buat calon mantu kesayangannya,"
Sandra tersenyum lebar, "wah sin, beruntung banget deh, tenang aja, gue bantu abisin,"ujarnya.
Sinta menggeleng, "jangan boros-boros San, mending uangnya buat beli rumah, atau isi perabot,"
Rama menyentuh punggung tangan calon istrinya, "kalau itu kamu nggak usah khawatir, pokoknya yang lain udah ada uang tersendiri, jadi jangan khawatir soal itu, jadi silahkan kamu sama Sandra belanja, aku sama Xander ke Timezone,"jelasnya, "tolong bantu ya Sa, nggak usah sungkan, oh ya gue kirim buat Lo beli baju dinas, biar Alex makin klepek-klepek,"
Sandra mengecek notifikasi pada ponselnya, "wah bos gue emang loyal ya! Makasih loh, padahal gue mah ikhlas bantuin,"
"iya-iya gue tau, mending sana cabut, entar keburu malem,"
Sandra mengajak Sinta untuk mengunjungi beberapa store merk ternama dunia, awalnya calon mempelai perempuan itu protes, tapi berkat bujuk rayu kekasih Alex itu, akhirnya Sinta luluh juga.
Tempat yang dikunjungi pertama adalah toko perhiasan dari brand yang biasa dipakai kalangan selebritis, Sandra meminta pada pelayan toko memberikan koleksi terbaru.
Sinta melebarkan matanya begitu melihat satu set perhiasan bertahtakan berlian yang terlihat berkilauan, "mahal Sandra, mending yang emas biasa aja, kasihan mas Rama uangnya entar abis,"ucapnya tak enak.
"bungkus mbak,"pinta Sandra pada pelayan toko, "ini buat mas kawin, artinya ini hak elo sepenuhnya, ini bisa buat simpanan dimasa depan, karena nilainya bakal bertambah, udah terima aja, soal cincin nikah Rama bilang udah pesan kan!"
Sinta mengangguk, lalu Sandra mengurus pembayarannya.
Tadi saat berada di toko khusus dalaman untuk wanita, mereka bertemu dengan Citra dan Lusi, sepertinya juga sedang berbelanja barang yang sama.
Sandra memutar bola matanya malas, bisa-bisanya dari seluruh bagian mall, ia harus bertemu dengan kedua wanita yang menurutnya seperti sampah.
Sebagai pacar Alex saat putih abu-abu, jelas Sandra tau siapa Kedua wanita yang mengenakan pakaian cukup seksi itu.
"hai Sasa, apa kabar Lo? Lama ya kita nggak ketemu? udah berhasil nikahi Alex? Ups... lupa gue, Lo kan nggak mungkin bisa nikah sama dia, kan beda, paling Lo cuman jadi penghangat ranjangnya aja, emang enak nggak dikasih kepastian, cuman dimanfaatkan doang,"ungkap Lusi yang diiyakan oleh Sinta, wajah kedua wanita itu menurut Sandra terlihat cukup menyebalkan.
Kekasih dari Alex itu memainkan lidah dalam mulutnya, rasanya malas sekali berurusan dengan kedua wanita gatal itu, mereka sama, walau sudah diputuskan, tapi masih tidak tau malu mengejar-ngejar mantan pacarnya.
"Eh Bininya Arnold, denger gue, pasang telinga Lo baik-baik, gue sama Alex mau bagaimanapun, itu urusan kami, nggak ada hubungannya sama Lo, dan harusnya omongan Lo, itu ditujukan sama cewek sebelah Lo, kasihan deh, tunangan bertahun-tahun, tapi malah ditinggalin, capek kan jagain jodoh orang, udah gitu masih gatel aja, nggak tau malu,"ucapnya ketus.
Hampir saja Citra maju hendak menampar Sandra tapi dicegah Sinta, "maaf ya mbak-mbak, kami permisi dulu,"ucapnya sambil menggandeng mama dari Xander itu. Terdengar makian dari kedua wanita itu, tapi mereka tidak peduli.
Waktu menunjukan pukul delapan malam lewat, ketika Sandra dan Sinta tiba di parkiran, tadi salah satu dari mereka mengirim pesan pada Rama, jika keduanya telah selesai berbelanja.
"Kata Rama, Lo lagi isi sin?"tanya Sandra sambil menunggu kedatangan Rama.
"belum tau sih, gue belum periksa, takut, tapi yang jelas gue udah telat dua bulan,"jawab Sinta jujur.
"sebisa mungkin, apapun yang diomongin kedua cewek gatel itu, nggak usah didengerin ya, mereka emang dari dulu suka iseng, kalau bisa jangan sampai berinteraksi dalam hal apapun, termasuk telepon atau pesan, jangan sampai Lo goyah,"
Sinta menunduk sebentar, lalu mendongakkan kepalanya, wanita itu seperti sedang menahan tangis, "gue ragu sama mas Rama, apalagi Citra cerita soal apa saja yang dilakuin nya selama menjalin hubungan, sampai beberapa tanda di badan mas Rama, aku kayak nggak rela gitu ya! Konyol nggak sih, giliran gue udah isi, gue baru tau fakta itu, bayangin kayak gitu, hati gue sakit banget,"
Sandra menepuk pundak wanita disebelahnya, "Sinta, gue ngerti perasaan Lo, tapi kalau Lo mikirin yang udah lalu adanya Lo bakal ke siksa sendiri, kasihan bayi Lo, jangan sampai stress ya! Coba belajar menerima, seenggaknya biar Lo lega,"
"Apa gue batalin aja ya? gue udah bisa bayangin bakal kayak apa konflik di masa depan,"
Sandra melebarkan matanya, "jangan lah, masa mau dibatalin, sayang kan, tinggal sebulan lagi,"
"Tapi Sandra, gue capek di rong-rong mulu,"
Sandra memeluk Sinta dan menepuk punggung itu pelan seolah menenangkannya sekaligus memberikannya semangat.
"coba jalani dulu, kalau ternyata nggak kuat, Lo bisa berhenti, nggak ada salahnya pernikahan berhenti di tengah-tengah, yang penting Lo harus bahagia pada akhirnya,"
Sinta melepaskan pelukan terlebih dahulu, "makasih ya, udah sering dengar curhatan gue,"
"sama-sama, jangan sungkan buat cerita, tenang aja, meskipun gue sahabatnya Rama, tapi gue pasti akan belain Lo!"
Pembicaraan kedua wanita itu terhenti ketika Rama dan Xander baru saja datang.