How To Marry You ?

How To Marry You ?
seratus sembilan belas



Alex dan Sandra benar-benar menginap di hotel semalaman, keduanya melepas rindu hingga tengah malam.


Pagi-pagi sekali, Alex mengantar kekasihnya menuju rumah sakit, bagaimanapun Sandra belum berganti baju sejak kemarin, beruntung wanita itu selalu ada baju formal cadangan di ruangannya.


"entar kalau urusan surat menyurat sudah selesai, aku sempatkan makan siang disini, pokoknya aku kabari deh,"pesan Alex pada Sandra begitu mobil berhenti tepat didepan lobby.


Sandra menanggapinya dengan anggukan, tak lupa menyalami lalu mencium punggung tangan calon suaminya.


Alex tersenyum kecil melihat dari spion kiri mobil yang dikemudikannya, saat wanita itu melambaikan tangannya.


Ia melajukan mobil yang biasa dipakai oleh Sandra menuju arah komplek rumahnya.


Tempat pertama tujuannya adalah masjid Jami yang terletak tak jauh dari gerbang komplek.


Kedatangannya disambut hangat oleh marbot yang sedang mengepel lantai teras masjid.


Setelah berbasa-basi sejenak, Alex menyampaikan maksud kedatangannya, mendengar hal itu, Sang marbot berucap syukur, dan mempersilahkan lelaki dengan setelan formal itu menuju kantor pengelola yang terletak di kanan masjid.


Sekitar tiga puluh menit, Alex menunggu Ustadz yang biasa mengisi pengajian rutin di masjid itu.


Alex kembali menyampaikan maksud dan tujuannya mendatangi masjid itu, ia juga mengatakan jika dirinya tinggal di komplek tak jauh dari sana.


Ustadz mendengarkan penjelasan Alex dengan seksama, lalu mengajukan beberapa pertanyaan, diantaranya apakah lelaki yang berprofesi sebagai pengacara itu telah khitan atau belum.


Alex yang selama perjalanan mencari tau tentang syarat menjadi mualaf, menjawabnya apa adanya, bahwa dirinya telah khitan saat berkunjung ke rumah nenek dari pihak ayah yang asli Jogja saat liburan setahun sebelum ibunya meninggal.


"Niat baik tidak boleh ditunda, baiklah saya akan menuntun pak Alex untuk segera mengucapkan kalimat syahadat,"sahut ustadz menanggapi


Tak lupa Alex menghubungi Pak RT komplek, untuk segera datang menyaksikan peristiwa penting itu.


Sekitar sepuluh menit, pak RT datang bersama wakilnya, kebetulan mereka sedang bersama membicarakan tentang keamanan komplek.


Keduanya terkejut ketika mendapati salah satu warganya yang dikenalnya sebagai keluarga non muslim yang taat, berniat menjadi mualaf.


"Karena saksi sudah datang, mari kita mulai pembacaan ikrar syahadat, anda silahkan mengikuti perkataan saya,"ujar ustadz yang duduk berhadapan dengan Alex hanya terhalang meja, disisi kanan kiri ada pak RT dan wakilnya, serta dua marbot yang berdiri di belakang pak Ustadz.


Sebelumnya Alex meminta salah satu marbot untuk merekam momen berharga dalam hidupnya melalui kamera ponsel mahalnya.


Dan ikrar pun dimulai, Alex mengikuti semua perkataan yang ustadz ucapkan, dan ucapan syukur beserta takbir dari orang-orang yang menjadi saksi masuknya seorang Alex Soejono ke agama Islam.


Mata Alex sampai berkaca-kaca saking terharunya ketika mendapatkan selamat dari orang yang hadir di sana.


Ustadz juga mengajari ritual mandi besar untuk Alex sebagai sunah usai melafalkan dua kalimat agung itu.


Alex mengambil peralatan mandi dan baju ganti yang ada di koper yang diletakkannya di bagasi mobil, lalu menumpang mandi di kamar mandi masjid.


Sekitar lima belas menit berlalu, Alex baru saja keluar dari kamar mandi dan telah berganti baju.


Setelahnya, ia mohon undur diri pulang ke rumah, untuk segera mengurus surat pernyataan berpindah agama, yang nantinya akan dibantu oleh pak RT dan wakilnya.


Suasana rumah sepi, menurut Sandra, Putranya sudah mulai sekolah dua hari ini, mbak Ninik ijin tidak bekerja dikarenakan tetangga sebelahnya meninggal.


Alex mengambil surat-surat yang dibutuhkan untuk kepengurusan berpindah keyakinan, beserta surat ijin untuk menikah.


Ia juga membicarakan tentang niatannya menikah dengan ibu dari putranya pada pak RT.


Saking sibuknya, Alex tak sempat datang saat jam makan siang tiba.


Tiga hari berlalu, segala syarat-syarat tentang pernikahan telah dipenuhi, Sandra yang memang sudah pindah secara administrasi menjadi penduduk tempat tinggalnya, memudahkan segala kepengurusan surat pengajuan nikah.


Belum lagi kemampuan Alex yang tak usah diragukan lagi dalam hal urus mengurus surat.


Hingga sehari menjelang hari H, Xander belum diberitahu tentang rencana pernikahan kedua orangtuanya.


Pagi itu usai sarapan, bel rumah berbunyi, Alex dan putranya sedang sarapan bersama.


"Siapa sih, pagi-pagi buta gini bertamu, nggak sopan,"gerutu Xander tiba-tiba, sebagai orang yang lebih muda, ia berinisiatif hendak membukakan pintu,


Namun Sandra yang masih memakai bath rob, keluar dari kamar dan mencegah putranya keluar, "biar mama aja kamu lanjutan sarapan,"


Xander kembali duduk, "papa kok diem aja sih mama, keluar buka pintu dengan penampilan kayak gitu,"protesnya.


Alex yang sedang mengunyah roti hanya menaikan bahunya seolah tak peduli, padahal ia jelas tau siapa yang datang kerumahnya sepagi ini.


Tak lama Sandra datang diikuti tiga orang perempuan yang membawa beberapa barang, dan tanpa banyak bicara mereka masuk ke kamar.


Semua itu tak lepas dari penglihatan Xander, lagi-lagi ia protes, "papa, kok dibolehin masuk ke kamar kalian? bukannya papa paling nggak suka kalau ada orang lain masuk ke kamar?"


Alex lagi-lagi hanya menaikkan bahunya tak peduli.


"papa ngeselin, Xander sebel,"keluhnya sembari berdiri.


Alex yang melihat putranya merajuk, berusaha menahan tawanya, tapi melihat makanan yang tersisa di piring remaja itu seketika ia memerintahkan Xander untuk menghabiskan makanannya, "tidak baik membuang makanan, habiskan sarapan kamu, bereskan meja makan, lalu bersiap dengan setelan yang papa taruh dibelakang pintu kamar kamu,"


Akhirnya Xander duduk kembali dan segera menghabiskan sisa sarapannya, meskipun beberapa kali terdengar gerutuan dari mulut remaja itu.


Lebih dari satu jam, Sandra berdandan untuk acara akad nikahnya.


MUA yang dimintanya meriasnya adalah kenalannya di media sosial, dan mengenai kebaya, Alex yang memesannya dari salah satu designer ternama sebelum ia berangkat ke Itali.


Dan tuxedo untuknya dan Xander dipesannya dari butik langganannya.


Bapak dan anak itu berdandan di kamar Xander, ini kali pertama remaja itu mengenakan tuxedo.


Alex membantu putranya memasangkan dasi, tapi remaja itu malah protes, "kita sebenarnya mau ngapain sih pa? Ribet banget pake pakaian formal gini,"


"Kita akan foto keluarga,"sahut Alex.


"Nikahi mama dulu pa, kalau mau buat foto keluarga,"cetus Xander.


"buat fotonya yang memang abis nikah,"tutur Alex.


"Siapa yang nikah?"tanya Xander memastikan.


"Menurut kamu?"tanya Alex balik, yang terlihat menyebalkan di mata remaja itu.


"serah,"malas berdebat, Xander memilih keluar kamar terlebih dahulu, dan mendapati sang ibu juga baru keluar kamar dengan penampilan bak pengantin.


Kebaya putih, kain jarik dan sepatu hitam yang sama saat Xander lihat saat Sandra menikah dengan Ferdiansyah.


Plus Hiasan kepala khas pengantin dan ada rangkaian bunga kantil yang di ronce menjulur dari belakang telinga kanan hingga bawah dada.


Remaja itu terpesona dengan wanita yang melahirkannya, begitu juga dengan Alex yang baru saja keluar dari kamar putranya.


Suara MUA memecah lamunan sepasang bapak dan anak itu.


Sandra mengantarkan ketiga perempuan itu menuju teras tak lupa berterima kasih, diikuti oleh Alex dan putranya.


Di carport, Choki sedang memanaskan mobil, satu-satunya asisten yang diberitahu tentang momen sakral dalam hidup Alex.