
Seorang lelaki dengan setelan formalnya, baru saja turun dari pesawat, setelah menempuh perjalanan lebih dari dua puluh jam bersama ke empat sahabatnya.
Terlihat raut kelelahan diantara mereka, mungkin Jet lag setelah menempuh perjalanan selama itu.
Mereka menaiki mobil jemputan berwarna hitam yang akan mengantarkan ketempat tinggal masing-masing.
"Anterin gue ke kantor dulu bang,"ujar lelaki dengan setelah jas hitam.
"Et dah, langsung gawe, rajin banget,"cetus salah satu sahabatnya.
"Gue mau tidur, lupa Lo fungsi lantai tujuh ditempat gue?"tanyanya.
"Duit banyak tapi kaga mampu beli rumah,"ejek lelaki blasteran itu.
"si Anj*Ng, dari pada lo, beli apartemen cuman buat piara Jal*Ng,"
"Diem Lo berdua, pusing gue,"bentak satu-satunya perempuan di rombongan itu.
Mereka terdiam begitu perempuan itu bersuara.
Tak lama, mobil memasuki pelataran gedung yang menjadi kantor sekaligus tempat tinggalnya.
"Ram, kalau udah senggang, kabari gue, biar gue kasih tau Celine, buat kirim laporan dua bulan ini,"ucapnya sebelum bersiap turun dari mobil.
"Oke,"balasnya sambil menunjukkan jempolnya.
Lelaki itu turun dari mobil disambut oleh security yang bertugas di lobby.
Seperti biasa akan terdengar bisikan yang akan membicarakan dirinya, entah dari karyawati atau pengunjung kantornya.
Lelaki itu Memencet tombol lift berwarna gold, lift yang disediakan khusus untuknya dan sahabat-sahabatnya, juga tamu VIP yang berkunjung.
Disebelah ada segerombolan pekerja yang juga menunggu lift dengan warna silver.
Lift itu terbuka terlebih dahulu, entah mengapa ia ingin sekali menoleh, dan kelopak matanya melebar ketika sekilas melihat seseorang yang sudah ia cari selama sepuluh tahun ini.
Sayangnya pintu lift segera tertutup, setelah ia tersadar, ia menggelengkan kepalanya, seolah tak percaya dengan apa yang beberapa saat tadi dilihatnya.
Lift berwarna gold itu terbuka, ia segera menggeret koper miliknya untuk memasuki kotak besi itu.
Apa dirinya salah lihat?
Atau karena masih jet lag, ah... Mungkin ia halusinasi saking besarnya rasa rindu selama sepuluh tahun ini, membuatnya pusing saja, lebih baik ia langsung tidur, ia merindukan kasur miliknya.
Hanya dengan akses lift ini yang membawanya ke tempat tinggalnya, sahabatnya biasa menjulukinya apartemen jadi-jadian, ia tau mereka sengaja mengejeknya.
Hal itu ia lakukan untuk menghemat waktu, ia malas bermacet-macetan hanya untuk mencapai tempat kerja.
Karena itulah, ia mengosongkan satu lantai gedung kantornya yang ia sulap menjadi tempat tinggalnya.
Sudah Lima tahun ia tinggal di gedung yang dibeli oleh bos sekaligus sahabatnya yang tinggal di Amerika.
Dirinya dipercaya oleh sahabat masa SMA nya untuk mendirikan kantor pengacara, notaris, jasa keamanan dan detektif swasta.
Saat dirinya patah hati ditinggal kekasih pertamanya, sahabatnya menyarankan untuknya berkuliah di bidang hukum.
Agar suatu saat bisa berguna untuk mengembangkan bisnis dari sahabatnya itu.
Bukankah setiap usaha memerlukan perijinan, atau jika suatu saat salah satu dari sahabatnya tertimpa masalah hukum, ia bisa membantu.
Berkat saran sahabatnya, ia berhasil menyelesaikan kuliahnya di bidang hukum, menempuh pendidikan khusus advokat lalu magang di kantor pengacara.
Sebelum dirinya resmi menjadi pengacara, ada seorang pengacara senior yang sempat berkantor di gedung ini sebelumnya.
Perjalanan panjangnya untuk sampai di titik ini, semua kesibukannya hanya untuk mengalihkan pikirannya agar tidak terlalu patah hati ditinggal pergi cinta pertamanya.
Hingga detik ini, ia masih bingung, mengapa wanita itu pergi meninggalkannya, seingatnya ia tidak merasa berbuat salah, bahkan terakhir kali bertemu, mereka masih bercinta di kamar miliknya.
Alasan ia mendirikan usaha jasa detektif swasta, adalah karena ingin melacak keberadaan kekasihnya yang seolah menghilang ditelan bumi.
Sempat putus asa, namun sisi hatinya berujar, jika suatu hari nanti pasti ia akan bertemu kembali dengan wanita yang membuat hidupnya serasa jungkir balik.
Ia memutuskan untuk berendam air hangat terlebih dahulu, agar tidurnya nanti lebih nyenyak.
Usai mandi, ia hanya mengenakan celana bokser untuk menutupi bagian intinya.
Ia merebahkan diri diatas ranjangnya, ia mengambil remote diatas kabinet, lalu memencet salah satu tombol dan terbukalah langit-langit kamarnya.
Ia sengaja meminta salah satu pelukis di pulau Dewata untuk melukis wajah kekasihnya.
Setiap hendak tidur ia akan memandangi lukisan itu sambil menceritakan hari-hari yang ia lalui, kerinduannya, juga ungkapan cintanya.
Tak ada yang tau dengan kebiasaannya, mungkin kalau mereka tau, ia bisa dianggap gila, karena sering berbicara sendiri.
Tapi hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menuntaskan rindu yang menyiksanya.
Hampir sebagian orang yang mengenalnya, menjulukinya seorang Playboy bersama salah satu sahabatnya.
Ia akui memang itu benar adanya, ia sering mendatangi Club' malam, sekedar menyewa jal*Ng untuk menyalurkan hasratnya, bagaimanapun ia lelaki dewasa butuh pelampiasan.
Sebatas itu, ia bermain tidak dengan hati, karena dihatinya tertancap kuat sebuah nama yang menjadi cinta pertamanya.
Gila memang, tapi itulah adanya dirinya.
Ia menghembuskan nafasnya kasar, memang salah dirinya juga dulu, dia pernah berucap pada kekasihnya, jika hanya wanita itu yang akan menjadi satu-satunya penghuni hatinya.
Mungkin benar kata orang, ucapan adalah doa, nyatanya hingga sepuluh tahun lamanya, dirinya tidak bisa melupakan wanita itu.
Sedang apa wanita itu sekarang?
Apa wanita itu sudah menikah?
Setiap mengingat hal itu, ia jadi kesal sendiri, ia tak bisa membayangkan jika nantinya saat bertemu ia mendapati fakta bahwa wanita itu telah bersuami dan memiliki anak.
Tapi jika seandainya itu benar, ia akan merebut paksa wanita itu dari suaminya, tak peduli meskipun ia harus merelakan segala yang dimilikinya.
Ia tak mau penantiannya selama sepuluh tahun ini sia-sia begitu saja.
Ia bangkit kembali, sepertinya, ia harus meminum bir terlebih dahulu supaya bisa tidur nyenyak.
Sebenarnya salah satu sahabatnya meresepkan obat tidur untuknya, tapi ia ingin bir saja.
Ia meminum bir botolan sambil bersandar di sofa yang menghadap jendela kaca, lamunannya mengingatkan kata-kata terakhir yang diucapkan wanita itu,
Flashback on
Malam itu, Sasa meminta untuk menginap di rumahnya, ini pertama kalinya, wanita itu berinisiatif terlebih dahulu.
Tentu ia senang dengan inisiatif dari kekasihnya.
Di malam itu juga, Sasa yang memegang kendali dalam permainan ranjang antara ia dan wanita itu.
Ia tak akan melupakan betapa hebatnya wanita itu.
Dirinya benar-benar dimanjakan oleh kekasihnya, ia hanya bisa pasrah saat wanita itu mencumbuinya.
Malam yang tak akan ia lupakan seumur hidupnya.
Malam indah sekaligus malam terpahit dalam hidupnya.
Saat Kekasihnya ambruk di dadanya usai secara bersamaan ia dan wanita itu mencapai puncak kenikmatan, ada satu kalimat yang ia dengar, sayangnya ia baru menyadari maksud kode perpisahan itu.
"Makasih banyak sayang, kamu membuatku merasakan indahnya masa remaja, aku tak akan melupakannya sampai kapanpun,"
Bodohnya ia baru menyadari setelah bangun keesokan harinya.
Wanita itu pergi tanpa pamit.
Bukan tanpa usaha ia mencarinya, ia bahkan menemui Vina dan Toni, namun keduanya tidak tahu-menahu soal keberadaan Sasa, juga Natasha sahabatnya yang paling akrab dengan kekasihnya.
Ia juga mencari tau rumah wanita itu, tapi sudah berganti pemilik.
Rasanya ia nyaris gila saat itu, ia mengunjungi tempat-tempat yang pernah dikunjunginya dengan wanita itu.
Nyatanya, Sasa kekasihnya telah hilang bak ditelan bumi.
Ia sempat depresi, papa dan kakak perempuannya membawanya ke psikiater, hingga sebulan berlalu, kondisi mentalnya mulai membaik dan ia mulai bisa menjalani kehidupan normalnya, meskipun jika menjelang tidur ia harus mengkonsumsi obat yang diresepkan dokter, agar bisa terlelap.
Flashback off
Bayangan wanita itu hingga sekarang masih selalu terlintas di pikirannya, sehingga tak heran jika tadi ia sekilas melihat bayangan wanita itu.