How To Marry You ?

How To Marry You ?
Delapan puluh tiga



Sandra menghela nafas lelah, malam ini ia menunggu lagi kepulangan kekasihnya, ia akan menjelaskan secara jujur maksud dan tujuan Ferdiansyah mendekatinya lagi.


Hingga lewat tengah malam, lelaki itu tak kunjung pulang, Sandra sudah berusaha menghubungi lelaki itu tapi tak kunjung diangkat,


Sepertinya lelaki itu benar-benar marah besar, bukan hanya panggilan yang tak dijawab, bahkan pesannya hanya dibaca tapi tak dibalas.


Memilih menyerah, Sandra memutuskan tidur di kamarnya, ia tak ingin ketiduran di sofa lagi, nyaman memang, tapi ia tak mau putranya tau jika hubungan kedua orang tuanya sedang tidak baik-baik saja.


Disisi lain, Alex sedang bersama Rama di cafe, tadinya mereka mengajak Oscar, tapi sahabatnya itu mengaku ada jadwal operasi pagi-pagi sekali.


Hingga saat ini Fernando dan Benedict belum mengetahui tentang rumitnya hubungannya dengan Sandra, mereka hanya tau jika pacar pertamanya telah kembali, sayangnya sudah bersuami dan memiliki anak.


Cepat atau lambat ia akan memberitahukan pada kedua sahabatnya tentang masalah yang sedang melandanya.


"Lo kenapa nggak balik aja sih Lex? dari pada disini,"cetus Rama, sudah banyak kaleng bir yang dihabiskan sahabatnya itu sejak kedatangan mereka ke ruang kerja miliknya.


"Gue nggak mau denger kalau misal Sandra bilang mau balik ke lelaki brengsek itu, gue takut Ram,"sahut Alex sambil menghisap rokok.


Rama yang sama kusutnya memilih meminum kembali kaleng bir yang ada di tangannya,


"Lo juga lagi pusing juga kan?"tanya Alex balik.


Rama bersandar ke sofa, ia menatap langit-langit ruang kerjanya, "gue udah ngelakuin apa yang Lo suruh, tentang mengambil keperawanan punya Sinta, tapi sejak itu, dia malah menghindari gue, jadi mesti gimana gue?"keluhnya.


Alex menaikan bahunya," jangan minta pendapat, kita lagi sama-sama pusing,"


Kedua sahabat itu menghela nafas secara bersamaan, sejak semua sahabat yang lain sibuk dengan urusan masing-masing, Alex dan Rama justru semakin dekat, tentu karena pekerjaan yang menuntut mereka untuk selalu berkomunikasi hampir setiap harinya, berbeda dengan yang lainnya.


Dulu saat SMA hingga kuliah, Alex memang paling dekat dengan Fernando, apalagi saat keduanya berburu wanita seksi untuk melampiaskan hasrat mereka, tapi sejak lelaki blasteran itu sibuk mengurus resort yang ada di pulau Dewata, hanya sesekali mereka menghabiskan waktu berdua diluar pekerjaan, namun sudah lama sahabatnya tak lagi melakukan kebiasaan yang kata sebagian orang adalah buruk,


Sejak bertemunya Alex dengan Sandra, lelaki itu juga tak lagi menyewa anak buah mami Belinda, ia tak lagi berhasrat dengan wanita selain kekasihnya.


Dengan Oscar dan Natasha, sering juga ia berkumpul, tapi karena kesibukan dua orang yang berprofesi sebagai dokter membuat hubungan mereka tak sedekat seperti dengan Rama.


Kalau Benedict apalagi, sahabat yang paling jauh tempat tinggalnya, hanya berkomunikasi untuk membicarakan tentang pekerjaan, jika membicarakan tentang hal pribadi, Alex lebih banyak mendengar curhatan bosnya itu.


"Lex, kenapa nggak Lo nggak hamilin Sandra lagi?"


"udah pernah, tapi keguguran,"


Rama mengumpat kasar, beberapa nama binatang terlontar dari mulut anak sulung dari Susi itu.


"kok Lo nggak cerita sama gue?"tanyanya kesal.


"Ngapain gue cerita sama Lo!"sahut Alex dengan wajah yang menurut Rama sangat menyebalkan.


Lagi-lagi wakil Benedict di negara ini mengumpat, setiap sedang besama Alex ucapan yang dilarang dalam keyakinannya selalu keluar dari mulutnya, memang sahabatnya itu paling bisa membuat jiwa brengseknya keluar.


"Ada yang tau selain gue?"tanyanya mencoba bersabar.


Alex menghabiskan sisa bir di kaleng yang ada ditangannya, "Oscar tau, dia sendiri yang bawa kantong darah, karena Sandra sempat pendarahan parah,"


"Saat itu rasanya gue takut setengah mati, gue takut Sandra sampai lewat, gue bego banget Rama, gue yang bikin adiknya Xander nggak sempat lahir,"ucapnya penuh penyesalan, Rama bisa melihat wajah lelaki berkemeja hitam itu memerah, menahan tangis.


"Udahlah, mungkin belum rejeki, lagian kalian belum menikah, bisa-bisanya Lo hamilin Sandra lagi, bukannya pake pengaman,"


"justru itu alasan gue buat hamilin dia, biar bisa gue miliki seutuhnya,"


Rama menghela nafas, sejujurnya ia tak enak jika harus menyinggung isu sensitif diantara Alex dan Sandra, tapi sepertinya ia harus menyadarkan sahabatnya.


"Lex sebelumnya gue minta maaf, bukan maksud gue menyinggung elo, tapi misal bayi Lo berdua lahir dengan selamat, emang Lo yakin Sandra mau dinikahi sama Lo? Nggak usah gue tegaskan Lo harusnya paham maksud gue,"


Alex memegangi kepalanya, ia mendesis, sepertinya efek bir mulai terasa, "gue ajak Sandra nikah di luar negeri, tapi dia nggak mau, karena di negara ini kan belum bisa nikah beda agama,"ucapnya lirih.


"nah itu Lo tau,"sahut Rama.


"Terus gue mesti gimana dong? Gue nggak akan mau lepasin dia lagi, mending gue mati, "


"salah satu dari kalian mesti ngalah,"


Alex terdiam menunduk, meskipun bukan umat yang taat, tapi jika berpindah keyakinan sepertinya sulit, "pusing gue Rama,"


"Mending Lo pikirin matang-matang, mau dibawa kemana hubungan kalian, jangan kayak gini terus, cewek harus dikasih kepastian, yang namanya rasa cinta bisa aja memudar, bisa jadi suatu saat Sandra bakal capek dan jenuh dengan hubungan tak pasti,"


Alex membuka penutup bir kaleng, dan meminumnya langsung hingga tandas, "Gue bingung banget sumpah, pusing, rasanya kepala gue masih pecah,"


Rama menepuk pundak sahabatnya, "Lex, renungkan baik-baik, kalau bisa secepatnya, Lo ingat bukan, status Sandra juga belum jelas, bisa aja dia balik lagi sama suaminya, apalagi keduanya berkeyakinan sama dan sekampung pula, apapun keputusan Lo, gue akan selalu dukung, kalau bisa jangan sampai ganggu kerjaan,"


Kedua sahabat itu terus mengobrol hingga mereka tertidur,


Pagi harinya, Alex terbangun ketika salah satu barista cafe membangunkannya,


Alex melihat ke sekeliling, ia masih ada di ruang kerja Rama, "Bang, Rama mana? Kok nggak ada?"tanyanya.


Satria yang tengah menaruh beberapa lembar laporan di meja Rama, menoleh ke arah lelaki yang berprofesi sebagai pengacara itu, "lagi beli obat pengar sama sarapan buat Lo!"jawabnya, "Lo kenapa Lex, tumbenan lo sampai ketiduran disini? Ada masalah kah?"lanjutnya bertanya.


Alex menceritakan masalah yang sedang menimpanya pada salah satu sahabat paling tua diantara sahabatnya yang lain.


Satria mendengarkan cerita Alex, lalu menanggapinya, "bener kata Rama sih, Lo mesti segera kasih kepastian, bisa pergi lagi Sasa entar, apalagi statusnya masih ada suaminya walau lagi proses cerai,"


"gitu ya bang? Tapi dia nggak mau gue nikahi,"


"bukannya nggak mau, tapi Lo sama dia kan beda,"


"itu masalahnya bang,"


"salah satu harus ngalah, itu kalau kalian ingin bersatu,"


Sudah beberapa orang terdekatnya menyarankan hal yang sama, tapi lagi-lagi kebimbangan menyelimuti pikiran dan hati Alex.


Andai harus berpisah, dirinya tak akan mau, ia cinta mati pada wanita itu, tapi jika harus keluar dari keyakinannya, itu juga sulit, sepertinya ia harus meminta pendapat Kakak kandungnya, sudah lama juga ia tidak bertemu Maria.