
Sandra kembali ke pekerjaannya sebagai sekertaris, ia juga sudah selesai mengajari Jonas tentang seluk beluk management rumah sakit.
Sebenarnya ada Robert yang seharusnya bekerja menggantikan Jonas, tapi lelaki itu tak mau bersebelahan dengannya, entah apa alasannya, alhasil hanya dirinya lah yang berada di ruang sekertaris itu, Alex sempat menawarinya agar satu ruangan dengan lelaki itu, namun Sandra menolak mentah-mentah.
Dirasa Ferdiansyah tidak lagi mendekati Sandra, maka Alex mulai mengijinkannya untuk makan siang bersama staf Administrasi, jika Alex sedang dinas luar bersama Robert.
Siang itu, Sandra bersama Gita dan Arumi makan siang di kantin kantor, kebetulan saat itu menu yang tersedia adalah Rawon, salah satu makanan asal Jawa Timur.
Seperti biasa jika sudah berkumpul, maka Sandra akan mendengar gosip terhangat di gedung itu.
"Sa, bos ganteng apa kabar?"tanya Gita sembari menikmati makan siangnya.
Sandra yang mengerti siapa yang dimaksud, hanya menjawab sekadarnya, "baik,"
"Kayaknya Mbak Celine udah nggak ngejar-ngejar bos lagi ya!"sela Arumi.
"Ya gimana mau ngejar, bos kan baru balik kesini lagi setelah setahun di Bali gantiin bule ganteng,"ucap Gita, "tapi Sa, Lo kan udah lama jadi sekretarisnya, coba ceritain, kayak apa tipe cewek idaman bos,"lanjutnya.
Sandra menaikan bahunya, hingga saat ini selain penghuni lantai enam, tidak ada yang tau hubungan dekatnya dengan lelaki yang biasa dipanggil bos ganteng.
"Nggak asik Lo, tapi enak juga ya jadi lo, tiap hari cuci mata mulu, liat cowok ganteng plus kaya raya,"ujar Gita kesal.
"Lo mau jadi sekertaris gantiin gue?"tanya Sandra pada gadis berambut sebahu itu, Gita mengangguk sambil tersenyum lebar, "gue bilang ke pak Alex kalau gitu,"lanjutnya.
"tapi ngomong-ngomong bukannya enak jadi sekertaris ya sa? Kenapa Lo malah pengen Gita gantiin?"tanya Arumi heran.
Sandra terlebih dahulu meminum sisa es jeruk miliknya, "gue tuh pengin kalau weekend bareng anak, Lo berdua kan masih pada lajang jadi nggak masalah kan?"
Gita dan Arumi kompak mengangguk, "tapi Sa, Lo bukannya butuh duit banyak buat sekolah anak? Ko tiba-tiba pengen balik jadi admin yang gajinya cuman UMR,"ucap Gita heran.
"Anak gue udah ada bapaknya yang nanggung, sementara gue kerja ya buat gue sendiri, Lo tau kan gue udah nggak ada orang tua,"
"lah bukannya Lo udah cerai sama laki Lo?"tanya Arumi.
"bapak kandungnya anak gue,"jawab Sandra, "eh abis ini pada mau beli kopi nggak dibawah?"tanyanya.
Gita dan Arumi kompak mengangguk, ketiganya sudah menyelesaikan makan siangnya.
Mereka menuju lobby untuk membeli kopi, biasanya usai perut terisi penuh, membuat mata mengantuk, sehingga asupan kafein sangat diperlukan agar kinerja tetap baik.
Usai membeli kopi bersama, mereka kembali ke atas untuk beribadah, namun saat melintas didepan resepsionis, ada seorang perempuan berpenampilan seksi sedang berdiri.
Tak sengaja Sandra mendengar jika perempuan itu menanyakan keberadaan atasannya, ia ingat siapa perempuan itu.
Jelas Sandra ingat, perempuan yang membuat Alexander menghajar papa kandungnya sendiri, itu Rachel, apa mungkin Jonas berhasil membuat perempuan itu datang? Tapi kenapa lelaki itu tak memberitahunya?
Tak ingin dikenali oleh mantan teman kencan kekasihnya, Sandra mengambil kacamata yang sedang dikenakan oleh Arumi, "gue pinjem bentar aja,"bisiknya.
Gadis itu sempat protes, tapi terdiam begitu melihat kode yang diberikan rekannya.
Sandra menghampiri Rachel, "Halo, selamat siang, maaf tadi saya tidak sengaja mendengar, apa anda sedang mencari pak Alex?"tanyanya sopan.
Wanita seksi dengan mini dress berwarna navy itu melepaskan kacamata hitamnya, "kamu siapa?"tanyanya balik sembari menunjuk dengan kacamata dari brand ternama itu.
Sandra tersenyum ramah, "perkenalkan, saya Sasa sekretarisnya pak Alex,"jawabnya.
"oh.."ucap Rachel sambil meneliti penampilan wanita dengan setelan formal berwarna hitam itu, "apa Alex ada di ruangannya?"tanyanya angkuh, bak nyonya pemilik gedung.
"Maaf nyonya???"
"Rachel..."
"maaf nyonya Rachel.."
"bukan nyonya tapi nona,"
"maaf nona Rachel, pak Alex sedang bertemu klien di luar kantor, kalau anda mau, anda bisa menunggu beliau diatas,"tawar Sandra sengaja, tapi resepsionis yang bernama Diana hampir protes, namun ia memberikan kode supaya gadis itu tetap diam.
Rachel mengangguk, lalu mengikuti Sandra menaiki lift dengan warna gold, hal itu juga sempat diprotes oleh petugas keamanan namun lagi-lagi Sandra memberikan kode agar tetap diam.
Tadi pagi Benedict membawakannya, katanya buatan Tante Anna dan Ayudia.
Sandra meminta ijin pada tamunya untuk kembali bekerja, sementara sang tamu terlihat memainkan ponselnya, sesekali berfoto Selfi.
Ponsel Sandra bergetar, itu pesan dari Arumi yang meminta kembali kacamatanya, lalu beberapa menit kemudian giliran Diana yang mengirimi pesan jika Alex sedang berada di lobby bersama Robert.
Sandra bangkit, meminta ijin kembali pada tamunya, untuk beribadah, karena tadi dirinya lupa, lalu ia juga memberitahu jika Alex sebentar lagi tiba.
Dengan cepat Sandra turun melalui tangga darurat menuju lantai dimana ruangan staf administrasi berada.
Selain mengembalikan kacamata, ia juga meminjam mukena pada Arumi.
sepuluh menit berlalu, Sandra kembali mengembalikan mukena,
"Sa, tadi siapanya pak Alex?"tanya Gita sembari menawarkan camilan yang selalu tersedia di meja kerja gadis itu.
"itu cewek nggak bilang dia siapa, mungkin klien atau bahkan ceweknya pak Alex kali,"jawab Sandra Santai sembari mengunyah keripik yang diberikan rekannya.
Arumi menggeser kursi kerjanya, mendekat ke arah kedua rekannya, "jadi tipe cewek idamannya bos ganteng kayak gitu sa? Wah pantes mbak Celine nggak dilirik, seleranya body gitar spanyol,"bisiknya.
Sandra tersenyum penuh arti, berharap agar gosip itu menyebar, ini merupakan strategi yang diajarkan oleh Jonas.
Teringat tentang mantan rekan kerjanya itu, nanti ia akan menghubungi lelaki itu untuk menanyakan tentang rencana selanjutnya.
Setengah jam berlalu, Sandra masih betah merecoki kedua rekannya, beruntung Celine tidak berada ditempatnya, wanita itu sedang menemui Rama di cafe untuk memberikan laporan.
Sandra menelpon pak Hermawan salah satu advokat penghuni lantai enam melalui telepon pararel, menanyakan soal tamu pak Alex, dan lelaki berusia empat puluhan itu mengatakan jika tamunya sudah pergi.
"gue naik dulu ya! makasih buat mukena dan camilannya, besok gue beliin kopi dibawah,"
Gita dan Arumi menunjukan jempolnya tanda setuju.
Sesampainya di ruangannya, Sandra kembali bekerja seperti biasa, baru sekitar lima menit pintu ruangan Alex terbuka, Robert keluar dari sana.
"mbak Lo kemana aja sih? Abang abis ngamuk," ucap lelaki berusia dua puluh empat tahun itu.
Sandra pura-pura terkejut, "gue abis sholat tadi, emang kenapa bos ngamuk?"tanyanya.
Robert menceritakan kejadian saat ia dan Alex baru saja tiba, ada seorang perempuan seksi menunggu di sofa.
Alex marah dan langsung mengusir wanita itu, dia juga menanyakan keberadaan Sandra yang tak ada ditempatnya ketika sedang ada tamu.
Cerita Robert terhenti, ketika Alex tiba-tiba keluar dari ruangannya, dan meminta Sandra untuk masuk ke ruangannya.
"sabar mbak, kalau Abang ngamuk, cium aja, entar juga luluh,"ucap Robert menahan tawa.
Sandra menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, ia harus tetap tenang.
Alex membelakangi pintu, lelaki itu sedang melihat pemandangan kota,
Bak sekertaris profesional, Sandra menyapa atasannya dengan sopan, "ada yang bisa saya bantu pak Alex?"
Alex membalikan badannya dan menatap sekretarisnya tajam, "apa maksud kamu mengijinkan wanita itu untuk naik? Kamu bahkan meninggalkannya sendiri,"
Sandra bisa tau lelaki itu sedang menahan amarahnya, "maaf pak, tadi nona Rachel mencari anda, jadi sebagai sekertaris saya hanya melakukan tugas saya,"
Alex memegangi tengkuknya, "Sa, ngomongnya nggak usah formal gitu, kita hanya berdua,"pintanya, "Sa, kamu lupa aku dipukuli putraku sendiri gara-gara wanita sialan itu? Kamu mau aku dihajar lagi?"
Sandra menghela nafas, "aku pastikan putraku tak akan melakukan kekerasan lagi sama papanya,"
Alex terdiam, otak cerdasnya mulai mencerna urutan kejadian beberapa saat yang lalu, juga tentang maksud ucapan wanita dihadapannya.
Lelaki itu menyunggingkan senyumannya, "kamu sengaja mengundang dia, berharap aku berpaling dari kamu bukan?"tanyanya, "apa kamu lupa bahwa hanya kamu satu-satunya perempuan yang aku cintai? waktu di resort aku khilaf, aku sudah minta maaf dan menjelaskannya, apa kamu masih belum memaafkan aku?"
"maksud kamu apa? Kok jadi melenceng jauh, jadi sikapku tadi murni sebagai sekertaris kamu kok, nggak ada maksud lain,"Sandra berdusta.
Alex menghampiri kekasihnya, lalu memeluknya erat, seraya berbisik, "aku tau kamu sengaja, dan aku tidak bisa terima, bersiaplah mendapatkan hukuman dari aku, nanti,"