
Masih flashback
Alex semakin posesif dengan Sandra, tak mengenal waktu dan tempat, lelaki itu mengiriminya pesan singkat hanya untuk menanyakan sedang apa, atau sekedar ungkapan kerinduan dan cinta.
Seolah dunianya hanya terpaut pada satu wanita,
Demi menjaga cintanya, Alex yang biasanya ramah dan murah senyum pada gadis-gadis, berubah drastis, lelaki itu bersikap dingin pada mereka.
Terkecuali kelima sahabatnya, sesekali ia juga masih berkumpul dengan mereka.
Hanya di akhir pekan ia bisa menghabiskan waktu bersama Sandra itupun harus dengan Natasha yang menjadi alasannya.
Alex bisa mengerti dan tak masalah, dia tau betul kesibukan kekasihnya.
Sebulan berlalu semenjak keduanya melakukan hubungan intim, Alex menanyakan apa pacarnya sudah kedatangan tamu bulanan apa belum,
"kok kamu nanya gitu, aku kan malu,"ujar Sandra diseberang sana.
Keduanya sedang berada di rumah masing-masing, mereka mengobrol via telepon.
"aku hanya memastikan kamu hamil apa nggak? Aku kan nggak pakai pengaman,"terang Alex.
"kamu sengaja apa gimana?"tanya Sandra kesal.
"kita baru pertama kali melakukannya, jadi aku mau langsung, sekarang jawab pertanyaan aku, kamu udah haid belum?"
"udah, ini lagi haid,"
"Hari ke berapa sa?"
"ke lima, kenapa nanya-nanya sih Lex, aneh kamu?"tanya Sandra tak habis pikir.
"Sa, sepuluh hari lagi kamu menginap di rumah aku ya!"
Sandra terdiam berfikir, "kayaknya nggak bisa deh, kita mau ujian nasional, jadi lebih baik kita nggak ketemu dulu, abis ujian deh,"
Alex berdecak, kalau terlalu lama, rencananya bisa gagal, "bentar aja Sasa, oke kamu nggak menginap, tapi pulang sekolah mampir bentar aja, janji nggak lama,"
"lihat besok aja ya Lex, aku nggak janji,"
Alex hanya bisa pasrah, memang benar, fakta mereka sama-sama sibuk menghadapi ujian nasional yang akan diselenggarakan sebentar lagi.
Bahkan menjelang ujian nasional pun, Sandra semakin sibuk, ia sama sekali tidak bisa bertemu dengan Alex.
Sedangkan lelaki itu, jika merindukan kekasihnya hanya bisa melihat dari jauh saat Sandra baru pulang sekolah bersama Vina atau dijemput ayahnya.
Karena tak bisa bebas menemui kekasihnya, Alex menjadi lebih sensitif dan temperamen.
Lelaki itu sama saja dengan kedua sahabatnya yang segala sesuatu harus di selesaikan dengan adu jotos.
Hanya karena teman sekelasnya tak sengaja menyenggol lengannya, Alex hampir saja memukulnya.
"Kenapa sih lo? sensi banget, biasanya kan gue sama Ben doang, ngapa Lo jadi ikutan?"tanya Nando saat keduanya sedang nongkrong di warung kopi milik bang Satria tak jauh dari sekolah.
"gue kangen Sasa, rasanya gue mau gila saking kangennya,"keluhnya.
Nando menghisap rokoknya sambil tertawa, "segitunya gara-gara cewek, Lex cewek bukan cuman satu, malam nanti kita ke club' yuk, gue butuh pelampiasan, bentar lagi ujian, biar kepala nggak pening, ajak yang lain sekalian, tapi jangan sampai Asha tau,"
"Ada Sasa ngapain gue gituan sama jabl**,"
"Lo minum aja, gue bayarin,"
"umi Lo gimana?"
"gue bilang kalau gue mau nginep ditempat lo,"
"oke deh, tapi jangan ada jabl** yang deketin gue, kalau nggak gue abisin,"
Nando menunjukan jempolnya.
Malamnya, kelima remaja itu mengunjungi salah satu club' yang sudah sering kali mereka datangi, terutama Ben dan Nando.
Ben hanya minum-minum sedangkan Nando menyewa wanita untuk melampiaskan Hasratnya.
Alex dan Rama beberapa kali ikut, tapi hanya sebatas menemani Ben minum.
Sedangkan untuk Oscar ini pertama kali baginya.
Begitu masuk, dentuman musik dari salah satu DJ menyambutnya,
Lautan manusia berbeda jenis saling melenggak-lenggokan tubuhnya mengikuti alunan musik.
Ada beberapa disudut club', lawan jenis sedang berciuman bahkan bercumbu tak peduli tempat.
Alex mengumpat ketika ada wanita seksi yang disewa Nando mendekatinya, hampir saja ia bangkit hendak menghajar lelaki blasteran itu, namun Ben memegang bahunya.
"cukup gue yang hobi pukuli Nando, Lo jangan, mending itu jabl** kasih Oscar, biar ngerasain surga dunia,"bisik Ben.
"Maksudnya?"
Ben memberikan sesuatu ke dalam minuman dihadapannya, "kasih ke Oscar, pastikan dia habisin ini minuman,"
Alex mengangguk, ia memberikan gelas itu pada Oscar lalu mengajaknya untuk bersulang.
Tak lama Oscar mulai bereaksi, lelaki itu terlihat gelisah, Ben memberi kode pada Alex.
"Os, ikut gue sebentar,"
Oscar menurut dan mengikuti Alex yang membawanya ke lantai atas.
"ngapain Lo bawa gue kesini?"
"masuk gih, gue tau Lo butuh pelepasan, kalau nggak dilepas Lo bisa mati,"
Oscar melotot kaget, ia mengumpat dan mencaci maki Alex,
Sementara Alex hanya tertawa lalu mendorong sahabatnya untuk masuk ke kamar yang disediakan untuk pengunjung yang ingin menyalurkan hasratnya.
Baru saja dirinya akan menuruni lift menuju lantai bawah, ia bertemu dengan Nando bersama seorang wanita yang Alex ketahui penghibur di club' ini.
"kok Lo disini, terus yang didalam siapa?"tanya Nando.
"Oscar,"jawab Alex santai.
"Gila Lo, kalau sampai Asha tau, Abis gue,"
"diantara temen kita, yang masih perjaka cuman Oscar, kasihan kan, asal nggak ada yang buka mulut semuanya aman,"
"pokoknya kalau asha ngamuk, Lo belain gue,"
Alex menunjukan jempolnya, "kok elo udahan, loyo Lo ya?"ejeknya.
"bangsat, gue loyo, tanya nih,"liriknya pada wanita dengan mini dress merah menyala yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.
"Nando selalu hebat Lex, apa Lo mau nyoba sama gue?"cetus wanita penghibur bernama Mawar.
"Dih, bekasnya dia ogah banget, kita berlima pantang berbagi wanita,"
Mereka berada di club' hingga dini hari, menunggu Oscar menyelesaikan urusannya.
Mereka pulang ke rumah Alex dengan menaiki Taksi berwarna biru, sepanjang perjalanan pulang Oscar mengeluarkan sumpah serapahnya,
Lelaki itu kesal sekali, perjakanya diberikan pada Jabl** yang jalannya longgar, ia menginginkan melakukan pertama kali dengan gadis perawan seperti cerita Nando dan Alex.
"Udah sih, Lo mau kesel kayak apa, yang penting Lo udah ngerasain surga dunia, terus menurut Lo gimana rasanya?"tanya Ben yang duduk di kursi depan disamping supir.
"Enak sih, lega banget,"jawab Oscar.
Keempat lelaki yang lain mengumpat, mendengar jawaban Oscar.
Sesampainya di rumah Alex, mereka langsung membersihkan diri secara bergantian, lalu tidur beralaskan karpet di ruang tengah.
Lumayan bisa memejamkan mata beberapa jam saja.
Pukul setengah enam pagi, kelima lelaki itu bangun, mereka mandi ala kadarnya,
Lalu memakai seragam sekolah yang sudah dititipkan pada Alex sebelum berangkat ke club' tadi malam.
Dengan menaiki taksi, mereka berangkat menuju sekolah,
Saat lampu merah taksi berhenti, "Lex, bukannya itu Sasa? Dia sama siapa tuh?"tanya Rama sambil menunjuk motor yang berhenti tepat di samping taksi.
Alex menoleh, diikuti ketiga temannya,
"itu bukannya motornya Harry? Lo ingat waktu kelas dua kita tawuran sama sekolah dia abis tanding basket,"cetus Ben.
"wah nggak bisa didiemin Lex, samperin gih,"ujar Nando mengompori.
Begitu lampu berubah menjadi hijau, Alex meminta supir taksi menyusul motor yang ditunjuknya tadi.
Ben yang duduk di sisi pengemudi, mengatakan pada supir taksi untuk tetap mengantarkan mereka ke tempat tujuan.
"kompor lo dengerin, mending sekolah dulu, kita belum sarapan, semalam abis minum, sekarang lo mau ngajak ribut Harry, mikir pake otak Alex, Entar abis ujian gue sendiri yang bakal bantu lo hajar dia,"ucapnya tegas.
Akhirnya Alex lebih menuruti ucapan Ben, dibanding Nando.