
Alex baru kembali setelah dua bulan kemudian, sesuai saran sepupu dan sahabatnya, Sandra menjaga jarak dengan lelaki itu.
Hari kepulangan papa dari putranya, Sandra sengaja menginap di rumah orang tua Natasha, alasannya ia merindukan suasana kekeluargaan dimana ada ayah dan ibu dari sahabatnya.
Saat itu Alex hanya bisa pasrah, sekembalinya dari Amerika, lelaki itu semakin sibuk dengan pekerjaannya.
Jika weekend tiba Sandra dan Xander juga Natasha liburan, entah ke villa atau berkunjung ke rumah umi Fatimah di Sukabumi.
Pokoknya sebisa mungkin tak ada kesempatan berduaan dengan lelaki itu.
Sampai-sampai Sandra dibantu Natasha memohon pada Benedict untuk membuat Alex sibuk dengan pekerjaannya.
Tentu dengan memberikan alasan masuk akal pada bos besar mereka.
Siang itu saat jam istirahat Sandra menyambangi rumah sakit, dimana sahabatnya bekerja.
Keduanya akan makan siang bersama di kantin rumah sakit, sebenarnya Alex tengah berada di kantor saat ini, karena itulah Sandra sengaja menghindari lelaki itu.
"Sasa, kalau dipikir-pikir, kok gue ikutan capek ya! main kucing-kucingan sama Alex, harusnya elo aja ya!"cetus Natasha sembari menikmati sajian makan siang di kantin rumah sakit.
Sandra meminum es jeruk miliknya terlebih dahulu, "sorry deh gue melibatkan elo,"ucapnya tak enak.
"Tapi sampai kapan Sandra? Lama-lama Alex bakal curiga,"
"Yang penting usaha dulu Sha,"
"kalau Alex tau persengkokolan kita apa dia nggak bakal marah ya?"
Sandra menaikan bahunya, wanita itu segera menghabiskan makan siangnya, sisa waktunya jam istirahatnya hanya tiga puluh menit lagi.
Selesai dengan makan siang, ia beranjak kembali ke kantor, tapi saat berjalan menuju parkiran, namanya dipanggil.
Itu Jonas, sepupu Alex juga mantan rekan kerjanya, "lo ngapain kesini mbak?"tanyanya sembari menghampirinya.
Sandra menghentikan langkahnya, "abis makan siang bareng Asha, Lo dari mana Jo?"tanyanya balik.
"gue dari rumah, tadi mama telpon, katanya lagi nggak enak badan,"jawab lelaki itu.
"Emang Tante Terry sakit apa?"tanya Sandra khawatir, sudah lama ia tidak mengunjungi perempuan paruh baya itu, terakhir kali saat mengantarkan oleh-oleh saat liburan dari Semarang.
"Tensinya naik,"sahut Jonas singkat.
"Tante Terry pusing mikirin kelakuan anaknya sama keponakannya makanya tensinya naik,"ucap Sandra asal.
"kok tau mbak, Lo cenayang ya!"
Sandra mendekat, menyentuh bahu lelaki itu, lalu berbisik, "itu kode buat Lo cepat nikah dan kasih Tante Terry cucu,"sarannya.
"Kan udah ada Alexander,"ujar Jonas santai.
Sandra menghela nafas, terakhir kali berkunjung, Tante Terry mengeluh, katanya kesepian di rumah sendiri, putra semata wayangnya jarang berkunjung sejak bekerja di rumah sakit.
Bahkan Perempuan paruh baya itu sempat meminta Sandra untuk tinggal bersama supaya ada teman mengobrol di rumah.
Sehari-hari Ibu kandung dari Jonas, hanya ditemani ART yang bekerja pagi hingga lewat tengah hari, sehingga saat sore hingga malam, beliau kesepian.
Jonas melihat pergelangan tangannya, "balik sana mbak, ditungguin Abang tuh,"ucapnya mengalihkan pembicaraan,
Lelaki itu melangkah menuju lobby, namun beberapa meter, Jonas berbalik, "mbak, entar malem, Abang ngajakin gue ketempat mami, katanya ia butuh pelampiasan, gue bingung deh mbak, kan ada elo, terus ngapain Abang ke club'?"setelah mengatakannya ia benar-benar beranjak dari sana.
Mendengar itu, Sandra hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, ada rasa cemburu, tapi segera ia menepisnya, ia teringat nasehat sepupu dan sahabatnya.
Ponsel Sandra berdering saat wanita itu baru saja masuk ke dalam gedung kantor setelah memarkirkan motornya di belakang, tertera nama Alex dengan emoticon hati berwarna hitam.
Bak sekertaris profesional, Sandra menyapa atasannya itu,
"Saya baru sampai kantor, Apa bapak mau saya belikan kopi?"tanya Sandra balik dengan bahasa formal.
"cepat naik, dan nggak perlu belikan apapun," pinta Alex.
Sandra yang tau maksud dan tujuan lelaki itu mengatakan, "maaf pak, sepertinya tidak bisa langsung naik, saya mau beli kopi, saya butuh kafein,"
Terdengar helaan nafas dari seberang sana, "oke tapi cepat, minta prioritas pada penjaga kedai,"
Sandra mengiyakan lalu mengakhiri panggilan itu.
Sandra berlama-lama di kedai kopi, ia bahkan menyantap kue dan kopi sembari duduk dan melihat pemandangan halaman kantor dibalik kaca .
Beberapa kali, notifikasi masuk ke ponselnya, tapi Sandra tak pedulikan, ia memilih melanjutkan menyantap cake hingga tandas.
Sandra memesan kopi untuk dirinya dan beberapa penghuni lantai enam yang ia ketahui berada di tempat siang menjelang sore ini.
Wanita itu baru tiba di meja kerjanya, saat waktu menunjukan pukul tiga belas lebih tiga puluh menit.
Baru saja ia duduk, pintu ruangan Alex terbuka, Robert dan Choki baru saja keluar dari sana.
"Dari mana Lo mbak? Abang nanyain dari tadi, kebiasaan kalau mau pergi nggak bilang-bilang,"ucap Robert.
Sandra memilih tak menanggapi, ia malah memberikan kopi yang tadi dibelinya pada kedua rekannya.
Kedua lelaki itu pergi berlalu, Sandra mulai bekerja, namun baru beberapa kata ia ketik, telpon paralelnya berbunyi, dengan terpaksa ia mengangkatnya.
Alex memintanya untuk mengantarkan salah satu berkas.
Sandra mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ruangan itu, lalu menyodorkan map dengan warna hitam.
Alex menerimanya, lalu membukanya, sembari membaca, ia menunjuk salah satu kursi didepan meja kerjanya, dengan kata lain, lelaki itu menyuruh Sandra untuk bertahan di ruangan itu.
Tak ada pilihan selain menuruti perintah atasannya.
Hening sejenak, hanya ada suara pendingin ruangan, dan suara kertas yang dibuka oleh lelaki yang berprofesi sebagai pengacara itu.
Hingga Alex angkat bicara, "kamu menghindari aku?"tanyanya tanpa melihat lawan bicara.
"maaf pak ini sedang jam kerja,"jawab Sandra mengingatkan.
Alex menutup map itu kasar, lalu menumpuknya bersama berkas yang ada di mejanya, "aku atasan disini, jadi tak masalah jika membahas persoalan diluar pekerjaan saat jam kerja, apa masalahnya? Jadi jawab pertanyaan aku,"
Sandra terdiam sejenak, lalu menatap lelaki yang hanya berjarak satu meja darinya, "aku bicara tapi aku mohon jangan protes, "
Ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, ia menyapa mata berwarna kecokelatan itu, "aku akan berperan hanya sebagai ibu dari anak kamu dan sekretaris dari perusahaan yang kamu pimpin, dengan kata lain aku mau berhenti jadi kekasih kamu,"akhirnya ucapan yang tiga bulan ini ia pendam, keluar juga dari mulutnya.
Alex diam, ia masih menatap wanita yang dicintainya dengan tatapan sulit diartikan, entah marah atau biasa saja, Sandra tak bisa menebaknya.
"Apa kamu serius dengan ucapan kamu?"tanyanya memastikan.
Sandra mengangguk yakin,
"Sekali lagi aku tanya, kamu mau seperti itu?"
"iya, aku mau berhenti, aku hanya ibu dari anak kamu sekaligus bawahan kamu di kantor,"
"Oke kalau itu mau kamu, aku akan menuruti kamu,"
Sandra tercengang, seolah tak percaya dengan ucapan lelaki itu, ia bahkan menanyakan sekali lagi dan jawaban Alex sama.
"kalau begitu saya permisi pak,"ujarnya Sandra berlalu dari hadapan atasannya.