
Keesokan harinya mau tak mau, Alex harus mulai berangkat ke kantor, meskipun dirinya harus benar-benar membujuk kekasihnya agar wanita itu merelakannya.
Sandra mengantar Alex dan putranya hingga keduanya memasuki mobil, dengan mata berkaca-kaca seolah tak rela ditinggal sendirian.
Sepeninggal kedua lelaki yang berarti di hidupnya, Sandra hanya diam di ruang tengah sambil menonton televisi.
Sejam berlalu, Sandra mulai bosan, ingin keluar jalan-jalan tapi rasanya lemas,
Waktu berjalan lambat, karena tak tahan, Sandra memilih keluar rumah, dengan mengendarai motor miliknya.
Tak punya tujuan pasti, awalnya hendak mengunjungi rumah Natasha, tapi gadis itu sedang bekerja, sementara jam pulang sekolah putranya masih lama.
Akhirnya ia memutuskan duduk-duduk di taman dengan air mancur di tengah-tengahnya, sambil memakan rujak buah yang tadi dibelinya.
Sandra heran dengan dirinya sendiri, ia tak terlalu suka buah dengan rasa asam seperti mangga muda, tapi sekarang buah itu jadi makanannya sehari-hari.
Sudah berhari-hari ia tak bisa makan nasi, terakhir ia makan nasi saat makan bersama Alex dan Xander di warung yang menjual makanan khas Sumatera Barat, itupun sudah lebih dari seminggu yang lalu.
Ia sudah mencoba makan nasi, namun berakhir dengan memuntahkannya, sempat ada rasa curiga jika dirinya hamil, tapi bulan ini ia sudah kedatangan tamu bulanan walau hanya sedikit,
Teringat dulu, saat ia hamil Xander, ia tak mengalami hal yang kebanyakan menimpa ibu hamil, maka dari itulah ia berfikir tak mungkin dirinya hamil kali ini,
Sandra berfikir ia mungkin kelelahan dan stress karena selama sebulan Alex mendiamkannya,
Lamunannya terganggu oleh dering ponsel yang ada di saku Hoodie miliknya, tertera nama Elina dilayar.
Sandra mengucapkan salam begitu juga dengan Elina,
"mbak apa kabar?" tanya mantan adik iparnya diseberang sana.
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri gimana El?" tanya Sandra balik.
"aku baik mbak, aku telpon mbak, Karena mau ngasih tau, mas Ferdi udah sembuh dan mau pergi lagi ke Jakarta, kemarin aku nggak sengaja dengar pembicaraan ibu sama mas Ferdi, ibu meminta supaya kalian rujuk,"
Sandra terkejut tapi berusaha mengendalikan diri, "tapi mbak udah nggak mau kembali lagi, mbak sakit hati sama kakak kamu, maaf ya El, dan sekarang mbak udah nggak kerja di kantor,"
"lalu mbak tinggal dimana? Apa mbak kembali ke Semarang?"
"mbak jadi pembantu rumah tangga di rumah teman sekolah dulu, kamu tau bukan, mbak udah nggak punya rumah baik disitu ataupun disini, jadi ada temen mbak nawarin kerjaan sekalian tempat tinggal, ya udah mbak terima,"
Sandra tak mungkin bukan mengatakan yang sebenarnya, bagaimanapun ia harus tetap menjaga nama baiknya.
"bukannya mbak banyak uang, punya mobil juga kan?"
"mobil punya mantan bos, kalau uang, mbak kan bisa kas bon, jadi sebenarnya setelah resmi bercerai dengan mas Ferdi, mbak ada masalah dengan rekan kerja, sehingga terpaksa mbak resign, Karena nggak ada kerjaan, mbak juga nggak bisa bayar kontrakan, ya terpaksa mbak terima tawaran teman,"
"mbak Sandra kan lulusan sarjana, kenapa nggak coba melamar kerjaan di kantor lagi, sayang ijazahnya,"
"nyari kerjaan susah El,"
"iya sih, tapi aku doain supaya mbak Sandra bisa dapat kerjaan bagus, udah ya mbak, aku cuma kasih tau itu aja, supaya mbak nggak kaget, kalau nanti mas Ferdi tiba-tiba menghubungi mbak,"
"makasih ya El, maaf kali ini mbak nggak bisa kirim uang jajan buat anak-anak kamu,"
"Nggak apa-apa mbak,"
Keduanya mengucapkan salam dan setelahnya panggilan itu terputus.
Apa lelaki itu telah sembuh dari penyakitnya?.
Tak munafik, meski belum punya ikatan yang sah dengan kekasihnya, tapi untuk urusan ranjang, sedari dulu hingga sekarang, ia sangat puas berhubungan intim dengan Alex,
Jelas karena ia dan Alex saling mencintai, sehingga keduanya benar-benar bercinta, memadu kasih bukan hanya sekedar melampiaskan nafsu birah*.
Memikirkan Alex ia jadi merindukan lelaki itu, ia mengirimi kekasihnya pesan, agar mengirimkan foto Selfi untuk mengobati rasa rindunya.
Lima menit berlalu pesannya belum terbalas, mendadak Sandra kesal sendiri, ingin mengunjungi kantor lelaki itu, tapi pasti ia akan bertemu Jonas, sebenarnya ia masih marah dengan mantan rekan kerjanya itu.
Hingga lima belas menit berlalu, Alex tak kunjung membalas pesannya, rasa rindu yang tak tertahan, membuatnya tak sabar, ia mengesampingkan amarahnya pada Jonas,
Kerinduannya pada kekasihnya yang begitu besar lebih penting, rasanya sesak saking rindunya.
Sandra melajukan motornya menuju kantor dimana Alex bekerja, lumayan jauh dari tempatnya saat ini,
Namun ditengah jalan, Sandra mulai merasakan sakit di perutnya, kepalanya juga mendadak pusing, tak ingin celaka, ia memutuskan menepikan motornya di pinggir jalan.
Ia meminta tolong pada orang lain secara random, untuk mengantarkannya ke rumah sakit, karena sudah benar-benar merasa tak enak dengan kondisinya.
Tak jauh dari sana ada driver ojol yang berkumpul, sehingga Sandra dibawa ke rumah sakit terdekat oleh mereka.
Sandra masih bisa mendengar pembicaraan mereka, hanya saja ia lemas sekali hingga ia menutup mata tak sadarkan diri.
Sandra pingsan saat dalam perjalanan ke rumah sakit.
Wanita itu membuka mata, entah berapa lama ia tertidur, yang jelas ketika melihat ke sekelilingnya, ia berada di ruangan dengan aroma antiseptik khas rumah sakit.
Saat ini Sandra masih berada di ruang instalasi gawat darurat, ada jarum infus yang menancap di punggung tangan kirinya,
Salah satu perawat yang menyadari jika Sandra telah sadar, menghampirinya, menanyakan apa yang dirasakannya, juga nama dan identitasnya.
Sandra ingat, ia tak membawa dompet, ia hanya membawa ponsel dan beberapa uang untuknya jajan.
Perawat memberikan ponsel miliknya, wajar sih, mereka tak bisa menghubungi keluarganya, selain tak membawa identitas, ponselnya juga di kunci password.
Sandra terkejut, ketika melihat waktu di ponsel miliknya, waktu menunjukan pukul dua siang, seharusnya putranya sudah pulang.
Tak ada balasan apapun dari Alex sedari tadi,
Sandra memutuskan untuk menelepon Choki, menanyakan apa putranya sudah dijemput, lelaki itu mengatakan, jika Xander berada di kantor.
"Lalu dimana Alex?"tanya Sandra masih dalam panggilan telepon.
"bos lagi ada sidang sedari pagi, terus ketemu klien, oh ya mbak, ponsel bos ketinggalan, kalau mau telpon, mbak bisa hubungi Jojo," jawab Choki dari seberang sana.
"Entar kalau Alex udah pulang, suruh periksa ponselnya, PENTING.... Terus bisa nggak kamu jaga Xander malam ini,"pintanya.
"emang mbak kemana?"
"udah gitu aja, pokoknya aku minta tolong ya, sekalian beliin makanan,"
Choki menurut, dan panggilan telepon keduanya berakhir.