
Menjelang jam makan siang, Alex masih bersama Benedict, Jonas sedang sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Choki entah kemana, Sandra sudah mencoba menghubungi tapi tak diangkat, jadilah dirinya yang berangkat untuk menjemput Xander di sekolahnya.
Saat hendak mengeluarkan motornya, tiba-tiba Ferdiansyah datang, "apa kamu mau menjemput Xander?"tanya lelaki itu.
Sandra membuka maskernya, "iya, kamu mau makan siang?"tanyanya balik.
"Aku ikut jemput Xander ya! Aku kangen sama dia,"sahut Ferdiansyah.
Sandra melirik ke rumah lantai dua tak jauh dari tempatnya berada, ia tak ingin Choki mengetahui lagi kebersamaan dirinya dan mantan suami, bisa gawat, ia tau betul bagaimana orang kepercayaan Alex itu.
"Aku cuman ada satu helm,"Sandra berusaha menolak secara halus.
"Aku bisa pinjam ke pos sekuriti, sini aku yang bawa,"ucap Ferdiansyah seraya mengambil alih motor yang sudah dinaikin Sandra sehingga terpaksa wanita itu harus bergeser ke belakang.
Sekuriti yang mengenal baik Sandra dengan suka rela meminjamkan helm untuk Ferdiansyah.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah Xander, Lelaki itu banyak bercerita tentang keluarganya, Sandra menanggapi sekenanya, sejujurnya ia sedikit risih dengan kedekatan mereka.
Sesampainya di sekolah, terlihat Xander sedang mengobrol dengan salah satu bocah berseragam yang sama di kursi panjang teras sekolah.
Melihat kedatangan mamanya, bocah itu bangkit berdiri dan menghampiri wanita yang telah melahirkannya dengan senyuman secerah mentari pagi,
Namun senyum itu pudar begitu melihat lelaki dewasa yang berada dibelakang mamanya.
"Halo Xander, Ayah kangen,"sapa Ferdiansyah menghampiri lalu memeluk mantan anak tirinya itu.
Xander menatap Sandra seolah bertanya, "kenapa mama bisa sama ayah?"
Sandra hanya menaikan bahunya, bingung menjelaskannya, tak mungkin menjelaskan secara jujur jika Ferdiansyah mengajaknya untuk rujuk.
"gimana kalau kita makan siang bersama?"tawar Ferdiansyah,
Tak enak jika menolak, ibu dan anak itu sepakat mengangguk,
Ketiganya menaiki motor dengan Xander berada di paling depan, Ferdiansyah ditengah dan Sandra membonceng dibelakang, gambaran keluarga bahagia yang pernah mereka rasakan dulu saat setahun awal pernikahan.
Ferdiansyah menghentikan motor di parkiran restoran cepat saji, yang dilewati ketiganya dalam perjalanan menuju kantor.
Lelaki itu memesankan ayam crispy berikut nasi plus softdrink untuk dirinya dan Sandra, sementara untuk Xander, Ferdiansyah memesankan paket khusus anak-anak.
Ketiganya mulai menyantap makan siang, sembari mengobrol, Ferdiansyah yang mendominasi obrolan, lelaki itu banyak bertanya tentang ini itu pada Xander.
Sekali lagi, benar-benar terlihat sebuah gambaran keluarga kecil bahagia, dengan pakaian formal orang tua yang menyempatkan diri makan siang bersama dengan anak semata wayang mereka meskipun mereka sibuk bekerja.
"Lalu setelah ini, Xander dititipkan ke siapa?"tanya Ferdiansyah ketika mereka berjalan menuju parkiran.
"ikut aku kerja,"Jawab Sandra, ia tak mungkin menjawab jika putranya beristirahat di lantai tujuh, dimana terdapat lantai pribadi untuk atasan mereka.
"Memangnya boleh sama pak Alex?"tanya Ferdiansyah lagi.
"Itu kesepakatan antara aku dan pak Alex, beliau mengijinkan aku untuk membawa Xander ke kantor, yang penting tidak menggangu staf lain,"sahut Sandra, tentu saja atasannya akan mengijinkan, karena Xander adalah putra kandungnya.
"Wah pak Alex baik juga ya!"puji Ferdiansyah,
Sandra tak menanggapi, lebih memilih mengenakan helm pada putranya juga pada dirinya sendiri.
Sesampainya di parkiran kantor, Sandra menyuruh Ferdiansyah untuk naik terlebih dahulu, beruntung lelaki itu menyetujuinya,
Memastikan Ferdiansyah telah masuk ke gedung, Sandra mengajak putranya menuju parkiran bawah tanah, tak mungkin bukan ia naik lift dengan warna gold di lantai dasar dekat lobby bersama bocah berseragam sekolah dasar.
Xander mengikuti Sandra ke lantai enam, katanya ingin beristirahat di kamar pribadi ruangan Alex bekerja.
Pintu terbuka, keduanya menyusuri lorong menuju ruang sekertaris yang berada tepat didepan ruang kerja atasan wanita itu.
Terlihat Jonas tengah serius bekerja, hingga sapaan bocah berumur dua belas tahun itu menghentikan pekerjaannya.
Seperti biasa kedua lelaki berbeda usia itu akan melakukan tos ala mereka sendiri,
"maaf ya, om Jo nggak bisa jemput Xander, om sibuk banget nih,"ujarnya menunjukkan setumpuk berkas yang ada di meja kerja lelaki itu.
"Nggak apa-apa om, kan ada mama, oh ya om, papa ada di ruangannya nggak?"tanya bocah itu.
"Ada tuh lagi sama om Choki, tadi papa bawa makanan buat kamu, katanya dari nenek Susi, om juga dibagi nih,"sahut Jonas sembari menunjukan kotak berisi kue nastar.
Senyum mengembang, menghiasi wajah bocah itu, tak membuang waktu Xander memasuki ruang kerja milik papanya.
"Jo, Gimana kondisi mood Alex?"tanya Sandra sepeninggal putranya.
Jonas mengalihkan pandangannya pada rekan kerja disebelahnya, "maksud Lo?"tanyanya bingung.
"Ya maksud gue, Alex lagi marah-marah nggak? Secara sejak ada Ben, kerjaannya makin banyak,"Jawab Sandra berusaha mencari tau, mengingat didalam sana sedang ada Choki, yang mengetahui pertemuannya dengan mantan suaminya.
"Biarpun Abang lagi badmood, Lo cium dia bakal good mood, apalagi Lo kasih jatah,"ujar Jonas tersenyum jahil,
Sandra melempar rekannya dengan kertas yang diremasnya, bisa-bisanya rekannya malah meledek dirinya.
Tak lama pintu terbuka, Choki keluar dan berjalan menuju ke arah kedua sekretariat bosnya.
"Mbak, ke dokter THT gih,"ucap lelaki berbadan kekar itu ketus.
Sandra dan Jonas saling pandang, seolah bingung dengan ucapan yang terlontar dari mulut lelaki itu.
"soalnya gue curiga lo budek,"lanjutnya
Sandra yang baru mengerti maksud perkataan Choki, langsung merinding seketika,
"Ingat mbak, gue nggak peduli biarpun Lo cewek yang dicintai Abang, siapapun yang bikin Abang sakit hati, gue nggak segan buat perhitungan sama Lo,"ucap Choki, setelahnya lelaki itu meninggalkan ruang sekertaris.
Sepeninggal Choki, Jonas menggeser kursi beroda miliknya, mendekati rekan kerjanya, "Lo bikin masalah apaan mbak, sampai Choki semarah itu? Jangan macem-macem mbak, gitu-gitu dia setia banget sama Abang, dan mau melakukan apapun untuk Abang,"
"gue belum cerita ya! Waktu gue ngaku abis cium Lo, abis gue dibuat babak belur sama dia, Lo tau kan gue sedekat apa sama Choki, tapi dia nggak banyak mikir ketika tau gue khianati Abang,"
Sandra terkejut mengetahui fakta baru itu, ia tak menyangka jika Choki tak segan memukuli sahabatnya sendiri demi Alex.
"gue ketemu mas Ferdi,"sahut Sandra berusaha tenang,
Jonas mengumpat, "nyari masalah Lo mbak, hidup udah tenang ada aja sih,"
Sandra terkejut rekannya mengumpat tepat didepannya, "mana gue tau, kalau ternyata dia keterima kerja disini, masa iya gue cuekin, disangka sombong entar,"
"Gini mbak, mending lo cerita sendiri ke Abang, dari pada Abang dengar dari orang lain, Abang bisa lebih marah, ya nggak mungkin mukulin elo, tapi kita-kita penghuni lantai enam yang jadi imbas utama,"saran Jonas.
"Gue bakal cerita, cuman gue agak takut sih, tapi gue bakal kasih tau Alex secepatnya,"
"jangan sekarang, saran gue entar malam, jadi kalau Abang ngamuk, Lo tinggal Bu*** didepannya, gue jamin Abang maafin Lo,"
Sandra menatap tajam rekannya, bisa-bisanya masih memikirkan hal mesum disaat seperti ini.