
Masih Flashback
Matahari pagi menelisik masuk disela-sela tirai, mengusik tidurnya.
Sandra melihat ke sekeliling, ah... Ini bukan kamarnya, ia tersadar dirinya berada disebuah kamar di cottage yang didatanginya semalam bersama kekasihnya.
Sandra menoleh, Alex tidur disebelahnya, memeluknya seolah dirinya guling.
Tak ada apapun yang terjadi semalam, mungkin karena lelah, sehingga keduanya memutuskan untuk langsung tidur.
Saking lelahnya, dirinya bahkan kesiangan, ini pertama kalinya sejak dirinya beranjak remaja, bisa bangun terlambat bahkan melewatkan kewajibannya.
Perlahan, ia mencoba menyingkirkan tangan dan kaki lelaki itu dari tubuhnya, ia butuh ke kamar mandi sekarang.
Lega rasanya bisa terbebas dari lilitan tangan kekasihnya tanpa membangunkan.
Cukup lama Sandra berada di kamar mandi, ritual paginya ketika tidak bersekolah, tidak sampai mandi hanya menggosok gigi, cuci muka dan mengosongkan kandung kemih serta usus besarnya.
Biasanya kalau hari libur sedang tak ada kedua orang tuanya, Sandra akan bermalas-malasan diatas kasur, sambil membaca novel atau komik koleksinya.
Namun sekarang berbeda, dirinya tak membawa buku bacaan favoritnya.
Alex sudah tak ada diatas kasur, entah kemana lelaki itu,
Meski sebenarnya Sandra ingin keluar sambil menikmati suasana di sekitar pantai, tapi nyatanya, kasur lebih menggoda untuk ia merebahkan diri.
Sandra menatap langit-langit kamar itu, ia sedikit merasa lega semalam, Sri Mulyani memberitahukan jika kedua orang tuanya mendadak harus mengunjungi rumah neneknya di Semarang.
Dikarenakan ibu dari ayahnya tiba-tiba jatuh dikamar mandi dan tak sadarkan diri, sekarang neneknya sedang di rawat disalah satu rumah sakit ternama di kota itu.
Khawatir dengan keadaan sang nenek, namun ia lega ketika orang tuanya tak tau jika dirinya tak pulang ke rumah.
Karena alasan itulah, Sandra mengatakan jika dirinya sedang menginap di rumah Natasha, menemaninya karena kedua orang tua Natasha sedang dinas malam di rumah sakit.
"Kamu kenapa melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan?"tanya Alex yang datang dari luar kamar membawakan nampan berisi makanan.
"tidak ada, hanya sedang berdiam diri menikmati keheningan,"jawab Sandra setelah bangkit dan duduk bersila diatas ranjang.
"Sarapan dulu,"ujarnya menyodorkan roti bakar dan juga susu putih,
Tidak sampai lima menit sarapan telah habis.
"Apa yang akan kita lakukan hari ini?"tanya Sandra ketika Alex menaruh nampan diatas meja.
"menurut kamu apa?"tanya Alex balik.
Sandra mengangkat bahunya,
Alex menghampirinya, ia mengelus kepada pacarnya, "apa kamu masih lelah?"tanyanya.
Sandra menggeleng,
"aku kangen kamu, kita udah lama nggak berduaan seperti ini,"tutur Alex sambil memeluknya.
Sandra balas memeluk lelaki itu, "aku juga kangen Lex,"
Alex terlebih dahulu melepaskan pelukan itu, ia mulai memegang kedua sisi wajah kekasihnya, ia mulai mencium kening lalu hidung dan berakhir ******* bibir merah muda itu.
Sandra terbuai, ia membalas ciuman itu, rasa rindu membuatnya tak bisa berfikir.
Mereka saling melucuti kain yang menutupi tubuh mereka, dan melemparkannya asal.
Keduanya larut dalam gairah, seolah tak peduli apapun yang terjadi diluar sana.
Bagi kedua sejoli yang tengah di mabuk asmara, mereka tak memikirkan resiko apa yang menimpa keduanya.
Jiwa muda yang menjadikan Cinta diatas segala-galanya, tak penting perbedaan yang ada diantara keduanya.
Ini kali kedua bagi mereka, Sandra masih sedikit merasakan sakit, tapi tak sesakit sewaktu yang pertama.
Sedangkan Alex merasakan sensasi luar biasa, rasa yang dulu hanya bisa dibayangkannya, sekarang ini secara nyata ia bisa merasakannya, sepertinya setelah ini, ia akan sering meminta melakukannya.
Ah.. Rasanya Alex ingin cepat dewasa dan menjadikan Sasa sebagai istrinya, supaya bisa setiap saat bisa melakukan hal nikmat ini.
Alex semakin membulatkan tekadnya, Ia bersumpah dalam hati, hanya Sasa seorang yang akan selalu ada dihatinya, tak peduli apapun yang terjadi.
"Sasa milik Alex selamanya, aku mencintaimu,"ucapnya ketika baru saja melepaskan benihnya kedalam rahim kekasihnya.
Sandra tersenyum meskipun masih berusaha mengatur nafasnya,
"aku juga mencintaimu Alex,"
Sensasi bergetar masih dirasakan Sandra, namun Alex kembali menciumnya.
"aku mau lagi,"pintanya.
Stamina yang dimiliki Alex bisa dibilang luar biasa, seolah tak merasa lelah, ia melakukannya lagi.
Mungkin karena rajin bermain basket atau olahraga boxing yang rutin ia lakoni bersama keempat sahabatnya.
Keduanya tertidur dengan saling berpelukan.
Lewat tengah hari Alex terbangun terlebih dahulu, ia melirik pada wanita yang tidur dalam pelukannya, ia tersenyum lalu mengecup kening itu lembut.
Rasanya bahagia sekali hari ini, ada wanita yang dicintainya tertidur dalam dekapannya, sesuai apa yang diimpikannya.
Sebuah lenguhan terdengar, Sandra terbangun, wanita itu tersenyum manis padanya, tangan lembut itu menyentuh pipi lelaki dihadapannya,
"Alex Sayang, aku lapar, bisakah kita pergi keluar untuk makan?"tanyanya lembut.
Wajah Alex memerah dipanggil sayang, rasanya ada capung yang menggelitik di pusarnya.
"Aku pesankan makanan ya? Biar mereka yang antar kesini,"
Sandra mengangguk setuju,
Keduanya memutuskan mandi bersama, sambil saling menggosok dan berciuman dibawah guyuran shower.
Keduanya bagaikan pasangan yang sedang berbulan madu.
Makan siang yang terlambat untuk dua remaja yang tengah dimabuk cinta,
Mereka memesan hidangan yang simpel, hanya nasi dan ikan bakar juga lalapan plus sambal.
Keduanya makan dengan lahap, untuk mengisi kembali energi mereka yang telah terkuras tadi.
"Baru kamu dan Asha yang kalau makan depan cowok, nggak ada jaim-jaim nya sama sekali, cuek gitu, tapi aku suka,"cetus Alex saat mereka baru selesai makan.
"laper Alex, aku memang seperti ini,"ujar Sandra, "berarti bener ya dibilang Toni kalau kamu sering jalan sama cewek,"
"Mereka yang ngajakin, mereka yang bayarin masa ditolak, kan sayang nolak rejeki,"
"ih... Kamu matre dong, tapi kalau jalan sama aku, kenapa kamu yang selalu bayarin apapun yang aku beli?"
"kamu kan pacarku, aku mencintai kamu, itu udah kewajiban aku, lagian Sasa, cewek-cewek itu aja yang kepedean, cuman gara-gara aku senyum, dikira aku suka mereka,"
"makanya jangan senyum sembarangan, apalagi mau jalan sama mereka, kamu sama aja ngasih harapan,"
"kamu cemburu?"
"nggak, buat apa?"
"kalau nggak cemburu, berarti kamu nggak cinta aku dong,"
"Emang kalau cinta harus selalu cemburu? Nggak kan? Yang penting, udah tau perasaan masing-masing dan tau batasan diri,"
"Tapi kalau posisinya dibalik nih, kamu lihat aku beberapa kali jalan sama cewek lain, gimana perasaan kamu?"
"Kalau Asha, aku nggak bakal marah, kalau selain itu, tentu aku akan tanya kamu dulu, siapa perempuan itu, apa hubungannya sama kamu, yang jelas aku bakal tanya baik-baik,"
"wah ternyata pacarku sudah dewasa ya!"puji Alex.
"Haruslah, aku nggak mau membebani pikiranku untuk hal yang nggak penting, kalau misal sekalipun kamu punya hubungan spesial dengan wanita lain, aku nggak masalah, asal kita sudah berpisah terlebih dahulu,"
"Itu nggak akan terjadi, di hati aku hanya akan ada kamu selamanya,"
"kita nggak akan tau kedepannya Alex, jangan ngomong kayak gitu,"
"mungkin secara fisik perempuan lain memiliki aku, tapi tidak hatiku, sejak pertama aku mulai jalan sama kamu, aku udah bertekad, jika hanya kamu, perempuan pertama dan terakhir yang ada di hatiku,"
"iya deh aku percaya, ngomong-ngomong kapan kita pulang, kalau kita disini terus, uang kamu nanti habis buat bayar cottage ini, kan sayang, uangnya buat kuliah,"
"Tabungan aku banyak Sa, kalau misal abis kelulusan, kamu minta aku nikahi kamu, aku sanggup kok,"
"Kamu ada-ada aja, aku nggak ada niatan nikah muda,"
"kalau nggak mau nikah muda, gimana kalau kita tunangan dulu, aku ingin mengikat kamu, supaya kamu nggak kemana-mana, kita kuliah bareng juga, ngomongin kuliah, kamu mau lanjut kemana?"
Sandra mengangkat bahunya, "aku belum nentuin pilihan, Ayah udah kasih rekomendasi tapi aku masih bingung,"
"Bareng sama aku dan yang lain aja, kamu mau ambil jurusan apa?"
"Belum tau Alex, nanti aja lah,"
"Oke, tapi kalau udah nentuin dimana, kamu kasih tau aku, nanti aku mau daftar ditempat yang sama kayak kamu,"
Malas berdebat, Sandra memilih mengangguk.