How To Marry You ?

How To Marry You ?
delapan puluh dua



Malam harinya Sandra menunggu kepulangan kekasihnya, namun hingga waktu menunjukan pukul sebelas malam, lelaki itu tak kunjung menunjukan batang hidungnya.


Tadi sore saat jam pulang kerja, Alex memintanya untuk pulang terlebih dahulu, dikarenakan lelaki itu akan berkumpul dengan para sahabatnya.


Menunggu lelaki itu, membuat Sandra mengantuk dan tertidur di sofa ruang tengah, dengan televisi menyala.


Sebelum subuh tiba, putranya membangunkan dirinya, kebiasaan bocah itu shalat subuh berjamaah di masjid tak jauh dari rumah yang ditinggalinya.


Alex tak kunjung kembali, bahkan hingga subuh tiba, Sandra melihat layar ponselnya, sayangnya tak ada notifikasi apapun.


Sandra segera bangkit, memulai harinya, mandi, beribadah dan membuat sarapan ala kadarnya untuk putra semata wayangnya.


Roti tawar yang hanya empat lembar, ia olesi dengan selai cokelat kacang, favorit putranya, satu tangkup untuk dimakan di rumah, satu Tangkup, ia letakan dikotak bekal, untuk camilan di sekolah, tak lupa susu rasa cokelat, yang diletakan di gelas.


Sepulang dari masjid, putranya sudah tau harus melakukan apa, jadi tak perlu Sandra mengingatkan bocah itu,


Sejak kepindahan mereka ke rumah ini, Sandra mengajari putranya untuk membagi waktu, dikarenakan sekolah bocah itu cukup jauh, sehingga tak bisa bersantai saat pagi.


Sandra kembali menggunakan motornya untuk mengantarkan putranya ke sekolah dan dirinya yang berangkat kerja.


Sudah seminggu berlalu, Alex tak pulang ke rumah, meskipun tiap hari keduanya bertemu di kantor, itupun hanya membahas tentang pekerjaan, lelaki itu benar-benar sedang sangat sibuk.


Selama seminggu itu pula, Ferdiansyah turut serta menjemput Xander disekolah, lelaki itu seolah sengaja menantikannya diparkiran motor dibelakang gedung.


Sandra tak bisa Menolak mantan suaminya itu secara terang-terangan, bagaimanapun lelaki itu juga pernah baik dan sayang pada dirinya juga putranya.


Kesempatan mengatakan hal itu pada Alex juga sulit, mengingat kesibukan lelaki itu, beberapa kali juga Choki memberinya peringatan,


Siang itu Seperti biasa usai Sandra ditemani Ferdiansyah menjemput Xander di sekolah, ketiganya akan makan siang bersama.


Kali ini mereka memilih makan di kaki lima yang terletak dipinggir jalan tak jauh dari sekolah Xander.


Namun ditengah-tengah ketiganya menikmati makan siang, ponsel Sandra berdering, tertera nama Alex dilayar, wanita itu mengangkat panggilan itu,


"Ya pak,"


"kamu dimana?" tanya Alex diseberang sana.


"lagi makan siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya Sandra balik berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.


"kenapa kamu berbicara formal sama aku? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?".


"tidak pak,"


"Aku lihat motor kamu di pinggir jalan, dekat sekolahan Xander, aku kesitu ya!"


Sandra melotot lalu bangkit melihat sekeliling, wanita itu berjalan menuju pinggir jalan, dan benar saja, Alex melambaikan tangannya, dibelakangnya bahkan ada Choki.


Tak ada waktu untuknya untuk menyuruh Mantan suaminya pergi, lelaki itu sedang makan bersama putranya, hancur sudah, Alex pasti akan marah mengetahui fakta ini.


Sandra bergegas masuk mendekati putranya, lalu berbisik di telinga bocah itu, kebetulan tempat duduknya dan putranya bersebrangan dengan Ferdiansyah.


Hingga, "oh Pak Alex, Apa kabar? Lama sekali nggak ketemu ya! Apa anda akan makan siang? mari silahkan duduk,"ucap Ferdiansyah ramah, bahkan lelaki itu menarik kursi plastik disebelahnya.


Terasa ditampar oleh kenyataan, jika dirinya hanyalah seorang lelaki perusak rumah tangga orang.


Meskipun faktanya ia tau betul jika wanita itu mencintai dirinya, tapi faktanya hingga detik ini ia belum bisa memberikan kepastian tentang bermuara kemana hubungan mereka.


Adanya keberadaan Alexander juga tak menjamin ia memiliki seutuhnya ibu dari putranya.


Tepukan dari Choki di bahunya menyadarkan dirinya, Alex berusaha tetap tenang menghadapi kenyataan pahit didepan matanya.


Tak mungkin bisa menelan makanan, Alex meminta Choki memesankan minuman, rasanya tenggorokannya mendadak kering melihat pemandangan menyakitkan itu, jika ada wine mungkin ia akan menghabiskan satu botol sekaligus, agar dirinya mabuk dan langsung tertidur, ia berharap ini hanya mimpi.


"Wah, pak Alex benar-benar bos yang perhatian pada stafnya ya! Tak pernah berubah, salut saya pak!"puji Ferdiansyah sembari menunjukkan jempolnya.


Alex menatap tajam wanita yang duduk bersebrangan dengannya, tatapan mereka bertemu, dari tatapan itu ia seolah meminta penjelasan apa yang terjadi sebenarnya.


"oh ya pak, saya sekarang bekerja jadi staf marketing loh, Sandra belum cerita ya! Pantas saja dia betah kerja di sana dan mau kembali lagi begitu ditawari bekerja, lah wong fasilitasnya bagus, gaji besar, dan saya tidak menyangka, ada perusahaan propertinya juga, bapak benar-benar hebat,"puji Ferdiansyah lagi.


Alex hanya berdehem untuk menanggapi lelaki disampingnya.


Sandra yang mendapat tatapan tajam dari atasan dan rekannya, rasanya tak bisa menelan makanannya dengan baik, rasanya seperti menyangkut di kerongkongannya, padahal makanannya masih cukup banyak.


Melihat putranya telah menghabiskan makanannya, Sandra mengajak mereka pulang.


Kebingungan melanda wanita beranak satu itu, Ferdiansyah telah menaiki motor bersama putranya, sementara Alex berdiri di samping mobil, seolah menunggunya untuk masuk.


Sandra menghela nafas, "Maaf pak, karena tadi saya naik motor kesini nya,"ujarnya menunduk.


Wanita itu menerima helm yang diberikan oleh mantan suaminya, sembari melirik kekasihnya.


Melihat kepergian wanita yang dicintainya, Alex mengepalkan tangannya, rasanya ia cemburu, ia tak rela, harga dirinya terasa diinjak-injak.


Alex memasuki mobil yang dikemudikan Choki,


"Lo udah tau, kalau Sandra balik sama cowok brengsek itu?"tanyanya pada salah satu orang kepercayaannya.


"Udah sekitar seminggu bang,"jawab Choki mulai mengemudikan mobil.


Berbagai umpatan terlontar dari mulut Alex, rasanya kesal setengah mati, seminggu ini ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tak terlalu memperhatikan kekasihnya, ia tak menyangka ini terjadi, ia pikir Ferdiansyah tak akan lagi kembali ke ibukota, mengingat kondisinya, nyatanya lelaki itu terlihat baik-baik saja.


"Apa yang harus gue lakuin bang?"tanya Choki dibalik kemudinya.


"Biarin dulu, gue mau lihat reaksi Sandra, kalau misal mereka akan kembali bersama, baru gue ambil tindakan, jadi Lo cukup awasi saja, lagian Sandra masih balik ke rumah ini, berarti masih aman,"jawab Alex berusaha tetap berfikir jernih, walau rasanya ingin melampiaskan amarahnya.


"Ki, abis ini tanding boxing, gue butuh pelampiasan,"lanjutnya.


"tapi bang, bukannya abis ini ada janji sama Mas Rama dan bos besar?"


"ketemu entar malem aja, lagian otak gue nggak bakal bisa diajak kerja, kalau begini,"


Sesampainya di parkiran bawah tanah gedung kantornya, Alex turun dari mobil diikuti oleh Choki, menuju lift berwarna gold yang akan membawanya ke lantai delapan.


Alex juga menghubungi Benedict dan Rama untuk membatalkan janjinya lalu meminta dua sahabatnya mengalihkannya ke malam hari.