
Ada sesuatu yang basah nan kenyal menempel dibibir Sandra, Ia terbangun karena merasa terganggu dengan hal itu.
Pencahayaan kamar yang remang-remang membuatnya tak bisa melihat dengan jelas, tapi ia jelas hafal aroma yang sudah sangat familiar di indera penciumannya.
"Kamu udah pulang? Jam berapa sekarang?"tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
Alex membaringkan tubuhnya tepat disebelah kekasihnya, rasanya tubuhnya lelah sekali, selain sibuk dengan beberapa kasus yang tengah ditanganinya, ia juga disibukan dengan kelengkapan administrasi pernikahan beda warga negara.
Hembusan nafas kasar keluar dari mulutnya, sepertinya tubuhnya perlu istirahat.
"Apa terjadi sesuatu? Sepertinya kamu lelah sekali,"tanya Sandra memiringkan tubuhnya menghadap lelaki itu.
"kamu pulang jam berapa tadi? Apa kamu sudah tidak sakit?"tanya balik Alex.
Sebenarnya beberapa hari yang lalu, ia melakukan hal yang mungkin jika kekasihnya tau, wanita itu akan kecewa, tapi toh memang seharusnya ia melakukannya.
Dirinya bukan orang yang mudah memaafkan kesalahan seseorang, mungkin didepan orang yang bersangkutan ia terlihat telah memaafkan, namun tidak dibelakangnya.
Alex memang dikenal orang yang ramah dan baik hati, ia juga royal dengan orang-orang disekelilingnya, baik sahabat ataupun bawahannya.
Tetapi dibalik semua itu, dirinya adalah orang yang pendendam, dan tak akan dengan mudah membiarkan urusan selesai begitu saja.
Ia akan melakukan segala cara untuk membalas orang yang membuatnya tersinggung, meski tak secara langsung.
Alex hanya perlu mencari tau tentang targetnya, lalu menggunakan tangan orang lain untuk membalaskan dendamnya.
Sejak tau putra semata wayangnya dilukai oleh Ferdiansyah, ia menyuruh bawahannya, untuk mengikuti suami dari kekasihnya.
Bahkan sebelum Sandra tau tentang perselingkuhan suaminya, Alex tau lebih dahulu.
Kebenciannya pada Ferdiansyah semakin menjadi saat tau, jika Sandra terluka karena perbuatan lelaki itu.
Alex yang sudah mencari tau tentang segala hal yang dilakukan Ferdiansyah termasuk wanita yang bernama Erina, sengaja membuat suami dari wanita itu mencium gelagat aneh dari istrinya.
Kebetulan suami Erina bekerja di kapal pesiar yang sahamnya dimiliki oleh Benedict, itu memudahkan Alex untuk menjalankan rencananya.
Mengenai musibah yang menimpa Ferdiansyah secara tak langsung memang ulahnya.
Alex sengaja meminta Troy sekertaris Benedict untuk memberikan cuti pada salah satu crew kapal pesiar melalui management yang mengelola, sehingga suami Erina bisa pulang tanpa mengabari istrinya terlebih dahulu, dan terbongkarlah perselingkuhan yang terjadi antara Ferdiansyah dan Erina.
Lelaki itu menghajar Ferdiansyah habis-habisan, mematahkan tangan dan kakinya secara bersilang, juga sempat menusukkan pisau di pinggang, lalu membuang Ferdiansyah yang tak berdaya dipinggir jalanan sepi.
Hingga lelaki itu ditemukan oleh tukang ojek yang kebetulan melintas dan dibawa ke rumah sakit,
Merasa sudah puas, Alex menyuruh bawahannya hanya sampai disitu, tak lagi mengikuti Ferdiansyah lagi.
"Kamu, ditanya balik nanya, terus sekarang diam, sebenarnya ada apa sih?"tanya Sandra penasaran.
Alex tersadar dari lamunannya, "aku hanya lelah,"jawabnya singkat.
Sandra bangkit, ia hendak keluar kamar,
"kamu mau kemana?"tanya Alex bangkit dari rebahannya.
"Aku mau pipis sama ambil minum,"sahut Sandra keluar dari kamar.
Pikiran Alex kembali melayang, perbuatan yang dilakukannya, tentu mengikuti cara kerja sahabat sekaligus bosnya, ia dan Fernando jelas tau seperti apa Benedict membuat musuh bisnisnya jatuh se jatuh-jatuhnya.
Ditambah cerita dari Mr.William yang jadi pengacara perusahaan Wright.
Bukan liburan tepatnya, karena mereka hanya belajar tanpa sempat berjalan-jalan.
Tak masalah tentunya, setidaknya mereka bisa mendapatkan tambahan ilmu secara gratis bahkan dibayar.
Pernah Alex bertanya pada Benedict, saat dirinya bertandang ke negara itu untuk mengisi liburan semesternya.
"Kenapa sih lo? Bikin kita belajar saat liburan, bantu biaya kuliah juga, bahkan gue Lo beliin gedung, tujuannya apa sih?"tanya Alex saat itu.
"Meskipun gue bakal disini tapi siapa yang tau kedepannya, gue terutama Lo semua butuh dengan hal itu, lagian lex, kan Lo enak nggak perlu jadi bawahan orang lain, kalau suatu saat Lo jadi pengacara nggak perlu bayar sewa gedung, dan Lo bisa bantu teman-teman yang lain saat menghadapi masalah hukum,"
"Gue cuman ingin memastikan kalian semua hidup tanpa kekurangan, meskipun tanpa gue bantu kalian juga nggak miskin-miskin amat, terutama dodo, tapi kalau punya sendiri kan lebih enak,"sambungnya.
"Pesan gue, terutama elo nih, jangan pernah berurusan sama yang namanya politik, Lo bisa ambil kasus lain, intinya jangan bersangkutan sama pejabat dan orang terkenal, meskipun mereka bakal ngasih banyak duit, tapi hidup Lo pasti nggak bakal tenang,"
"Iya Ben, tanpa gue menonjolkan diri, gue juga udah menonjol,"canda Alex saat itu.
Benedict hanya menyahuti dengan umpatan.
Lamunan Alex terganggu karena kehadiran kekasihnya,
"kamu kenapa sih? dari tadi melamun terus ada masalah kah?"tanya Sandra.
"nggak ada, aku hanya capek aja, kayaknya abis Ben nikah, aku mau ambil cuti, mau ajak kamu sama Xander liburan ke Eropa,"jawab Alex.
"apa kamu nggak tambah capek?"
"kalau sama kamu ya nggak lah,"sahutnya, "Sasa kayaknya udah beberapa hari kita nggak melakukannya,"
Sandra yang memang rindu pada kekasihnya, menghampirinya lalu duduk di paha lelaki itu.
"Apa kamu tidak lelah? Kan butuh banyak tenaga,"ujarnya sambil merangkul leher Alex.
Lelaki itu mengelus pipi Sandra, lalu mulai mengecup bibir yang menjadi candunya.
Keduanya saling berciuman, awalnya hanya ******n, lalu lidah saling beradu, mereka bertukar saliva sambil menyentuh di sana-sini.
Alex mulai melepas tali gaun tidur yang terikat di bahu mulus kekasihnya, sambil mencumbui leher yang mengeluarkan aroma khas.
"kamu wangi banget, aku suka,"bisik Alex tepat ditelinga kekasihnya tak lupa meniupnya.
Sandra Mendes*h karenanya, wanita itu tak mau kalah, ia mulai mencumbui leher serta dada kekasihnya yang tak tertutup apapun, kebiasaan lelaki itu ketika tidur, hanya akan mengenakan celana bokser.
Perut kotak Nang keras tak luput dari sentuhan juga kecupan bibir wanita itu.
Alex mendongak merasakan sensasi yang hanya bisa ia dapatkan dari ibu dari putranya.
Sandra yang terbakar gairah mulai membuka kain penutup bagian bawah itu, ia tak sungkan memanjakan sesuatu yang tegak mengacung, bagai orang yang sedang makan es potong berwarna cokelat.
Alex terengah-engah dibuatnya, kekasihnya semakin lihai dalam memanjakannya.
Hanya dengan Sandra seorang ia bisa merasa puas, tak ingin hanya berdiam diri, Alex melakukan hal yang sama.
Tak ingin berlama-lama keduanya mulai melakukan kegiatan inti, Sandra memegang kendali terlebih dahulu, Alex tentu tak tinggal diam, mulut dan tangannya ikut bekerja, sehingga suara merdu wanita itu semakin kencang, hingga lenguhan panjang, menandakan jika Sandra mencapai puncaknya.
Kalau sudah begitu, Alex membalikkan keadaan, meskipun Sandra masih berusaha mengatur nafasnya, namun Alex menggempurnya, sehingga tak lama Sandra mendapatkan pelepasan kedua sedangkan Alex mendapatkan pelepasan yang pertama.
Kata-kata cinta dan pujian terlontar dari sepasang kekasih itu, tak peduli apapun sedari dulu memang seperti ini adanya, perbedaan apapun tak membuat sejoli itu berhenti melakukannya.