How To Marry You ?

How To Marry You ?
delapan



Tidak terjadi apapun semalam, kedua sejoli itu hanya tidur sambil berpegangan tangan.


Pagi sekali Sandra bangun terlebih dahulu, kebiasaannya harus menunaikan kewajibannya, namun sekarang dirinya bingung, tak mungkin di rumah Alex ada mukena.


Terpaksa ia membangunkan lelaki itu, "Lex, bangun dong,"ujarnya sambil menepuk tangan Alex.


"Napa sih Sa, ini masih gelap, tidur lagi yuk,"ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur, matanya bahkan masih tertutup.


"Lex, aku mau shalat, dari kemarin aku nggak shalat, entar dosa,"


Mendengar hal itu, mata Alex terbuka lebar, "Tapi di rumah aku nggak punya mukena sa,"


"Aku pulang aja ya Lex,"


"kok pulang sih? kita kan mau berangkat bareng,"


"tapi aku harus menjalankan kewajibanku Alex, kamu ngerti nggak sih?"ucap Sandra mulai kesal.


"Oke, kalau gitu kita mandi gantian, abis itu kita cari masjid buat kamu shalat, biasanya di masjid ada mukena kan?"


Keduanya mandi secara bergantian,


Seragam Sandra juga sudah kering, sehingga bisa dipakai lagi.


Di luar masih gelap, waktu menunjukan pukul setengah enam pagi, ketika dua sejoli meninggalkan rumah milik orang tua Alex.


Motor berhenti di masjid yang tak jauh dari sekolah Sandra,


"Aku tunggu kamu di warung ya, nanti kamu susul ke sana,"pesan Alex.


Sandra mengangguk lalu berjalan cepat menuju kedalam masjid untuk menunaikan kewajibannya.


Tepat pukul enam pagi, Sandra menghampiri Alex yang tengah duduk menunggunya di warung yang menjual beberapa menu makanan untuk sarapan.


Keduanya memesan nasi uduk plus telur balado, mereka makan dengan lahap, mengingat semalam hanya memakan mie instan.


"Langsung ke sekolah ya, aku nggak mau Vina tau, kalau aku nggak pulang, bisa ribet kalau dia ngadu ke ayah,"ujarnya ketika makanan di piring telah habis.


Alex mengangguk, lalu bangkit berdiri membayar pesanan keduanya.


Sandra minta berhenti ditempat biasa Alex menjemputnya dulu, ia turun dan memberikan helm serta jaket milik lelaki itu.


"Nanti aku jemput ya?"


Sandra menggeleng, "nggak usah, aku entar bareng Vina ke tempat les,"tolaknya.


"Terus kapan kita ketemu lagi?"tanya Alex dengan wajah lesu.


"aku SMS ya?"


Mau tak mau Alex setuju, lelaki itu menyuruh kekasihnya, untuk jalan terlebih dahulu, katanya ingin melihat gadis itu hingga masuk ke sekolah.


Jam istirahat.


Vina menghampiri Sandra ke kelas, "Berani banget lo, tidur sendiri di rumah, biasanya kalau ayah Wijayanto sama ibu Sri Mulyani pergi, lo ngungsi ke rumah gue,"


"gue mesti berani Vi, gue nggak mau ngerepotin mama Yuli,"


"lagak lo Sasa, kayak sama siapa aja, mama gue bawain bekel, lo mau nggak?"tanya Vina sambil menunjukkan wadah makannya.


Sandra mengangguk antusias, dibanding ibunya, masakan mama Yuli lebih mantap.


Keduanya mulai menikmati bekal, sambil bercerita tentang materi les kemarin.


Sandra tak akan menceritakan hubungannya dengan Alex, ia tak ingin sahabatnya marah padanya.


Apalagi soal fakta bahwa ia dan Alex berbeda keyakinan.


Biarlah dirinya menyimpan rapat tentang hubungannya dengan Alex.


Seperti yang sudah dikatakan oleh Sandra tadi pagi, ia dan Vina akan menuju ke tempat les.


Meskipun Vina baru sembuh, tetapi sahabatnya itu begitu bersemangat karena selain suka belajar, gadis itu akan bertemu dengan Toni.


Seperti biasa, ketiganya baru keluar dari tempat Les pukul setengah lima sore.


Vina menawarinya untuk tidur di rumahnya, namun Sandra menolak, ia meminta diturunkan di supermarket karena akan berbelanja camilan terlebih dahulu.


Tadi Alex mengiriminya pesan agar menunggunya di supermarket tak jauh dari kompleks perumahan.


Tak lama ia keluar dari supermarket, di parkiran sudah ada motor sport berwarna hijau terparkir.


Alex mematikan rokoknya dan berdiri begitu melihat kedatangan pacarnya.


"mau makan apa?"tanyanya.


"aku mau makan di rumah aja, ibu ninggalin makanan di kulkas, kalau nggak dimakan, nanti ibu curiga aku nggak pulang,"jawabnya.


"Ya udah aku ke rumah kamu,"


Sandra menggeleng, "Jangan, nanti ayah marah, aku bawa cowok ke rumah,"


"bukannya ayah kamu belum pulang?"


"pasti tetangga bakal ada yang ngadu sama ayah,"


"terus kita gimana dong, masa cuman ketemu sebentar doang,"keluh lelaki itu.


"ya gimana lagi, aku nggak berani, ayahku galak banget,"


Alex berusaha memahami pacarnya, ia hanya bisa pasrah.


Sandra bertekad merahasiakan hubungannya dengan Alex dari keluarga dan sahabatnya, biarlah hanya keduanya yang tau.


Dirinya sadar akan ada pertentangan dari mereka.


Keduanya sering berkomunikasi lewat SMS atau telpon.


Kalau ada waktu keduanya akan mencuri waktu sejenak untuk bertemu.


Atau Alex yang melihat dari jauh kekasihnya saat jam pulang sekolah atau sepulang dari tempat les.


Berat untuk keduanya, apalagi mereka baru menjalin hubungan.


Saat akhir pekan, Sandra akan berpamitan pada orang tuanya untuk lari pagi di pusat kota, tentu tanpa Vina dan Toni, ia beralasan tidak enak jika mengganggu sahabatnya itu.


Sebenarnya Sandra ada janji dengan Alex untuk bertemu.


Sandra memilih tempat yang jauh dari rumah, juga tempat yang sekiranya tak akan didatangi Vina dan keluarganya.


Alex tak keberatan, terkadang, ia juga mengajak Sandra ke rumah Natasha.


Tentu tak akan berdua saja, ada semua sahabat dekat Alex di sana.


Terkadang mereka akan menghabiskan waktu hingga seperempat hari bermain bersama.


Sandra cukup akrab dengan sahabat Alex, karena sering berkumpul dengan mereka, ia tau sedikit banyak tentang sekumpulan laki-laki tampan itu.


Ben yang katanya blasteran tapi wajah dan rambutnya terlihat seperti orang Indonesia asli, hanya saja fisiknya berbeda dengan remaja seumurannya.


Nando blasteran Indonesia-Jerman, berambut cokelat dan bermata hijau, paling tampan diantara mereka.


Oscar berpostur tinggi meskipun masih kalah dengan kedua lelaki blasteran itu, dia juga sepupu Natasha.


Rama adalah sahabat sekaligus tetangga Ben yang bersahabat sebelum bersekolah di SMP, dia berpacaran dengan Citra, Sandra pernah dikenalkan saat mereka menonton ramai-ramai di bioskop salah satu mall.


Natasha yang biasa dipanggil Asha, adalah satu-satunya perempuan di sekumpulan lelaki tampan itu,


dan Terakhir Alex pacarnya, katanya, ini kali pertama lelaki itu berpacaran, memang beberapa kali Alex dekat dengan gadis-gadis tapi hanya sebatas iseng tak lebih.


Tak terasa ujian semester satu berlalu.


Seperti biasa Kedua orang tua Sandra akan menawarinya untuk menghabiskan liburan di kampung halaman mereka, namun dirinya menolak.


Katanya ia diajak berlibur oleh sahabat di tempat les.


Karena sulit bertemu, Alex meminta tolong pada Natasha untuk masuk ke tempat les Sandra menuntut ilmu.


Natasha juga mengenal Vina dan Toni.


Wijayanto dan Sri Mulyani juga mengenal Natasha sebagai teman di tempat les putri semata wayangnya.


Beberapa kali Natasha menginap di rumah keluarga Sandra begitu juga sebaliknya.


Maka dari itu saat Natasha meminta ijin Wijayanto mengajak Sandra untuk menghabiskan liburan selama seminggu di villa, lelaki berumur empat puluh lima tahun itu tak keberatan.