How To Marry You ?

How To Marry You ?
lima puluh dua



Sandra tak menyangka, jika pembicaraannya dengan Ferdiansyah didengar oleh Inah.


Karena itulah ia kembali duduk bersisian dengan Ferdiansyah berhadapan dengan perempuan paruh baya itu.


Sandra menunduk tak menatap wajah perempuan paruh baya itu, bukannya dirinya takut, ia hanya berusaha menghormati Inah sebagai orang tua dari Ferdiansyah meskipun beliau pernah menyakiti hatinya dulu.


"Apa karena Ferdi tidak bisa menafkahi kamu, sehingga kamu mengajukan gugatan cerai? Kok tega ya kamu ya!"ungkap Inah seolah menyudutkan Sandra.


Bisa saja, Sandra membela diri tapi hal itu hanya akan membuat perempuan paruh baya itu terbakar amarah, selama empat tahun menjadi menantu, ia paham betul watak Inah, jika sedang marah apapun akan keluar dari mulut mantan mertuanya itu.


"Jangan kayak gitu Bu, Ferdi yang salah, Sandra punya alasan kenapa meminta bercerai,"cetusnya.


Inah menatap tajam menantunya, "lihat, anak saya masih membela kamu meskipun sudah disakiti, dimana nurani kamu? Mentang-mentang sudah punya kerjaan enak, kamu jadi sombong, apa kamu lupa, anak saya tetap menerima kamu sebagai istri, meskipun kamu dan keluargamu telah menipu kami mentah-mentah,"Inah mengungkit kembali permasalahan tiga tahun lalu tentang Xander.


Sandra masih diam, ia mengepalkan tangannya kuat, ia berusaha mengendalikan amarahnya, ia pikir sangat percuma kalau ia membela diri, walau ada bukti yang jelas jika Ferdi benar-benar salah.


Inah akan tetap membela putranya sendiri, sedari dulu ia mengerti perempuan paruh baya itu tak mempedulikan siapa yang salah, bagi Inah, Ferdiansyah selalu benar.


"Pokoknya ibu nggak rela kamu perlakukan Ferdi seperti ini, kalau perlu ibu akan ikut ke Jakarta lagi buat bilang ke pengadilan bahwa kamu mengada-ada, ibu juga akan bongkar bahwa kamu perempuan penipu yang telah memperdaya kami,"


Andai bisa Sandra ingin sekali membalas ucapan kurang ajar dari Inah, namun tak akan ia lakukan, ia harus bersikap tenang.


Cacian perempuan paruh baya itu baru berhenti ketika mendengar suara bapak mengucapkan salam.


"ingat, jangan sampai bapak tau tentang ini, dan ibu minta tarik kembali gugatan itu, kalau tidak ibu akan buat kamu malu ditempat kerjamu,"ancamnya lalu keluar dari kamar putranya.


Sepeninggal perempuan paruh baya itu, Ferdiansyah meminta maaf atas ucapan ibu kandungnya.


Sandra tak menanggapi ucapan lelaki itu, ia memilih keluar kamar untuk mencari putranya.


Xander terlihat sedang duduk di bangku kayu didepan rumah, bocah itu sedang menatap langit malam.


"udah malam, kamu nggak masuk?"tanya Sandra sembari duduk di samping putranya.


Terdengar helaan nafas dari bocah itu, "ma, Xander minta maaf ya, gara-gara keberadaan Xander, mama jadi susah,"ungkapnya.


Sandra merangkul putranya yang mulai beranjak remaja, "mama bersyukur adanya kamu, meskipun caranya salah, tapi kamu adalah buah cinta mama dan papa,"bisiknya.


Ia pikir putranya sudah seharusnya tau hal itu, sejak bertemu dengan papa kandungnya, Xander tak pernah bertanya mengapa keluarganya berbeda, bocah itu pendiam.


Sejujurnya Sandra sedih, sedari kecil Xander sudah sering mendengar celaan tentang asal muasalnya,


Sebutan anak haram selalu disebut untuk melabeli putranya, baik dari keluarga besarnya ataupun para tetangganya.


Sandra sendiri tak menyadari dirinya tengah hamil ketika ia pindah ke kota ini mengikuti orang tua yang harus mengurus neneknya.


Ia baru menyadari ketika kehamilannya berusia empat bulan, saat itu celana jeans yang dikenakan sudah tak bisa dikancingkan, awalnya ia pikir karena banyak makan, kebetulan nafsu makannya meningkat drastis sejak kepindahannya.


Sandra tak mengalami morning sick, dirinya juga memiliki periode menstruasi tidak teratur, karena ia baru mengalaminya saat duduk di kelas satu SMK, cukup terlambat memang.


Ia pikir memang seperti itu, nyatanya saat menyadari perut bagian bawah yang semakin membuncit, akhirnya ia memutuskan untuk membeli alat uji kehamilan di apotik yang cukup jauh dari rumah dan kampus.


Bukannya bersedih, Sandra malah senang mengetahui ada buah cintanya dengan Alex, ia pikir walau tidak tau lagi kapan bertemu kembali dengan kekasihnya, setidaknya ada jejak lelaki itu yang tertinggal.


Sejak mengetahui kehamilannya, Sandra lebih berhati-hati, ia tau jika keluarganya pasti akan menentang keras, tapi ia tak peduli, ia akan menanggung segala resikonya.


Ia juga mulai berhemat untuk biaya melahirkan dan membeli perlengkapan bayi.


Sebelum tidur ia akan mengajak bayinya bicara, menceritakan harinya juga kisah cintanya dengan sang pujaan hati.


Untuk menutupi kehamilannya, ia memakai baju oversize, jika di kampus ia akan menggunakan tas ransel didepan dadanya, sehingga teman dan dosen kuliahnya tak ada yang menyadari perubahan bentuk perutnya.


Ia juga merasa sedikit beruntung, memiliki orang tua yang sibuk, Ayahnya sibuk bekerja dari pagi sampai malam, ibunya sibuk mengurus nenek yang sedang sakit.


Namun sepandai-pandainya menyimpan bangkai akan tercium baunya juga, ibunya mengetahui saat kehamilannya memasuki usia delapan bulan.


Mengetahui itu, ibu memberitahukan pada ayah, keduanya marah besar, bahkan ayahnya yang biasanya lembut sampai memakinya dan menampar pipinya.


Mereka menanyakan siapa yang menghamilinya, namun Sandra tetap bungkam, sampai kapanpun ia tak akan memberitahu siapa ayah sang bayi, ia tau jika ia buka suara, kemarahan ayahnya bisa semakin menjadi.


Setelah itu, ayahnya mendiamkannya, siapa yang tidak kecewa, ketika putri semata wayangnya berbuat keji,


Berbeda dengan ibunya meski marah tapi masih peduli dengan dirinya, beberapa kali ia ditanya tentang makanan apa yang diinginkan, tapi Sandra menolak dengan halus dan mengatakan jika dirinya tak menginginkan apapun.


Ia masih tetap berkuliah di usia kandungannya yang telah tua, seminggu menjelang hari perkiraan lahir, ia mengajukan cuti selama satu semester, ia beralasan akan bekerja mengumpulkan uang untuk biaya kuliah.


Sandra juga mulai mencicil membeli baju bayi, jangan bayangkan ada internet seperti saat ini, yang bisa berburu barang murah di market place, saat itu ponselnya hanya bisa untuk mengirim SMS dan telepon.


Ia harus mendatangi pasar tradisional untuk membeli keperluan bayi, dengan harga miring.


Malam itu saat hujan deras menerjang kota, Sandra merasakan mulas luar biasa, ia mulai bersiap pergi ke rumah bidan tempat biasa ia memeriksakan kehamilan, namun ia bingung dengan kondisi diluar rumah.


Tak mungkin ia membangunkan ayahnya yang masih marah padanya, juga ibunya lelah karena sibuk mengurus nenek.


Terlintas dipikirannya, sepupu dari pihak ibu, yang memiliki mobil, ia menelpon Siska dan meminta tolong untuk datang ke rumahnya.


Ia tau dirinya tidak sopan mengganggu sepupunya yang tengah tertidur, tapi ia tak peduli, ia harus pergi ke tempat bidan, tak mungkin dalam keadaan begini ia menaiki motor atau mengemudikan mobil ayahnya.


Rumah Siska yang tidak terlalu jauh, membuatnya dengan segera sampai, Sandra memakai payung sambil membawa tas berisi keperluan ia dan bayi.


Siska yang terlihat masih sedikit mengantuk, terkejut dengan perut buncit milik Sandra,


"Entar aku jelasin, sekarang tolong antar aku ke tempat bidan," ucapnya sambil menyebutkan alamat bidan.


Sambil menahan sakitnya, Sandra bercerita tentang kondisinya juga siapa yang menghamilinya, ia tau hanya Siska sepupunya yang bisa dipercaya.


Saat itu Siska baru berusia tujuh belas tahun, ia tercengang dengan segala pengakuannya.


"Udah terlanjur Sa, meskipun pade marah, tapi bayi kamu adalah cucunya, aku yakin suatu saat pasti beliau akan menerimanya, terus masalah uang lahiran kalau kurang, aku bisa sedikit bantu, kebetulan aku ada tabungan kok,"


Sandra mengangguk tak lupa berterima kasih.


Malam itu, Sandra berjuang bertaruh nyawa untuk melahirkan bayinya, tak ada jeritan hanya ucapan doa yang keluar dari mulutnya.


Setengah jam berlalu setibanya di rumah bidan, ia berhasil melahirkan bayi laki-laki yang sehat nan gemuk.


Bayi dengan berat tiga ribu empat ratus gram dengan panjang lima puluh dua centimeter diberi nama Alexander, perpaduan nama dirinya dan kekasihnya.


Dalam hati ia berucap syukur telah melahirkan bayinya dengan selamat, tak ada masalah berarti.