How To Marry You ?

How To Marry You ?
enam puluh dua



Sesuai permintaan Jonas tempo hari Sandra kembali bekerja seperti sedia kala, tentu tanpa sepengetahuan Alex yang masih berada di Amerika.


Entah kapan lelaki itu kembali, minimal sebulan maksimal waktunya tak pernah ditentukan, tergantung perintah bos besar tentunya.


Sandra dan putranya masih tinggal di rumah Tante Terry, perempuan paruh baya itu yang memintanya, sebab putra semata wayangnya sibuk bekerja dan jarang pulang sehingga ia merasa kesepian.


Jonas akan tidur di rumah berlantai dua di belakang gedung, bisa dibilang itu adalah mes untuk petugas keamanan, atau tidur di lantai tujuh, bukan di kamar melainkan di sofa, tergantung kemauannya.


"Untung mbak mau bantuin, kalau nggak, gue beneran tumbang nih,"cetusnya saat mereka sedang bekerja kembali usai makan siang.


Sandra hanya menanggapi dengan senyuman.


Sejak bekerja kembali, Sandra tak lagi menjemput putranya di sekolah, Tante Terry atau Choki yang akan menjemput Xander, sehingga Sandra bisa fokus bekerja.


Ada beberapa omongan dari karyawan lain, terutama bagian keuangan mengenai kembalinya dirinya bekerja, wajar saja, tapi Sandra tak peduli, toh ia hanya ingin membantu Jonas tapi mendapatkan gaji.


Sepeninggal Alex, Jonas lah wakilnya, yang akan memimpin, meskipun masih berusia muda, tetapi cukup kompeten.


Itu juga di akui oleh para penghuni lantai enam, yang sebagian besar mereka yang berusia diatas tiga puluh hingga lima puluhan.


Waktu berlalu, siang itu Sandra baru saja kembali dari pengadilan bersama Hermawan, terlihat raut wajah sumringah dari wanita beranak satu itu.


Sandra mengucapkan terima kasih pada pengacara yang sudah banyak membantunya dalam proses perceraiannya juga memintanya agar merahasiakannya.


"Gimana mbak?"tanya Jonas yang sedang duduk di kursi kerjanya.


Sandra menunjukan selembar kertas lalu memberikannya pada lelaki itu,


"wah, selamat ya mbak, kudu dirayain nih,"ucap Jonas pada rekannya, "entar malam ke club' yuk, ajak Chiko juga,"


Sandra mengambil kembali akta cerai itu ia menyimpannya di tas, lalu duduk di kursi yang bersebelahan dengan Jonas.


Meskipun Jonas wakil dari Alex, lelaki itu tak mau menempati ruang kerja sepupunya, ia lebih nyaman duduk di ruang sekretaris.


"ngapain ke club'?"tanya Sandra heran, wanita itu kembali menyalakan komputernya.


Jonas menghentikan ketikannya, lalu menoleh pada perempuan disebelahnya, "jangan bilang mbak belum pernah ke club'?"


"pernah lah, aku kan mudah disini,"sahut Sandra terlihat gugup.


Lelaki itu menggerakkan kursi beroda agar lebih dekat ke arah rekam kerjanya, "kapan tepatnya? Nggak usah ngaku-ngaku, emang mbak pikir, Abang nggak cerita ke gue, dulu ngapain aja sama mbak, lagian se-brengsek-brengseknya Abang, nggak mungkin biarin mbak masuk ke tempat kayak gitu,"


Dibanding Alex, Sandra akui Jonas lebih kritis dan punya bakat dalam hal mengintimidasi orang lain, sehingga yang bersangkutan tak bisa berbohong padanya.


Sandra mendorong pegangan kursi agar lelaki itu menjauhinya, "iya deh, mbak emang belum pernah ke club' cuman dengar dari temen-temen dulu, lagian ngapain ke sana, ada-ada aja,"


"Mbak, di sana kita bukan hanya numpang mabok dan buang lendir, tapi kita bisa joget-joget, seru tau, mumpung nggak ada Abang,"


"Terus Xander gimana?"tanya Sandra.


Jonas menghela nafas, "kan Ada mama yang jagain, mau ya mbak, entar gue booking table di sana, sekalian ajak Chiko,"


Sandra terdiam sejenak, sepertinya ia harus mencobanya, "tapi aku nggak mau minum alkohol dan sejenisnya, aku cuman nemenin kamu sama Choki aja,"


Senyum mengembang menghiasi wajah lelaki tampan itu, "gitu dong, sekali-kali mumpung nggak ada Abang, sekali seumur hidup seenggaknya kita harus nakal mbak,"


"lah menurut kamu mbak nggak nakal gitu, kamu lupa adanya Xander karena mbak yang nakal,"ungkap Sandra kesal.


"Nakal tapi nikmat,"sahut Jonas sambil tertawa terbahak-bahak.


Sandra yang kesal melempar pulpen ke arah rekannya, tepat mengenai pelipis lelaki itu,


Jonas mengumpat kaget, sedangkan Sandra tertawa puas melihat ekspresi rekannya itu.


Malam hari usai menyelesaikan pekerjaan, ketiganya menuju salah satu club' yang katanya langganan sahabat Alex.


Kedua lelaki itu sempat protes pada Sandra yang hanya mengenakan pakaian formal, kemeja biru muda dan celana hitam, apalagi pakaian itu telah dikenakan sedari pagi.


"berisik, lagian masih wangi kok,"bela Sandra tak terima.


"up to you mbak, pokoknya di sana jangan sampai jauh dari kita,"ucap Choki memperingatinya.


Sandra yang duduk di jok belakang hanya berdehem, malam ini dirinya yang diminta mentraktir kedua lelaki itu, sebagai perayaan resminya ia menjadi janda.


Begitu masuk di area club', kesan pertama yang dirasakan Sandra adalah berisik,


Jonas menggandeng tangannya dan berjalan didepannya, sedangkan Choki mengikutinya dari belakang.


Sofa merah disalah satu sudut club' menjadi tempat ketiganya duduk, Sandra diapit oleh kedua lelaki itu,


Jonas memesankan minuman yang tak mengandung alcohol sama sekali, bisa gawat kalau sampai wanita abangnya mabuk.


Sebelum minuman datang, Jonas mengajak Sandra untuk berjoget, berbaur dengan pengunjung yang lain.


Awalnya Sandra menolak, karena ia juga tak pandai berjoget, namun Jonas dan Choki memaksanya, sehingga ia tak kuasa menolak.


Sandra hanya berdiri terdiam sambil mengamati sekelilingnya, para perempuan dengan pakaian seksi meliukkan tubuh ya mengikuti alunan musik yang dibawakan oleh dish jockey.


Jonas memegangi pinggang ramping Sandra dan mengajaknya berjoget, risih tapi ia berusaha menyesuaikan diri, meskipun sedikit kaku.


"mbak kenapa Lo cantik banget sih? Pantes Abang tergila-gila,"ucap Jonas di telinganya.


Seketika Sandra merinding, ia menatap bingung lelaki yang lebih muda dihadapannya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Beberapa pasangan disekitar keduanya, tak segan berciuman sambil terus meliukkan tubuhnya.


Sandra melotot kaget, ia sampai menggelengkan kepalanya, ia tak menyangka akan melihat adegan seperti itu langsung.


Jonas menyunggingkan senyumannya, "mbak mau coba?"ucapnya ditelinga wanita dihadapannya.


Sandra menggeleng, apa sepupu Alex sudah gila? Bagaimana mungkin lelaki muda dihadapannya berani mengucapkan hal yang tabu menurutnya?


Malas menanggapi, Sandra memilih tak menatap wajah lelaki yang lebih muda dihadapannya, seingatnya Jonas sama sekali belum minum alkohol.


Jonas mengulurkan kedua telapak tangannya pada kedua sisi wajah Sandra, lalu tanpa banyak bicara lelaki itu mencium dan ******* bibir yang sedari tadi membuatnya penasaran.


Sandra melotot, ia terkejut dan berusaha memberontak, ia sama sekali tak membalas ciuman dari sepupu Alex itu.


Hingga Jonas melepaskan sendiri ciumannya, lalu berbisik, "Jangan ngarep gue minta maaf, karena gue emang pengen ngelakuinnya,"


Kesal, Sandra memilih keluar dari kerumunan, ia berjalan menuju sofa dimana Choki menunggu,


Ia harus dibuat terkejut dengan kelakuan lelaki yang baru berusia dua puluh lima tahun itu, Choki sedang memangku seorang perempuan bergaun Hitam yang terbuka di beberapa bagian.


Saat hendak berbalik, Sandra dibuat terkejut lagi, beruntung jantungnya sehat, sehingga tak harus dibawa ke rumah sakit, karena hanya beberapa saat saja, entah ke berapa ia terkejut.


Jonas berdiri tepat dibelakangnya, "mau nyoba mbak?"tanyanya dengan wajah konyol khasnya.


"aku mau pulang,"jawab Sandra kesal.


Jonas tersenyum, "belum minum, kita kan harus merayakan status baru mbak,"sahutnya.


"kamu sengaja ya,"


"Kalau iya kenapa? emang salah?"tanya Jonas lagi sedikit mengencangkan suaranya.


"Alex tau, abis kamu,"


"Ya jangan sampai tau, lagian mbak, Abang jauh ini,"


"wong edan,"maki Sandra kesal.


Jonas bingung, dengan apa yang diucapkan wanita dihadapannya, "ngomong apa sih mbak,"


"Ra urus, aku mau pulang sekarang,"


"mbak, gue belum minum,"


"Terus kalau kamu mabuk, kamu tambah kurang ajar sama mbak gitu,"


"kalau mbak mau gue kurang ajar, dengan senang hati gue jabanin, seru mbak main sama rekan kerja, lebih berpengalaman lagi,"


Merasa omongan Jonas semakin kacau, Sandra memilih berlalu menuju pintu keluar, ia benar-benar kesal, dengan rekan kerja sekaligus sepupu Alex itu.


Belum sampai pintu keluar, tangannya dicekal, "disini dulu mbak, minum aja belum, kalau Lo nggak mau main sama gue, seenggaknya tungguin, gue butuh pelampiasan, kepala gue pening, entar gantian sama Choki,"


Sandra merasa tertipu dan terjebak oleh lelaki itu, kesal tentu saja, tapi ia tau watak dari Jonas yang tak jauh berbeda dengan Alex, keras kepala, egois dan berbuat semaunya,


Akhirnya ia menurut, dan kembali berjalan menuju sofa merah, Choki sudah tak berada di sana, menurut Jonas, rekannya sedang menyewa kamar.