
Sejak Kepergian Fernando ke pulau kosong yang ada Pasifik Selatan, akibat sifat kekanak-kanakan Benedict, bukan hanya berimbas dengan berhentinya pencarian istri lelaki dengan rambut cokelat itu,
Rama bahkan mengundurkan hari pernikahannya, sebenarnya bukan hanya masalah pekerjaan yang menumpuk, tapi karena Sinta dan keluarganya marah besar dengan pengakuan Citra yang mengaku jika mantan tunangannya itu hamil anaknya.
Beruntung atas bantuan para sahabat Rama, fitnah itu segera dibuktikan kebenarannya, nyatanya putusnya hubungan pertunangan itu sudah berlangsung hampir setahun yang lalu, meskipun Citra terkadang berkunjung ke apartemen Rama, tapi keduanya tak pernah tidur bersama lagi, karena Rama selalu mengusir mantan tunangannya itu, ada rekaman cctv, yang menunjukan, jika Citra tak lebih dari lima menit berada didalam unit apartemen milik Rama.
Atas usul Alex, acara pernikahan Rama dipindahkan di resort yang selama ini dikelola oleh Fernando.
Berbeda dengan Rama yang masih bisa tetap menikah meskipun harus diundur, sementara Alex dan Sandra, masih belum mendapatkan kejelasan tentang muara hubungan mereka.
Sepeninggal Fernando, Hanya Alex yang menghandle pekerjaan lelaki blasteran itu, tentu sebagai sahabat yang baik, ia akan dengan sukarela mengambil seluruh tanggung jawab pekerjaan yang seharusnya bisa bergantian dengan Rama, tapi mengingat sahabatnya itu harus segera melangsungkan pernikahan, itulah alasannya Alex harus menunda rencana pernikahannya.
Mengenai Opa kecil, Lelaki tua itu membatalkan kedatangannya ke ibukota, tentu ada alasan yang melatarbelakanginya, Alex mengirimkan uang dalam jumlah besar, sesuai dengan permintaan opa kecil, tak apa asal Sandra dan putranya tak menerima perkataan ketus lelaki tua itu.
Waktu berlalu begitu cepat, kurang sebulan lagi Fernando kembali, hubungan Alex dan Sandra masih stuck ditempat, keduanya juga tak lagi membicarakan tentang pernikahan, mereka hanya menjalani hidup bagai air mengalir.
Pernah suatu ketika Alex menyingung pernikahan saat mereka menghadiri pernikahan Rama dan Sinta, tapi jawaban Sandra diluar ekspektasinya, "biar waktu yang jawab Alex, toh selama ini kita baik-baik saja, lalu kamu juga sibuk banget bukan? Jadi tidak usah dipikirkan, biarkan mengalir seperti air,"
Alex merasa tertampar dengan ucapan kekasihnya, tapi memang itu faktanya, ia yang menjadi super sibuk, benar-benar tak ada lagi waktu untuk mengurus hal itu.
Profesinya sebagai pengacara juga berhenti sejenak, mungkin sampai Fernando kembali, semua kliennya dialihkan pada partnernya penghuni lantai enam, walau sebagian dari mereka harus kecewa.
Pekerjaan Alex saat ini, hanya mengurusi resort dan villa, taman bermain di Malang, juga pekerjaan yang lainnya.
Selama hampir setahun ini, Alex juga nyaris tak mengajak Sandra dan putranya untuk liburan,
Merasa bersalah dengan hal itu, Alex tak lagi membatasi pergerakan Sandra, hanya saja, ia meminta agar kekasihnya menjaga jarak dengan Ferdiansyah,
Karena itu pula, Beberapa kali Alex mengijinkan kekasih dan putranya, berlibur ke luar negeri bersama Natasha, rencana yang direncanakan sudah lama juga baru terealisasi usai Xander menyelesaikan ujian kelulusan sekolah dasar.
Selang sebulan, ketiganya mengunjungi Korea untuk melihat konser boyband kesukaan Natasha.
Tak mengapa bagi Alex, setidaknya itu yang bisa dilakukannya, agar Sandra dan puteranya bahagia meski tanpa dirinya.
Miris memang, sebenarnya bukan hanya Fernando yang jauh di sana, Alex juga merasa galau dengan keadaan ini.
Tak mungkin pula, ia melawan bos sekaligus sahabatnya yang dengan seenaknya berbuat seperti itu,
Walau Alex bukan orang yang kekurangan sedari kecil, bukan juga orang kaya raya, mendingan papanya lebih dari cukup memenuhi kebutuhannya dan Maria, hanya saja tak sampai bisa membelikan gedung dan kantor pengacara.
Bisa saja Alex menentang atau membantah sikap semaunya Benedict, tapi akan dirasa dirinya yang tidak tau diri, bagaimanapun berkat sahabat sekaligus bosnya itu, ia bisa sampai dititik ini.
Cita-citanya menjadi pengacara dan memiliki kantor sendiri terwujud berkat pertolongan Benedict.
Berbeda dengan Fernando yang dari awal tidak ada niatan untuk mengelola resort, karena tanpa bantuan Benedict, lelaki berambut cokelat itu sudah memiliki villa sendiri dan usaha pengelolaan anggur di negara asal fatre-nya.
Oscar juga sama dengannya, impiannya menjadi dokter bedah terwujud berkat kebaikan Benedict, bahkan sepupu dari Natasha itu dibelikan rumah sakit, hasil dari akuisisi beberapa tahun yang lalu.
Alex menghela nafas lelah, ia sedang berada di ruang kerja Fernando, sebulan lagi ia harus bersabar menunggu kepulangan sahabatnya.
Ingin rasanya meminta wanita itu untuk menyusulnya, tapi bagaimana dengan putranya? Ah... ia juga rindu pada bocah itu.
Xander bersekolah di SMP Negeri tempat Sandra mengenyam pendidikan dulu, karena lebih dekat dengan rumahnya, sehingga tanpa dijemput, putranya bisa pulang sendiri.
Awalnya Alex meminta agar putranya bersekolah di SMP tempatnya mengenyam pendidikan, tapi karena itu adalah sekolah dengan keyakinan dianutnya, membuat Sandra menentangnya, ia bisa mengerti kenapa kekasihnya menentangnya.
Alex tau, sedari kecil putranya telah dididik untuk mengikuti keyakinan sang mama, ia tak ingin berdebat karena masalah itu sehingga ia mengalah dan berusaha mengerti.
Disisi lain, Sandra dan putranya tengah dalam perjalanan menuju rumah sakit, untuk menjemput Natasha,
Malam nanti mereka akan bertolak menuju pulau Dewata, ketiganya akan berlibur selama dua hari di sana,
Tak ada yang memberitahukan pada Alex, ketiganya ingin memberi kejutan.
Sandra dan putranya memilih menunggu di parkiran, keduanya sedang terlibat obrolan serius, bisa dibilang Xander sedang curhat mengenai beberapa teman seangkatannya dan kakak kelas yang memberikan beberapa hadiah padanya.
"jadi menurut mama, Xander harus gimana?"tanyanya.
Sandra tersenyum, inilah yang diharapkannya, putranya selalu menceritakan segala sesuatu yang dialami tanpa terlewat, "bukannya mama mendukung kamu untuk berpacaran ya, tapi mama bertanya, apa diantara mereka ada yang Xander sukai?"tanyanya.
Remaja itu menggeleng,
"apa alasannya?"tanya Sandra, ia sedikit ketar ketir, apalagi baru-baru ini ia mendengarkan selentingan kabar burung yang mengatakan jika kaum nabi Luth telah menyebar ke sekolah-sekolah.
"Karena mereka genit, Xander nggak suka, Xander ingin seperti papa yang mengejar cinta mama, dan mama yang berusaha menghindari papa, biar ada tantangannya gitu loh ma,"jawabnya menggebu-gebu.
Sandra sedikit bingung, tapi tak berani bertanya pada putranya, mungkin Alex pernah bercerita tentang awal mula lelaki itu mengejar-ngejar dirinya sewaktu remaja dulu.
"Jadi menurut mama apa yang harus Xander lakukan agar mereka tak mengejar-ngejar, aku risih, mereka ganggu banget,"keluhnya.
"apa kamu pernah menolak mereka dengan tegas?"tanya Sandra memastikan.
"tentu saja sudah, tapi mereka malah menangis dan menarik perhatian teman-teman yang lain, seolah aku yang menyakiti mereka, aku benci itu mama, apa Xander pindah sekolah saja?"
Sandra menghela nafas, "itu bukan solusi Xander, saran mama coba kamu bersikap dingin pada mereka, kurangi sikap ramah kamu, dan berkata yang ketus tanpa menyakiti,"sarannya.
"baiklah Xander coba, tapi nanti aku tanya papa juga deh,"
"salah alamat kalau kamu tanya ke papa,"
"kenapa?"tanya remaja itu bingung.
"Karena setau mama, dulu papa banyak memiliki teman perempuan,"jawabnya.
Obrolan mereka terhenti saat Natasha datang mengetuk kaca mobil, meminta untuk Sandra membuka bagasi, agar bisa meletakan koper milik dokter kandungan itu.