How To Marry You ?

How To Marry You ?
seratus enam



Sandra baru saja masuk ke ruang kerjanya, wanita itu terlihat lelah, bahkan dibawah matanya terlihat menghitam.


"Anda sangat terlambat ibu Sandra Wijayanti,"Fernando yang tengah sibuk didepan laptopnya menegur wanita beranak satu itu.


Helaan nafas terdengar, Sandra duduk di kursi kebesarannya, ia mengambil telpon, menghubungi salah satu OB agar membuatkannya kopi hitam kental tanpa gula, sepertinya asupan kafein ia butuhkan disaat dirinya amat sangat mengantuk.


"Lo kenapa nggak nelpon gue sih?"tanyanya kesal, ia baru tidur dini hari sekitar jam dua malam lalu jam empat pagi ia terbangun kembali akibat ulah lelaki menyebalkan sekaligus ia cintai.


Fernando menghentikan pekerjaannya, ia menatap wanita yang ada diseberang meja, "Lo cek hape deh, gue nelpon Lo jam enam pagi, tapi Alex yang angkat, abis gue dimaki-maki pagi-pagi, dia bahkan ngancem gue kalau masih deket-deket lo, karena itu gue pikir dia bakal nganter lo!"jelasnya.


"Nganter apaan sih do, gue kalau bukan Mbak Ninik yang bangunin gue, bisa tengah hari gue nyampe kantor, lagian Alex udah berangkat ke Bali, dia cerita abis kena semprot Rama,"


Fernando terkekeh, "lagian nggak profesional banget, bukannya kerja malah kabur,"sahutnya.


"gara-gara mulut Lo Dodo, dia nekad kesini, dia cemburu sama lo, disangka lo mau macem-macem sama gue,"


Fernando tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kesal rekannya, namun tawanya harus terhenti ketika ponselnya berdering, terlihat nama Alex di layar,


"nggak usah deket-deket cewek gue, sialan, jaga jarak, nggak usah ngobrol diluar kerjaan, Awas aja lo," setelah mengatakan hal itu, Alex mengakhiri panggilannya, tanpa mendengar ucapannya.


"kok, Alex tau gue lagi becanda sama Lo!"


Sandra menunjuk dua cctv yang berada didepan pintu masuk dan dipojok samping meja kerjanya.


Fernando mengikuti arah telunjuk rekannya, "Gila tuh orang, segitunya ngawasin kita, awas aja gue kerjain, biar tambah kebakaran jenggot,"


Sandra hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah kekanakan rekan kerjanya.


Jam kerja Usai, seperti biasa Fernando mengantarkan Sandra, sembari membahas pekerjaan, tinggal besok, Lelaki blasteran itu membantu, karena lusa ia akan mulai cuti selama seminggu.


Rama mengatakan, jika sekembalinya Benedict pekan depan, bosnya itu yang akan menggantikannya.


"Besok Lo kerja sekalian bawa baju buat tiga malam dua hari sa, sekalian bilang sama anak Lo suruh siapin juga, entar suruh Choki antar ke rumah sakit sore sebelum kita balik, biar nyampe Sukabumi nggak terlalu malam,"ujar Fernando sambil mengemudi.


Sandra mengangguk, "sayang ya Asha nggak bisa ikut,"sahutnya.


"Bisa sebenarnya Sabtu malam bareng Oscar, tapi kalau mereka mau sih,"


Keduanya membicarakan rencana kunjungan ke rumah umi Fatimah yang ada di Sukabumi, juga tentang kegiatan yang akan mereka lakukan.


Setibanya di rumah, Sandra memberitahu putranya, tentang rencananya menghabiskan akhir pekan berkunjung ke kampung halaman lelaki yang biasa dipanggil uncle bule oleh remaja itu, dan reaksi Xander sudah pasti sangat senang.


Malam remaja itu dengan antusias memasukan beberapa pakaian kedalam tas ranselnya, Sandra mengingatkan agar membawa setidaknya satu jaket tebal, karena seingatnya di kampung halaman umi Fatimah, akan sangat dingin di malam hari.


"jangan kasih tau papa ya, Xander nggak mau papa ganggu liburan kita,"pintanya, sementara Sandra mengangguk menyetujui permintaan putra semata wayangnya.


Keesokan harinya saat pulang kerja, ketiganya berangkat menuju Sukabumi, tadi Natasha sempat mengantarkannya hingga parkiran, terlihat wajah lesu gadis itu karena tak bisa menghabiskan akhir pekan bersama.


Sepanjang perjalanan, lebih banyak Fernando dan Xander yang berbicara, Sandra hanya menanggapi sesekali, pembicaraan seputar kegiatan sekolah, juga pengalaman Lelaki blasteran itu selama di pulau.


Ketiganya sampai di rumah umi Fatimah, usai azan isya.


Sayangnya wanita paruh baya itu sedang menghadiri acara di kampung sebelah dengan diantar mang Hendi.


Sebagai tuan rumah, Fernando menjamu tamunya dengan baik, meskipun lelaki itu paling malas jika harus berhubungan dengan dapur, namun demi menghargai tamunya, ia terpaksa melakukannya.


Untungnya tadi mereka sempat membeli martabak untuk dibawa sebagai buah tangan untuk umi Fatimah.


"emang Lo nggak ngasih tau kalau mau balik do?"tanya Sandra sambil menikmati martabak manis yang disajikan.


"niatnya mau gue kasih kejutan, eh malah umi nggak ada,"jawab Fernando, lelaki itu sedang makan cake strawberry yang dibawanya dari ibukota.


Tak lama kemudian, sebuah salam terdengar dari ruang tamu, itu Umi Fatimah yang datang membawa bungkusan.


Fernando menghampiri ibu kandungnya, mencium punggung tangannya lalu memeluknya, "Nando kangen umi,"


Umi Fatimah membalas pelukan sang putra, namun saat melihat wanita dan remaja yang berdiri di belakang Fernando, ia melepaskan pelukannya,


"itu siapa do?"tanyanya pada putranya.


Fernando tersenyum dan menyuruh kedua tamunya untuk mendekat dan mengalami umi Fatimah.


Sandra bergantian dengan Xander menyalami perempuan paruh baya itu, tak lupa mencium punggung tangannya,


"coba umi ingat-ingat, siapa dia?"


Umi Fatimah diam, memperhatikan wanita yang mengenakan sweater berwarna cokelat muda, "jangan ngerjain umi deh, udah ngomong aja siapa perempuan ini?"


Sandra tersenyum, Lalu memeluk umi Fatimah, "Sasa kangen Umi,"


Umi Fatimah melepaskan pelukan itu lalu memegang kedua lengan wanita diwajahnya, "Ya ampun Sasa, kemana aja sih?"


Fernando mempersilakan kedua wanita itu duduk agar lebih nyaman mengobrol, sementara ia dan Xander beranjak menuju kamarnya.


"kamu kemana aja sih Sasa? abis lulus nggak ada kabar,"tanya Umi Fatimah


Sandra menceritakan tentang alasan kepergiannya, yang harus mengikuti kedua orang tuanya pindah ke Semarang demi menjaga nenek yang telah sakit, juga tentang kuliahnya.


"lalu, apa tadi itu anak kamu?"tanya Umi Fatimah.


Sandra mengangguk, lalu menunduk tak enak dengan ibu dari salah satu sahabat kekasihnya.


Sandra kembali mengangguk lalu menceritakan awal mulai ia mengetahui jika dirinya hamil, hingga ia melahirkan dan membesarkan putra semata wayangnya.


Umi Fatimah menghela nafas, "sudah jalan hidupmu Sa, jangan bersedih pasti ada hikmahnya, lalu bagaimana hubungan kamu dengan Alex setelah dia tau kamu punya anak darinya?"


Sandra kembali menceritakan jika Alex memaksanya untuk tinggal bersama, juga tentang ancaman lelaki itu akan mengambil alih hak perwalian dari putra semata wayangnya.


Umi Fatimah menggeleng, "yang kuat ya sa, umi mengerti dengan posisi kamu, seorang ibu akan melakukan apapun untuk anaknya, meskipun begitu, kamu jangan mau diajak terus menerus melakukan dosa, apa kalian nggak ada rencana menikah?"


"ada rencana mi, Alex memang mau mengikuti keyakinan Sasa, tapi Sasa nggak yakin, jika Alex akan jadi imam yang baik,"jawabnya menunduk.


Umi Fatimah memeluk Sandra menepuk pundaknya pelan, "sabar Sa, terus berdoa, jika memang sudah tak sanggup, menyerah lah, putra kamu sudah mulai besar dia berhak memilih mau ikut siapa, pesan umi jangan terus menerus melakukan dosa, karena itu akan ada balasan nanti,"


Sandra mengangguk sambil terisak, sudah lama ia tak merasakan pelukan hangat seorang ibu.


Umi Fatimah melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata di pipi Sandra, "sekarang istirahat, kamu pasti capek,"


Sandra mengangguk, malam ini ia akan tidur bersama umi Fatimah sementara Xander dengan Fernando, meskipun rumahnya lumayan besar tapi hanya ada dua kamar saja.


Sandra bangun pagi-pagi sekali beribadah bersama umi Fatimah, juga mengaji, hal yang sudah sangat lama tak ia lakukan, begitu juga dengan putranya bersama Fernando di masjid tak jauh dari rumah.


Rasanya menyenangkan sekali, Sandra bisa merasakan ketenangan berkat umi Fatimah.


Usai mengaji keduanya memasak untuk sarapan, setelahnya mereka makan bersama.


Pekerjaan rumah beres, Fernando mengajak Sandra dan Xander menuju ke sawah milik umi Fatimah, mereka duduk di saung sambil menikmati pemandangan sawah yang baru beberapa hari yang lalu ditanami.


Beberapa kali Fernando mengambil foto dari kamera miliknya,


Sandra melihat putranya tak sengaja terpleset sehingga jatuh ke sawah saat berlarian di pematang, alhasil baju remaja itu terkena lumpur, bukannya menangis atau kesakitan, Xander malah tertawa lepas.


Sedari kecil putranya tak pernah hidup di kampung seperti ini, sebagai anak yang lahir dan besar di kota, bisa dibilang Xander cukup norak jika melihat sawah.


Remaja itu bagai anak SD yang berlarian kesana kemari saking bahagianya.


"Anak Lo norak tau nggak sa, kayak gue waktu pulang dari german dulu,"ucap Fernando sambil tertawa melihat tingkah lucu remaja itu.


Sandra tau jika lelaki blasteran itu lahir dan menghabiskan masa kecilnya di salah satu negara di Eropa.


"oh ya do, Lo masih ada komunikasi sama Tamara nggak?"tanyanya.


"komunikasi sih nggak, beberapa kali gue dengar kabar tentang dia, katanya dia udah nikah dan punya anak di luar negeri,"jawab lelaki berambut cokelat itu.


"jangan-jangan itu anak Lo do,"cetus Sandra tiba-tiba.


Fernando tertawa, "kalau iya harusnya dia minta pertanggung jawaban sama gue lah,"sahutnya.


"Lo amnesia apa gimana do, Lo kan sama kayak gue,"


Hubungan Fernando dengan pacar pertamanya sama seperti Sandra dengan Alex, mereka berbeda keyakinan.


"Ya seenggaknya dia bisa minta pertanggung jawaban dalam bentuk materi sa, walau nggak bisa nikah, sama kayak Lo aja sama Alex,"


"kalau cuman pertanggung jawaban dalam bentuk materi nggak apa-apa sih, cuman Lo tau sendiri Alex kayak apa sama gue,"


Fernando diam berpikir, "Sa, kenapa kita nggak bikin simpel aja ya, gue sama Lo, Alex sama Cristy, biar sama-sama satu keyakinan gitu?"cetusnya tiba-tiba.


Sandra tertawa, bisa-bisanya lelaki blasteran itu memiliki pemikiran seperti itu, apa dia lupa tentang aturan tak tertulis di perkumpulan mereka? Tentang tidak boleh berbagi wanita.


"masalahnya do, gue dan elo sama-sama nggak ada rasa cinta, misal kalau gue sama Lo, Rara mau dikemanakan? Lo lupa lagi nyariin dia,"


"bener juga ya! Tapi Sa, kalau Rara nggak ketemu, Lo nikah sama gue aja, biarin Alex kebakaran jenggot,"


"Nyari perkara aja sih do, ampun deh, mending Lo sama Asha yang masih perawan,"


Tiba-tiba ada ide terlintas dalam pikiran Fernando, "Sa, kita foto bareng yuk,"


"apa-apaan sih Lo, gue tau apa yang mau Lo lakuin, nggak usah ngadi-ngadi deh,"


"sekali aja sa, gue janji sepulang dari sini, Lo gue beliin tas merek kremes edisi terbatas,"rayu Fernando, ia tau jika Sandra sama seperti Natasha yang gemar mengkoleksi tas mewah.


"gue bisa beli sendiri do, Lo lupa sekarang gue kerja dimana,"


"ayolah sa, sekali aja, orang cuma foto doang, masa nggak boleh,"


Sandra melihat putranya yang sedang bermain di parit disisi pematang sawah.


"sekali doang ya,"


Fernando mengangguk sambil tersenyum puas.


Mereka duduk bersebelahan di saung, tangan kiri Fernando merangkul pundak wanita itu, sementara tangan kanannya memegang ponsel, "Sa, senyum yang lebar, buat kenang-kenangan,"pintanya.


Fernando mulai menghitung dan saat hitungan ketiga bersamaan dengan ia mencium pipi wanita disebelahnya.


Setelahnya, lelaki itu berlari menjauh sambil berteriak kegirangan, "makasih Sasa, entar gue kirimin ke Alex,"


Sandra hanya bisa mengumpat dalam hati, benar-benar sialan lelaki satu itu, bisa marah besar Alex kali ini, kemarin terakhir kali saja, kekasihnya menggempurnya habis-habisan.


Pelajaran buat dirinya agar tak terpengaruh bujuk rayu lelaki blasteran itu, untuk ketentraman hidupnya.