
Sandra berpamitan pada Alex hanya lewat panggilan video, terlihat wajah suram lelaki itu, niat hati ingin menghabiskan waktu bersama, nyatanya pekerjaan Alex tak memungkinkan untuk bertemu dengannya.
Meskipun mereka bos dan sekertaris, tapi beberapa hari ini Alex didampingi Jonas bekerja diluar, Sandra tentu tau apa yang dilakukan kekasihnya.
Kalau ada kesempatan, Alex akan mengiriminya pesan berisi foto kegiatan yang dilakukan lelaki itu juga ungkapan cinta dan kerinduan.
Mungkin diluar sana, Alex dinilai sebagai sosok yang ramah, murah senyum dan royal, selain itu bawahannya selain penghuni lantai enam, menganggap lelaki itu adalah orang yang berwibawa.
Tapi jika sedang bersama dengan Sandra hal itu bertolak belakang, Alex adalah lelaki manja, keras kepala, egois, dan berkemauan kuat.
Sedari dulu memang seperti itu, Sandra sangat mengerti juga menerima tingkah kekanakan Alex, tak masalah, padahal ia lebih muda satu tahun dari lelaki itu.
"Nggak boleh lebih dari empat hari, Minggu malam, kamu harus udah sampai Jakarta, kalau enggak aku akan menyusul kamu ke sana, kamu tau bukan, aku dengan mudah melacak keberadaan kamu,"pesan Alex beberapa saat yang lalu.
Sandra sebagai sekertaris Alex tentu tau profesi apa saja yang dilakukan lelaki itu, selain sebagai advokat, kekasihnya adalah seorang detektif, di lantai tujuh, ada sebuah pintu rahasia, di sana ada banyak alat yang mendukung salah satu profesinya.
Sehingga Lelaki itu dengan mudah akan menemukan keberadaannya.
Hal itu tentu diketahui oleh Benedict dan kawan-kawannya.
Sebenarnya sahabat yang lain menyayangkan kepergian dirinya dan Natasha secara bersamaan, mengingat esok adalah hari bahagia Benedict.
Apa mau dikata, harusnya pernikahan itu diadakan beberapa pekan yang lalu, namun karena calon mempelai perempuan merajuk, jadilah tertunda hari bahagia itu.
Meskipun tidak bisa melakukan percakapan secara langsung, karena mendadak lelaki itu mematikan ponselnya, Sandra dan Natasha telah mengirimi ucapan selamat melalui pesan singkat pada Benedict.
Tak lupa kado yang dititipkan untuk Ayudia.
Kamis sore usai jam kerja selesai, Sandra membersihkan diri di lantai tujuh tempat tinggal Alex, ia dan putranya mandi secara bergantian.
Setelah keduanya rapih, mereka turun ke parkiran, Sandra memilih salah satu mobil MPV mewah berwarna hitam milik Alex,
Lelaki itu tak bertanya mengapa dirinya memilih mobil dengan kapasitas besar, bukan yang biasanya digunakan sehari-hari.
Sandra terlebih dahulu menjemput Natasha di rumah sakit, gadis itu baru saja menyelesaikan operasi terakhir sebelum cuti.
Gadis yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu, memasukan koper hijau muda ke bagasi belakang, lalu masuk ke kursi di samping kemudi.
"gue pikir Lo pake mobil yang biasa, emang Alex nggak nanya, kan taunya kita pergi bertiga doang,"ujar Natasha sambil memasang seatbelt.
Sandra mulai menjalankan mobilnya, "karena lagi sibuk kali, jadi dia nggak ngeh, baguslah seenggaknya udah bisa bawa ni mobil,"sahutnya.
Sementara Xander di jok paling belakang sambil memainkan ponselnya, tadi bocah itu sempat menyapa Natasha.
"Sa, Lo segitu baiknya sama mas Ferdi dan orang tuanya, padahal kalau dipikir-pikir mereka kan jahat sama Lo!"
"Mereka begitu juga punya alasan Asha, selama setahun gue nikah, mereka luar biasa baik banget sama gue, tapi setelah tau aib gue, sikap mereka berubah seratus delapan puluh derajat, biarin lah, toh dikit lagi kami bakal jadi mantan keluarga,"
Beberapa menit kemudian, mobil memasuki parkiran rumah sakit dimana Ferdiansyah dirawat.
Natasha dan Xander memilih tetap di mobil, sementara Sandra harus menyelesaikan terlebih dahulu segala tagihan rumah sakit.
Tadi saat jam makan siang, Sandra juga telah melakukan cek out sekaligus melunasi biaya sewa kamar hotel yang ditempati orang tua Ferdiansyah.
Alex pernah berkata, "aku kasih uang untuk keperluan pribadi kamu, beli baju, tas, sepatu atau apapun itu, kalau kurang kamu bilang aja, nanti aku transfer lagi, sementara gaji sebagai sekertaris, kamu bisa tabung, untuk masa depan kamu,"
Yang digunakan untuk Ferdiansyah dan orang tuanya adalah uang gaji sebagai sekertaris juga uang bonus dari Benedict.
Urusan dengan bagian kasir selesai, Sandra baru beranjak naik menuju ruang rawat Ferdiansyah.
Sesampainya di sana, ketiganya sudah siap dan sedang menunggu kedatangannya.
Karena tak sempat mampir membeli bingkisan untuk perawat yang berjaga, Sandra memesankan makanan cepat saji.
Ia berterima kasih pada perawat, karena telah mengurus dan merawat Ferdiansyah.
Sandra mengirimi pesan pada Natasha untuk membawa mobil ke depan lobby, agar Ferdiansyah bisa langsung naik, mengingat kondisi lelaki itu yang tidak memungkinkan.
Terlihat wajah terkejut dari ketiga orang itu, begitu melihat mobil yang akan mereka naiki, terutama Ferdiansyah, lelaki itu jelas tau berapa harga mobil mewah itu.
Ibu duduk bersama Ferdiansyah di jok tengah sementara bapak duduk di belakang bersama Xander.
Sandra mengambil alih kemudi, karena sesuai kesepakatan, ia terlebih dahulu yang mengemudi, sehingga Natasha bisa tidur.
"Sampai Tegal, gantian gue yang nyetir,"ucap gadis itu sebelum memejamkan mata.
Sebagai seorang dokter kandungan yang jam kerjanya tidak menentu, Natasha harus sebisa mungkin memanfaatkan waktu luangnya untuk tidur.
Sejak menggeluti profesinya itu, Natasha harus siap dua puluh empat jam ditelpon pihak rumah sakit, mengingat ibu yang hendak melahirkan tak kenal waktu, entah pagi, siang, sore malam bahkan dini hari.
Tidak sampai lima menit gadis itu sudah terlelap.
Lalu lintas cukup padat, kondisi yang sudah biasa dihadapinya, hingga memasuki gerbang tol pun, mobil-mobil berjalan tersendat.
"Ibu heran, kenapa orang Jakarta ko betah banget macet-macetan Kayo ngene,"keluh Inah dibelakang kursi kemudi.
"Ya beginilah Bu, mesti lebih sabar menghadapi kemacetan,"sahut Sandra sekenanya.
"Mending entar kalau Ferdi udah sembuh, kalian tinggal lagi di Semarang, lagian kami cuma berdua di rumah,"usul Inah.
Sandra melirik Ferdiansyah melalui rear-vision mirror, ia melototi lelaki itu, sementara yang dipelototi malah membuang mukanya.
"Nanti kita bicarakan lagi ya Bu,"ucap Sandra.
"Tapi nduk, setau ibu, ini mobil mahal ya! Kalau ibu lihat di televisi, kayaknya artis-artis pada pakai yang kayak gini, apa kamu pinjam ke bos kamu? Atau sewa ditempat lain?"tanya perempuan paruh baya itu penasaran.
"Sandra pinjam ke bos,"jawabnya.
"bos kamu baik banget ya nduk, mobilnya enak, ibu bisa selonjoran, jadi gini rasanya naik mobil yang kayak punya artis, ibu baru pertama kali naik,"ungkap Inah, "entar kalau kamu udah sembuh, kamu harus kerja keras le, supaya bisa punya mobil kayak gini,"ucapnya pada Ferdiansyah.
Sementara yang bersangkutan hanya berdehem, Ferdiansyah memilih memejamkan matanya.
Penumpang di jok belakang tak bersuara, sepertinya mereka sudah terlelap.