How To Marry You ?

How To Marry You ?
lima puluh enam



Sepanjang malam, Rama menunggu di sofa ruang keluarga sambil menjaga Sahabat juga bocah yang mengaku bernama Xander.


Ada banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya, siapa sebenarnya bocah itu? Kenapa memanggil Alex dengan sebutan papa?


Namun ada sesuatu yang terlintas dipikirannya, melihat wajah bocah itu mengingatkannya pada Sandra, ia teringat tau jika wanita itu sudah menikah dan memiliki anak, tapi kenapa Xander memanggil Alex dengan sebutan papa, lalu kenapa bocah itu tinggal di rumah keluarga sahabatnya?


Ingin mengorek informasi dari bocah itu, tapi ia mengurungkannya, ini bukan saat yang tepat, Xander terus menangis di pangkuannya hingga tertidur sendiri karena kelelahan.


Tadi Dokter berpesan, jika nanti Alex telah bangun, maka ia harus kembali dihubungi, untuk memeriksa luka dibelakang kepala, juga tentang kestabilan emosi pasien.


Setau Rama, selain sebagai dokter langganan keluarga Alex, dokter Braga juga yang membawa pasiennya ke salah satu rumah sakit jiwa.


Hanya Rama dan Natasha yang tanpa sengaja tau tentang kejadian sebelas tahun lalu ketika Alex depresi berat selama sebulan.


Mendiang Soejono yang menghubunginya, atas kesepakatan bersama hal itu dirahasiakan pada sahabatnya yang lain.


Rama yang dulu kuliah di fakultas ekonomi berdekatan dengan gedung fakultas hukum tempat Alex menuntut ilmu disalah satu universitas terkemuka di ibukota, sehingga keduanya selalu bersama, berbeda dengan ketiga sahabat yang lain, gedung fakultasnya berjauhan.


Saat itu Natasha juga tak sengaja tau, gadis itu sedang bersama Rama di toko buku saat mendiang Soejono menghubunginya.


Kedua sahabat itulah yang benar-benar tau bagaimana terpuruknya Alex saat itu, lelaki yang berumur paling tua diantara mereka berenam, akan menyakiti dirinya sendiri dan berteriak histeris, itu terjadi selama hampir satu bulan.


Berkat dukungan kedua orang sahabatnya, Alex bisa pulih dan mulai berusaha menerima kenyataan.


Hari telah terang waktu menunjukan pukul enam pagi, ketika bocah yang tidur di pangkuan Rama menggeliat,


Terlihat Xander telah mengumpulkan nyawanya, bocah itu terlihat bingung apa yang terjadi, lalu melihat ke arah jam dinding, "om kok nggak bangunin Xander sih,"keluhnya sambil bangkit berdiri,


"Kamu tidur nyenyak banget, om nggak tega mau bangunin,"sahut Rama.


"Tapi Xander belum shalat subuh om, yah telat deh,"keluhnya lagi.


"Ya udah sana ambil wudhu, kita shalat bareng, boleh kok kan kita ketiduran, bukan sengaja,"


Xander bergegas ke kamar mandi bergantian dengan Rama, lalu keduanya beribadah secara bergantian di kamar bocah itu.


Setelahnya, Rama meminta Xander menjaga Alex sedangkan dirinya membelikan sarapan tak jauh dari sana.


Sepulang Rama membeli sarapan, Alex telah sadar dan duduk bersandar di head board ranjang, pandangan matanya kosong,


Rama menyuruh Xander untuk sarapan terlebih dahulu, sedangkan dirinya menghubungi dokter Braga, untuk memberitahukan jika Alex telah sadarkan diri.


Tak lama dokter datang, memeriksa keadaan Alex dan mengajaknya bicara, beruntung sahabatnya memberikan respon sehingga mereka bisa bernafas lega.


Dokter Braga berpesan agar Alex menghubungi pihak rumah sakit jiwa yang dulu menanganinya, agar bisa diambil tindakan yang tepat.


Infusan yang menempel ditangan kanan Alex juga telah dicabut, kondisinya stabil, luka dibelakang kepala juga tak bermasalah.


Bahkan Alex bisa makan sendiri dengan bubur yang dibelikan oleh Rama,


Alex minum terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya, "Xander anak gue yang dilahirkan Sandra sepuluh tahun lalu, mengenai suaminya, mereka dalam proses cerai,"jawabnya.


"Tapi kenapa mesti tinggal bareng sih? Bini orang itu Lex, biarpun lagi dalam proses cerai, ingat reputasi Lo sebagai pengacara bisa hancur gara-gara masalah ini,"Rama memberikan saran.


"gue nggak peduli,"sahut Alex.


"Ben masih disini kalau Lo lupa, Lo tau kan salah satu peraturan yang tidak tertulis diantara kita, dilarang merusak hubungan orang lain,"Rama mencoba mengingatkan.


"Tapi hubungan mereka memang seharusnya berakhir, Ferdi selingkuh dan melakukan kekerasan sama Sandra juga Xander, belum lagi lilitan utang lalu sekarang Ferdi nganggur,"jelas Alex.


"Jangan bilang itu hanya akal-akalan Lo, masalah selingkuh, bukan hanya Ferdi yang selingkuh, Sandra juga melakukan hal yang sama dengan Lo kan? Bahkan kalian tinggal bersama, belum lagi di kantor, nggak mungkin Seorang Alex yang playboy akan menyia-nyiakan kesempatan buat hal ini bukan?"


"Gue cinta mati sama Sandra, wajar gue melakukannya, Lo juga suatu saat bakal kayak gue, mungkin bisa lebih parah,"Alex berusaha membela diri.


Rama yang kesal meletakan Styrofoam diatas ranjang milik sahabatnya, lalu bangkit berdiri sambil berkacak pinggang, "Ia saking cinta matinya malah jadi bego, bukannya nyari malah melukai diri sendiri, coba semalam Lo langsung nyari Sandra, pasti udah ketemu, ingat Lex, Lo udah punya anak, jangan sampai Xander tau kebiasaan Lo yang kayak semalam, itu akan berefek buruk pada perkembangannya dia, kendalikan emosi Lo, jadi papa yang baik buat Xander,"


Rama bangkit mengambil Styrofoam miliknya, lalu melangkah keluar kamar, namun lelaki itu menghentikan langkahnya sejenak, "gunakan otak cerdas Lo buat cari Sandra, dengan Lo terpuruk, dia nggak bakal mau balik, dan mungkin sekarang lagi nyamperin lakinya, gue balik, jangan lupa kirim apa yang gue minta secepatnya,"


Rama pergi, Xander masuk ke kamar, bocah itu terlihat sudah segar, mungkin baru saja mandi,


"papa cepat habiskan sarapannya, abis itu minum obat, biar cepat sembuh,"pesan bocah itu.


Alex mengangguk dan berusaha menghabiskan sisa sarapannya, cukup semalam putranya tau kebiasaan buruknya, ia tidak boleh menunjukan kelemahannya.


"Papa, tenang aja, mama nggak mungkin pergi jauh kok, mama kan sayang Xander,"ujarnya berusaha menenangkan papanya.


"maafkan papa ya, membuat kamu terkejut,"


Xander mengangguk sambil mencium punggung tangan Alex,


Beberapa hari berlalu, Sandra tak kunjung kembali, entah kemana wanita itu pergi, Alex berusaha kuat menerima kenyataan, ia tau putranya berusaha menguatkannya,


Hingga pagi itu ia dipanggil oleh Benedict untuk datang ke apartemen.


Sebelum menemuinya, Alex terlebih dahulu mengantarkan putranya ke sekolah.


Ia bersama ketika sahabatnya datang menemui Benedict di lobby apartemen, sahabatnya memintanya membuatkan paspor juga visa untuk Ayudia, agar bisa mengikutinya untuk tinggal di Amerika.


Benedict juga mengatakan akan mengajak istrinya, untuk bulan madu sekaligus mengunjungi salah satu resort yang dikelola oleh Fernando, dan meminta untuk mengosongkannya.


Ada sesuatu yang membuat mereka berempat tertawa, Benedict mengatakan jika istrinya belum pernah menaiki pesawat,


Bisa-bisanya Benedict yang memiliki beberapa private jet tapi istrinya sekalipun belum pernah naik pesawat,


Karena liburan yang mendadak itu, Alex menghubungi Tante Terry untuk menitipkan Xander selama dirinya pergi ke Bali.