
Alex menggerutu pelan sepanjang perjalanan menuju bandara, tentu saja ia kesal setengah mati, setelah bertahun-tahun menunggu bersatunya dirinya dan wanita yang dicintainya dalam ikatan pernikahan, malah harus tertunda gara-gara perintah bos besarnya.
Langit masih gelap ketika mobil yang dikemudikan Rama memasuki parkiran bandara timur ibu kota, dimana private jet milik Benedict terparkir.
Di landasan pacu sudah ada Choki dan crew pesawat menunggu kedatangan bos besar mereka.
Alex masih sedikit ragu tentang keberangkatannya kali ini, bahkan ia belum berpamitan pada kekasihnya,
Tadi ia hanya mengirim pesan mengabarkan jika dirinya harus mengikuti Benedict ke Amerika untuk waktu yang belum diketahui lamanya, tak lupa berpesan untuk selalu menjaga jarak dengan lelaki lain.
Pesawat lepas landas meninggalkan ibukota, semakin jauh jarak antara dirinya dan sang pujaan hati.
Untuk menghilangkan rasa kesalnya, Alex meminta pada Choki obat tidur yang biasa dikonsumsi jika sedang pusing atau berjauhan dengan kekasihnya, tentu agar bisa tidur lebih nyenyak, tak mungkin bukan ia tetap terjaga dikala rasa sebalnya pada Benedict begitu besar.
Lebih dari dua puluh jam, pesawat baru mendarat di negara paman Sam, sesampainya di sana, Benedict mulai rapat dengan para bawahannya, untuk mendengarkan secara langsung kondisi perusahaan,
Berbeda dengan Benedict, Alex justru mengikuti Mr William, melakukan pekerjaan ini itu, sedangkan Choki bersama Troy.
Perbedaan waktu membuat komunikasi Alex dan kekasihnya hanya melalui pesan, atau sekedar mengirim foto kegiatan masing-masing.
Keduanya bagai ABG yang sedang dimabuk asmara, ungkapan kerinduan tersusun bagai bait puisi sang pujangga.
Tak ada waktu buat Alex untuk sekedar jalan-jalan, ia benar-benar sibuk, pagi hingga malam, ia terus bekerja dan belajar, karena bukan hanya mengikuti Mr Wiliam, ia juga belajar mengelola bisnis dari Benedict, belum lagi latihan fisik yang dilakukannya bersama Troy dan Choki.
Aktifitasnya cukup padat jika sedang mengunjungi negara ini, sebenarnya bukan hanya dirinya, sahabatnya yang lain pun sama, jika berkunjung kesini.
Hitung-hitung dapat tambahan ilmu gratis tanpa harus menempuh pendidikan pasca sarjana atau gelar doktoral.
Alex yang tenggelam dalam kesibukan yang padat, berbeda dengan Sandra dibelahan bumi lainnya.
Sejak kepergian Alex tanpa berpamitan, Sandra menjalani hidup seperti biasa, hanya saja dalam bekerja ia menghabiskan sebagian waktunya dibalik meja, tak ada mengikuti sidang atau mendampingi klien.
Biasanya jika Alex sedang keluar negeri, Jonas yang akan mengawasi para pekerja di gedung itu,
Sebenarnya seharusnya Rama yang menjadi pimpinan utama di gedung itu, tapi dia mengaku malas berhadapan dengan banyak orang, alasan aneh, padahal di cafe juga sama, walau lingkupnya lebih kecil.
Sejak kepergian Alex pula, Rama datang berkunjung setiap hari tepatnya menjelang makan siang, lelaki itu akan membawakan masakan Tante Susi untuk makan siang bersama dengan Jonas dan Sandra.
Sedang yang ditugaskan menjemput Xander disekolah adalah Robert,
"Sa, entar sore ikut gue ketempat Sinta ya!"ucap Rama ketika baru menyelesaikan makan siangnya.
Sandra yang masih menyantap makanan, mengernyitkan dahinya bingung, tumben sekali lelaki itu mengajaknya keluar, "kenapa mesti ngajak gue?"tanyanya.
"Asha lagi ada jadwal operasi, terus Rani masih sibuk sama tugas, nyokap gue ada pengajian," jelas Rama.
"mau ngapain sih?"tanya Sandra lagi.
"gue kan mau ngelamar dia, terus apa aja yang dia minta, seenggaknya kalau sesama cewek lebih bisa terbuka ngobrolnya, dia kan masih malu-malu sama gue,"
Sandra memang pernah mendengar dari Alex dan Natasha jika Rama berencana akan menikahi Sinta, wanita yang baru dipacarinya beberapa bulan kebelakang,
"kenapa nggak pas weekend? Kan waktunya lebih leluasa, bisa langsung belanja juga,"usulnya.
"Masalahnya kalau weekend, Sinta kan ngurusin acara orang, dia justru sibuk pas weekend,"
"Oke, tapi nggak apa-apa kan bawa anak gue?"
"bawa aja,"
"terus mobil gue gimana?"
"besok pagi-pagi gue ketempat Lo deh,"
Sebagai sahabat yang dekat dengan Alex dibanding lainnya, Rama tau fakta tentang kehidupan yang dijalani salah satu sahabatnya itu.
Sandra menunjukan jempolnya tanda setuju,
Beberapa saat kemudian, Xander datang bersama Robert, keduanya duduk di sofa tepat didepan meja sekretaris bergabung dengan yang lainnya, Sandra memberikan kotak makan siang yang dibawa Rama.
Seperti biasa, bocah itu akan menceritakan apa yang dialaminya di sekolah sembari menyantap makan siang.
Jonas yang sedari tadi diam akhirnya buka suara, "mas, Lo nggak ngajak gue? Kan gue bisa kasih masukan juga,"selanya.
"kok jadi gue mas!"protes Robert, "tugas gue cuman mengawal tuan kecil,"
Rama berdecak, ia tau Robert hanya bergurau, tapi tetap saja kesal, "gue kirimin makan malam enak buat kalian, plus tambahan bonus bulan ini dari gue pribadi,"
Senyum mengembang terlihat dari wajah kedua asisten Alex,
"Sering-sering aja Abang pergi ke Amerika, biar kita dapat bonus triple, dari bos besar, Abang terus mas Rama deh,"cetus lelaki yang baru lulus kuliah dua tahun yang lalu.
"dih itu mau kalian,"ucap Sandra kesal.
"ada yang ngambek gara-gara LDR, kangen Yee mbak? Mending sama gue aja mbak, selalu stand by,"ujar Jonas yang langsung mendapat umpatan dari Rama dan Robert.
"Om Jojo jangan genit sama Mama, entar Xander aduin ke papa sama Oma loh!"sela bocah itu.
"keponakan om yang paling ganteng, om cuman becanda doang ko, jadi jangan diadukan ya, entar wajah ganteng om bonyok di pukuli papa Xander,"Rayu Jonas,
Mereka kompak tertawa mendengar rayuan Jonas pada bocah itu.
Dua jam sebelum waktu pulang kerja, Rama mengajak Sandra dan Xander menuju tempat kerja Sinta yang lumayan jauh dari kantor, tentunya untuk menghindari kemacetan saat jam pulang.
Didalam perjalanan, Xander memainkan game online di kursi belakang, telinga bocah itu sengaja dipasang air phone, katanya biar seru.
"Sa, gue mau tanya dong,"ucap Rama sambil mengemudi.
Sandra hanya berdehem, wanita itu sedang mengetik sesuatu pada ponselnya.
Rama melirik bocah dibelakangnya, sepertinya aman jika membahas sekarang, "Lo sama Alex ngelakuinnya berapa kali sampai bisa jadi tu bocah?"tanyanya.
Sandra menghentikan ketikannya, lalu melotot pada lelaki disebelahnya sembari melirik putranya dibelakang, "ngapain nanya gitu, ada anak gue,"jawabnya kesal.
Rama tertawa, "lagi serius dia,
nggak bakal denger apa yang kita omongin,"ujarnya santai.
"ngapain nanya hal privasi gitu sama gue, tumben Lo!"
"Sa, kayaknya Sinta hamil deh,"
Sandra terkejut, ia bahkan melototi lelaki itu lagi, "emang satu geng isinya cowok brengsek semua ya, hobby banget unboxing dulu,"
"kalau nggak gitu mana mau pas dinikahin, Lo doang nih udah belasan tahun nggak nikah-nikah, Alex kurang sat-set-sat-set, jadi keduluan orang kan,"
"gue sama Alex punya alasan kenapa belum nikah, eh... Kok jadi bahas gue, ngomongin Sinta emang Lo udah bawa ke dokter?"
"belum sih, cuman Dia bilang udah telat dua bulan,"
"Dasar gila, pantes aja Sinta mau dinikahi, nggak taunya terpaksa,"
"ya nggak terpaksa Sandra, kita kan saling mencintai,"
Sandra mengumpat sambil melirik putranya yang masih asik bermain, "Lo dong kali, Sinta gue rasa enggak, orang masih di teror sama Citra,"
Rama menoleh, ia terkejut dengan fakta yang baru diketahuinya, "Lo tau dari mana? Lo kan ketemu Sinta baru sekali apa dua kali sih, gue lupa, jangan bilang dia ngadu sama Lo!"
Awal pedekate Rama pada Sinta, sempat beberapa kali Mereka makan atau ngopi di cafe bersama Alex dan Sandra sebagai sekretaris tentu turut serta, dari situlah, kedua wanita itu bertukar nomor ponsel.
"Saran gue Rama, mending lo tuntaskan hubungan dengan Citra, Lo mesti tegas, Citra itu pantang menyerah, apalagi Lo berhubungan sama dia lama kan?"
"iya gue usahain, sekarang balik ke pertanyaan gue tadi, berapa kali Lo ngelakuin sama Alex, supaya jadi itu bocah,"
Sandra menghela nafas, sedari jaman putih abu-abu, ia tau betul kumpulan lelaki itu tak segan berkata vulgar, "nggak ngitungin, yang jelas kalau pas ceweknya masa subur terus nggak pake pengaman, jelas bakal jadi,"
"yah gue lupa nggak nanya siklusnya Sinta, dia juga nggak ngomong,"
"gue tau Lo sengaja, jadi nggak usah sok-sokan peduli soal siklus menstruasinya Sinta,"
Rama tertawa, "lo emang cenayang ya,"
Keduanya terus mengobrol soal apa saja yang harus dibeli atau diberikan pada calon mempelai perempuan.