How To Marry You ?

How To Marry You ?
tujuh puluh tujuh



Beberapa waktu berlalu,


Siang itu Sandra bersama Gita dan Arumi baru saja pulang dari tukang bakso di luar gedung kantor ketiganya bekerja,


Mereka memilih makan siang diluar, karena sedang ingin saja, sudah lama mereka tak nge-bakso bersama.


Saat memasuki lobby, ada yang memanggil Sandra, merasa namanya dipanggil wanita itu menoleh mencari sumber suara.


Sandra melebarkan matanya, tak menyangka jika lelaki yang pernah menjadi suaminya mendatanginya ke tempatnya bekerja, seingatnya ia telah mengatakan pada Elina jika dirinya tak bekerja, namun dari mana Ferdiansyah tau dirinya bekerja kembali.


Gita yang tau siapa lelaki itu menyenggol lengan sandra, "kalian lagi berantem?"tanyanya berbisik.


"udah resmi cerai beberapa bulan ini,"jawab Sandra berbisik.


"kok Lo nggak cerita,"protes gadis yang belum juga menemukan tambatan hati.


"Lo emang nanya,"


"ya enggak sih,"


Ferdiansyah berjalan ke arahnya, tak mau menarik perhatian pekerja yang lain , Sandra menarik tangan lelaki itu menuju coffee shop yang masih di area lobby.


Sandra memesankan Americano untuk mantan suaminya, walau kesal ia masih ingat kopi favorit lelaki itu, sedangkan dirinya memesan ice cappucino.


"kamu ngapain kesini?"tanya Sandra membuka percakapan.


Ferdiansyah menyeruput sedikit kopinya, "aku baru selesai wawancara disini, dan mulai minggu depan, aku kerja disini sebagai staf marketing, aku nggak nyangka, aku pikir satu gedung isinya pengacara semua, nggak taunya ada perusahaan property juga ya!"


Sandra memainkan sedotan sambil sesekali menyedot ice cappucino miliknya, ia berusaha santai, meskipun rasanya tak nyaman berhadapan dengan mantan suaminya, "kamu kenapa nggak di Semarang aja sih? Kamu bisa urus ibu dan bapak, jadi anak berbakti,"


"justru karena aku berbakti, makanya aku cari kerja disini, gajinya lebih gede, jadi aku bisa kasih uang banyak ke mereka, lalu bukannya kata Elina kamu udah nggak kerja, kenapa malah disini lagi?"


"aku dipanggil bos lagi, soalnya beliau nggak menemukan sekertaris berkompeten seperti aku, baru beberapa bulan, lalu sekarang kamu tinggal dimana?"


"aku tinggal di kosan, nggak jauh dari sini, lalu Xander apa kabar? beberapa bulan lagi mau masuk SMP kan?"


Sandra berdehem, "oh ya, jaga sikap kamu, aku tegaskan jika kita tak ada hubungan apapun sekarang, kamu udah terima akta cerai kita bukan?"


"kenapa kamu berubah? Kamu jadi sombong, gini Sandra, kita ini dari kampung halaman yang sama, harusnya kita bisa lebih akrab dan saling dukung, apalagi kita ini pernah menikah,"


"itu masalahnya, karena kamu mantan suami yang pernah menyakiti aku terlalu dalam, makanya aku malas bertemu kamu,".


"Sandra, aku udah minta maaf, dan telah menanggung hukuman karena pernah menyakiti kamu, tapi setidaknya atas nama orang tua masing-masing yang telah berhubungan baik, kita sebagai anaknya harusnya berhubungan baik,"


Tak mau ribet, Sandra memilih bangkit, namun sebelum itu ia berucap, "oke tapi cukup sebatas menyapa tidak dengan mengobrol, aku mau naik, silahkan kamu pulang dulu,"


Sandra meninggalkan mantan suaminya yang masih berada di coffee shop itu, sepertinya ia harus lebih waspada mulai sekarang.


Sesampainya di meja kerjanya, ia tak mendapati rekannya, berarti Alex juga belum pulang dari pengadilan,


Sandra menghembuskan nafasnya kasar, ia mulai memeriksa berkas yang nantinya akan diberikan pada Alex.


Sedang serius bekerja, salah satu penghuni lantai enam, menghampirinya,


"mbak, tadi bapak lihat mantan suami kamu di parkiran, apa ada masalah?"tanya Hermawan, salah satu advokat rekanan Alex.


"Tadi saya juga nggak sengaja ketemu, katanya baru diterima kerja sebagai marketing disini pak,"jawab Sandra.


"waduh, sebisa mungkin jaga jarak ya, jangan sampai bos uring-uringan,"


"iya pak, mudah-mudahan Alex nggak ngeh,"


"tapi mbak, anak marketing kan sering berhubungan sama Alex,"


"itu yang lagi saya pikirin,"sahut Sandra.


"iya pak, makasih udah peduli,"


Penghuni lantai enam, tentu tau seperti apa hubungan antara sekertaris dan bos, termasuk keberadaan bocah berseragam putih merah yang bebas berkeliaran di sana.


Alex baru tiba bersama Xander dan Jonas menjelang sore,


Setelah menghadiri sidang kedua lelaki dewasa itu menjemput bocah yang masih di bangku sekolah dasar.


"Kok jam segini baru balik?"tanya Sandra pada putranya, bocah itu menyalami dan mencium tangannya.


"Tadi papa ajak aku ketemu klien dulu, terus diajak makan siang juga,"jawab Xander.


Jonas yang baru keluar dari ruangan Alex, mengatakan jika bos mereka meminta dirinya dan putranya untuk masuk.


Xander masuk terlebih dahulu, diikuti Sandra dibelakangnya, bocah itu langsung berjalan menuju kamar rahasia yang ada diruang itu, katanya ingin tidur siang.


Memastikan putranya benar-benar masuk ke ruangan itu, Alex meminta Sandra untuk mendekatinya.


Wanita itu menurut, ia menghampiri kekasihnya dan berdiri tepat di samping kursi kebesaran lelaki itu,


Alex langung memeluk pinggang Sekertaris sekaligus kekasihnya, "aku kangen banget sama kamu,"


Sandra mengelus kepala lelaki itu, "kan pagi ketemu,"


Alex mendongak menatap wajah wanita yang paling dicintainya, "Sa, liburan yuk!"ajaknya.


Sandra mengecup kening kekasihnya, "setiap akhir pekan kalau nggak lembur, kita bertiga kan liburan, memangnya mau liburan kemana sih?"


"Ke Eropa yuk, dari dulu rencana kita belum terealisasi, aku pengen banget ngajak kamu ke sana,"


"terus kerjaan gimana? Sekarang lagi sibuk-sibuknya, apalagi ada Ben disini,"


"Sa, Ben mau menetap disini lama, Ayu kan baru lahiran, jadi biar dia yang disini, aku liburan sama kamu,"


"mana bisa begitu, Ben kan bos besar, ya kali dia mau disini,"


Alex memeluk kembali pinggang kekasihnya, "aku udah ngomong ke Ben kok, dan boleh, cuman seminggu doang tapi,"


"Aku ikut aja, coba tanya Xander bisa ijin nggak tuh ke Bu gurunya,"


"kalau kita berdua aja gimana?"


Sandra melepaskan pelukan lelaki itu, ia mundur beberapa langkah, "Mana bisa, mendingan nggak usah sekalian,"sahutnya kesal.


Alex menghela nafas, ia tau akan begini, tak mungkin wanitanya bisa jauh dari putra semata wayang mereka,


"oke, kita ajak Xander tapi nanti biar Choki yang awasi,"


Sandra terdiam sejenak, lalu mengangguk tanda setuju.


Alex tersenyum lebar, di pikirannya sudah tersusun berbagai kegiatan yang akan keduanya lakukan selama di benua biru itu.


Alex berdiri menghampiri kekasihnya, ia menarik pinggang ramping itu, lalu mencium bibir yang seperempat hari ini, ia rindukan.


Keduanya saling berciuman mesra, hingga dering telepon paralel di meja kerja Alex, menghentikan kegiatan menyenangkan itu.


Alex mendengus kesal, kesenangannya terganggu, lelaki itu mengangkatnya, itu dari Jonas yang mengatakan jika Celine akan memberikan laporan keuangan padanya,


Sandra bertanya dengan tatapan matanya, Alex yang baru saja menutup teleponnya, tak menjawab tapi wanita yang baru saja masuk menjadi jawaban pertanyaannya.


Sandra memohon undur diri kembali ke mejanya sementara Alex menerima laporan yang harus diperiksanya.