
Pagi harinya, saat Sandra membantu bosnya memakaikan dasi, ia berniat mengatakan apa yang diminta suaminya, namun ia sedikit ragu.
"kamu kenapa? Dari tadi diem terus, bahkan nggak mau menatap mata aku, apa aku buat salah sama kamu?"tanya Alex yang peka terhadap perubahan sikap sekretarisnya.
Sandra menghela nafas, tadi saat mengantarnya, suaminya mengingatkannya lagi,
"Sasa sayang, hey..liat aku, apa aku buat salah sama kamu?"tanya lelaki itu lembut sambil menyentuh kedua sisi wajah wanita yang dicintainya.
Sandra menatap lelaki dihadapannya, "Alex, kalau aku pinjam uang tiga puluh juta boleh nggak? Nanti kamu bisa potong gaji aku setiap bulannya,"akhirnya setelah meyakinkan dirinya, ia memberanikan diri mengatakannya.
Alex tertawa, "Ya ampun Sasa sayang, jangankan tiga puluh juta, seluruh yang aku miliki akan aku kasih jika kamu menginginkannya, aku kan udah pernah menawari kartu-kartu aku, tapi kamu malah menolak dan hanya . mengambil satu kartu, itupun hanya untuk keperluan aku, apapun akan aku berikan, kamu mengerti?"jelasnya seraya mencium lembut kening wanita itu.
Sandra menggeleng, "aku hanya butuh tiga puluh juta tidak lebih,"
Alex berjalan menuju salah satu lemari, ia membukanya, ada brangkas pribadi miliknya.
"sini,"perintahnya pada Sandra.
Alex memberitahukan angka-angka untuk membuka kuncinya, "apa kamu ingat jika angka-angka itu adalah tanggal saat kita liburan ke cottage?"
Sandra mengangguk ragu, sejujurnya ia lupa tepat tanggalnya, tapi karena merasa tak enak, ia berpura-pura ingat.
Ketika brankas dibuka Sandra melebarkan matanya, beberapa bundel uang pecahan seratus ribu juga uang dolar Amerika, entah berapa, seberapa kaya lelaki ini?
"aku kasih lima puluh juta, ingat ya Sasa, aku kasih, jadi kamu nggak perlu mengembalikannya,"ujar Alex sambil memberikan uang itu padanya.
Sandra menggeleng, ia hanya mengambil tiga puluh juta, dan mengembalikan sisanya.
"Terima kasih banyak kamu udah bantu aku,"
"ini udah kewajiban aku Sasa sayang,"ujar Alex.
Keduanya berciuman dengan mesra, sebelum berangkat bekerja menuju lantai enam.
Sandra semakin merasa bersalah, dirinya seolah memanfaatkan kebaikan bosnya, hati nuraninya mulai tak tenang.
Tadi Ferdiansyah sempat mengiriminya pesan menanyakan tentang pinjaman pada bosnya, tentu Sandra memberitahu jika sudah mendapatkan pinjaman sehingga suaminya langsung mendatangi kantornya.
Sebelum jam istirahat, Ferdiansyah meminta uang itu, dengan dalih ibu mertuanya terus menanyakannya.
"Kamu tenang aja, nanti aku bilang ke ibu, kalau uang ini dari kamu, biar ibu baik lagi kayak dulu sama kamu,"ujar lelaki itu sebelum meninggalkan kantor tempatnya berkerja setelah tadi ia memberikan amplop berisi uang tiga puluh juta.
Walau begitu Sandra tetap saja kepikiran, sejujurnya tentang ibu mertuanya, ia tidak peduli, mau dibenci atau disukai, ia sadar betul kesalahan keluarganya yang membohongi pihak keluarga besan tentang keberadaan Xander,
Itu bukan salahnya, mereka tidak pernah bertanya padanya, bahkan Ferdiansyah, padahal sebelum menikah dulu, kemanapun lelaki itu mengajak ia jalan-jalan, ia selalu membawa Xander bersamanya.
Ia juga tau, jika Ferdiansyah benar-benar tergila-gila padanya, mungkin karena itulah lelaki itu tak banyak bertanya.
"kamu kenapa Sasa? apa makanannya tidak sesuai dengan yang kamu inginkan?"tanya Alex saat keduanya sedang makan siang bersama.
Sandra tersadar, ia menatap lelaki yang berada diseberang meja, tatapan rasa bersalah, padahal Alex benar-benar mencintainya, kenapa seolah ia memanfaatkan kebaikan lelaki itu.
Andai perbedaan itu bisa ia tepis mungkin keduanya sudah membangun keluarga bahagia bersama putra semata wayang mereka.
"Alex, apa kamu suka anak-anak?"tanyanya, entah mengapa dirinya ingin mengajukan pertanyaan itu tiba-tiba.
"Apa kamu hamil?"tanya Alex balik, dengan wajah penuh harap.
Sandra mengernyit bingung, "kenapa kamu bertanya balik?"tanyanya heran.
"Aku memakai kontrasepsi,"
Wajah kecewa Alex terlihat jelas, Sandra hafal setiap ekspresi lelaki itu.
"kenapa kamu nggak diskusi sama aku? Berarti secara tidak langsung kamu membunuh benih aku dengan kamu melakukan itu, apa tidak cukup kamu menggantung aku selama sepuluh tahun? Dan sekarang kamu bahkan tidak mau mengandung benihku?"ucap Alex kesal, lelaki itu bahkan meletakkan garpu nya dengan kasar.
Sandra melongo, apa benar lelaki itu adalah bosnya yang dikenal oleh karyawannya sebagai atasan ramah dan baik hati namun tegas dalam hal pekerjaan?
Kenapa tiba-tiba lelaki itu mengatakan hal yang tak akan lagi ia lakukan? Kenapa disini jadi ia yang disalahkan? Harusnya Alex tau, jika posisinya sebagai istri orang tak memungkinkan dirinya memiliki anak dari lelaki lain.
"Alex, aku hanya bertanya, apa kamu suka anak kecil atau tidak? kenapa jadi merembet kemana-mana? Lanjutkan makan kamu, jangan membuang makanan,"
Alex menuruti permintaannya, namun dengan bibir yang manyun, Sandra ingin tertawa, lelaki ini hanya menunjukan ekspresi manja seperti ini padanya.
Sandra gemas, tapi berusaha untuk mengendalikan diri, "ayo jawab kenapa diam aja?"
"aku udah jawab pertanyaan kamu Sasa sayang,"jawab Alex, lelaki itu masih mengunyah makanannya.
"tadi aku sempat menanyakan apa kamu hamil atau tidak, sejujurnya kenapa sedari dulu aku tidak pernah memakai pengaman, karena aku berharap adanya anak diantara kita, dengan begitu mau tak mau kita harus menikah bukan? Tapi sepertinya kamu tidak mengharapkan itu, aku kecewa,"ucap Alex jujur.
Sandra menganga mendengar pengakuan lelaki itu, dan bodohnya ia baru menyadarinya, berarti keberadaan Xander memang diharapkan oleh ayah kandungnya, tapi sekarang ia tak akan mengakuinya, ia tak ingin memperkeruh keadaan.
"mulai besok aku tidak mau kamu memakai alat kontrasepsi dan tidak ada bantahan,"Alex memperingatkan.
"Alex itu tidak mungkin, kamu tau status aku bukan?"
"Sandra, dari awal aku tidak peduli dengan status kamu, apa kamu lupa dulu aku pernah mengatakan jika kita harus menikah suatu saat nanti, tapi nyatanya kamu mengkhianati aku, dan aku maafkan karena kamu belum pernah berhubungan intim dengan lelaki itu, jadi aku yakin jika suatu saat kamu hamil, berarti itu anak aku, dan sekarang aku jadi berfikir, apa anak yang selalu kamu bilang itu adalah anak dari suami kamu? Apa jangan-jangan itu anak aku? Berapa umurnya?"
Sandra menegang, telapak tangannya mulai berkeringat, ini yang ia takutkan, jika lelaki ini tau tentang keberadaan Xander, apa Alex akan mengambilnya?
Apalagi sekarang Alex punya harta berlimpah dan berstatus sebagai pengacara, itu akan memudahkan lelaki itu menguasai Xander.
"Apa ucapanku benar? coba aku ingin dengar penjelasan kamu, dan ingat kamu pernah meninggalkan aku selama sepuluh tahun, kamu mengkhianati aku jika satu lagi kamu ketahuan menyembunyikan sesuatu dari aku, mungkin aku akan melakukan hal diluar nalar, kamu mengerti?"
Ponsel Alex berdering, tapi lelaki itu mengabaikannya, karena menunggu jawabannya.
"aku nggak mau jawab, itu privasi aku, dan angkat panggilan itu,"Ucap Sandra seraya melirik ponsel yang ada di samping gelas lelaki itu.
Alex menggeleng, lelaki itu masih menatap tajam dirinya, "itu panggilan penting, angkat sekarang,"
Dengan ekspresi kecewa, Alex mengangkat panggilan dari Papanya,
"iya Pa,"
"....."
"Oke, saya segera ke sana,"
Usai mengakhiri panggilannya, ekspresi panik terlihat di wajah lelaki itu, "Sa, ikut aku ke rumah sakit,"ujarnya sambil berdiri.
"Siapa yang sakit?"tanya Sandra bingung, ia ikut berdiri dan mendekati lelaki itu.
"Papa masuk rumah sakit,"jawabnya panik.
"Oke aku temani,"
Sandra berpesan pada salah satu office boy untuk membersikan meja, dan pada Jonas ia juga mengirimi pesan akan pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan orang tua dari bos mereka.