How To Marry You ?

How To Marry You ?
seratus tiga



Sandra dan Fernando memimpin jalannya rapat bersama beberapa dokter serta staf lainnya.


Sepulang lelaki itu dari pulau, Benedict dan Rama memerintahkannya untuk mendampingi Sandra mengambil alih kepemimpinan untuk sementara, dikarenakan Oscar harus menghadiri beberapa seminar dan operasi yang biasa dilakukan oleh dokter bedah itu.


Niat hati ingin cuti seminggu untuk pulang ke kampung halaman sang umi, harus tertunda karena hal ini.


Usai menghadiri rapat, keduanya beranjak menuju ruang kerja Oscar yang sekarang digunakan oleh Sandra.


Keduanya terlihat serius dihadapan laptop masing-masing, sembari membahas beberapa hal tentang pekerjaan.


Sandra meregangkan tangannya, pegal juga rasanya berjam-jam berada di depan laptop, "Do, mau camilan nggak? agak laper nih?"tanyanya.


Fernando yang tengah serius bekerja, hanya melirik sekilas, "boleh, Lo minta tolong OB aja, kita harus cepat selesaikan ini, gue mau mudik,"


Sandra mengambil telepon paralel di mejanya, ia memesan buah dan Snack pada OB untuk dirinya juga Fernando.


"Kalau mau mudik Sabtu siang juga bisa kali, Senin pagi Lo udah disini,"sahutnya.


"capek nyetir sa, lagian gue juga mau ke Malang juga,"


Sandra mengernyit heran, "lo mau ketemu pak Imam? Dua pekan yang lalu Alex dari sana kok, katanya di sana baik-baik aja, nggak ada masalah,"


Fernando menghentikan pekerjaannya, ia bersandar di kursi kerjanya, meregangkan tangannya lalu memijat mendongak menatap langit-langit ruangan itu, "gue belum cerita soal calon bini gue yang menghilang ya?"tanyanya.


"Kayaknya Alex pernah cerita deh, terus apa hubungannya sama Lo yang ke Malang?"


Fernando menceritakan tentang calon istrinya yang tengah hamil, perempuan bernama Amara Cahyani yang berasal dari Malang, juga tentang alasan mengapa dirinya menemani dan menuruti semua permintaan istri Benedict, karena usia calon istrinya dan kandungannya sama seperti Ayudia.


"Dan gara-gara itu Ben marah besar sampai bikin Lo babak belur, lalu gara-gara Lo yang nemuin Ayu sewaktu kabur, terus Lo dikirim ke pulau begitu,"


Fernando menatap lawan bicaranya lalu mengangguk, "gue nyaris gila sa, disaat gue nyari Rara mati-matian, Ben malah ngirim gue ke pulau, brengsek tuh bos lo!"


"bos Lo juga do, tapi biarpun dikirim ke pulau, kayaknya Lo senang-senang aja tuh, cuman penampilan Lo jadi beda banget sih, gue aja kaget pertama liat Lo lagi,"


Fernando tertawa, "jadi keliatan jantan kan!"


"ayam kali jantan,"


"Sa, ini udah dua tahun, gue nungguin Rara, tapi dia nggak balik juga, menurut Lo lanjut apa berhenti?"tanya Fernando meminta pendapat Sandra, sepertinya wanita beranak satu itu cukup bijak.


Tanpa pikir panjang, Sandra menjawab, "tungguin aja, gue rasa Lo bakal ketemu lagi sama Rara, saran gue lo mesti sabar, dan jangan main cewek lagi,"Sarannya.


"Gitu ya sa, terus kalau ternyata dia udah nikah gimana? Kayak Lo sama Alex,"


"ngapa jadi gue si,"ungkap Sandra kesal, "gue rasa sih enggak, karena posisinya dia lagi hamil anak Lo, terus ini baru dua tahun, sebagian perempuan susah move on kalau udah sampai hamil belum dinikahi, kayak gue aja do, gue lahiran Xander waktu usia sembilan belas tahun, terus baru nikah umur dua puluh lima, itu pun dijodohin, andai nggak dijodohin, mungkin gue masih lajang hingga sekarang, karena dulu waktu gue habis lahiran Xander, gue bertekad hanya hidup berdua sama anak gue, nggak mau nikah, tapi takdir berkata lain,"


"Iya juga ya,"sahut Fernando manggut-manggut, "tapi Sa kalau dia udah nikah, gimana?"


"Feeling gue belum, alasannya yang gue bilang tadi, dia juga perempuan baik-baik kan?"


"Beda sama gue ya,"jawab Fernando tertawa, "gue yang ngerusak dia Sa, tapi makasih ya! Gue jadi semangat lagi nyari Rara,"


"Gue doain yang terbaik buat Lo do,"


Mereka melanjutkan bekerja, tak lama camilan yang dipesan datang, kembali keduanya bekerja tapi sembari memakan Snack, andai Benedict tau mungkin keduanya akan ditegur, tapi masa bodo, toh lelaki itu sedang di luar negeri.


Saking sibuknya, jam makan siang mereka memilih memesan makanan agar bisa tetap berada ditempat agar pekerjaan cepat selesai.


Natasha juga datang untuk makan siang, bergabung dengan keduanya, gadis itu sempat bercerita, jika semalam Alex menelponnya dan menanyakan keberadaan Sandra,


"Pantes aja Alex sampai balik kesini, jadi gara-gara omongan Lo sha,"cetus Fernando disela-sela makan siangnya.


"emangnya Alex balik? Kapan?"tanya Natasha heran.


"kenapa bisa gitu do?"


"Temen Lo cemburu sama gue, disangka gue mau nikung,"jawab Fernando.


"pasti omongan Lo juga do, lagian jadi orang iseng amat sih, udah tau Alex LDR-an sama Sasa, wajar kalau dia gampang cemburu,"


"biar tambah panas, gue komporin sekalian,"Fernando mengambil foto dan mengirimkannya pada Alex.


Selesai dengan makan siang, ketiganya sempat beribadah di sana dengan Fernando sebagai imamnya.


Baru saja Natasha melipat mukena, panggilan darurat berbunyi, sehingga gadis itu segera beranjak dari sana.


Setelahnya Fernando dan Sandra kembali bekerja, keduanya fokus dengan pekerjaan masing-masing, berbicara hanya tentang pekerjaan saja.


Sejam berlalu, Fernando yang hendak mengambil air di dispenser, malah tangannya terkena air panas.


Sandra mengomel, "Lo kayak bocah, nggak bisa bedain apa mana air panas atau dingin?"ucapnya sambil bangkit dari duduknya.


Alhasil punggung tangan lelaki itu sedikit memerah, Sandra mengambil kotak putih yang berisi obat-obatan dan mulai mengobatinya.


Ponsel Fernando berdering, tertera nama Alex di sana, " ngapain pacar Lo menghubungi gue?"tanyanya sambil menunjukan layar ponselnya.


Sandra menaikan bahunya, ia mulai mengoleskan salep dengan Cutton Bud,


Fernando mengangkat panggilan dari Alex, "aphaan sihhhh looooh ganggu ajahhhh," ucapnya mendesis mulai merasakan perih, karena Sandra tak sengaja menyenggol lukanya.


Terdengar umpatan dari seberang sana, "ngapain Lo bangsat?"


Bukannya menjawab seolah sengaja Fernando yang sedang diobati mulai melenguh, "ahh.... Dikitttt lagihhhh Sa," setelahnya ia mengakhiri panggilannya secara sepihak.


Sandra menggeleng melihat kelakuan lelaki dengan Hoodie hitam itu, outfit yang kurang cocok saat mereka bekerja di kantor, "ngamuk lagi deh Alex,"


"biarin Sa, kali aja dia sadar,"


"maksudnya?"tanya Sandra bingung.


Fernando menaikan bahunya, lukanya Telah selesai diobati, sehingga mereka kembali bekerja seperti semula.


Seperti biasa, Sandra akan pulang diantar Fernando, dalam perjalanan keduanya juga membahas tentang pekerjaan.


"Sa, weekend besok ikut ke Sukabumi yuk, udah lama kan Lo nggak ketemu umi Fatimah,"Ajak Fernando sambil mengemudi.


"boleh sih, tapi gue ajak anak gue ya! Natasha ikut nggak sih?"


"kalau nggak ada operasi bisa deh ikut,"


"kapan berangkat?"


"Jumat sore pulang kerja gimana? Minggu malam balik,"


"boleh deh,"


Tak lama, mobil berhenti tepat di depan rumah Alex, sepertinya lelaki itu sengaja menunggu kedatangan kekasih dan sahabatnya.


"Lo mau mampir nggak do?"tawar Sandra.


"males gue, muka gue masih biru gini, ya kali mau ditambahin, pokoknya besok pagi gue jemput lagi, jangan lupa bilang anak Lo buat ikutan,"


Sandra menunjukan jempolnya, berterima kasih lalu keluar dari mobil milik Fernando.