How To Marry You ?

How To Marry You ?
enam



Liburan sekolah usai Alex tak juga kunjung menunjukan tanda-tanda akan menyatakan cintanya.


Atas saran Vina dan Toni,


Sandra mulai menjaga jarak dengan lelaki itu.


SMS tak dibalas, telpon juga tak diangkatnya, saat jam pulang sekolah, ada ayah yang menjemputnya.


Sudah hampir dua minggu Sandra acuh tak acuh pada Alex.


Sandra sadar, hampir setiap jam pulang, lelaki itu menunggunya tak jauh dari sekolahnya.


Beruntung ayah selalu menjemputnya sejak tahun ajaran baru.


Sehingga Sandra bisa menghindari Alex.


Sejak naik ke kelas tiga, Sandra dan Vina tak lagi aktif dalam kegiatan OSIS juga ekstrakurikuler.


Murid kelas tiga hanya fokus belajar untuk menyiapkan ujian nasional tahun depan.


Sandra dan Vina tergolong murid yang pandai, tetapi orang tua mereka memasukan keduanya ke dalam sebuah lembaga pendidikan semacam les untuk persiapan ujian nasional.


Sudah sebulan berlalu Sandra tak berhubungan dengan Alex.


Sudah dua pekan ini, Sandra tak lagi melihat lelaki itu menunggunya.


Ada rasa kehilangan, tapi Sandra berusaha menepis perasaannya, prioritasnya adalah bisa lulus dengan nilai memuaskan, juga diterima di perguruan tinggi negeri.


Karena mulai aktif mengikuti les di lembaga pendidikan, Sandra tak lagi di jemput Wijayanto.


Sandra akan membonceng Vina menuju tempat les menggunakan motor.


Di tempat Les keduanya akan bertemu dengan Toni.


Meskipun Sandra dan Vina adalah siswi SMK, tak salah bukan jika mengikuti les.


Les baru selesai jam setengah lima sore, Sandra kembali membonceng Vina yang diikuti dengan Toni dibelakangnya.


Kegiatan rutin ketiga pelajar itu sehari-hari dari Senin hingga Jum'at.


Weekend kalau tidak ada acara keluarga ketiganya akan menghabiskan waktu bersama, sekedar nonton bioskop, makan di mall atau di rumah Vina sambil menikmati kue-kue buatan Yuli.


Mama Vina sering mendapatkan pesanan baik kue kering atau kue basah, biasanya dibantu oleh ketiga remaja itu, lebih banyak merecoki sih.


Tak terasa sudah dua bulan berlalu, Sandra dan Alex tak lagi berhubungan.


Dari Toni, Sandra jadi tau, jika Alex memang sering seperti itu, ada beberapa teman sekolah Toni yang jadi korban Alex.


Sandra merasa beruntung tau lebih awal, setidaknya rasa sukanya belum terlalu dalam.


Rasa kehilangan pasti ada tapi tidak sampai patah hati, toh baginya ada pertemuan juga ada perpisahan.


Hari-hari Sandra berjalan sebagaimana mestinya, ia cukup bahagia, Vina dan Toni selalu bersamanya.


Suatu sore Sandra pulang dari tempat les seorang diri, tadi Vina bahkan tidak masuk sekolah karena sedang demam di rumah, tidak ada Vina, Toni juga sama, lelaki itu tengah menjaga kekasihnya sepulang sekolah.


Ini kali pertama, Sandra pulang sendiri, ayah dan ibunya semalam pulang ke Semarang, ada hajatan salah satu saudara di sana, hanya dua hari saja.


Sandra berjalan menuju pangkalan ojek tak jauh dari tempat lesnya, sekitar lima puluh meter.


Hingga sebuah motor sport berwarna hijau, menghalangi jalannya.


Sandra melebarkan matanya, ia tak menyangka bisa melihat lelaki itu lagi setelah sekian lama.


Tau sifat asli Alex yang ia dengar dari sahabatnya, Sandra memilih menghindar, namun tangannya dicekal oleh lelaki itu.


"Sa, Lo kenapa menghindari gue sih? gue salah apa sama lo?"tanya Alex yang sudah melepas helmnya.


Sandra melihat tangan yang memegang pergelangan tangannya, "Lo siapa?"tanya Sandra datar.


Alex menganga mendapatkan pertanyaan seperti itu, "astaga Sasa, kepala lo kebentur apa gimana? lo Amnesia?"tanyanya tak habis pikir.


Sandra menyunggingkan bibirnya, "maksud gue, lo siapa gue? kita bukan temen sekolah atau tetangga, jadi nggak ada alasan buat gue kenal sama Lo,"


"Kenapa Lo gini sih Sa? gue buat salah sama lo? seingat gue kita baik-baik aja, terakhir ketemu, tapi tiba-tiba sms nggak dibales, telpon nggak diangkat, dan mendadak susah banget ditemui, Lo menghindari gue, sebenarnya lo kenapa?"


"kita nggak ada hubungan apapun untuk jadi deket, jadi mending lepasin tangan lo, gue mau balik, udah sore,"ujar Sandra berusaha menepis tangan Alex.


"Gue antar,"


"nggak mau, gue mau naik ojek aja,"tolak Sandra mentah-mentah.


"Ayolah Sa, jangan gini please,"ucap Alex memohon, "oke gini deh, kalau gue ada salah, gue minta maaf, tapi tolong sekarang gue antar ya!"


Sandra menggeleng,


"oke, kalau emang lo nggak mau gue ajak baik-baik, berarti lo mau dipaksa kan?"setelah mengatakannya, Alex menarik tangan Sandra menuju motornya, meskipun wanita itu memberontak, Alex tak peduli.


Lelaki itu mengambil paksa tas ransel milik Sandra dan mengalungkannya dileher,


Alex memakaikan helm juga jaket di pinggang gadis itu, lalu sedikit mengangkat agar Sandra langsung duduk di jok belakang motornya.


Alex mulai menjalankan motornya, tapi Sandra tak kunjung memegang pinggangnya, sehingga ia dengan sengaja menambah kecepatan kendaraan miliknya, hingga sebuah tonjolan menabrak punggungnya.


Ada senyum tipis di bibir lelaki yang tahun depan berusia sembilan belas tahun itu.


Motor Alex melewati perumahan dimana Sandra tinggal, gadis dibelakangnya menepuk pundaknya,


Hingga motor berhenti tepat didepan gerbang rumah.


Alex turun dari motor begitu juga dengan Sandra.


"ini rumah siapa? terus ngapain lo bawa gue kesini?"tanya Sandra yang melihat Alex membuka gembok gerbang berwarna hitam itu.


"Rumah pak Soejono,"jawab Alex,


Gerbang terbuka, lelaki itu menuntun motornya masuk kedalam.


Sandra diam ditempat, bingung antara harus mengikutinya atau pulang saja, tetapi tas ranselnya masih ada pada lelaki itu.


"Lex, tas gue balikin, gue mau balik, udah sore,"pinta Sandra masih berdiri ditempat semula.


Alex sudah memarkirkan motornya, tapi Sandra tak kunjung masuk, lelaki itu menghela nafas, "sini masuk Sasa, masa gue harus paksa lo sih?"


"Gue mau balik, kita nggak sedekat itu, hingga gue perlu bertamu di rumah Lo,"tolak Sandra.


"Ya udah kalau nggak mau masuk, berarti ransel lo, nggak gue balikin,"ujar Alex sambil berbalik masuk ke dalam.


Sandra berdecak, ponsel dan dompetnya ada didalam tas ranselnya, mau tak mau ia harus mengikuti lelaki itu.


Sandra melewati teras lalu dipersilahkan masuk juga duduk.


Sandra melihat ke sekeliling ruang tamu, ada foto keluarga, sepertinya saat foto diambil, Alex masih kecil.


Dari foto itu, Sandra jadi tau, jika Alex mempunyai seorang kakak perempuan, dan lelaki itu lebih mirip ibunya yang sepertinya bukan orang pribumi.


"Itu foto terakhir saat keluarga gue masih lengkap, selang sebulan nyokap gue meninggal karena sakit,"jelas Alex yang tiba-tiba datang dari dalam rumah membawa nampan berisi gelas berisi orange jus.


"minum Sa,"tawar Alex, "mau makan nggak?"tanyanya.


Sandra meminum orange jus yang ada dihadapannya, hingga tersisa setengahnya.


"gue balik aja ya lex, bentar lagi magrib, nggak enak sama bokap dan kakak lo,"


"Mereka lagi nggak di rumah, jadi santai aja,"


Hening tak ada pembicaraan apapun.


"Sa, gue laper, temenin gue masak yuk,"ajak Alex.


"tapi gue mau balik,"ucap Sandra menolak.


Alex menghembuskan nafasnya kasar, "kalau gitu, tas lo, nggak bakal gue balikin,"ancamnya.


Tak ada pilihan lain Sandra mengikuti lelaki itu, namun alangkah terkejutnya dirinya, saat berada di ruang tengah, tepat diatas meja televisi, ia melihat lukisan bunda Maria.


Terjawab sudah mengapa Alex tak ikut shalat siang itu saat mereka mengunjungi kebun binatang.


"Sa, sini,"panggil Alex dari arah dapur.


Sandra berjalan menuju ke arah sumber suara.


Alex sedang berada di depan lemari penyimpanan, "mau mie rebus atau mie goreng Sa?"tanyanya.


"goreng,"jawab Sandra.


"pake telor, sawi sama cabe nggak? kornet kalau mau?"tanya Alex lagi.


"pakai semua, sini gue bantuin,"


Keduanya mulai memasak mie instan itu bersama.


"Lo biasa kayak gini Lex?"tanya Sandra.


"iya, bokap gue lebih sering kerja diluar kota, terus kakak gue sekolah di asrama,"


"oh... gitu,"


"Lo kaget ya liat lukisan dia atas tv?"


"sedikit kaget,"


"wajar sih kalau lo kaget, apa itu yang buat Lo jauhi gue, gara-gara gue nggak ikutan shalat waktu di Ragunan,"


Sandra melambaikan tangannya, "gue malah nggak tau kalau lo beda keyakinan sama gue, kirain lo cuman emang males aja,"


"jadi apa alasan lo jauhi gue?"tanya Alex.


"nggak ada alasan apapun, lagian kita nggak satu sekolah, buat apa deket,"jawab Sandra santai.


"Tapi Toni beda sekolah sama lo, kalian bisa bareng terus,"


"Toni itu pacarnya Vina, dan Vina adalah sahabat gue, jadi wajar bukan kalau kami dekat, kami juga satu tempat les,"


"emang harus ada status dulu, biar gue deket sama lo,"


"ya nggak juga, dah lah nggak usah dibahas,"


Alex sudah selesai memasak, ia membawa mangkuk dan piring menuju ruang tengah, sedangkan Sandra membawakan air mineral.


Keduanya makan dengan lahap tak ada obrolan apapun di sela-selanya.