How To Marry You ?

How To Marry You ?
sembilan puluh



Alex mendampingi Benedict pada rapat malam itu bersama salah satu perwakilan perusahaan rekanan.


Rapat yang seharusnya diselesaikan hanya satu jam, nyatanya harus molor hampir dua jam lamanya, ada sedikit perdebatan tadi.


Benedict terlebih dahulu keluar bersama salah satu asistennya, sedangkan Alex sedang membalas pesan dari kekasihnya, namun tidak sampai dua menit, sahabatnya itu kembali masuk, dengan wajah panik, Lelaki dua anak itu mengajaknya untuk segera kembali ke Indonesia.


"Tenang dulu Ben, nggak usah panik, coba gue tanya ke Sandra apa ada masuk gugatan cerai atas nama Ayu,"ujar Alex berusaha menenangkan sahabatnya.


Alex menghubungi kekasihnya, namun jawaban wanita itu tak ada pengajuan cerai atas nama Ayudia, begitu juga Rama yang kebetulan sedang bersama Sandra di kantor,


"apa mungkin Ayu pake jasa pengacara lain? Mungkin kenalan Tante Anna,"


Benedict melebarkan matanya, "ya udah Lex, balik sekarang aja, gue nggak akan biarkan Ayu pergi,"


"Ben, bisa tenang nggak, gini deh, gimana kalau kita baliknya besok sore aja, besok masih ada meeting penting sekali lagi,"


Sebuah notifikasi masuk di ponsel milik Benedict, lelaki itu membukanya lalu mengumpat cukup keras, ia menyodorkan ponsel pada sahabatnya, "Ayu narik uang dalam jumlah banyak, dia pasti mau kabur lagi,"


"Ben, entar gue suruh Jonas sama Robert buat cek, jadi Lo tenang aja, mendingan sekarang kita ke penthouse dulu,"saran Alex,


Benedict menuruti ucapan sahabatnya itu, mereka kembali ke penthouse untuk beristirahat, karena hari sudah cukup malam.


Tapi keesokan paginya, Alex mendapatkan kabar dari dua asistennya, jika keberadaan Ayu tak terdeteksi.


Akhirnya Rapat yang harusnya dilaksanakan usai jam makan siang, diajukan beberapa jam lebih cepat dari jadwal, selama berlangsungnya rapat, berkali-kali Alex mengingatkan bosnya agar tetap tenang dan menahan emosi.


Selesai Rapat, mereka langsung menuju landasan pacu diatas gedung, karena akan menggunakan helikopter untuk menuju bandara, bahkan saking buru-buru nya Choki yang sedang bersama Troy sampai tertinggal.


Dalam perjalanan, Benedict terus mengoceh, bukan hanya bicara tentang penyesalannya, tapi juga makian yang ditujukan pada dirinya sendiri, sedangkan Alex hanya bisa mendengarkan, dan sesekali akan menanggapi jika diperlukan.


Alex menawarkan obat tidur miliknya agar, sahabatnya bisa beristirahat dengan tenang selama perjalanan, karena sudah seminggu ini, mereka bekerja mati-matian.


Tadi sebelum lepas landas, Alex sempat mengirim pesan pada kekasihnya agar menjemputnya nanti di bandara.


Disisi lain, Sandra mengirimkan pesan pada Rama agar pergi bersamanya nanti untuk menjemput Benedict dan Alex di bandara.


Dua puluh jam lebih berlalu, private jet mendarat di bandara timur ibu kota, ada Sandra bersama Rama yang menunggu.


Sayangnya bukan senyum mengembang yang menghiasi wajah Alex, lelaki itu justru berwajah masam, ketika melihat siapa yang bersama kekasihnya, bisa ditebak jika mereka pasti satu mobil bersama.


Sepertinya lepas kangen dengan kekasihnya harus tertunda, tak mungkin bukan jika ia harus menyuruh bos dan wakilnya menaiki taksi dari bandara.


Bahkan sekedar memeluk dan mencium wanita yang dicintainya saja, sesuatu yang cukup sulit mengingat Benedict sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.


Sepanjang perjalanan menuju kantor yang dikelolanya keempat orang itu hanya diam membisu, tak ada yang bersuara jika sang bos besar sedang dalam mode diam dan butuh ketenangan.


Rama dan Alex adalah sahabat sekaligus bawahan yang setia dan nyaris selalu menuruti perintah Benedict tanpa membantah ataupun protes, mereka hanya menerimanya saja, berbeda dengan Fernando yang bahkan sering berdebat dan adu fisik, yang anehnya justru lebih dekat secara pekerjaan dibanding lainnya.


Alex tentu tau, jika beberapa bulan yang lalu, Fernando resmi menjadi pemilik salah satu saham terbesar perusahaan Wright setelah pemilik utamanya adalah Benedict, George yang merupakan sepupu saja kalah dalam kepemilikan saham.


Dari cctv yang Robert dan Jonas retas, Ayudia mengambil uang dalam jumlah besar di mesin ATM disalah satu bank ternama tak jauh dari kompleks perumahan, sayangnya beberapa cctv sedang dalam perbaikan, yang berfungsi hanya didalam ruangan tempat mesin ATM berada.


Sejak itulah Alex semakin sibuk mengerahkan orang-orangnya untuk mencari keberadaan Ayudia.


Jangankan untuk melepas rindu, Alex hanya bisa melihat Sandra saat sedang berkerja sebagai sekertaris, itupun hanya bisa bertindak profesional, dikarenakan ada Benedict yang ada di ruangannya.


Berminggu-minggu berlalu, siang itu Alex mendapatkan pesan, jika Fernando akan datang ke ibukota memberikan laporan rutinnya.


Saat kedatangan Fernando, kebetulan Benedict sedang pulang ke rumahnya berganti baju,


"Hai Sasa sayang, tambah semok aja,"goda Fernando berniat memanas-manasi sahabatnya.


Sandra yang hendak memberikan laporan, melirik sekilas pada lelaki blasteran itu, berbeda dengan Alex yang sampai mengumpat.


"wah lama nggak dikasih jatah sa! Mode sangar nih,"seolah tak jera Fernando menggodanya lagi.


"Diem Lo Fernando, suasana lagi panas, mending Lo tenang,"cetus Rama sembari memeriksa laporan yang diberikan sahabatnya itu.


Sandra yang sudah selesai memberikan laporan, menghampiri lelaki berambut cokelat itu, "Do, belum lama Cristy Dateng ke lobby, niatnya mau ketemu Alex, cuma waktu itu Alex masih di Amerika, kebetulan gue lagi beli kopi dibawah, dia kan tau gue kan, dia nanyain elo, masih minta balikan tuh,"jelasnya.


"bilang aja gue udah mau nikah, jadi jangan ganggu gue,"ujar Fernando.


"emang siapa calonnya? Kok gue nggak denger atau dikenalin,"balas Sandra.


"tuh, gara-gara bos sialan Lo, calon gue ngilang, emang paling-paling tuh,"


Sandra mengernyit heran, "Alex maksudnya?"tanyanya.


Alex yang sedari tadi memeriksa beberapa berkas sambil mendengarkan percakapan itu, akhirnya angkat bicara, "bukan aku ko Sa, tapi Benedict,"jelasnya.


"Calon Lo menghilang, sekarang giliran bininya Ben yang ilang, udah sebulan lebih malah,"cetus Sandra.


Fernando yang sedang bersandar langsung menegakan tubuhnya, "maksudnya apa? Ayu ilang lagi, terus nggak ada yang kasih tau gue gitu?"


"Ben yang suruh Do, jadi Lo jangan marah ke kita-kita,"sela Rama, ia tau Fernando cukup dekat dengan Ayudia.


"Ben itu cemburu karena Lo terlalu dekat dengan Ayu, ya wajar sih dia kayak gitu, dia kan posesifnya kelewatan,"Alex juga menjelaskan tentang penyebab Ayudia pergi dari rumah.


Fernando mengumpat, dan mencaci maki Benedict, andai ada orang itu disini, bisa-bisa ruang kerja Alex akan berubah menjadi arena adu jotos kedua sahabatnya.


"gue cabut,"ujar Fernando berdiri lalu berjalan keluar dari ruangan itu, tapi Rama mengingatkan agar lelak blasteran itu mengendalikan emosinya, kalau bisa jangan menemui Benedict.


"gue mau ke Bogor, males banget gue liat mukanya Ben,"usai mengatakan hal itu, Fernando benar-benar meninggalkan ruang kerja Alex.


Mereka yang tersisa, saling pandang seolah bertanya apa yang akan dilakukan lelaki blasteran itu, lalu berharap agar tak ada adu jotos diantara Benedict dan Fernando.