How To Marry You ?

How To Marry You ?
sembilan puluh delapan



Ditengah-tengah Sandra bekerja dengan Rama di ruangan Alex, ponsel wanita itu berdering, terlihat nama Elina tertera di layar,


"Ram, gue angkat dulu ya!"ijinnya pada atasannya, sedangkan Rama hanya berdehem.


Sandra mengangkat panggilan itu, menjawab salam, Elina mengatakan jika dirinya masih dalam perjalanan menuju ibukota bersama ibu juga ketiga anaknya, dan meminta tolong untuk menjemput mereka siang nanti.


"Siapa sa?"tanya Rama.


"Mantan mertua sama adik ipar gue, mereka mau jalan-jalan kesini,"jelas wanita beranak satu.


Rama menghentikan pekerjaannya, "Nyari perkara lo, Ngambek Alex nanti, ribet tau, ada Ben soalnya,"


"Alex udah tau kok, ya emang ngambek sih kemarin, tapi udah gue jelasin kok, toh gue juga nggak mungkin balikan sama mantan,"


"tetep aja Sasa, bisa nggak cari aman aja, biar damai gitu hidup, kayak Ayu sama Ben udah akur, gue sama Sinta juga, seenggaknya lo sama Alex juga lah,"


"gue tau batasan Rama, dan Lo yakin udah adem ayem sama Sinta? Jangan bilang Lo nggak tau, kalau Citra masih meneror bini lo,"ujar Sandra memastikan.


Beberapa kali Sinta menelponnya sambil menangis meratapi masa lalu sang suami.


"Yang bener lo Sa! Kok Sinta nggak cerita, dia terlihat baik-baik aja kok,"


Sandra menceritakan, tentang curhatan dari Sinta yang memberitahunya jika Citra beberapa kali mengirimkan foto dan video tentang kemesraan Rama dengan mantan pacarnya, bahkan ada video saat mereka berhubungan intim, bahkan penyebab keguguran yang dialami sahabatnya itu karena stress dengan kelakuan mantan tunangan dari Rama.


Lelaki itu terlihat terkejut mendengar penjelasan dari Sandra, ia tak menyangka istrinya menyembunyikan sesuatu darinya.


"paling apes berhubungan sama cowok-cowok brengsek kayak kalian tau nggak, kalau ingat gue gedek sendiri, pengen gue bejek-bejek, dulu Lusi, sekarang Citra, mana yang ditindas cewek polos semua lagi, seandainya Ayu sama Sinta ngajakin gue melabrak itu dua cewek gatel, gue ikut, empet banget gue,"ucap Sandra mengungkapkan kekesalannya.


Rama melongo mendengar ucapan sahabat sekaligus bawahannya itu, ia tak menyangka, Sandra yang biasa lembut, bisa terlihat sangar.


"nggak perlu sa, entar biar gue sendiri yang tegur Citra,"ujarnya menenangkan ibu beranak satu itu.


Sandra masih menggerutu sambil memeriksa pekerjaannya, sedangkan Rama hanya menggelengkan kepalanya.


Hingga pintu ruangan diketuk, Rama mengijinkan masuk, terlihat dua orang dari divisi marketing akan memberikan laporan pada atasan mereka.


Sandra melirik sekilas, tapi alangkah terkejutnya ia ketika Ferdiansyah salah satu dari kedua orang yang masuk, ini kali pertama mantan suaminya yang memberikan laporan.


Rama yang sudah tau, melirik ke sahabatnya lalu berdehem, seolah mengingatkan wanita itu untuk bersikap profesional.


Sandra yang tadinya duduk berhadapan dengan Rama, memilih bangkit dan membawa laptopnya menuju sofa, untuk memberi kesempatan pada staf marketing untuk memberikan laporannya.


Lima menit berlalu kedua orang itu selesai memberikan laporan pada Rama, dan hendak undur diri, tapi Ferdiansyah malah menghampiri Sandra,


"Sandra, tadi Elina sudah menghubungi kamu kan, aku minta tolong ya!"ucapnya.


Rama dan salah satu rekan Ferdiansyah terkejut dengan tindakan berani lelaki itu, bagaimanapun Sandra adalah salah satu sekertaris,


Wanita itu hanya berdehem, tanpa mengatakan apapun, ia bersikap dingin pada mantan suaminya, ia tak mau menimbulkan gosip.


Sepeninggal staf marketing, Rama mengumpat, "gila ya mantan lo, cari perkara aja, nggak abis pikir gue,"


"sama kayak mantan lo juga Rama, senengnya cari perkara,"sahut Sandra santai.


"gue ingatkan ya Sa, jangan kasih dia harapan, gue nggak mau Alex terpuruk lagi,"


Sandra tak menanggapi, ia lebih memilih melanjutkan pekerjaannya.


Menjelang jam makan siang, ada tamu yang datang berkunjung, tamu yang sangat jarang berkunjung ke kantor.


"Ada apaan Lo berdua kesini? Terutama lo Sha,"tanya Rama heran.


"gue kangen masakan Tante susi, makanya gue mau numpang makan siang disini, ia nggak os?"sahutnya berdusta.


Rama tau kedua sahabatnya sedang berbohong, karena setau dirinya, seminggu sekali, pekerja di rumah ibunya akan mengirimkan makanan siap makan untuk stok di kulkas mereka masing-masing, belum lagi jika salah satu dari mereka meminta di kirimkan makan siang ke rumah sakit, meskipun sudah ada kantin.


"Dokter Oscar Anggara dan dokter Natasha Amelia, saya tau kalian berbohong, jadi jawab jujur apa maksud tujuan kalian kesini?"


Natasha yang mulai menyantap makan siangnya, menghentikan kunyahannya, lalu menatap Oscar seolah mengatakan, agar lelaki itu yang menjelaskan maksud kedatangan mereka.


Oscar meletakan kotak bekal di meja didepan sofa, ia melirik Sandra yang sedang berbagi lauk dengan Natasha.


"Gue mau minta Sandra bantu gue mengelola management rumah sakit, toh dia udah resmi jadi salah satu pemiliknya, lo tau kan, Alex udah mengalihkan kepemilikannya,"jelas Oscar sedikit ketar-ketir, meskipun Rama orang yang ramah dan baik hati, tapi untuk urusan pekerjaan, ia sama halnya dengan Benedict, yang tak mentolerir adanya kesalahan dan paling tidak suka pekerjaan diganggu.


Rama meletakan kotak bekalnya di meja, sedikit kasar, sehingga ketiga sahabatnya terkejut, Sandra sampai tersedak, sehingga Natasha langsung menepuk punggung wanita beranak satu itu.


"Maksud Lo apaan? emang di sana nggak ada orang yang bantuin Lo? bukanya selama ini nggak ada masalah sama management? Kenapa tiba-tiba Lo minta Sandra? Nyari perkara lo!"ungkapnya kesal.


Tak lama Benedict datang, lelaki itu baru pulang tadi pagi, usai perjalanan bisnisnya dari luar negeri, "kenapa pada diem? Biasanya kalau makan bareng pada heboh, terus tumben banget Asha disini,"ucapnya sembari duduk di kursi singel.


Keempatnya saling lirik, seolah saling tunjuk, untuk menjelaskan tentang sesuatu yang baru dibahas mereka.


Sandra menghela nafas, "Ben, lo ingat beberapa hari yang lalu, gue telpon soal niatan bergabung dengan management rumah sakit yang dikelola Oscar, kita lagi ngomongin soal itu,"jelasnya mengingatkan sahabat sekaligus big bosnya.


Benedict mengernyit, mencoba mengingatnya, "oh ya, terus kenapa? Apa ada masalah?"tanyanya santai.


Rama menghembuskan nafasnya kasar, "iya masalah, kenapa Lo nggak ngomong ke gue dulu sa, maksud Lo apaan? Gue bukannya gila hormat, Lo ada masalah selama kerja bareng gue? Kenapa nggak terus terang aja? Apa gue buat salah sama Lo?"tanyanya bertubi-tubi.


Sandra menggeleng, "bukan gitu alasannya Rama, ih... Sama lo kayak Alex, ribet lagian gue resign nanti saat udah dapat ganti, ini juga baru rencana, ngapa udah kayak orang kebakaran jenggot si, gue itu cuma ingin mengembangkan diri, emang nggak boleh gue berkembang?"jelasnya panjang lebar.


"Emang disini Lo nggak berkembang? Selama ini baik-baik aja kok,"ucap Rama masih tak mau kalah, ia merasa jika kekasih dari sahabatnya sengaja menghindari Alex,


"gue cuman ingin bantu Oscar, kasihan kan, mengurus segalanya sendiri, operasi, poliklinik dan management juga, kasihan dia, mau pedekate aja susah cari waktu,"Sandra berdalih.


Keadaan yang semakin tidak memungkinkan membuat Benedict mengangkat tangannya, "diem Lo berdua, berisik tau nggak, mending abisin makan siang kalian, abis ini kita bahas,"


Beberapa menit berlalu, kelimanya sudah selesai dengan makan siang masing-masing, sambil menunggu makanan turun, mereka kembali melanjutkan pembicaraan.


"Jadi gini ya Sa, untuk sementara hingga semua kembali normal, Lo disini dulu bantu Rama, sambil Lo ajarin Robert, setelah dia bisa, Lo bisa mulai bantu Oscar,"ucap Benedict.


"Ben,"protes Rama tak terima,


Benedict yang sepertinya sudah tau alasan mengapa Rama begitu ngotot, mengangkat tangannya kembali, seolah mengatakan jika dirinya tak mau dibantah.


Walau kesal, Rama tetap menerima keputusan Benedict.


Kemudian mereka membahas tentang pekerjaan juga kembalinya Fernando sebulan lagi.


Pembicaraan mereka terhenti ketika ponsel Sandra berdering, itu Elina yang menghubunginya, "Ben, gue ijin keluar dulu ya!"ucapnya.


"mau kemana?"tanya lelaki beranak dua itu.


"Gue mau jemput saudara di stasiun,"jawab Sandra sambil bersiap.


Benedict berdehem menyetujuinya, Rama hendak protes, tapi lelaki itu mengangkat tangannya kembali, seolah menyuruh Rama diam.