
Sandra menanyakan keberadaan toilet di ruang kerja bos sekaligus cinta pertamanya, lelaki itu menunjuk pintu yang terletak di samping lemari buku.
Sandra menutupi bagian sensitifnya hanya dengan kedua tangannya, ia harus bergegas ke kamar mandi untuk segera mengeluarkan cairan kental dari ***********, ia tak ingin putranya memiliki adik, apalagi dengan statusnya sekarang.
Ia berusaha mengejan sekuat tenaga, berharap benih itu tak membuahi sel telurnya, ia ingat hari ini adalah masa suburnya.
Ia merutuki kebodohannya, bisa-bisanya ia lupa, tapi sejujurnya dalam hati, ia tidak menyesali perbuatannya.
Ia sadar diri dengan statusnya, tapi siapa peduli, beberapa tahun pernikahannya, tidak sekalipun suaminya memenuhi kebutuhan biologisnya.
Gila memang, ia berselingkuh dengan cinta pertamanya, sekali lagi ia tak peduli, bertahun-tahun ia merindukan sentuhan itu.
Sepertinya ia juga harus mandi, tak mungkin ia turun dan bertemu dengan rekan kerjanya dalam keadaan acak-acakan, apalagi bau parfum yang bercampur peluh, memang masih wangi, apalagi lelaki itu menggunakan parfum yang khas.
Ia yakin, rekannya yang sudah pernah berinteraksi langsung dengan bosnya bisa mengenali wangi parfum dari lelaki itu.
Ini kali pertama ia memasuki ruangan bosnya, termasuk toiletnya, ia pikir hanya akan ada wastafel dan closet saja, ia tak menyangka, bathub juga shower tersedia di sana.
Sandra mulai mandi dibawah guyuran shower, segar sekali rasanya.
Hingga sebuah tangan kekar memeluk pinggang rampingnya,
"Kenapa nggak ngajak aku sekalian buat mandi bersama?"tanya lelaki dengan tubuh kekar dibelakangnya, bahkan ia bisa merasakan tonjolan yang menusuk.
Bukan tanpa sengaja ia tidak mengunci pintu, hanya saja ia sedang terburu-buru tadi.
Sandra tak menjawab, ia berbalik dan mengalungkan tangannya dileher lelaki itu, ia berjinjit dan mencium bibir seksi itu.
Keduanya melakukannya lagi dibawah guyuran shower dan tembok kamar mandi.
Sandra baru tersadar ketika ia melihat jendela kaca di samping meja kerja, diluar sana langit sudah gelap.
Apa segitu lamanya ia bercinta?
Dirinya memang benar-benar gila sekarang.
Entah apa yang akan dipikirkan rekan-rekannya, sedari tadi ia tak turun dari ruangan bosnya.
Apalagi sekertaris yang ada dimeja depan ruangan ini.
"Alex, aku sedikit khawatir dengan pikiran orang-orang apalagi sekertaris kamu, aku udah terlalu lama disini,"ungkapnya saat baru saja mengenakan blazer miliknya.
"Memangnya kenapa?"tanya Alex.
"Coba kamu pikir, apa yang dilakukan seroang laki-laki dan perempuan dewasa didalam ruangan selama berjam-jam,"jawab Sandra sambil menghela nafas.
"kamu takut?"tanya Alex lagi.
"setahu mereka, aku adalah wanita bersuami, kenapa bisa lama berada disini, sementara pekerjaan aku nggak langsung berinteraksi dengan kamu,"
"Apa kamu menyesal telah melakukannya denganku?"
"Kenapa jadi bahas itu sih, ini aku bahas pandangan orang-orang tentang aku yang hanya staf biasa berada di ruangan bos cukup lama, menurut kamu apa pandangan mereka? Kamu ngerti maksud aku nggak sih?"
Alex menaikan bahunya,
Kesal dengan sikap tak peduli lelaki itu, Sandra memutuskan untuk pamit,"tolong buka pintunya aku mau pulang,"
"Kamu mau pulang setelah apa yang kita lakukan?"tanya Alex mulai kesal.
"Alex aku punya keluarga yang harus aku urus, ini sudah lewat dari jam pulang,"
"kamu bahkan belum menjawab pertanyaanku tadi, kenapa kamu meninggalkan aku sepuluh tahun yang lalu? Kenapa kamu menikah dengan lelaki lain dan memiliki anak? Satu lagi yang membuat aku heran, kenapa kamu yang sudah bersuami, mau aku ajak berhubungan intim seolah kamu tidak pernah melakukannya sebelumnya? Apa alasannya Sandra? Kenapa kamu seperti ini? Apa kamu ingin mempermainkan aku? Apa tidak cukup bagi kamu membuatku dalam ketidakpastian selama sepuluh tahun ini? Dan sekarang kamu mau pergi begitu saja tanpa memberiku alasan, kamu anggap aku ini apa?"tanya Alex bertubi-tubi
"Alex aku minta maaf, aku punya alasan, tapi aku tak bisa memberitahukan apa itu, ini demi kebaikan kita semua,"jawab Sandra berusaha tetap tenang.
"Apa dengan minta maaf, waktu sepuluh tahun aku nunggu kamu, bisa kembali lagi? kamu tidak ingat pernah bilang akan menikah denganku setelah kita sukses, tapi nyatanya kamu malah mengkhianati aku, kamu bahkan sudah menikah dan memiliki anak, menurut kamu apa yang harus aku lakukan? Jawab Sandra!"ucapnya dengan tatapan tajam.
"kamu harusnya tau apa jawabannya, kita berbeda, kita sulit untuk bersama, dari awal aku pernah bilang bukan, tapi kamu selalu menyangkal,"
"Persetan dengan perbedaan, itu hanya alasan kamu, untuk pergi dari aku bukan? Kamu nggak pernah mencintai aku? Kamu mengingkari janji kamu dan mengkhianati aku,"Teriak Alex tepat didepan wajah wanita itu.
"Lalu apa lagi sekarang? Kamu bahkan mau aku ajak berhubungan intim, kamu tidak menolak ku, kamu menikmatinya, kamu hebat Sandra, kamu hebat, kamu mempermainkan aku, kamu menyakiti aku, pergi dari sini jangan pernah tunjukan wajah kamu dihadapan aku, kalau kamu tidak ingin aku mengurung kamu lagi,"teriaknya,
Melihat wanita itu kembali meninggalkannya, ia melempar remote ke lemari kaca yang berisi buku koleksi miliknya, ia bahkan menendang meja kaca yang ada didepan sofa hingga pecah, ia berteriak, mengumpat dan memaki dirinya sendiri.
Disisi lain, Sandra bisa mendengar kaca yang pecah juga teriakan lelaki itu.
Rasa bersalah menghinggapi pikirannya, ia sadar telah memberi harapan sekaligus menyakiti lelaki itu.
Ia harusnya bisa menahan nafsu birahinya, tapi disisi lain ia sama sekali tak menyesal melakukan hal itu.
Kantor sudah sepi, ia segera turun mengambil tasnya, ini sudah terlambat untuknya pulang.
Sebelum pulang, ia mampir ke apotek yang dilewatinya, ia butuh pil kontrasepsi darurat, ia tak ingin menambah masalah hidupnya, dengan hamil anak keduanya.
Sesampainya di gerbang Apartemen, terlihat putranya dengan baju Koko berwarna putih sedang menunggunya.
Senyum yang sama dengan lelaki itu, meski secara wajah putranya lebih mirip dengannya, namun jika tersenyum, mirip sekali dengan ayah kandungnya.
Putranya mengaku sudah makan bersama sekuriti apartemen, katanya ada salah satu penghuni apartemen yang membagi-bagikan makanan.
Ibu dan anak itu memasuki unit apartemen, Sandra bersyukur, suaminya sedang ada acara bersama rekan kerjanya di puncak, sehingga ia hanya berdua dengan putranya.
Kalau sudah begini, putranya akan tidur bersamanya didalam kamar.
Ketika putranya sudah terlelap, pikiran Sandra menerawang jauh yang membawanya ke masa lalu,
Flashback.
Wijayanto memberitahukan pada Sandra jika mereka harus pindah ke Semarang untuk merawat nenek yang terkena stroke.
Sandra juga sudah didaftarkan di salah satu kampus swasta di sana, jadi ia hanya tinggal mengurus barang-barangnya lalu pindah.
Di ibukota Jawa Tengah itu ia akan tinggal di rumah neneknya, sama seperti masa kecilnya dulu.
Secara kebetulan dari pihak kantor Wijayanto bekerja juga menawarinya untuk mengurus cabang yang ada di sana.
Sandra hanya menuruti, ia meminta ayah dan ibunya tidak memberitahukan kepada siapapun tentang kepindahannya, termasuk keluarga Vita dan Toni.
Tentu alasannya karena tak ingin ada lelaki yang tiba-tiba meminta pertanggung jawaban padanya.
Sandra tak ingin ayah dan ibunya tau hubungannya dengan lelaki berbeda keyakinan itu.
Sedari awal saat dirinya memasuki bangku SMK, kedua orangtuanya memperingatkan padanya agar tidak menjalin hubungan dengan lelaki yang berbeda keyakinan.
Orang tuanya beralasan jika ia tak ingin putri mereka bernasib sama dengan Warida, adik bungsu Wijayanto yang menikah dengan lelaki berbeda agama,
Tante Ida biasa disapa, keluar dari keyakinan keluarga dan mengikuti keyakinan suaminya.
Malang nasib Tante Ida, ia mendapatkan kekerasan dan diselingkuhi suaminya sendiri lalu berakhir mengakhiri hidupnya karena depresi.
Keluarga Terpukul dengan nasib tragis salah satu keluarga.
Sandra sebagai anak yang berbakti tentu akan menuruti perkataan Kedua orang tuanya, hanya karena cinta masa remaja ia tak akan mengorbankan keluarganya.
Ya meskipun ia bahkan memberikan mahkota berharganya pada lelaki itu, ya anggap saja itu sebagai ucapan terima kasih karena telah mengenalkan dunia baru padanya.
Kedua orang tuanya telah pindah bersama barang-barang mereka, Sandra meminta waktu untuk berpisah dengan teman-temannya, ia akan menyusul dengan menaiki kereta.
Ia sempat menghadiri acara pertunangan antara Vina dan Toni, juga menginap semalam di rumah Natasha.
Terakhir ia mengunjungi rumah Alex dan melakukan hubungan intim yang terakhir kali dengan lelaki itu, anggap saja sebagai hadiah perpisahan.
Ia tidak menceritakan pada siapapun rencananya, termasuk pada kekasihnya.
Memastikan jika lelaki itu masih terlelap, subuh itu Sandra menaiki taksi menuju stasiun.
Ia hanya membawa tas ransel kecil berisi baju ganti, sehingga tak ada yang curiga dengan kepergiannya.
Sandra tidur di bangku stasiun sambil menunggu keberangkatan kereta yang akan membawanya ke kota dimana keluarga besarnya berada.
Tak lupa membuang kartu SIM ke tempat sampah, seolah membuang semua kenangan yang ada di kota ini.
Flashback off