
Sekembalinya Jonas dari libur panjangnya, Sandra kembali menjadi sekertaris suaminya sendiri.
Setelah mengantarkan putra semata wayang mereka ke sekolah, keduanya langsung berangkat ke kantor bersama-sama dengan Alex yang mengemudi, katanya ini masih diluar jam kerja sehingga status mereka masih suami istri.
Tapi sebelum itu, Alex mengajak istrinya bernostalgia, mengunjungi penjual mie ayam yang jadi tempat sarapan ketika masih jaman putih abu-abu bersama sahabat-sahabatnya ketika bolos.
Alex bercerita sudah lama tak makan langsung ditempat itu, biasanya salah satu sahabatnya yang akan membungkus untuk dimakan bersama-sama di kantor.
Karena tempat yang ramai, pasangan suami istri itu memutuskan makan didalam mobil sembari bercerita tentang kenakalan Alex saat masa remaja dulu.
Sandra hanya beberapa kali menanggapi dengan tawa atau komentar ketus jika suaminya menceritakan tentang banyaknya gadis-gadis yang mengejarnya.
Hingga Sandra teringat tentang sahabatnya yang saat Xander dirawat datang menemuinya.
"Vina dan Toni jenguk Xander, saat dirawat, Asha yang kasih tau, mereka cerita banyak tentang kamu yang menanyakan aku dulu,"
"Ya, tentu aku nggak ada pilihan lain selain tanya ke mereka, karena setau aku mereka adalah sahabat kamu, lalu aku baru sadar ternyata saat kita menjalin hubungan, aku nggak tau banyak tentang kamu, bahkan nama lengkap kamu saja aku nggak tau,"
Sandra tertawa kecil sembari melap mulutnya dengan tisu, "kamu kan nggak pernah tanya, ya aku nggak jawab, lagian katanya cinta tapi kenapa nggak cari tau,"
Alex menaikan bahunya, "entahlah, aku juga baru sadar betapa aku tidak peka dan bodoh, aku egois banget ya!"
"baru sadar kamu!"
"ya itu hanya masa lalu, dan sekarang karena kita sudah sah menjadi suami istri, aku mau aku harus tau tentang kamu lebih dari siapapun, termasuk Asha, jadi kemarin kamu kemana? kenapa pulang terlambat?"
Sandra menceritakan dengan jujur tentang apa yang dilakukannya kemarin sore, tentang tidak terimanya Ferdiansyah setelah tau jika dirinya telah menikah dengan papa kandung putranya, termasuk rencananya memberikan modal usaha pada mantan adik iparnya.
Mendengar itu hati Alex rasanya terbakar, ia cemburu setelah tau ada lelaki lain yang mencintai istrinya, namun ia berusaha menutupinya.
"mungkin siang ini, dia akan datang ke kantor, membereskan barang-barangnya lalu menerima pesangon yang diberikan perusahaan dan secara pribadi dari Ben,"
Sandra sudah tau hal itu, tadi pagi Elina mengiriminya pesan memberitahukan tentang kedatangan Ferdiansyah ke kantor.
Selesai dengan sarapan, keduanya bertolak menuju ke kantor, karena jalanan yang mulai macet, sehingga mereka sampai lima menit sebelum jam kerja.
Alex memilih menghentikan mobil yang dikemudikannya tepat didepan lobby, dimana para pekerja mulai berdatangan, Sandra sempat protes tapi lelaki itu tak peduli.
Sebagian pekerja tentu tau jika mobil yang berhenti tepat didepan lobby adalah mobil sekertaris pimpinan mereka, mungkin ada tanya dibenak sebagian dari mereka, mengapa pagi-pagi atasan dan bawahan itu ada di mobil itu.
Yang membuat lebih terkejut lagi, adalah Alex yang membukakan pintu mobil untuk sekretarisnya, pemandangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Belum lagi saat keduanya memesan kopi, beberapa kali Alex mengelus rambut sebahu sekretarisnya.
Sesampainya di lantai enam, Alex mengumpulkan penghuni yang telah hadir dan memberitahukan jika dirinya telah menikah secara resmi dengan sekretarisnya kemarin Sabtu dan tak lupa memberitahukan akan menambahkan bonus untuk bulan ini.
Senyum mengembang tergambar jelas dari beberapa orang yang telah hadir di sana, secara bergantian mereka memberikan selamat pada pasangan pengantin baru itu.
Penghuni lantai ditempatnya berkerja adalah orang yang tak akan membuka mulut pada siapapun termasuk Rama dan Benedict, mereka telah bersumpah setia akan mengabdi pada Alex yang merupakan pimpinan di gedung ini.
Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh suaminya, Ferdiansyah datang untuk menyerahkan surat pengunduran diri.
Saat datang, mantan suaminya itu bahkan membuang muka, tak mau menatapnya.
Sandra merasa bersalah, mungkin setelah urusan Ferdiansyah dengan Alex selesai, ia akan meminta waktu lelaki itu sebentar, sekadar minta maaf.
Tak sampai sepuluh menit, Ferdiansyah kembali keluar dari ruangan yang sekarang menjadi mantan atasannya.
Keduanya berjabat tangan di depan pintu ruangan, melihat itu Sandra bangkit berdiri, ia hendak menyodorkan tangannya, tapi Ferdiansyah tak menanggapinya lalu meninggalkannya begitu saja.
"apa kamu sedih, mantan suami kamu seperti itu?"tanya Alex menyelidik.
Sandra menatap suami sekaligus atasannya, "kalau boleh jujur, tentu aku sedih, bagaimanapun dia pernah jadi bagian dari hidupku apa aku boleh menemuinya untuk terakhir kalinya? Elina bilang besok pagi mereka akan kembali ke Semarang,"
Alex menghela nafas, sejujurnya ia sangat cemburu, tapi mengingat kesepakatannya dengan Ferdiansyah tadi, bahwa lelaki itu tak akan menginjakkan kaki di sekitar perusahaan, akhirnya ia mengijinkan, "tapi besok pagi aku sendiri yang akan mengantarkan kamu ke stasiun,"
Andai tak ingat ini di kantor, mungkin Sandra akan memeluk dan mencium suaminya, sebagai tanda terima kasih karena kebesaran hati lelaki itu.
Sayangnya jam istirahat Alex tak bisa makan siang dengan istrinya dikarenakan dirinya harus menemui salah satu klien yang penting.
Alhasil disinilah Sandra sekarang, bersama Gita dan Arumi yang sebelumnya mengiriminya pesan mengajaknya makan siang bersama di kantin.
Sandra tau, kedua rekannya penasaran dengan kehebohan yang terjadi tadi pagi, tentang perilaku Alex pada dirinya untuk pertama kali didepan umum.
"Jadi apa elo pacaran sama bos ganteng?"bisik Gita penasaran.
"makan dulu gi, entar keselek,"sahut Sandra.
Sandra tau bukan hanya Gita dan Arumi yang penasaran, hampir seluruh pengunjung kantin siang itu, menatap dirinya seolah meminta penjelasan tentang kejadian tadi pagi.
Ia hanya menahan kesal pada suaminya, lelaki itu sengaja membuatnya dalam masalah besar.
Awas saja, jika gara-gara kejadian tadi pagi, ia tak bisa mengunjungi kantin lagi.
Selesai dengan makan siang, ketiga wanita itu beranjak menuju lantai delapan, kata Gita baru kemarin sebagian ruang gym dan istirahat disulap menjadi mushola kantor, sehingga para karyawan tak perlu pergi ke luar hanya untuk beribadah ditengah hari dan sore.
Sandra tersenyum kecil, ia tak menyangka suaminya berinisiatif seperti itu.
Bahkan sekarang ketiga wanita itu bisa mengikuti shalat jamaah yang diimami salah satu karyawan.
Selesai beribadah, masih ada waktu lima belas menit hingga jam istirahat habis.
Gita dan Arumi menariknya menuju tangga darurat disebelah lift, kedua gadis itu celingak-celinguk memastikan tak ada yang mendengar pembicaraan mereka bertiga.
"Jadi cepat jelasin, kenapa bos ganteng memperlakukan Lo dengan mesra, beliau memang ramah, tapi beliau bersikap dingin sama staf perempuan di kantor ini,"ucap Gita menyelidik.
"ayo jawab Sasa, jangan bikin kita penasaran,"sela Arumi yang berekspresi sama dengan Gita.
Sandra menghela nafas, "tolong rahasiakan ini, demi ketenangan kehidupan kerja gue, dan demi bisa makan siang bareng dengan kalian di kantin,"
Kedua gadis itu kompak mengangguk,
Sandra menunjukan cincin yang tersemat di jari manisnya,
lagi-lagi kedua gadis itu dengan kompak bersikap sama, menatap jari manis milik salah satu sekertaris perusahaan.
"Lo udah tunangan sama pak Alex?"tanya Arumi.
"bukannya Lo beda keyakinan sama bos ganteng ya?"tanya Gita menyela.
Akhirnya Sandra menjelaskan jika dirinya telah menikah kemarin Sabtu dengan atasan mereka karena lelaki itu telah berpindah keyakinan yang sama dengannya, juga fakta tentang Xander yang merupakan anak kandung dari Alex.
Kedua gadis itu menganga mendengar pengakuan salah satu rekannya,
Sandra sampai menepuk lengan kedua rekannya untuk menyadarkan mereka.
"sumpah Lo halu nya ketinggian Sasa, kalau mau bohong ya kira-kira, nggak mungkin banget,"sangkal Gita tak percaya, hal itu juga disetujui oleh Arumi yang sama tak percayanya.
"mbak Celine yang cantik dan seagama sama pak Alex aja dicuekin, masa iya elo malah jadi bininya,"ujar Arumi masih tak percaya.
"Ya udah kalau kalian nggak percaya, nggak masalah,"ucap Sandra sembari meninggalkan kedua rekannya.
Tetapi lengannya ditahan oleh kedua gadis itu, "buktikan supaya kita percaya, jangan berupa foto, bisa diakali, gue mau lihat dengan mata kepala gue sendiri,"pinta Gita.
Sandra mengangguk, ia menatap pergelangan tangannya, sebentar lagi Alex akan kembali ke kantor, karena pukul setengah dua nanti, atasannya itu akan meeting dengan beberapa rekan pengacaranya membahas tentang beberapa kasus yang akan mereka tangani, "jam satu lebih dua puluh menit, Lo berdua naik ke lantai enam, alasan apaan ke buat ketemu gue, tapi ingat ini rahasia,"
Kedua gadis itu kompak mengangguk, lalu ketiganya turun menuju lantai masing-masing.
Waktu yang dijanjikan tiba, kedua gadis itu datang ke lantai enam untuk membuktikan kebenaran dari perkataan Sandra.
Melihat kedatangan Gita dan Arumi, Sandra bangkit lalu memberikan kode pada keduanya untuk mengikuti dirinya masuk kedalam ruangan atasannya.
Alex yang sedang serius bekerja didepan laptopnya sedikit terkejut dengan kedatangan istri dan dua bawahannya yang ia tau adalah staf administrasi.
"Ada apa ini?"tanya Alex dingin.
Sandra datang mendekat dan berdiri di samping atasan sekaligus suaminya, "maaf ya, bukannya aku nggak mau profesional dalam bekerja, tapi kedua sahabat aku, penasaran dengan fakta bahwa kita sudah menikah, aku minta kamu jangan marah,"setelah mengatakannya ia menunduk dan mencium pipi suaminya.
Kedua gadis itu melongo melihat tindakan berani yang dilakukan oleh Sandra.
Alex tersenyum senang, menjelang rapat ia mendapatkan suntikan energi dari istrinya, tapi ia segera harus bekerjasama dengan sekretarisnya untuk membuktikan kebenaran yang diucapkan Sandra.
Ia menunjukan cincin yang melingkar dijari manisnya, "betul apa yang dikatakan sahabat kalian, bahwa kami telah menikah kemarin Sabtu, maaf tak mengundang kalian, kami mengadakan acara yang tertutup,"jelasnya sambil mencium jemari tangan istrinya.
"gue nggak bohong kan, jadi tolong rahasiakan, sekarang silahkan bekerja kembali,"
Setelah mencium kening suaminya, Sandra menggiring kedua rekannya untuk ke luar dari ruangan itu.
"Gila Lo Sasa, bertahun-tahun kita temenan Lo merahasiakan ini dari gue, benar-benar Lo ya!"ungkap Gita saat ketiganya berada didepan lift.
"sorry deh Gi, setau gue Lo ngefans sama pak Alex, gue kaga enak mau ngomong jujur, tapi sebagai ucapan permintaan maaf, gue bakal beliin Lo tas branded yang jadi incaran Lo bulan lalu, termasuk Lo Arumi,"
Meski kesal tetap saja kedua gadis itu bersepakat memaafkan Sandra, apalagi mendapatkan sogokan luar biasa.