
Suara gedoran pintu membuat Alex terbangun dari tidurnya, usai bercinta dengan hebatnya, ia tertidur sambil memeluk kekasihnya.
Alex bisa menebak siapa yang menggedor-gedor pintu kamar miliknya, itu pasti putranya yang akan protes karena dirinya telah menahan mamanya.
Ia hanya mengenakan bokser, tak ingin membangunkan kekasihnya yang kelelahan karena ulahnya.
Alex membuka pintu, putranya hendak merangsek masuk, tapi ia segera menahannya, "jangan masuk,"pintanya tegas.
"aku mau jemput mama,"ucap Xander marah.
"mama sedang tidur, jadi tolong jangan diganggu dulu,"Alex masih memperingatkan putranya.
Remaja itu tak sabar, namun ia tentu kalah dalam segi fisik dengan pria dewasa yang ada dihadapannya, mungkin kemarin dia berhasil membuat tumbang papanya tapi tidak hari ini,
"Apa yang anda lakukan dengan mama saya? Apa anda menyakiti mama saya?"tanyanya masih dengan amarah yang menggebu.
Alex menyunggingkan senyumannya, Benihnya yang dulu sengaja ia tinggalkan didalam rahim wanita yang dicintainya kini telah tumbuh besar dan hendak melawannya demi membela sang mama.
"kami habis melepas rindu, bukankah kamu tau mama dan papa lebih dari sebulan tidak bertemu? Kami melakukan sebagaimana orang dewasa lakukan, jadi silahkan kembali ke kamar kamu, dan tenang saja, nanti papa sendiri yang akan mengantar mama ke bandara,"ucapnya.
Masih tak terima dengan tingkah laku papanya kemarin, Xander menatap tajam lelaki yang ada dihadapannya, "kenapa anda tak melakukan dengan wanita yang kemarin? Kenapa malah dengan mama saya? jangan sebarkan penyakit pada mama saya,"
Alex tak menyangka dalam waktu hampir setahun, putra yang biasa manja padanya kini terlihat seperti ingin menantangnya,
Selama kepergian Fernando, ia jarang sekali menghabiskan waktu berdua dengan putranya, hanya berkirim pesan, itupun jarang, sehingga ia tak terlalu mengikuti perkembangan remaja itu.
"Papa minta maaf, papa salah, tapi asal kamu tau jika sejak mama kembali, papa tidak pernah tidur dengan wanita manapun, lalu mengenai papa yang melakukannya dengan mama, karena mama adalah satu-satunya wanita yang papa cintai dari dulu hingga sekarang, jadi sudah cukup bicaranya, papa tidak mau mama Terbangun karena pembicaraan kita,"
Setelah mengatakannya, Alex menutup pintu yang otomatis terkunci, masa bodoh jika putranya marah padanya.
Alex bergabung kembali dengan kekasihnya yang sepertinya tak terganggu dengan pembicaraannya.
Ia memandangi wajah perempuan yang sangat dicintainya, tak ada rasa bosan terhadap ibu dari putranya, sedari dulu selalu tercantik dimatanya.
Setengah jam berlalu, Sandra perlahan membuka matanya, ada lengan kekar yang menjadi bantalannya, ia teringat kejadian beberapa jam yang lalu, ia merutuki kebodohannya, bisa-bisanya terbuai dengan cumbu rayu dari lelaki yang telah membuatnya sakit hati.
Berniat bangkit, tapi tangan dan kaki lelaki itu menahannya, "kamu mau kemana?"tanya Alex.
"kita harusnya nggak melakukan ini, aku masih sakit hati sama kamu, bodohnya aku malah terbuai,"ucap Sandra kesal.
"kamu kan mencintai aku, tentu kamu akan menyambut ku, tubuh kamu tak bisa berbohong Sasa sayang,"
Sandra menghela nafas, ia memang bodoh, harusnya ia lebih tegas, bagaimanapun lelaki ini telah mengkhianatinya.
"Kamu udah puas kan, jadi biarkan aku pergi sekarang, putraku pasti mencari ku,"ujarnya seraya bangkit.
Alex menahan lengan kekasihnya, "aku udah bilang pada Xander jika, aku sendiri yang akan mengantar kamu ke bandara nanti sore,"
Sandra menoleh, wanita itu terlihat kesal padanya, namun ia tak peduli, "tidak usah menatapku seperti itu, apa kamu ingin mengulang yang tadi, kalau ia, aku dengan senang hati akan melakukannya,"
"jangan gila Alex, aku mau mandi jadi lepaskan tangan kamu,"
Alex menyeringai, sebuah ide tiba-tiba terlintas dipikirannya, mungkin mandi bersama setelah sekian lama, akan sangat menyenangkan.
Tanpa banyak bicara, Alex menggendong kekasihnya ala koala, dan membawanya ke kamar mandi.
Sandra sempat menolak, wanita itu bahkan menjerit, namun suaranya tertelan karena Alex membungkamnya dengan mulutnya.
Kedua sejoli itu melanjutkan kegiatan panasnya di kamar mandi.
Sejam berlalu, dengan wajah cemberut Sandra duduk di balkon, menikmati sarapan sekaligus makan siangnya.
Wanita yang mengenakan kemeja hitam kebesaran milik kekasihnya beberapa kali memegangi pinggangnya yang terasa pegal akibat perbuatan lelaki itu.
Alex baru saja keluar dari dalam kamar, membawakan desert untuk wanita yang dicintainya itu.
"makan yang banyak sasa sayang,"ucapnya menggoda kekasihnya.
Meski kesal tetap saja Sandra menghabiskan hidangan yang tersaji dihadapannya, perutnya lapar sekali.
"Lex, aku mau mengundurkan diri jadi sekertaris kamu,"ungkapnya tiba-tiba, ia sudah memikirkan tawaran dari Natasha untuk membantu Oscar mengelola rumah sakit.
Alex yang sedang mengunyah salad, mengentikan kunyahannya, "kenapa? Apa Jonas ganggu kamu?"tanyanya.
"aku mau bantu Oscar mengelola management rumah sakit, kemarin aku udah telpon Ben, dan dia setuju,"jelasnya.
"apa karena alasan kemarin? Kamu sengaja pergi dari aku? Tinggal sebulan lagi aku kembali Sandra, tak bisakah kamu bersabar?"tanya Alex kesal.
"aku hanya ingin mengembangkan kemampuan aja,"
Alex terdiam, ia tak menanggapi, rasanya kesal sekali, ia tau kekasihnya sengaja melakukan itu karena marah padanya.
"Tapi kamu tenang aja, aku akan mengundurkan diri kalau sudah ada pengganti, apa perlu aku membuka lowongan atau mau ambil dari staf dari divisi lain?"
"tidak perlu, cukup Jonas saja,"
"tapi Lex, Jonas nggak mungkin handle semua, dia pasti kewalahan,"
"udah tau kayak gitu kenapa kamu malah mau mengundurkan diri? apa gaji kamu kurang? Apa gini aja, semua bonus yang Ben kasih ke aku, buat kamu semua aja? Itu lebih besar dari pada kamu bekerja sebagai direktur rumah sakit,"
Sandra menggeleng, "ini bukan masalah uang, aku memang ingin lebih mengembangkan diri aja,"
"apa kamu sudah meminta pendapat Xander?"
Sandra menggeleng, "nanti sepulang dari sini aku mau jelaskan,"keduanya terdiam, memilih meneruskan menyantap hidangan penutup.
Usai makan, Sandra memilih merebahkan diri di kasur, sambil memainkan ponselnya sementara Alex memeriksa laporan yang ada di laptopnya.
Tak ada percakapan apapun, keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing hingga ponsel Sandra berdering.
Wanita itu menjawab salam dari si penelpon, "iya Bu, ada apa?"tanyanya.
"....."
"Sandra lagi di Bali sama Xander,"
"...."
"Nanti malam kami kembali ke Jakarta,"
"....."
Sandra melirik sekilas pada lelaki yang seolah tak terpengaruh dengan pembicaraannya di telepon.
"Tapi besok Sandra kerja,"
"....."
"Sandra usahakan ya Bu, kalau atasan mengijinkan, Sandra akan antarkan ibu,"
"...."
Usai menjawab salam, Sandra mengakhiri panggilannya.
"siapa?"tanya Alex menyelidik.
"Ibunya mas Ferdi, mau ke Jakarta bareng Elina, katanya mau jalan-jalan,"
Alex mengernyit heran, "kenapa menghubungi kamu? bukankah dia mantan mertua kamu? Kenapa nggak merepotkan anaknya sendiri?"
"walau mantan, tapi mereka pernah jadi keluarga aku, masa aku tolak, nggak enak lah,"
Alex menghela nafas lelah, ada saja masalah diantara mereka, "apa kamu mau kembali pada mantan suami kamu?"tanyanya mulai kesal.
Sandra menggeleng,
"Sa, aku tau, karena kesibukan aku, kita jarang menghabiskan waktu bersama, kemarin aku memang salah, tapi itu sekali doang, sementara kamu? bahkan kamu pernah menikah tapi aku tidak marah dan masih mau terima kamu, Sandra, aku memang berkali-kali tidur dengan banyak wanita, tapi aku tak pernah memberikan mereka hati dan status pada mereka, hanya kamu satu-satunya, dan karena kesalahan aku kemarin, kamu bersikap seolah aku melakukan kesalahan besar, bagiamana dengan kamu, jelas-jelas kamu mengkhianati aku?"
Alex bangkit menghampiri wanita yang tengah duduk di sisi ranjang, ia duduk dengan jarak satu meter, "kamu pikir hanya kamu yang lelah menjalani hubungan ini? Aku juga Sandra, Apa kamu pikir aku tidak ingin menikahi kamu? sehingga kamu berhubungan kembali dengan keluarga mantan kamu, andai Nando tak pergi, mungkin kita sudah menikah, harusnya kamu mau menungguku, hanya satu tahun Sandra, sementara aku? Sepuluh tahun aku menunggu kamu dalam ketidakpastian, sedikit saja kamu menghargai aku, setelah Nando kembali kita akan menikah, jadi tolong jangan dekat lagi dengan keluarga mantan kamu, dan jangan mengundurkan diri dari pekerjaan kamu, aku mohon, apa yang harus aku lakukan untuk menahan kamu?"ungkapnya panjang lebar.
"atau gini aja, mumpung disini, ayo kita menikah, mungkin seminggu lagi aku bisa buatkan pesta pernikahan yang meriah untuk kita,"lanjutnya.
Sandra menggeleng, "nggak perlu segitunya Lex, jangan paksakan diri kamu, mengenai mantan mertua, aku nggak masalah, toh nggak bareng mas Ferdi juga,"
"Terserah kamu," Alex bangkit, berjalan mengambil laptopnya lalu masuk ke ruang kerjanya.