How To Marry You ?

How To Marry You ?
enam belas



Tak terasa sudah enam bulan Sandra bekerja sebagai staf administrasi di kantornya.


Sandra datang paling pagi bersamaan dengan petugas cleaning service gedung.


Dirinya jadi akrab dengan beberapa petugas kebersihan itu.


Dari petugas ia juga sering mendengar gosip-gosip yang sebenarnya tak ingin ia dengar, hanya saja tak mungkin untuknya menolak mendengarkan.


Dirinya berusaha bersikap biasa saja, toh iya hanya perlu mendengar dan sedikit menanggapi sekenanya.


Kata-kata andalannya adalah : "oh gitu atau masa sih," hanya sebatas itu.


Sandra juga sering sarapan bersama dengan mereka, beberapa kali ia menitip membeli sarapan, biasanya nasi uduk, nasi kuning atau lontong sayur, tak lupa memberikan uang yang lebih untuk mereka, walau sebenarnya ia sudah sarapan di rumah bersama anak dan suaminya.


Seperti pagi itu saat dirinya baru saja tiba di kantor, salah satu petugas cleaning service bernama Supri memanggilnya,


"Mbak Sandra, nasi uduknya udah saya titipin mbak Suti,"Teriak lelaki dengan logat khas daerah Tegal.


Sandra yang baru saja memarkirkan motornya, menanggapinya dengan menunjukan jempolnya, tak mungkin bukan ia berteriak pagi-pagi dan menarik perhatian para penghuni rumah berlantai dua dibelakang gedung, yang dihuni para laki-laki.


Sandra membuka Helm, dan sarung tangannya, tak lupa masker untuk melindunginya dari debu jalanan.


Saat dirinya melangkah didalam gedung, namanya dipanggil, "Sasa,"


Seingatnya yang memanggilnya dengan sebutan itu di gedung ini hanya Rena dan Gita, tapi kali ini yang memanggilnya adalah seorang laki-laki, apa teman sekolahnya?


Sandra berbalik, ia terkejut mengetahui siapa yang memanggilnya, itu Rama.


"Ternyata beneran lo Sasa, kemana aja sih lo? Sepuluh tahun ngilang nggak ada kabar,"ucap Lelaki sambil menjulurkan tangannya.


Mau tak mau, ia membalas juluran tangan itu, "gue disekitaran sini aja Ram, Lo ngapain disini?"tanyanya balik.


"Gue lagi ada kerjaan di gedung ini, terus lo ngapain disini?"tanya Rama lagi.


"oh lo ada perlu sama notaris apa pengacara? Apa lagi butuh body guard? ini masih pagi, orang-orang belum pada dateng,"ujar Sandra berusaha menebak maksud kedatangan Rama ke tempatnya bekerja,


"Ya anggap aja gitu, terus lo udah sarapan belum? Temenin gue sarapan yuk, gue laper banget, dari semalem nggak makan,"


Tak enak menolak, akhirnya Sandra mengikuti sahabat kekasih masa remajanya.


Sepanjang jalan menuju kantin, beberapa petugas yang mereka temui menyapa Rama dan terlihat begitu menghormatinya.


Sesampainya di Kantin Rama memesan sandwich dan segelas teh, lelaki itu menawarinya, namun Sandra menolak untuk makan, hanya memesan teh manis hangat saja.


"Rama, lo sering ke sini? Kok kayaknya karyawan disini hormat banget sama lo,"tanya Sandra heran.


Rama yang sedang makan, menghentikan kunyahan nya, "Sebenernya gue kerja di cafe nggak jauh dari sini, cuman memang sering ada keperluan disini,"


"oh, terus gimana hubungan lo sama Citra masih lanjut apa putus?"


Rama menunjukkan jari manisnya, "gue udah tunangan sama dia, awet kan gue?"


Sandra menunjukan dua jempolnya, "Asha apa kabar? Udah nikah belum?"


"Asha baik, udah jadi dokter kandungan tapi belum nikah, trauma katanya liat kelakuan kita-kita,"


Hening sejenak, Rama masih meneruskan menghabiskan sandwich miliknya.


"Lo nggak nanya kabar yang lain?"


"Kabar yang lain gimana?"tanya Sandra mengikuti ucapan lelaki yang ada dihadapannya.


"Ben kerja di Amerika, Nando kerja di Bali, Oscar jadi dokter, satu rumah sakit sama Asha, terus Alex.."


Mendengar nama cinta pertamanya Sandra menunduk,


Belum sempat Rama meneruskan ceritanya ponselnya berdering, lelaki itu meminta ijin mengangkat panggilannya,


"Iya ini gue lagi sarapan di kantin,"


"...."


"Nggak sengaja ketemu temen lama, jadi ngobrol dulu,"


"...."


Rama mengakhiri panggilannya,


"Sorry sa, biasa si bawel nyuruh gue dateng, sensi kali udah lama nggak gituan,"ujar Rama ambigu, "Gue cabut dulu ya,"pamitnya langsung berlalu begitu saja.


Sepeninggal Rama, beberapa karyawati yang baru datang untuk sarapan menghampirinya menanyakan, mengapa dirinya begitu akrab dengan Rama,


Sandra mengaku jika Rama adalah kenalannya saat masih bersekolah.


Jam kerja dimulai, Sandra mulai bekerja kembali, ada Gita disebelahnya yang sedari tadi mengoceh seolah tak terima dengan gosip yang mengatakan jika dirinya mengenal Rama.


"kok bisa sih Sasa yang tadinya tinggal di Semarang bisa kenal dan sarapan bareng sama Pak Rama,"oceh gadis itu.


"Gue sekolahnya disini, wajar kalau kenal,"


"sedekat apa? jangan bilang Lo pernah jadi gebetannya Pak Rama,"


"Nggak lah, dari awal gue kenal Rama, dia udah punya cewek, kita cuman nongkrong sama liburan bareng itupun rame-rame,"


Gita menganga mendengar pengakuan Sandra, "sampai liburan bareng? Sedekat itu?"


Sandra mengangguk,


"Berarti lo kenal sama sahabat pak Rama dong,"


"Yang mana dulu?"tanya Sandra hanya melirik rekan sebelahnya ia tengah sibuk, jari tangannya beradu dengan keyboard komputer dihadapannya.


"Yang blasteran, orangnya tinggi kek tiang rambutnya cokelat, kalau gue bilang paling ganteng, terus..."


Belum sempat Gita menyelesaikan kalimatnya, Sandra memotong, "Fernando alias Nando maksudnya?"


"iya, kok Lo tau? ih sebel gue,"gerutu Gita, "yang orangnya tinggi tapi nggak kayak tiang listrik, ada tai lalat di bawah mata, gue denger beliau dokter di rumah sakit,"


"Oscar bukan sih?"tanya Sandra,


"Bener Sa, Pak Oscar, ya ampun lo kenal juga, beruntung banget sih lo, terus terakhir, kalau sampai lo kenal juga, Fix kita musuhan, Bos tampan kita bersama,"


Sandra mengernyit bingung, " Siapa emang?"tanyanya.


Belum sempat Gita menjawab ponsel milik Sandra berdering, terlihat id guru kelas Xander,


Sandra meminta ijin mengangkat panggilan tersebut.


"Iya Bu Neneng,"


"..."


"Baik Bu, saya akan segera ke sana, terima kasih Bu,"


Sandra mengakhiri panggilannya,


"Gi gue balik dulu ya, barusan guru kelas anak gue telpon, anak gue jatuh di sekolah, sekarang lagi dibawa ke rumah sakit,"ucapnya sambil membereskan barang-barangnya.


"Ya udah lo ijin ke mbak Celine dulu, entar biar gue bantu ijin mbak Mega,"


Sandra segera menemui manajer keuangannya, ia meminta ijin pulang, dan mengatakan jika putranya sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, atasnya tentu mengijinkannya.


Tak lupa ia mengirimi pesan pada mbak Mega untuk meminta ijin cuti mendadak


Sandra bergegas menuju rumah sakit, sesuai arahan guru yang membawa anaknya ke rumah sakit.


Sesampainya di sana, tepat di depan UGD, guru kelas dan pesuruh sekolah tengah menunggunya,


Sandra mendengarkan penjelasan guru kelasnya,


Kata Bu Neneng, Kepala Xander terkena bola saat teman-temannya bermain futsal.


Kebetulan karena terkena lemparan itu, Xander terjatuh lalu kepalanya terbentur lantai dan seketika tak sadarkan diri.


Baru selesai mendengar ucapan Bu Neneng, dokter memanggil wali dari Xander.


Dokter mengatakan, jika bocah itu telah siuman, tapi dianjurkan untuk menginap, karena masih akan dilakukan observasi dan CT scan untuk mengetahui ada pendarahan atau tidak di kepalanya.


Guru kelas dan pesuruh sekolah meminta maaf sekaligus berpamitan, karena harus segera kembali ke sekolah.