How To Marry You ?

How To Marry You ?
seratus delapan belas



Sedikit berbeda dengan yang diceritakan di dua cerita sebelumnya tentang hubungan kedua tokoh utama di cerita ini.


Dikit lagi ending, jangan lupa dukungannya.


Happy reading


Karena pekerjaannya tak bisa ditinggal, Sandra belum juga bisa datang ke kantor polisi untuk memberikan jaminan untuk kebebasan mantan suaminya.


Elina sempat menanyakannya via pesan, dan Sandra beralasan sedang sibuk, namun ia juga mengatakan, akan mengutus pengacara untuk menangani masalah itu.


Sandra menghubungi salah satu pengacara penghuni lantai enam, untuk meminta bantuan agar bisa mengurusi masalah yang menimpa mantan suaminya.


Salah satu rekan dari Hermawan yang bernama Ginanjar adalah salah satu pengacara yang menangani masalah pidana.


Namun Ginanjar meminta Sandra untuk bertemu langsung dengannya agar lebih jelas.


Akhirnya Sandra menyanggupi pertemuan saat jam istirahat makan siang di cafe tak jauh dari rumah sakit.


Sebelum jam istirahat, Sandra berpesan pada asistennya untuk menyampaikan pada Oscar jika dirinya akan pergi makan siang diluar, dikarenakan dokter bedah itu sedang berada diruang operasi.


Sandra sengaja datang terlebih dahulu dari waktu janjiannya dengan Ginanjar, sebagai orang yang lebih muda, tentu itu salah satu adab, untuk tidak membiarkan orang yang lebih tua menunggu.


Sekitar lima belas menit kemudian, Lelaki dengan setelan formal datang menghampirinya.


Sebelumnya Sandra telah mengirim pesan menanyakan tentang menu yang dipesan lelaki yang merupakan senior Alex di kampus dulu.


Keduanya berjabat tangan, sudah lebih dari dua pekan, Sandra tak bertemu dengan rekan satu lantai di kantor.


Sambil menikmati makan siang, mereka membahas soal permintaan Sandra untuk mengurus tentang kasus yang tengah dihadapi mantan suaminya.


Sandra juga menjelaskan tentang apa yang didengarnya dari Elina.


"maaf bu Sandra, saya potong dulu, apa hal ini sudah dibicarakan dengan pak Alex?"tanya Ginanjar menyela.


"kan lagi diluar negeri pak,"jawab Sandra.


Ginanjar terlebih dahulu meminum air mineral yang tersedia, "maaf Bu, bukannya saya tidak mau membantu, masalahnya saya tidak mau mengambil resiko jika pak Alex tau soal ini, harusnya anda tau watak dari atasan kita,"


"Tapi pak, bukankah Ferdi adalah karyawan juga, harusnya pihak perusahaan membela, ini juga hanya fitnah,"


"sekali lagi saya minta maaf bu, tapi saya tidak berani jika ini berhubungan dengan mantan suami Bu Sandra, silahkan cari pengacara yang lain,"ucap Ginanjar dan setelahnya lelaki itu pamit undur diri.


Sandra berusaha bersabar, ia berfikir sejenak, bagaimana caranya agar bisa membebaskan mantan suaminya itu.


Ia tidak bisa langsung mendatangi kantor polisi disaat dirinya tengah sibuk-sibuknya, ia hanya bisa keluar saat jam makan siang, waktunya tidak akan cukup, jalanan ibukota yang macet di jam makan siang plus prosedur pemberian jaminan cukup memakan waktu.


Bisa saja ia lepas tangan untuk masalah kali ini, tapi teringat dengan Elina dan ketiga anaknya membuatnya tak tega.


Sandra memutuskan kembali ke rumah sakit, sebenarnya jam makan siang masih tersisa, tapi sepertinya ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya.


Namun alangkah terkejutnya dirinya, saat mengetahui siapa yang duduk di kursi kerja miliknya.


Sandra sampai menutup mulutnya, lalu mengucek matanya, ia tak menyangka lelaki itu datang.


Alex bangkit dan menghampiri kekasihnya, lalu memeluknya setelah sebelumnya menutup pintu ruangan.


"aku kangen banget sama kamu,"bisiknya lalu melepaskan pelukan itu dan memegang kedua sisi wajah wanita yang dicintainya, mengecup dahi lalu mencium bibir yang berhari-hari ia rindukan.


Sandra tersadar, tapi bibirnya tengah dilum*t oleh papa dari putranya, ia membalas ciuman itu, ada tanya dalam dirinya, mengapa lelaki yang seharusnya baru kembali seminggu lagi malah sudah kembali dan kini tengah menciumnya.


Tangan Alex mulai tak bisa diam, alarm tanda bahaya membuat Sandra menahan tangan besar lelaki itu, "cukup Alex, ini bukan ruangan kamu,"peringatinya.


Alex melepaskan pelukan dan ciumannya, ekspresi cemberut terlihat jelas di wajah lelaki beranak satu itu.


Sandra menuntunnya untuk duduk di sofa singel, sementara dirinya di sofa panjang, ia sengaja melakukan hal itu, karena tau jika keduanya duduk di satu sofa, akan ada kegiatan yang seharusnya tidak dilakukan di ruangan ini.


"Kamu kenapa kembali lebih cepat?"tanyanya sembari menautkan tangan mereka.


Alex mencium punggung tangan kekasihnya lembut, "aku kangen kamu, maka dari itu aku mempercepatnya,"


Sandra menghela nafas, "jangan bilang kamu dari bandara langsung kesini? Lalu kak Maria dan yang lain kemana?"tanyanya.


"Mereka masih di Vatikan dan akan pulang sesuai jadwal,"jawab Alex sembari tersenyum.


Sandra mengernyit, "bukankah kamu harusnya ke Tuscany?"tanyanya lagi.


"aku telpon kenalanku di sana untuk mengantarkan pesanan aku ke Roma, maka dari itu aku bisa pulang lebih cepat, lagian aku tadinya mau mengajak kamu kesana, tapi kan nggak bisa,"jawab Alex, lelaki itu menjadi salah satu pelanggan salah satu tempat pengolahan anggur disalah satu daerah penghasil wine dengan kualitas bagus di Itali.


"apa kamu nggak jet lag ?"


Alex menggeleng, "aku udah dapat obatnya, makanya aku bisa segar begini,"ucapnya sembari menopang kedua sisi wajah dengan tangan seolah menunjukan bahwa dirinya baik-baik saja.


"oke, tapi maaf aku nggak bisa temani kamu, aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu,"


"baiklah, aku bisa diam disini sembari memandangi kamu kerja,"


Sandra mulai duduk di kursi meja kerjanya, sementara Alex merebahkan diri di sofa panjang setelah melepaskan jasnya.


Sebenarnya Sandra sedikit risih, dipandangi terus, ia grogi, tapi tetap berusaha untuk tenang.


"belum, tapi aku udah kenyang lihat kamu,"jawab Alex yang masih setia memandangi wajah kekasihnya yang tengah bekerja.


"aku pesankan makanan ya!"Sandra menelpon salah satu OB untuk membelikannya makanan.


Menjelang pukul empat sore, Sandra segera bersiap untuk pulang, ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya, sedangkan Alex tengah menutup mata usai makan siangnya.


Sandra menciumi pipi dan dahi kekasihnya untuk membangunnya, "bangun papa Alex, pulang yuk!"


Lelaki itu membuka mata, terlihat jelas gurat merah di kelopak matanya, ia melihat jam dipergelangan tangannya.


"aku ke toilet dulu,"


Sandra tertawa kecil melihat kekasihnya berjalan sempoyongan menuju toilet disudut ruang kerjanya.


Tak lama, lelaki itu keluar dari sana dalam keadaan lebih segar, Sandra sempat menanyakan dengan apa kekasihnya dari bandara menuju rumah sakit, Alex mengaku menaiki taksi dan hanya memberitahu Choki tentang kepulangannya yang dipercepat.


Beruntung keduanya tidak bertemu, Natasha dan Oscar saat dalam perjalanan dari ruang kerja menuju parkiran.


Sandra mulai mengemudikan mobilnya, setelah memastikan kekasihnya duduk disebelahnya dengan seat belt yang telah terpasang.


Alex mulai menceritakan perjalanan spiritual terakhirnya menuju negara terkecil di dunia, tempat dimana pemimpin keyakinan berada.


Tentang obrolannya dengan Maria soal niatan dirinya untuk segera meresmikan hubungan dengan ibu dari putra semata wayangnya tentu tanpa sepengetahuan Jonas dan Tante Terry.


"terus apa tanggapan kak Maria?"tanya Sandra penasaran, sembari masih mengemudi.


"sama seperti yang dulu, Maria mendukung apapun keputusan aku, asalkan aku bahagia,"jawab Alex terlihat jelas wajah cerianya.


"lalu apa kamu akan bahagia dengan cara menikahi aku tapi harus keluar dari keyakinan yang sedari kecil kamu anut?"


"ini sudah jadi keinginan aku sedari kita melakukannya, aku hanya akan menikah dengan kamu dan dari rahim kamu akan lahir keturunanku, mengenai keyakinan memang ada rasa bersalahku dengan mendiang papa dan mama, tapi bukankah sebenarnya hakikatnya sama, kita sama-sama menyembah Tuhan yang maha Esa, pencipta langit dan bumi, hanya saja ritualnya berbeda?"


Kebetulan Sandra baru saja menghentikan mobilnya dikarenakan lampu lalulintas yang berwarna merah, ia sampai menoleh seolah tak percaya lelaki itu mengatakan hal seperti itu.


Tapi Sandra berusaha menahan mulutnya agar tak bertanya ini itu yang akan menyebabkan keduanya berdebat.


"jadi meskipun kamu telah kembali, apa kamu akan segera bekerja?"tanya Sandra sembari melajukan mobilnya kembali usai lampu lalulintas berwarna hijau.


"aku akan menghabiskan cutiku untuk mengurus sendiri prosedur pernikahan kita,"jawab Alex.


"jadi kamu serius akan menikahi aku?"tanya Sandra memastikan.


"kamu meragukan aku?"tanya Alex balik.


Sandra menggeleng, "Lex, aku udah pernah bilang, aku nggak memaksa kamu untuk masuk ke dalam keyakinan yang aku anut, dan aku nggak meragukan cinta kamu,"


"ini sudah jadi keinginan aku, jadi tolong kamu cukup dukung aku,"


"iya, aku akan dukung keputusan kamu,"


Hening sejenak, hingga Alex meminta Sandra membelokan mobilnya menuju salah satu hotel.


"apa kamu punya janji dengan kolega kamu?"tanya Sandra heran, wanita itu menghentikan mobilnya tepat didepan lobby.


Alex keluar dari mobil tak lupa mengatakan pada kekasihnya, untuk memberikan kunci mobil pada salah satu petugas hotel.


Dan disinilah mereka sekarang, disalah satu kamar terbaik di hotel bintang lima yang berada di selatan ibukota.


Sejujurnya Sandra masih bingung, apa maksud tujuan lelaki itu mengajaknya ke kamar hotel, apa harus ketemu kolega dikamar seperti ini?


Namun Alex dengan santainya mulai membuka pakaian sendiri dan berjalan menuju kamar mandi.


Sandra hanya duduk berdiam melihat semua aktivitas yang dilakukan lelaki itu.


Merasa tidak diikuti, Alex yang sudah masuk ke kamar mandi, kembali keluar dan meminta kekasihnya melakukan hal yang sama dengannya.


Barulah Sandra mengerti jika lelaki itu ingin melepas rindu dengan kegiatan yang menyenangkan.


Alex baru berhenti, ketika langit diluar sudah gelap, sementara Sandra hanya bisa pasrah, berkali-kali digagahi oleh laki-laki yang dicintainya.


"Lex, apa kamu berniat menginap disini? Bagaimana dengan Xander?"tanya Sandra saat keduanya tengah berpelukan diatas ranjang dengan tubuh polos mereka.


"aku udah minta Choki untuk jaga Xander, kita butuh melepas rindu semalaman bukan,"


Sandra terdiam sejenak, sambil memainkan jarinya di dada bidang kekasihnya, "Lex, aku mau ngomong tapi kamu jangan marah ya! Dan ingat, bahwa aku hanya mencintai kamu,"


Alex mengangguk mengerti.


Sandra mulai menceritakan tentang kedatangan Elina, yang memintanya untuk membebaskan Ferdiansyah dari penjara.


Alex sedikit kesal, namun berusaha menutupinya, "aku bantu tapi setelah kita selesai dengan urusan pernikahan,"


"terima kasih ya, kamu tidak marah, makin sayang deh sama kamu,"ucap Sandra sembari bangkit dan duduk diatas tubuh kekar kekasihnya.


Dan terjadilah kegiatan melepas rindu di kamar hotel itu.