
Sandra baru saja keluar dari toilet, ia mendapati hanya bosnya yang duduk di sofa.
"Kok kamu sendirian kemana mas Ferdi?"tanyanya.
"Barusan pamit pergi,"jawab Alex.
"Kemana?"tanya Sandra lagi.
Alex menaikan bahunya, tadi ia tak bertanya dan tak ingin tau juga, sepertinya memang ia harus segera menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangga dari pujaan hatinya.
"Apa kamu udah makan?"tanya Sandra.
"aku tadi udah makan saat bertemu klien, apa kamu belum makan?"tanya Alex balik.
Sandra menggeleng, "aku sedang tidak nafsu makan,"jawabnya.
Sebenarnya ia sangat ingin memberitahu tentang betapa brengseknya Ferdiansyah itu, tapi ia mengurungkan niatnya, ia tak ingin membuat Sasa-nya bersedih.
Ia juga tau siapa wanita yang bersama Ferdiansyah tempo hari di cafe, itu salah satu anak buah mami Belinda, kenapa Alex bisa tau, karena ia pernah ditawari wanita itu, tapi saat itu ia menolak dan hanya berniat minum bersama Rama juga Oscar.
Salah satu kelebihan Alex adalah daya ingatnya, ia akan mengingat siapa orang yang pernah ditemuinya.
Hening tak ada suara, Alex yang biasa manja dan banyak bicara pada Sandra hanya diam.
Hingga pintu unit terbuka dari luar, ucapan salam dari bocah kecil membuat Sandra menegang, ia lupa jika putranya bisa kapan saja pulang, apalagi Xander tau jika dirinya tidak berangkat bekerja.
Bocah itu menghampiri Sandra yang duduk di kursi kecil di samping sofa, "mama udah sembuh sakitnya?"tanyanya sambil mencium punggung tangan ibunya.
"Alhamdulillah udah mendingan, kamu kenapa pulang? memangnya sudah selesai mainnya?"tanya Sandra berusaha tetap tenang, ia sedikit melirik lelaki yang sedari tadi menatapnya.
"Bu Titi pulang cepat, katanya ada saudaranya yang meninggal,"jelas Xander, bocah itu menoleh menatap lelaki asing yang bertamu ke tempat tinggalnya,
"Halo om, apa om teman mama?"tanya Xander seraya tersenyum ramah.
Alex terpana dengan senyum bocah itu, hingga Xander melambaikan tangannya sambil memanggilnya.
"mama, kok si om nggak jawab pertanyaanku?"tanya bocah itu heran.
"Sayang, bagaimana kalau kamu tidur siang di kamar?tawar Sandra pada putranya.
"Apa ayah tidak ada?"tanyanya.
Sandra menggeleng, "Ayah pergi baru saja, jadi sekarang mama minta, kamu istirahat di kamar ya!"
Xander mengangguk dan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu, tak lama bocah itu keluar dan masuk melalui pintu tepat di samping kamar mandi.
Semua yang dilakukan bocah itu tak lepas dari tatapan Alex,
Setelah bocah itu memasuki kamar, Alex beralih menatap Sandra tajam, "Sepertinya banyak yang harus kamu jelaskan sama aku,"ucapnya menyelidik.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Lalu kapan kamu pulang, aku mau istirahat,"ujar Sandra berusaha tetap tenang.
Alex tersenyum miris, "Sandra harusnya kamu mengenal aku lebih dari siapapun termasuk papa dan Maria bahkan sahabat aku tak sepenuhnya tau seperti apa aku ini, aku akan dengarkan semua penjelasan kamu, tanpa ada yang terlewat, sebelum aku cari tau sendiri, kamu tau bukan aku mampu melakukannya,"ucapnya panjang lebar.
Sandra menghembuskan nafasnya kasar, jelas ia tau betul watak Alex, selain mempunyai hubungan dekat sepuluh tahun lalu, juga beberapa bulan ini menjadi sekertaris, asisten sekaligus kekasih lelaki itu.
"Apa yang ingin kamu tau?"tanyanya.
Alex bangkit berdiri sambil berkacak pinggang, sepertinya wanita ini menguji kesabarannya, harusnya Sandra tau, jika kesabarannya setipis tisu toilet, apalagi menyangkut tentang hubungan keduanya.
"Aku bertanya hanya sekali, siapa ayah biologis anak itu?"tanyanya seraya menatap tajam wanita yang tengah duduk itu.
"Kenapa kamu mau tau?"
Alex mengumpat, ia benar-benar sedang diselimuti amarah, bagaimana tidak, suami kekasihnya malah menjual wanita itu padanya, belum lagi senyum bocah yang sama sepertinya, bahkan wajahnya sama dengannya saat masih kecil belum lagi persoalan yang membuatnya mendiamkan Sandra beberapa hari ini.
Sandra terkejut, ini kali pertama Alex berbuat kasar padanya, matanya berkaca-kaca, ia mulai terisak.
Lidahnya kelu, ia tak sanggup berkata-kata, mendadak pikirannya buntu.
"Apa yang om lakukan? Kenapa buat mama menangis?"tanya Xander yang tiba-tiba keluar dari kamar setelah mendengar keributan dari ruang tamu.
Alex yang melihat bocah itu langsung melepaskan cengkeramannya dari lengan Sandra.
Xander menghampiri mamanya dan memeluknya, "tenang mama, ada Xander yang lindungi mama,"ucapnya berusaha menenangkan.
"om jangan sakiti mamaku, kalau mau pukul, pukul saja Xander jangan mamaku,"
Alex bisa melihat tatapan tajam bocah itu padanya, ekspresi yang sama ketika dirinya marah, tak diragukan lagi Xander adalah putranya.
Alex menunduk, ia memeluk bocah itu erat, "berapa umur kamu nak?"tanyanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Xander yang tiba-tiba dipeluk tentu bingung tapi tetap menjawab, "dua bulan lagi sepuluh tahun om,"jawabnya.
Alex mengeratkan pelukannya, "maafkan papa nak,"ucapnya berulangkali.
Setelah suasana telah tenang, Sandra duduk bersebelahan dengan Xander sementara Alex duduk di kursi kecil berhadapan dengan mereka.
"Sandra aku minta jelaskan padaku dan Xander, aku rasa Xander sudah cukup umur untuk mendengar penjelasan dari kamu,"pinta Alex.
Sandra menghela nafas, ia menatap putranya lembut, "Xander, sebelumnya mama minta maaf, kalau selama ini, mama tidak pernah bercerita tentang papa kandung kamu, mama punya alasan,"
Sandra kembali menghela nafas,"Jadi om yang sedang duduk dihadapan kita adalah papa kandung kamu, mama harap kamu bisa terima dan memaafkan mama,"
Xander terdiam, ia menatap wajah kedua orang dewasa itu, lalu bangkit dan memeluk Alex, tak ada kata yang diucapkannya, hanya suara sesenggukan yang terdengar.
Alex membalas pelukan putranya tak kalah erat, ia membisikan kata-kata maaf.
Namun Alex menatap tajam Sandra seolah mengatakan bahwa ia butuh penjelasan lebih.
"Xander anak papa, maukah malam ini ikut bersama papa?"tawar Alex.
Bocah itu mengangguk, "mama ajak ya pa,"pintanya.
Alex melepaskan pelukan itu terlebih dahulu, "coba Xander tanya ke mama,"
Bocah itu menatap Sandra seolah meminta persetujuan dari wanita yang telah melahirkannya.
Sandra mengangguk, "Xander siapkan seragam sekolah sama buku pelajaran untuk besok, mama mau bicara sebentar sama papa boleh?"
Bocah itu mengangguk lalu berlari ke kamar, menuruti permintaan mamanya.
Sepeninggal Xander,
"aku ijinkan Xander untuk menginap dengan kamu, tapi hanya malam ini, selebihnya dia harus ikut aku,"
Alex tertawa kecut, "Harusnya kamu tidak bicara seperti itu, sepertinya kamu belum sadar kesalahan kamu ya!"
"Pasang telinga kamu baik-baik Sandra, aku bisa saja membawa ini ke pengadilan, kamu sudah menyembunyikan putraku selama bertahun-tahun, dengan apa yang aku punya, aku bisa dengan mudah membuat Xander dibawah perwalian ku, jadi tidak perlu kamu berbicara seperti itu,"
Sandra melebarkan matanya, ia menggeleng, sejujurnya ini yang ia takutkan, Alex akan mengambil putranya.
"aku mohon Alex jangan lakukan itu, apapun akan aku lakukan asal jangan pisahkan aku dengan putraku,"pintanya.
Alex menunduk tepat di samping telinga wanita itu, "bereskan baju-baju kamu dan ikut aku bersama dengan putraku, sekarang,"bisiknya.
"Bagaimana dengan mas Ferdi?"
"Kamu masih berfikir tentang lelaki brengsek itu? sekarang bereskan barang-barang kamu dan ikut aku, kalau kamu tidak mau, jangan harap kamu bisa melihat Xander lagi,"ancamnya.