How To Marry You ?

How To Marry You ?
Ekstra part 2



Tiga puluh menit sebelum makan siang, Sandra pergi menuju kantor polisi sesuai yang dikatakan Elina beberapa hari lalu, Namun setibanya di sana, salah satu petugas polisi mengatakan jika Ferdiansyah telah bebas dari penjara berkat tebusan yang diberikan oleh atasannya.


Sandra memutuskan menghubungi Elina, untuk menanyakan tentang keberadaan Ferdiansyah, dan mantan adik iparnya itu mengatakan jika kakaknya sedang pergi bersama bapak.


Ada kelegaan pada diri Sandra, setidaknya Alex memenuhi janjinya dan Ferdiansyah bisa bekerja untuk menghidupi keluarganya nanti.


Sandra mengajak Elina bertemu sore sepulang dirinya bekerja, sekalian ada yang ingin disampaikannya.


Sebelum kembali ke kantor, Sandra mampir ke bank terlebih dahulu, ada yang harus dilakukannya.


Sandra mengirimkan pesan pada suaminya akan pulang terlambat hari ini, dalam hati ia berdoa, semoga lelaki itu tengah sibuk dihari pertama bekerja setelah libur panjang, sehingga mengabaikan pesannya


Usai pulang kerja, sesuai janjinya dengan Elina, mereka bertemu di taman tak jauh dari tempat kos Ferdiansyah.


Sandra datang terlebih dahulu, sepuluh menit kemudian Elina menghampirinya.


Sebelum berbicara ke intinya, Sandra mengajukan beberapa pertanyaan tentang rencana kedepannya, termasuk usaha yang akan dilakukan wanita beranak tiga itu.


"Eli udah bicara sama bapak mengenai usul mbak Sandra tentang jualan makanan dan bapak setuju, tapi masalahnya adalah Eli nggak punya modal, buat kesini aja, Ibu jual kalung, apalagi mas Ferdi udah dipecat dari kantornya kan?"ucapnya.


"Gini El, sebenarnya atasan mbak bilang, kalau mas Ferdi bakal dapat pesangon lumayan, tapi kita juga tidak tau sampai kapan mas Ferdi bakal dapat kerjaan lagi, untuk itu sesuai ucapan mbak tempo hari, mbak akan berikan kamu modal, anggaplah investasi, jika suatu saat usaha kamu berjalan lancar dan kamu punya uang yang cukup, kamu bisa mulai mencicil, ingat ya El jangan patah semangat, anak-anak butuh biaya besar,"


Elina memegang kedua tangan mantan kakak iparnya, "makasih ya mbak, semoga kehidupan mbak Sandra dan Xander selalu diselimuti kebahagiaan,"


"Aamiin,"sahut Sandra sambil tersenyum.


Tapi saat hendak melepaskan tautan tangannya, Elina menyadari cincin yang tersemat dijari manis mantan kakak iparnya, "seingat Eli, terakhir ketemu mbak belum pakai deh, lalu apa ini cincin pertunangan atau pernikahan?"tanyanya penasaran.


Sandra sedikit gugup tapi berusaha tetap tenang, "kurang lebih begitu,"jawabnya ragu.


"Wah, selamat ya mbak! tapi kok Eli nggak diundang? Eli sedih loh mbak,"


Sandra semakin dibuat tak enak, "maaf El, kami memang tidak mengadakan pesta, hanya akad nikah di masjid dekat rumah,"


"Siapa laki-laki beruntung yang telah merebut hati mbak ku ini?"tanya Elina sambil tersenyum.


"Beliau papa kandungnya Xander El,"jawab Sandra jujur.


"oh jadi papanya Xander orang Jakarta mbak? Tak kirain orang Semarang,"komentar Elina tak menyangka.


"Ya begitulah, mbak juga nggak nyangka bakal ketemu papanya Xander...."


"Jadi kamu udah ketemu papa kandungnya Xander?"tanya Ferdiansyah yang datang tiba-tiba menghampiri dua wanita itu.


Sandra bangkit, berusaha tetap tenang, tapi nyatanya ia gugup menghadapi mantan suaminya, apalagi jika lelaki itu tau, siapa suaminya yang sekarang, "eh.. Mas apa kabar? tadi aku ke kantor polisi, syukurlah kamu sudah bebas,"jawabnya berusaha mengalihkan.


Ferdiansyah berdiri tepat didepan mantan istrinya, tinggi wanita itu hanya sebatas hidungnya, "kamu belum jawab pertanyaanku, apa kamu sudah bertemu bahkan sudah menikah dengan papa kandung Xander?"tanyanya tak menyerah.


Tanpa melihat mantan suaminya, Sandra memilih mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan lelaki itu.


Ferdiansyah memegang kedua lengan mantan istrinya, "kenapa kamu tidak bisa menungguku sedikit lagi?"tanyanya, "argh... Gara-gara fitnah sialan itu aku jadi masuk penjara,"lelaki itu melepaskan tangannya dari lengan Sandra lalu berbalik membelakangi wanita itu.


"Siapa lelaki itu Sandra? Apa aku mengenalnya?"tanyanya setelah berbalik menatap tajam mantan istrinya, "dengar, dulu aku memang mau terima saat kamu ceraikan, aku sadar kesalahanku cukup fatal, tapi kamu tau bukan alasan aku mengkhianati kamu, dan aku datang kembali untuk memperbaiki semua, aku udah berobat, penghasilan yang aku dapat juga cukup besar, tapi kenapa kamu tidak sabar menungguku Sandra? Kamu tau bukan aku sangat mencintai kamu, apa kamu lupa ibu kamu pernah bilang, bahwa kita tidak boleh berpisah apapun masalah kedepannya, karena menikah sekali untuk seumur hidup,"ucapnya panjang lebar,


Sandra hanya menunduk dan menggumamkan kata maaf, ia jadi teringat tentang permintaan mendiang ibunya sesuai apa yang diucapkan Ferdiansyah.


"Maaf kamu tak menyelesaikan segalanya Sandra, perceraian yang kamu ajukan saja menyakiti aku, dan sekarang kamu menikah dengan lelaki lain,"ungkap Ferdiansyah menyampaikan kekesalannya.


"Coba kamu bayangkan jika kamu jadi aku, sedari dulu aku mencintai kamu, kita menikah, dan kenyataan bahwa aku dibohongi keluarga kamu menodai cinta aku ke kamu, tapi aku tak menceraikan kamu bukan? aku masih tetap suami kamu meskipun aku rela selama dua tahun harus menahan rindu, aku butuh meredakan amarahku, tapi semua usahaku tak ada artinya buat kamu, aku kecewa sama kamu, tolong jangan pernah memperlihatkan wajah kamu lagi dihadapan aku,"setelah mengeluarkan semua unek-uneknya, Ferdiansyah menggandeng tangan adiknya untuk beranjak dari sana.


Sandra terpaku melihat kepergian mantan keluarganya, sejujurnya dirinya bersedih mendengar perkataan yang dilontarkan lelaki yang pernah menjadi bagian dari hidupnya, bagaimanapun Ferdiansyah pernah jadi suami dan ayah yang baik untuk dirinya juga putranya.


Karena sedih, ia jadi lupa memberikan amplop uang sebagai modal untuk usaha Elina.


Ia segera mengambil tasnya dan berjalan menuju arah tempat kos dari mantan suaminya.


Namun menurut penjaga kos, Ferdiansyah tak mau menerima tamu.


Sandra mencoba menghubungi Elina, tapi panggilannya ditolak.


Sepertinya ia harus menunda sementara waktu tentang memberikan modal usaha untuk mantan adik iparnya.


Disisi lain Alex tengah berkumpul dengan Benedict dan Rama di ruang kerjanya, ini hari pertama dirinya mulai bekerja setelah libur panjangnya.


Tadi ia sempat mendapat Omelan dari Rama, tentu saja soal kepulangannya yang dipercepat tapi tak langsung bekerja, wakil dari Benedict itu kesal setengah mati, disaat dirinya mati-matian bekerja, Alex malah enak-enakan istirahat di rumah, bahkan Rama mengaku sempat menginap di kantor bersama Robert dan Choki.


Puas mengeluarkan semua omelannya, Rama menyinggung soal permintaan Sandra soal pembebasan mantan suami wanita itu.


"udah gue bebasin tadi pagi sebelum berangkat ke kantor,"jawab Alex santai.


"Aneh Lo, gue tau itu kerjaan Lo bikin dia masuk penjara dan Lo juga yang bebasin, beneran kurang kerjaan,"tebak Rama.


"gue belajar dari bos Lo tuh," Alex menunjuk Benedict dengan dagunya.


"kenapa jadi gue?"sahut Benedict menunjuk dirinya sendiri tapi dengan tatapan peringatan pada sahabatnya yang berprofesi sebagai pengacara itu.


Hanya Alex dan Fernando yang jelas tau bagaimana manipulatif nya lelaki blasteran Indo Amerika itu.


Tau jika dirinya diperingatkan oleh bos besarnya Alex sengaja mengalihkan pembicaraan, "lusa Sandra balik jadi sekertaris gue, dan Jonas Kembali pegang rumah sakit,"


"jangan boleh Ben, bisa-bisa nih gedung ambruk gara-gara jadi tempat mesum Mulu,"Rama sengaja memanasi atasan sekaligus sahabatnya.


Alex mengumpat, tapi setelahnya ia tersenyum kecil, mengingat status dirinya yang berubah dua hari yang lalu, dibawah meja, ia memutar cincin pernikahannya dengan sang pujaan hati.


Terserah sahabatnya menuduh dirinya yang sering melakukan hal maksiat dengan sekretarisnya, toh sekarang justru yang seperti itu jika dilakukan akan mendapatkan pahala.


Jika suatu saat mereka bertanya tentang status hubungannya dengan Sandra, tentu ia akan menjawab jujur apa adanya.