
Tak mau menimbulkan keributan dan menggangu tetangga sebelah, Sandra mengajak kedua lelaki itu ke dalam rumah.
Dan disinilah mereka sekarang, Sandra baru saja dari dapur mengambil dua botol air mineral kemasan untuk diberikan pada dua lelaki yang duduk berjauhan.
Sandra menghela nafas lelah, harusnya sudah berada di rumah sakit, ada rapat dengan para dokter pagi ini, tapi harus tertunda gara-gara kedua orang itu.
"Kamu ngapain balik kesini nggak bilang-bilang, lagian kamu kan harusnya masih di Bali, Nando masih cuti, kamu sendiri yang bilang kalau Bagus nggak bisa handle kerjaan di sana sendiri bukan? Coba jelaskan dari yang itu dulu,"ucapnya pada lelaki dengan setelan formal.
"sebelum aku jawab pertanyaan kamu, aku tanya dulu, kenapa kamu bisa sama dia?"tanya Alex balik.
Sandra melirik Fernando sekilas, lelaki blasteran itu menyunggingkan senyumannya, "karena aku lagi ada urusan sama dia, maka dari itu kami selalu bersama,"jawabnya jujur.
"urusan apa?"tanya Alex lagi.
"urusan yang menyangkut masa depan, iya nggak Sasa sayang,"sela Fernando dengan tatapan mengejek pada Alex.
Hampir saja Alex bangkit hendak menghajar kembali lelaki dengan Hoodie hitam itu.
"stop Alex,"ujar Sandra memperingati, "jangan konyol Fernando,"hal yang sama ia lakukan pada lelaki blasteran itu.
Sandra memegangi kepalanya yang mendadak pusing, ia sempat mendesis, namun ia harus segera menjelaskan pada Alex tentang hal yang sebenarnya, "Jadi gini Alex, kamu tau bukan, sekarang aku bergabung dengan management rumah sakit, jadi kami sedang merencanakan penambahan fasilitas penunjang, apa kamu lupa, Nando adalah salah satu pemilik rumah sakit? Ben sedang ada di luar negeri sedangkan Oscar sedang sibuk dengan jadwal seminar dan operasi, jadi mereka berdua menyerahkan urusan itu sama aku dan Nando, jelas kami sering bersama untuk membahas pekerjaan, lalu salah kami dimana? apa kamu lupa, Nando hingga saat ini sedang menunggu calon istrinya yang menghilang? Aku nggak habis pikir sama kamu, jauh-jauh kesini hanya ingin memergoki aku? apa kamu meragukan aku? Apa jangan-jangan kamu menutupi kesalahan dengan menuduh aku?"jelasnya panjang lebar.
Sandra melihat pergelangan tangannya, "Do, berangkat sekarang yuk, udah telat banget, mereka pasti udah nungguin,"lanjutnya sembari mengajak lelaki blasteran itu.
Alex bangkit menahan lengan kekasihnya, "kamu sama aku aja,"pintanya.
Sandra menepis tangan lelaki itu, "Jernihkan pikiran kamu dulu, aku nggak mau jika ujung-ujungnya akan bertengkar dengan kamu, aku pergi,"
Fernando mengikuti Sandra dari belakang, tak lupa menunjukan jari tengah pada sahabatnya sambil tersenyum sinis.
Hampir saja Alex menghampiri sahabatnya dan menghajarnya kembali, tapi ia berusaha menahannya, ia tak ingin membuat kekasihnya semakin marah padanya.
Alex memutuskan masuk ke dalam kamar, sepertinya ia harus istirahat terlebih dahulu, benar kata Sandra, ia harus menjernihkan pikirannya.
Semalam, ia sama sekali belum tidur, selain pikirannya yang tak tenang, ia juga lembur menyelesaikan semua pekerjaannya, sehingga ia tak akan diteror oleh Bagus mengenai pekerjaannya.
Entah berapa lama ia tertidur, yang jelas ia terbangun ketika mendengar suara berisik dari luar kamarnya.
Alex menggeliat, ia melihat sekeliling kamarnya, gelap karena tadi sebelum memejamkan mata, ia sempat mematikan lampu, ia terbiasa tidur dalam keadaan seperti ini.
Ia meraba sisi ranjang, ia mengambil ponselnya, guna melihat waktu, Alex menghembuskan nafasnya, rencana ingin makan bersama dengan kekasihnya, batal karena waktu menunjukan pukul empat belas wib.
Apa tadi dirinya pingsan? Kenapa selama itu ia tidur? Padahal ia juga tak mengkonsumsi obat tidur, ia hanya memakai bantal dan memeluk guling yang biasa dipakai Sasa-nya.
Ada beberapa panggilan dan pesan masuk, yang terbanyak tentu Bagus, Lalu Rama juga Oscar, sementara pesan juga sama, ketiganya menanyakan keberadaannya.
Satu pesan yang membuatnya mengumpat, Fernando mengiriminya foto kebersamaannya dengan Sandra saat makan siang, plus caption yang mengatakan sekali-kali nikung temen boleh lah, semok gini, nggak bakal rugi deh.
Alex menghubungi Sandra, tapi tak kunjung diangkat, akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Fernando, cukup lama sahabatnya menjawabnya.
"aphaan sihhhh looooh ganggu ajahhhh," ucap Fernando dari seberang sana.
Alex mengumpat, "ngapain Lo bangsat?"tanyanya kesal.
"ahh.... Dikitttt lagihhhh Sa," setelahnya Fernando mengakhiri panggilannya secara sepihak.
Alex mencoba menghubungi sahabatnya lagi tapi tak kunjung diangkat.
Pikiran buruk terlintas di otaknya, apa sahabat dan kekasihnya sedang berbuat mesum?
Alex memejamkan mata sejenak, menyesuaikan penglihatannya, "memangnya papa nggak boleh pulang?"tanyanya balik.
"aku tanya kenapa balik tanya,"
Alex menghela nafas, "papa pulang buat ketemu mama dan kamu, memangnya salah?"
"Terserah,"ucap remaja itu sembari berlalu, tapi berbalik lagi, "pakai baju kalau keluar kamar, ada mbak Ninik lagi kerja,"pesannya.
Alex memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, tadi saat dirinya berangkat ke bandara, ia tak sempat mandi.
Lima belas menit berlalu, Alex sudah rapih dengan kemeja dan celana hitamnya,
Xander sedang makan nasi bungkus di ruang tengah, "papa mau kemana?"tanyanya.
"Jemput mama,"jawab Alex sembari memakai jam tangannya.
"Nggak usah, kata mama, papa di rumah aja, tuh udah aku beliin makanan, belum makan kan? Sebenarnya mama yang suruh,"tunjuknya pada bungkusan dari salah satu restoran Padang ternama.
"Tapi mama,"
"kata mama, masih ada urusan sama uncle bule, jadi pulangnya juga diantar,"
"mama bilang gitu,"
Xander mengangguk, "kenapa? Papa nggak suka mama deket sama uncle bule, jangan egois pa, apa papa lupa apa yang terjadi sebulan lalu?"
"nggak usah dibahas, papa sudah minta maaf dan mengakui kesalahan, kenapa kamu masih mengungkitnya?"ucapnya sembari duduk bersebrangan dengan putranya, lebih baik ia mengisi energinya dulu, sebelum bersiap menghajar tukang tikung.
Sedari kemarin, belum ada makanan yang masuk ke lambungnya, rasanya tak nafsu makan, karena kecurigaannya.
Dalam waktu lima menit, Alex menghabiskan satu porsi nasi Padang dengan tiga lauk, maklum saja perutnya sangat lapar.
"laper atau doyan?"ejek remaja itu ada papanya.
Alex menghabiskan air dari gelas yang tersedia, "dari kemarin papa nggak nafsu makan, mikirin mama kamu,"
"ngapain dipikirin, mama baik-baik aja ko,"
"bagaimana nggak dipikirin, mama kamu sedang didekati lelaki lain, papa nggak terima, enak saja,"
"mama bahkan pernah menikah dengan ayah, aku lihat papa biasa aja, lalu kenapa sekarang kayak gitu?"
"Karena papa tau, kalau papa lebih baik dalam segala hal dari lelaki yang kamu panggil ayah,"
"kata siapa? Papa hanya lebih kaya dan tampan, tapi jelas ayah lebih baik, apa papa pernah mengajari kami mengaji?"
Skakmat untuk Alex, sesuatu yang tak pernah ia bisa berikan pada Sandra dan putranya.
"apa itu penting?"tanyanya ragu.
"tentu itu penting, kata ustadz seorang suami harus membimbing istrinya, termasuk dalam hal agama, sementara papa? Kita berbeda, dan papa juga bukan suami mama,"
Alex terdiam mendengar ucapan menohok putra semata wayangnya, ia sadar jika dirinya belum juga merealisasikan rencananya.
"Pa, meskipun papa adalah papa kandung aku, tapi aku ingin mama berumah tangga dengan lelaki yang akan membawanya ke arah yang lebih baik, tak masalah aku punya ayah tiri, asal mama bahagia,"
Xander membereskan meja, lalu bangkit berdiri, "jangan egois papa, jangan halangi kebahagiaan mama,"