How To Marry You ?

How To Marry You ?
tiga puluh tiga



Sebelum jam makan siang Alex didampingi Jonas bertemu klien,


Lelaki yang berprofesi sebagai advokat itu meminta supaya pembahasan dipercepat, karena harus melanjutkan ke pertemuan yang penting setelahnya,


"Bang, sebenernya Abang mau kemana sih? tumben banget ketemu klien buru-buru banget,"Tanya Jonas sambil mengemudi.


"Gue mau ketemu orang penting,"jawab Alex yang sedang mempelajari kasus yang sedang menimpa salah satu kliennya.


"orang penting siapa sih?"tanya Jonas penasaran.


"entar juga tau, lo ikut maps aja, nggak usah banyak tanya,"


Sebagai seorang bawahan Jonas hanya menuruti ucapan bosnya,


"Bang, mengenai yang lo minta kemarin siang, kata Chiko udah di kirim ke email barusan,"


Alex berdehem, menanggapi ucapan sekretarisnya.


Tak lama, mobil berhenti tepat didepan minimarket sesuai yang titik yang diminta oleh Alex.


"lo tolong belanja camilan di minimarket, apapun yang biasa disukai bocah cowok umur sepuluh tahun,"pinta Alex sambil memberikan kartunya, "gue pergi bentar,"


Alex berjalan sekitar seratus meter ke dalam menuju sekolah tempat dimana putranya bersekolah.


Sesampainya di tempat tujuannya, Alex bisa melihat putranya yang sedang bermain bola bersama teman sebayanya,


Alex tersenyum kecil, ia teringat dulu, ia melakukan hal yang sama, sampai Maria datang memarahinya karena pulang terlambat.


Xander yang melihat kedatangannya, melambaikan tangannya sembari tertawa.


Alex menghampiri segerombolan bocah-bocah itu, "boleh ikut bergabung?"


bocah-bocah itu saling pandang, lalu melihat ke arah Xander, yang dilihat menganggukkan kepalanya.


"Kalau salah ada yang berhasil memasukan ke gawang om, kalian akan om traktir makan siang, setuju!"ucap Alex membuka jas mahalnya dan menaruhnya di pagar pembatas teras sekolah, lalu menggulung lengan kemeja hitamnya.


Riuh suara bocah-bocah itu menyambut suka cita tawaran dari orang dewasa itu.


Teman-teman Xander bergantian mengoper bola lalu berusaha menjebol gawang yang dijaga oleh Alex.


Berkali-kali bola berhasil dihalau oleh Alex, bagaimana tidak, postur tubuh yang tinggi memudahkannya menangkap bola yang akan menjebol gawangnya.


Bocah-bocah yang mulai lelah kemudian berkumpul, termasuk Xander, mereka membicarakan strategi yang akan mereka lakukan agar bisa menjebol pertahanan lelaki dewasa itu.


Tos kekompakan menjadi penanda dimulainya penyerangan.


Xander dan salah satu temannya telah menunggu didekat gawang yang dijaga Alex,


Untuk mengecoh papanya, Xander mulai mengajak berbicara, "Papa, tau nggak hari ulang tahun mama?"tanyanya.


"tau, kenapa emang?"tanya Alex balik.


"Papa tau kesukaan mama nggak?"tanya bocah itu lagi.


Alex yang sedang mengamati pergerakan bola, hanya melirik putranya sekilas, "mama suka uang,"


"semua orang suka uang papa, maksud Xander keinginan,"


Alex menaikan bahunya, selama dirinya berhubungan dengan Sandra, ia tak terlalu mengerti kesukaan wanita itu.


Seingatnya, waktu sekolah Sandra menyukai buku, tapi semenjak bertemu lagi, ia belum melihat apa yang disukai Sasa-nya, dikarenakan keduanya sibuk bekerja atau bercinta.


"Mama pernah ngomong, katanya pengen jalan-jalan sekeluarga ke puncak, waktu itu mama sempat bilang gitu ke ayah, nah rencananya sewaktu ulang tahun mama, Xander, mama dan ayah mau pergi menginap di puncak,"jelas bocah itu, tentu hal itu hanya akal-akalannya saja, sebuah hal yang mustahil, jika Ferdiansyah mengikut sertakan Xander dalam acara jalan-jalannya, lelaki itu membenci anak tirinya.


Alex yang mendengarnya menjadi kesal, ia cemburu mendengar hal itu, ia lalu menghampiri putranya dan berjongkok, "mulai sekarang, papa tidak akan membiarkan mama sama Ferdi hanya berdua, itu tidak akan terjadi, kamu anak papa, jangan biarkan Ferdi berbuat seperti itu, kamu mengerti Alexander,"sahutnya terlihat kekanakan.


Namun riuh bocah-bocah menyadarkannya, jika gawang yang dijaganya telah kebobolan.


Xander tertawa lepas, "papa mau aja dibohongi,"ucapnya sambil berlari menghampiri teman-temannya lalu melakukan selebrasi layaknya pemain bola profesional yang berhasil membobol gawang lawan.


Bocah-bocah itu menghampiri Alex dan menagih janjinya, tentu dirinya tak keberatan.


Alex meminta bocah-bocah itu untuk berpamitan dengan guru yang masih berada di sekolah seraya berpesan jika mereka akan mengikuti papa dari Xander makan siang di restoran cepat saji yang ada di luar gang.


Alex mencuci tangan diikuti oleh para bocah itu, lalu mengambil jas miliknya dan berjalan menuju restoran cepat saji.


Sekitar sepuluh bocah yang mengikutinya termasuk putranya.


"Om serius mau traktir kami nih? Jangan bohong loh,"cetus salah satu bocah itu.


"memangnya om terlihat seperti tukang bohong?"tanya Alex seraya melirik putranya yang tadi membohonginya.


Xander tertawa sambil menunjukan jari telunjuk dan jari tengahnya.


Jonas yang sedang berada dibalik kemudi, terkejut melihat kedatangan sepupu sekaligus bosnya yang diikuti oleh bocah berseragam putih merah, lelaki itu keluar dan menghampiri Alex.


"Bang, mereka siapa? Kenapa lo diikuti? Jangan bilang lo mau culik,"tanyanya.


"Lo mah makan emcidi nggak? Gue sama bocah-bocah ini mau makan di sana,"sahut Alex.


"Ya udah gue ikut, tapi entar jelasin loh bang,"


Alex mengangguk,


Dua orang dewasa itu beriringan dengan kesepuluh bocah berjalan menuju restoran cepat saji tak jauh dari sana.


Sesampainya di restoran, Alex memerintahkan bocah-bocah itu untuk berbaris mengantri makanan yang dipesannya.


Nasi plus ayam crispy ukuran besar juga softdrink serta ice cream untuk masing-masing anak.


Bocah-bocah itu terlihat antusias, ketika gilirannya menerima nampan makanan.


"bang, lo udah kayak guru TK,"bisik Jonas yang ada disampingnya.


"belajar Jo, suatu saat lo bakal kayak gini,"sahut Alex seraya memberikan nampan pada masing-masing bocah.


"Tapi nggak sebanyak ini juga, kasihan calon bini gue,"


"cari pasangan dulu gih, sampai sekarang aja lo masih perjaka,"ejek Alex dengan suara pelan.


"Yang bikin gue nggak sempet cari cewek siapa bang?"


Alex menaikan bahunya, tentu saja itu dirinya, yang membuat sepupunya sibuk semenjak remaja.


Sambil menyantap makanannya, bocah-bocah itu bercerita tentang senangnya mereka ditraktir ramai-ramai begini.


Katanya paling hanya saat ada yang ulang tahun, itupun di rumah.


Alex tertawa dan sesekali menanggapi ocehan bocah-bocah itu.


Setengah jam berlalu, bocah-bocah itu telah menyelesaikan makan siangnya, dengan kompak mereka berterima kasih pada Alex karena telah ditraktir.


Setalah memastikan bocah-bocah itu memasuki gang menuju rumah mereka, Alex mengajak Xander untuk menaiki mobil miliknya.


"ini mobil papa?"tanya bocah itu ketika baru masuk ke jok belakang bersebelahan dengan Alex.


"iya, dan itu sekertaris sekaligus sepupu papa, namanya om Jonas, kalau mama dan papa sibuk nggak sempat jemput kamu, nantinya kamu akan dijemput oleh om Jonas,"


Xander menunjukan kedua jempolnya,


"Jo, pesanan tadi mana?"tanya Alex teringat menyuruh sekretarisnya berbelanja di minimarket.


Jonas memberikan kantong berwarna merah berisi Snack pada Alex.


"bang, entar minta waktunya, kayaknya ada banyak yang harus diomongin,"


"iya entar di kantor, sekarang jalan, jangan sampai ibu negara ngomel,"sahut Alex.